Penduduk Kampung Komodo mewarisi berbagai kebudayan yang unik dan
mempunyai nilai sosial yang tinggi. Nilai-nilai luhur budaya Komodo
sebagai way of life penduduk Komodo dalam hidup keseharian mereka.
Ada ceritra rakyat, ada tarian dan ritus-ritus adat yang masih
terpelihara sampai sekarang meskipun sebagian besar perlahan-lahan
hilang tergerus oleh perubahan zaman. Menurut penuturan sejumlah tokoh
adat, beberapa tradisi seperti tarian dan ritus-ritus adat masih mereka
jalankan.
Tarian Dewa misalnya, masih mereka pentaskan meskipun beberapa tahun
belakangan ini semakin pudar dan terancam hilang. Tarian asli dan khas
suku Komodo ini biasa mereka pentaskan pada saat seorang anggota
keluarga sedang menderita sakit.
Tarian yang mengandung nilai spiritual yang amat tinggi ini,
dilakukan dengan tujuan untuk mengundang para arwah leluhur nenek moyang
agar datang membantu menyembuhkan orang yang sedang mengalami sakit.Pada saat tarian dipentaskan, penari akan kemasukan roh nenek moyang.
Roh-roh itu yang akan datang dan menyembuhkan orang yang sedang sakit.
Dengan tarian dewa ini, si sakit akan sembuh dari penyakit yang
dideritanya.
Namun, sayang tarian dewa ini perlahan-lahan mulai hilang seiring
dengan perubahan zaman. Penduduk sudah mulai meninggalkan berbagai ritus
adat dan budaya lokal mereka.
Ritual adat dianggap bertentangan dengan ajaran agama. “Dahulu
kala, kami memiliki kearifan-kearifan lokal seperti ritus adat dan
tarian adat, namun belakangan ini berbagai ritus tersebut semakin hilang
akibat pengaruh luar termasuk agama,” ujar Hermansyah Akbar, seorang
tokoh muda setempat.
Meski demikian, ada satu kisah unik nan menggelitik rasa yang terus
dikisahkan secara turun temurun oleh penduduk Komodo yakni tradisi
persalinan seorang anak manusia yang konon tidak melalui persalinan
normal melainkan harus melalui operasi bedah ala leluhur orang Komodo.
Konon menurut ceritra, Kampung Najo (kini Komodo) belum mengenal
puskesmas apalagi bidan, perawat atau dokter. Sehingga proses persalinan
dilakukan sesuai adat kebiasaan masyarakat waktu itu yakni dengan cara
dibedah.
Pada saat seorang ibu hendak melahirkan anaknya, sang ibu tidak
diperbolehkan melahirkannya secara normal atau alamiah melainkan harus
melalui ‘operasi bedah’ ala orang-orang Najo tempo dulu. Perut sang ibu
dioperasi dengan menggunakan ‘pisau’ yang terbuat dari kulit bambu.
Alkisah, semua ibu yang melahirkan harus rela mati diujung belati (pisau
bedah) tersebut. Sebaliknya sang buah hati dibiarkan hidup untuk
meneruskan keturunan mereka.
Kebiasaan ini terus berlangsung secara turun temurun dan baru
berhenti ketika pada suatu waktu datang-orang-orang Sumba di kampung itu
yang menyaksikan seorang ibu hendak bersalin hendak dibedah perutnya.
Orang Sumba kemudian mencegah praktik persalinan seperti itu.
Konon, menurut ceritra, menjelang kelahiran anak, sang suami biasanya
disuruh pergi jauh dari kampung agar tidak menyaksikan tragedi itu dan
sang suami baru kembali ke kampung ketika acara bedah telah selesai dan
sang istri tercinta sudah meregang nyawa.
Namun, kini sang ibu terselamatkan berkat pengetahuan baru yang
diwartakan oleh orang Sumba. Sang ibu melahirkan anaknya secara normal.
Suami yang baru pulang dari luar kampung hanya bisa termangu-mangu
menyaksikan istri tercintanya masih hidup bersama buah hatinya.
Sejak saat itu, warga Komodo mulai mempraktikan persalinan secara
normal meskipun cara-cara tradisional seperti menggunakan dedaunan untuk
mandi, minum dan mencuci guna memulihkan kembali tenaga sang ibu yang
terkuras masih terus terjadi hingga saat ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar