Laman

Sabtu, 07 Juli 2012

Kisah Dibalik Ritual Adat Penduduk Komodo


Penduduk Kampung Komodo mewarisi berbagai kebudayan yang unik dan mempunyai nilai sosial yang tinggi. Nilai-nilai luhur budaya Komodo sebagai way of life penduduk Komodo dalam hidup keseharian mereka.
Ada ceritra rakyat, ada tarian dan ritus-ritus adat yang masih terpelihara sampai sekarang meskipun sebagian besar perlahan-lahan hilang tergerus oleh perubahan zaman.  Menurut penuturan sejumlah tokoh adat,  beberapa tradisi seperti tarian dan ritus-ritus adat masih mereka jalankan.
Tarian Dewa misalnya, masih mereka pentaskan meskipun beberapa tahun belakangan ini semakin pudar dan terancam hilang. Tarian asli dan khas suku Komodo ini biasa mereka pentaskan pada saat seorang anggota keluarga sedang menderita sakit.
Tarian yang mengandung nilai spiritual yang amat tinggi ini, dilakukan dengan tujuan untuk mengundang para arwah leluhur nenek moyang agar datang membantu menyembuhkan orang yang sedang mengalami sakit.Pada saat tarian dipentaskan, penari akan kemasukan roh nenek moyang. Roh-roh  itu yang akan datang dan menyembuhkan orang yang sedang sakit. Dengan tarian dewa ini, si sakit akan sembuh dari penyakit yang dideritanya.
Namun, sayang tarian dewa ini perlahan-lahan mulai hilang seiring dengan perubahan zaman. Penduduk sudah mulai meninggalkan berbagai ritus adat dan budaya lokal mereka.
Ritual adat dianggap bertentangan dengan ajaran agama.   “Dahulu kala, kami memiliki kearifan-kearifan lokal seperti ritus adat dan tarian adat, namun belakangan ini berbagai ritus tersebut semakin hilang akibat pengaruh luar termasuk agama,” ujar Hermansyah Akbar, seorang tokoh muda setempat.
Meski demikian, ada satu kisah unik nan menggelitik rasa yang terus dikisahkan secara turun temurun oleh penduduk Komodo yakni tradisi persalinan seorang anak manusia yang konon tidak melalui persalinan normal melainkan harus melalui operasi bedah ala leluhur orang Komodo.
Konon menurut ceritra, Kampung Najo (kini Komodo) belum mengenal puskesmas apalagi bidan, perawat atau dokter. Sehingga proses persalinan dilakukan sesuai adat kebiasaan masyarakat waktu itu yakni dengan cara dibedah.
Pada saat seorang ibu hendak melahirkan anaknya, sang ibu  tidak diperbolehkan melahirkannya secara normal atau alamiah melainkan harus melalui ‘operasi bedah’ ala orang-orang Najo tempo dulu. Perut sang ibu dioperasi dengan menggunakan ‘pisau’ yang terbuat dari kulit bambu. Alkisah, semua ibu yang melahirkan harus rela mati diujung belati (pisau bedah) tersebut. Sebaliknya sang buah hati dibiarkan hidup untuk meneruskan keturunan mereka.
Kebiasaan ini terus berlangsung secara turun temurun dan baru berhenti ketika pada suatu waktu datang-orang-orang Sumba di kampung itu yang menyaksikan seorang ibu hendak bersalin hendak dibedah perutnya. Orang Sumba kemudian mencegah praktik persalinan seperti itu.
Konon, menurut ceritra, menjelang kelahiran anak, sang suami biasanya disuruh pergi jauh dari kampung agar tidak menyaksikan tragedi itu dan sang suami baru kembali ke kampung ketika acara bedah telah selesai dan sang istri tercinta sudah meregang nyawa.
Namun, kini sang ibu terselamatkan berkat pengetahuan baru yang diwartakan oleh orang Sumba. Sang ibu melahirkan  anaknya secara normal. Suami yang baru pulang dari luar kampung hanya bisa termangu-mangu menyaksikan istri tercintanya masih hidup bersama buah hatinya.
Sejak saat itu, warga Komodo mulai mempraktikan persalinan secara normal meskipun cara-cara tradisional seperti menggunakan dedaunan untuk mandi, minum dan mencuci guna memulihkan kembali tenaga sang ibu yang terkuras masih terus terjadi hingga saat ini. 

Sumber : Floresbangkit.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar