Laman

Sabtu, 07 Juli 2012

“Kopu Kope” Tradisi yang Masih Dipertahankan


Kegiatan Kopu Kope di Kampung Ruwat- Satar Mese

Siang itu, udara di atas Kampung Ruwat, Desa Kole, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, cukup cerah. Hujan sudah lama berhenti  turun namun sebagain warga yang umumnya petani tradisional ini masih terlihat sibuk memanen hasil tanaman mereka di kebun mereka masing-masing. Sementara sekelompok  anak muda setempat tampak  asyik menekuni kegiatan  yang tak lazim dikerjakan oleh warga Manggarai kebanyakan yakni kopu kope alias sepuh parang.
Anak-anak muda kampung Ruwat sampai kini masih menjaga tradisi leluhur mereka sebagai  pandai besi atau oleh warga setempat disebut kopu kope.  Meskipun namanya kopu kope namun bukan hanya parang yang mereka hasilkan tetapi juga berbagai alat pertanian lainnya seperti sabit, tofa dan tombak serta fasilitas lainnya yang biasa dibutuhkan oleh warga.
Menilik kehidupan para pengrajin, hati kita terasa bangga bercampur haru. Betapa tidak, para pekerja yang umumnya anak-anak muda ini, saban hari tak kenal lelah terus mempertahankan tradisi leluhur mereka. Pekerjaan pandai besi memang sungguh menantang dan tergolong beresiko lantaran pekerjaan ini bisa membahayakan nyawa para pekerja.
Setelah besi baja dibakar hingga memerah, lalu ditempah sampai berbentuk  pipih menggunakan hamar atau fasilitas seadanya. Jadilah beraneka bentuk baik sebagai alat untuk pertanian maupun berburu dan sebagian untuk dijual ke pasar demi meningkatkan pendapatan rumah tangga.
Linus Jehalut, salah seorang sesepuh Kampung Ruwat, mengatakan, kopu kope merupakan sebuah tradisi leluhur yang hingga kini masih terus dilestarikan oleh generasi muda setempat. Bagi warga setempat, usaha kopu kope  tidak sekadar  bernilai ekonomis tetapi juga memiliki nilai magis-spiritual.
Lebih lanjut Linus menambahkan, dari sisi ekonomi, usaha kopu kope mampu meningkatkan pendapatan keluarga sehingga warga bisa menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke tingkat sarjana sedangkan secara magis spiritual, kopu kope merupakan simbol rasa syukur bagi para leluhur  yang telah mewarisi mereka kearifan-kearifan lokal yang harus mereka pertahankan meskipun diterpa arus perubahan zaman yang kian modern.
Dibalik kisah sukses dan kebanggan itu, tradisi kopu kope bagi warga Ruwat ternyata tersimpan pula sejumlah persoalan. Selainperalatan di pasar semakin canggih, lingkungan hidup di sekitarnya pun  kian terancam hilang lantaran untuk mendapatkan bahan baku seperti kayu bakar, warga terpaksa masuk hutan menebang pohon untuk dijadikan bahan bakar.
Setiap tahun diperkirakan ratusan pohon di kawasan hutan terpaksa ditebang untuk memenuhi kebutuhan para tukang kopu kope. Tidak heran, jika gunung Poco Korung yang menjulang tinggi di atas Kampung Ruwat, kini tampak gundul dan merana.
Memang sudah ada ide untuk mengatasi kekurangan kayu bakar dengan mendatangkan batu bara dari Kalimantan namun, ide itu belum terealisasi sampai sekarang meskipun sudah berulangkali warga sampaikan kepada pihak pemerintah setempat.
Bagaimana pun,di satu sisi melestarikan tradisi adalah sebuah kewajiban,  namun dilain sisi,  keutuhan dan kelestarian alam lingkungan pun harus tetap di pertahankan. 

Sumber ; floresbangkit.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar