Siang itu, udara di atas Kampung Ruwat, Desa Kole, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, cukup cerah. Hujan sudah lama berhenti turun namun sebagain warga yang umumnya petani tradisional ini masih terlihat sibuk memanen hasil tanaman mereka di kebun mereka masing-masing. Sementara sekelompok anak muda setempat tampak asyik menekuni kegiatan yang tak lazim dikerjakan oleh warga Manggarai kebanyakan yakni kopu kope alias sepuh parang.
Anak-anak muda kampung Ruwat sampai kini masih menjaga tradisi
leluhur mereka sebagai pandai besi atau oleh warga setempat disebut kopu kope. Meskipun namanya kopu kope
namun bukan hanya parang yang mereka hasilkan tetapi juga berbagai alat
pertanian lainnya seperti sabit, tofa dan tombak serta fasilitas
lainnya yang biasa dibutuhkan oleh warga.
Menilik kehidupan para pengrajin, hati kita terasa bangga bercampur
haru. Betapa tidak, para pekerja yang umumnya anak-anak muda ini, saban
hari tak kenal lelah terus mempertahankan tradisi leluhur mereka.
Pekerjaan pandai besi memang sungguh menantang dan tergolong beresiko
lantaran pekerjaan ini bisa membahayakan nyawa para pekerja.
Setelah besi baja dibakar hingga memerah, lalu ditempah sampai
berbentuk pipih menggunakan hamar atau fasilitas seadanya. Jadilah
beraneka bentuk baik sebagai alat untuk pertanian maupun berburu dan
sebagian untuk dijual ke pasar demi meningkatkan pendapatan rumah
tangga.
Linus Jehalut, salah seorang sesepuh Kampung Ruwat, mengatakan, kopu kope
merupakan sebuah tradisi leluhur yang hingga kini masih terus
dilestarikan oleh generasi muda setempat. Bagi warga setempat, usaha kopu kope tidak sekadar bernilai ekonomis tetapi juga memiliki nilai magis-spiritual.
Lebih lanjut Linus menambahkan, dari sisi ekonomi, usaha kopu kope
mampu meningkatkan pendapatan keluarga sehingga warga bisa
menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke tingkat sarjana sedangkan
secara magis spiritual, kopu kope merupakan simbol
rasa syukur bagi para leluhur yang telah mewarisi mereka
kearifan-kearifan lokal yang harus mereka pertahankan meskipun diterpa
arus perubahan zaman yang kian modern.
Dibalik kisah sukses dan kebanggan itu, tradisi kopu kope
bagi warga Ruwat ternyata tersimpan pula sejumlah persoalan.
Selainperalatan di pasar semakin canggih, lingkungan hidup di sekitarnya
pun kian terancam hilang lantaran untuk mendapatkan bahan baku seperti
kayu bakar, warga terpaksa masuk hutan menebang pohon untuk dijadikan
bahan bakar.
Setiap tahun diperkirakan ratusan pohon di kawasan hutan terpaksa ditebang untuk memenuhi kebutuhan para tukang kopu kope. Tidak heran, jika gunung Poco Korung yang menjulang tinggi di atas Kampung Ruwat, kini tampak gundul dan merana.
Memang sudah ada ide untuk mengatasi kekurangan kayu bakar dengan
mendatangkan batu bara dari Kalimantan namun, ide itu belum terealisasi
sampai sekarang meskipun sudah berulangkali warga sampaikan kepada pihak
pemerintah setempat.
Bagaimana pun,di satu sisi melestarikan tradisi adalah sebuah
kewajiban, namun dilain sisi, keutuhan dan kelestarian alam lingkungan
pun harus tetap di pertahankan.
Sumber ; floresbangkit.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar