Penulis : Frans Sarong
Alasan dia, budidaya kopi di Nusa Tenggara Timur,
termasuk Ngada, awalnya berinduk dari Manggarai. Alasan lainnya, kopi
seJak lama menjadi ikon Manggarai. Sebagian besar masyarakatnya untuk
jangka waktu lama pernah menikmati kejayaan kopi yang dihasilkan dari
kebun para petaninya.
"Saya memang sempat merasa terganggu bahkan
merasa terpukul mendengar kopi Ngada sukses menembus pasar
internasional. Fakta ini harus menjadi masukan berharga bagi kami untuk
berupaya mengembalikan kejayaan kopi sebagai ikon Manggarai," tutur Apri
Laturake di Ruteng, Kabupatem Manggarai, Sabtu (30/6/2012).
Keterkejutan
Apri juga dari kisah budidaya kopi di Ngada. Katanya, selama belum
ditangani UPH (unit pengolahan hasil), mutu kopi Ngada sangat buruk.
Kopinya kotor, bercampur biji hitam dan putih.
"Hingga beberapa
waktu lalu itu kami memang sering keberatan membeli kopi dari Ngada
karena mutunya buruk. Kini kopi Ngada memiliki trademark," kata
Suharman, Manager PT Indocom Citra Persada. Indocom adalah perusahaan
pengekspor kopi di Flores.
Guna mewujudkan mimpinya itu, Apri
sudah mengajak para pengusaha terkait di Manggarai supaya tidak hanya
membeli kopi rakyat lalu menyortir dan mengolahnya hingga mendapatkan
kopi biji berkualitas ekspor.
"Saya sudah mengimbau para
perusahaan pembeli kopi agar ikut membantu mengajarkan kalangan petani
memahami proses budidaya tanaman secara benar sekaligus pengolahannya
hingga berlualitas ekspor," jelasnya.
Selain itu pihak Dinas
Kehutanan dan Perkebunan Manggarai berjanji akan mengusahakan dukungan
dalan APBD dan APBN untuk pengadaan benih kopi unggul.
Sejumlah
UPH juga sudah didorong agar menjadi motor penggerak budidaya kopi
berorientasi ekspor. Sejauh ini atau sejak enam tahun lalu telah
terbentuk enam UPH di Manggarai. Fungsinya melakukan pendampingan atau
tuntunan kepada kelompok tani pesertanya. Namun UPH yang aktif hanya
dua, yakni UPH Wela Waso di Redong dan UPH Nati.
"Kami akan terus
mendorong keseluruhan UPH berperan aktif dan menjadi model bagi petani
sekitarnya," tambahnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar