Laman

Sabtu, 21 Juli 2012

Kembalikan Kopi sebagai Ikon Manggarai

Penulis : Frans Sarong
Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Manggarai, Apri Laturake merasa terpukul mengetahui kopi petani di kabupaten tetangga, Ngada, sejak enam tahun lalu berhasil menembus pasar ekspor ke Amerika Serikat.
Alasan dia, budidaya kopi di Nusa Tenggara Timur, termasuk Ngada, awalnya berinduk dari Manggarai. Alasan lainnya, kopi seJak lama menjadi ikon Manggarai. Sebagian besar masyarakatnya untuk jangka waktu lama pernah menikmati kejayaan kopi yang dihasilkan dari kebun para petaninya.
"Saya memang sempat merasa terganggu bahkan merasa terpukul mendengar kopi Ngada sukses menembus pasar internasional. Fakta ini harus menjadi masukan berharga bagi kami untuk berupaya mengembalikan kejayaan kopi sebagai ikon Manggarai," tutur Apri Laturake di Ruteng, Kabupatem Manggarai, Sabtu (30/6/2012).
Keterkejutan Apri juga dari kisah budidaya kopi di Ngada. Katanya, selama belum ditangani UPH (unit pengolahan hasil), mutu kopi Ngada sangat buruk. Kopinya kotor, bercampur biji hitam dan putih.
"Hingga beberapa waktu lalu itu kami memang sering keberatan membeli kopi dari Ngada karena mutunya buruk. Kini kopi Ngada memiliki trademark," kata Suharman, Manager PT Indocom Citra Persada. Indocom adalah perusahaan pengekspor kopi di Flores.
Guna mewujudkan mimpinya itu, Apri sudah mengajak para pengusaha terkait di Manggarai supaya tidak hanya membeli kopi rakyat lalu menyortir dan mengolahnya hingga mendapatkan kopi biji berkualitas ekspor.
"Saya sudah mengimbau para perusahaan pembeli kopi agar ikut membantu mengajarkan kalangan petani memahami proses budidaya tanaman secara benar sekaligus pengolahannya hingga berlualitas ekspor," jelasnya.
Selain itu pihak Dinas Kehutanan dan Perkebunan Manggarai berjanji akan mengusahakan dukungan dalan APBD dan APBN untuk pengadaan benih kopi unggul.
Sejumlah UPH juga sudah didorong agar menjadi motor penggerak budidaya kopi berorientasi ekspor. Sejauh ini atau sejak enam tahun lalu telah terbentuk enam UPH di Manggarai. Fungsinya melakukan pendampingan atau tuntunan kepada kelompok tani pesertanya. Namun UPH yang aktif hanya dua, yakni UPH Wela Waso di Redong dan UPH Nati.
"Kami akan terus mendorong keseluruhan UPH berperan aktif dan menjadi model bagi petani sekitarnya," tambahnya. 

Sumber : Kompas.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar