Manggarai, terutama Manggarai Timur, sejak lama dikenal sebagai sentra kopi di Nusa Tenggara Timur. Ironisnya, kalau produksi kopi daerah ini akan diekspor, harus menumpang atau bergabung dengan komoditas sejenis asal Kabupaten Ngada. Padahal, areal kebun di kabupaten tetangga itu masih sangat terbatas dan Ngada mengenal budidaya kopi dari Manggarai.
Sumber : Kompas.com
Demikian keterangan yang diperoleh Kompas dari sejumlah pihak di Manggarai Timur dan Manggarai, Sabtu hingga Minggu (1/7).
”Kalau ekspor kopi kita harus berinduk ke Ngada, itu informasi yang sangat memalukan. Ngada yang seharusnya berinduk ke Manggarai, bukan sebaliknya,” kata Kepala Desa Uluwae, Fransiskus Barus, di Kampung Biting, Kecamatan Poco Ranaka, Manggarai Timur, Minggu petang.
Pernyataan senada dilontarkan oleh Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan Manggarai Timur Donatus Datur dan John Sentis dari Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan setempat. ”Harus diakui budidaya kopi di Manggarai Timur atau Manggarai kini tertinggal dibandingkan dengan Ngada. Kami sedang berupaya membangkitkan kembali kejayaan kopi asal Manggarai,” tutur Donatus.
Uluwae, sekitar 45 km dari Ruteng atau 50 km dari Borong, adalah kawasan Colol yang dikenal sebagai sentra utama kopi asal Manggarai Timur bahkan NTT. Seorang petani kopi di Colol pernah menang sayembara penanaman kopi oleh Pemerintah Hindia Belanda tahun 1937.
Manager PT Indocom Citrapersada Surabaya Perwakilan Flores Suharman di Ruteng, kota Kabupaten Manggarai, Sabtu (30/6), mengatakan, Manggarai sejauh ini boleh tetap menyandang predikat sebagai induk bahkan sentra kopi di NTT. Namun, setiap tahun ketersediaan kopi kualitas ekspor tidak pernah mencapai satu kontainer berkapasitas 18-20 ton. Sejauh ini, stok tersedia dari Manggarai terbanyak hanya mencapai 7 ton.
Indocom adalah perusahaan swasta nasional pengekspor kopi Indonesia.
Ia mengatakan, budidaya kopi Ngada setelah ditangani Unit Pengelolaan Hasil (UPH) sejak tahun 2005, kualitas produksinya berhasil mencapai standar ekspor. Ini sesuai hasil uji laboratorium Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKKI) Kementerian Pertanian. Karena itu, sejak enam tahun lalu, kopi UPH Ngada menembus pasar AS, meski stok tersedia setiap tahun hanya sekitar 300 ton dari permintaan 1.000 ton.
Ikon Manggarai
Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Manggarai Apri Laturake merasa terpukul mengetahui kopi petani di kabupaten tetangga, Ngada, sejak enam tahun lalu berhasil menembus pasar ekspor ke Amerila Serikat. Pasalnya, kopi sejak lama menjadi ikon atau simbol Manggarai.
”Fakta ini harus menjadi masukan berharga bagi kami untuk berupaya mengembalikan kejayaan kopi sebagai ikon Manggarai,” tutur Apri Laturake di Ruteng. Petani kopi butuh pendampingan agar mampu membudidayakan dan mengolah hasil kopi berstandar ekspor.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar