Penulis : Frans Sarong
Petani kopi di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur, yang dikenal
sebagai sentra kopi Nusa Tenggara Timur (NTT), butuh pendampingan
petugas teknis. Dengan demikian para petani diharapkan mampu
membudidayakan tanaman itu hingga pengolahan hasilnya berstandar ekspor.
Sejauh
ini kebun kopi rakyat di Manggarai lepas dari perawatan semestinya.
Tanaman kopi lebih mirip hutan kopi. Proses pemetikan tidak selektif,
dan pengolahan hasil panen masih dilakukan secarta tradisional.
Akibatnya, hasil panen dan mutu kopi merosot atau jauh dari standar
ekspor.
Kondisi seperti itu menyulitkan para petani menikmati
harga ekspor yang kini sekitar Rp 50.000 per kg. Kopi bermutu tak
memadai dihargai hanya Rp 25.000 per kg.
"Pendampingan petugas
dibutuhkan untuk membenahi pengolahan hasil panen sekaligus budidayanya.
Kopi untuk ekspor, proses pengolahannya harus memadai dan tidak
terkontaminasi pupuk kimia, harus benar-benar organik," tutur Knut
Christian Kiene, Direktur PT Kopi Manggarai Nusantara, eksportir kopi di
Ruteng, Kabupaten Manggarai, Sabtu (30/6/2012).
Knut yang asal
Jerman, sejak empat tahun lalu berupaya mengekspor kopi Manggarai dari
Ruteng ke Italia dan Belanda. Sejauh ini ia baru berhasil mengekspor
32,5 ton, masing-masing pada tahun 2011 (14,5 ton) dan awal 2012 (18)
ton. Kopi biji layak ekspor itu adalah hasil proses pengolahan yang
dilakukan perusahaan Knut di Karot, Ruteng, setelah membeli kopi asalan
dari para petani.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar