Laman

Senin, 16 Juli 2012

"Berauk", Syukur atas Hasil Panen di Solor


Oleh KORNELIS KEWA AMA
Berauk adalah upacara syukuran atas hasil panen yang dimiliki masyarakat Pulau Solor, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Upacara yang rutin digelar setiap tahun seusai panen itu memiliki nilai ekonomi, sosial, budaya, dan persaudaraan yang tinggi.
Berauk diawali dengan ritual elo, penjadwalan. Para tetua adat dipimpin kepala suku, duduk bersama di rumah adat, membahas posisi Bulan, dan menentukan kapan berauk digelar. Pembahasan dilakukan malam hari. Ketua adat sepanjang malam di awal bulan Juni, memantau posisi Bulan melalui kisi-kisi atap yang terbuat dari daun (lontar, ilalang, atau kelapa).
Jika posisi Bulan persis di kisi-kisi atap rumah, ketua adat pun menentukan waktu berauk digelar. Biasanya tenggat 10 hari terhitung sejak penglihatan tersebut.
Pulau Solor terletak antara kota Larantuka, Pulau Adonara, Pulau Lembata, dan Laut Sawu. Pulau ini hanya memiliki tiga kecamatan dengan jumlah penduduk sekitar 1.200 jiwa, yang bermata pencarian utama petani dan nelayan.
Menjelang puncak perayaan berauk, dilakukan beberapa ritual, antara lain tada tuakeli (iris tuak) untuk para leluhur. Leluhur dipanggil untuk ikut hadir. Kemudian seo wata blolon (goreng biji jewawut) untuk para leluhur, dan dibagikan kepada setiap anggota suku. Jewawut ini kemudian disimpan di setiap sudut rumah dan setiap sudut ladang atau kebun sebagai simbol kesuburan pada musim depan.
Puncak berauk disebut nara gere (umat manusia masuk kampung) ditandai dengan tarian bersama menggunakan parang dan mengenakan pakaian adat. Berauk tahun ini digelar pada Jumat (15/6) di Karawatung, sebagai desa tertua.
Moses Herin, tokoh adat Karawatung, mengatakan, kaum perempuan menyediakan nasi yang diambil dari hasil panen terbaik. Setelah dimasak, nasi dibentuk sedemikian rupa menjadi bulatan-bulatan kecil sebesar tempurung kelapa, disebut lori.
Setiap laki-laki mendapatkan lima lori. Kalau ada lima anak laki-laki dalam satu keluarga, berarti ada 25 lori. Lori merupakan simbol jiwa, roh, rezeki, persaudaraan, dan perlindungan dari leluhur. Tiap anak laki-laki wajib mendapatkan bagian dari lori itu. Jika tidak, diyakini, dia akan mendapat hukuman adat, tidak beruntung sepanjang tahun.
Laki-laki di perantauan pun mempunyai bagian dalam lori. Para leluhur dimohonkan agar terus menyertai dan melindungi orang bersangkutan selama berjuang mencari rezeki atau menuntut ilmu di perantauan. Keberhasilan mereka, kebesaran, dan keharuman nama leluhur.
Lori kemudian dibawa ke tengah namang (halaman utama), tempat berkumpul semua anggota suku. Nasi dicampur lalu dibagikan secara merata. Kaum perempuan menyiapkan piring dari daun lontar yang disebut monga.
Selesai pembagian nasi, ketua adat mengucapkan syukur dan terima kasih kepada leluhur dalam bentuk syair tua. Lalu, dia menceritakan legenda air hujan yang dibeli dari seberang oleh leluhur Merekame di Pulau Timor, dibawa pulang ke Solor. Air hujan kemudian menyirami tanah Solor sampai menghasilkan tanaman yang subur dengan panenan yang melimpah.
Syair dan pantun
Di Desa Karawatung merupakan desa tertua terdapat 15 suku, antara lain, Koten, Kolin, Hurit, Herin, Moron, Kroon, Sogen, dan Tukan. Koten (bahasa Lamaholot berarti kepala) sebagai suku tertua, Kolin (otak) sebagai juru bicara, pemikir, pemegang sabda. Suku lain sebagai bawahan dari kedua suku itu.
Lori dibawa ke rumah adat tiap suku. Semua anggota suku mengonsumsi lori itu dicampur ikan dan sayur, kecuali daging. Tamu dari luar tidak diperkenankan mengonsumsi lori. Mereka disiapkan makanan tersendiri.
Seusai makan bersama, mereka mengambil bagian dalam tarian adat, sole oha liang namang atau disebut juga dolo-dolo, sepanjang malam hingga pagi hari.
Liang namang dipentaskan di namang. Kaum pria dan perempuan berpegangan tangan membentuk lingkaran sambil menyanyikan lagu dan syair adat. Ada penyair adat yang pandai mengungkapkan bahasa adat, melantunkan syair-syair tua, antara lain berisi suka-duka bekerja di ladang, kesulitan ekonomi rumah tangga, sakit penyakit, persaudaraan, dan hidup di perantauan.
Pada bagian lain, mereka juga berbalas pantun dalam bahasa daerah setempat. Kaum pria dan perempuan saling mengungkapkan perasaan lewat pantun. Ajang ini juga menjadi tempat pencarian jodoh antara pria dan perempuan.
Hormati kesucian
Nie Kolin (81), Ketua Adat Karawatung, mengatakan, selama bulan berauk, semua warga dilarang mengonsumsi daging babi. Darah binatang tidak boleh tumpah. Tidak diperkenankan berselingkuh, berkelahi, dendam, bertengkar dengan orang lain, dan mencuri.
”Selama bulan berauk yang dimulai 15 Mei-15 Juni, semua warga dilarang berbuat jahat. Kesucian berauk harus dihormati sebagai bagian dari kesucian dan penghormatan terhadap leluhur. Dewi kesuburan dan berkat dari leluhur yang dihormati selama bulan berauk jangan dinodai,” kata Nie.
Jika sepanjang upacara adat itu ada orang yang terjatuh saat membagikan atau membawakan lori, diyakini orang bersangkutan mempunyai kesalahan atau melanggar adat. Dia wajib mengakui kesalahan kepada kepala adat dan bersedia menebusnya dengan menyediakan seekor babi atau kambing sebagai tebusan atas kesalahan yang dibuat.
Kepala adat tidak diperkenankan mengumumkan kesalahan itu kepada anggota suku lain. Hewan tebusan itu disembelih di tengah halaman rumah adat, disaksikan para ketua suku masing-masing. Daging kurban itu kemudian dibagikan kepada semua anggota suku meski hanya sedikit.
”Selesai mengonsumsi daging tebusan, kepala adat mendoakan semua warga di desa adat itu. Doa itu berisikan perlindungan terhadap penyakit, hasil panen melimpah, keturunan yang sehat dan cerdas, dan keuntungan yang berpihak kepada anggota suku sepanjang tahun,” kata Nie.

Sumber : Kompas.com/tanah air

Tidak ada komentar:

Posting Komentar