Arysio Santos, geolog dan fisikiwanan nuklir asal Brasil menyimpulkan, Atlantis Yang Hilang itu tak lain adalah Sundaland
atau daerah yang sekarang dikenal dengan Kalimantan-Jawa-Sumatra.
Sebelumnya, ahli genetika dari Oxford Universuty, Inggris, Stephen
Oppenheimer, menjungkirbalikan fakta selama ini bahwa induk peradaban
modern adalah dari Mesir, Mesopotania dan Mediterania. Berdasarkan
penelitian genetika, Oppenheimer menyimpulkan nenek moyang bangsa-bangsa
yang dikenal mempunyai perdaban sangat maju tersebut adalah dari Timur,
tepatnya dari Indonesia (Sundaland). Berdasarkan kedua pendapat ini,
CBT yakin letak Atlantis Yang Hilang tersebut bukanlah di Sundaland
melainkan daerah di sekitar Maluku – Nusa Tenggara Timur. Lalu
berdasarkan analisis yang mendalam tentang budaya
suku bangsa Lamaholot, khususnya masyarakat Adonara, CBT menyimpulkan
masyarakat penghuni Pulau Adonara adalah sisa-sisa bangsa Atlantis yang
hilang tersebut. Dari semua artikelnya, CBT ingin menegaskan bahwa peradaban bangsa-bangsa di dunia ini, cikal bakalnya adalah dari peradaban suku bangsa Lamaholot. Peradaban bangsa Yahudi, demikian CBT, bukan tidak mungkin cikal bakalnya dari peradaban Adonara. Apalagi menurut CBT, kata “Adonara” = kata “Adonai” (salah satu gelar Allah bagi bangsa Yahudi); dan beberapa persamaan ritual yang dipraktekan di Adonara dengan di Yahudi.
Pendapat
CBT ini tampaknya diamini Padre Yoseph Muda (YM), SVD, seperti dikutip
CBT dalam lain artikel, “Lewotanah: Surga Positivisme-Surga Empiris
Bangsa Lamaholot di Nusa Tenggara Timur”, dalam www.nttonliennews.com, 21 Pebruari 2011. Dalam bukunya “Rera Wulan Tana Ekan”, sebuah penelitian tentang asal usul budaya Ata Lamaholot, YM menelusuri jejak-jejak koda nuba nara, rera wulan
sebagai penunjuk arah. Sebagai contoh, memberikan nama “Ra” terhadap
matahari ditemukan di beberapa suku bangsa asli. Di Mesir “Ra” atau
“Re”, di pulau Paskah “Raa”, di dunia Lamaholot “Rera” atau
“Lera”….”Buku Para Raja” yang mengisahkan kehidupan raja Singasari Ken
Arok: “Pararaton”, Istana di Yogyakarta “Kraton”, agama asli di Timor,
Atoni (Dewa Aton Mesir?)…Jika “Yang Tertinggi” itu disapa dengan
“Rera”, nama itupun seharusnya merembes dalam nama-nama suku, nama-nama
tempat dan dalam ungkapan-ungkapan lain yang bersifat religius. Dengan
demikian dapat ditelusuri nama-nama seperti: Nusantara, Manggarai,
Maumere, Larantuka, Lamakera, Adonara, Lamalera, Leworere, Seran dan
Goran,etc (hal. 1). Benarkah demikian? Kok semudah itu ya, sekadar diplesetkan sekenanya, dan klop sudalah.
Adonara – Adonai – Adonay dan Drs. Adonara, M.Si
Apa Hubungannya?
Jujur saja, saya belum melihat-apalagi membaca-buku YM ini. Tetapi kesan saya, YM
seperti halnya CBT hanya menghubung-hubungkan saja nama-nama tempat
atau sebutan benda-benda di Adonara atau Lamaholot yang secara kebetulan
sama atau mirip-mirip dengan nama-nama di luar Lamaholot.
Benarkah
kata “Adonara” di Pulau Adonara ini = Adonai = Adonay di Yahudi sana?
Simon Hayon (SH), saat menjabat bupati Flotim pernah mengklaim asal
usulnya dari Yahudi. Karena menurutnya, kata “Hayon” berasal dari kata
Yahudi “Al-Hayon” yang berarti “Yang Hidup” di tengah-tengah kita. Saya
khawatir, CBT, YM dan SH adalah “murid-murid” satu “Padepokan”. Kalau
analisis CBT dan YM tentang Lamaholot atau Adonara dikaitkan dengan iman
Kristiani yang bersumber dari budaya Yahudi, bisa saya maklumi. Tetapi budaya Lamaholot (Adonara) yang kebetulan sama atau mirip dengan budaya
Yahudi, tidaklah elok disimpulkan bahwa peradaban suku bangsa Lamaholot
khususnya yang mendiami Pulau Adonara adalah ‘nenek moyang’ dari induk
peradaban Yahudi bahkan di dunia ini. Tunggu dululah. Harus dibuktikan
secara ilmiah. Tidak boleh dengan menghubung-hubungkan begitu saja
tetapi diperkuat dengan fakta ilmiah lain yang lebih bisa
dipertanggungjawabkan. Kadang saya bergumam, “Beruntunglah saya, sebagai
penganut muslim, tetapi pengetahuan keislaman saya sangat dangkal. Pun, tidak memahami filsafat
dan budaya Arab. Kalau tidak, bisa saja saya begitu enteng mengatakan
bahwa peradaban bangsa Arab cikal bakalnya dari Adonara”.
Di
Eropa, ada sebuah negara kecil bernama Andora, sebuah nama yang mirip
kata Adonara. Kalau mau diutak-atik, nama ini juga mirip Adonara. Akan
lebih baik lagi jika CBT atau YM bisa menganalisis
Andora sehingga menambah wawasan kita semua. Pun, apa pula hubungan
nama desa Kenada di daratan Flotim dengan Kanada di Amerika Utara? Atau
jika itu terlalu jauh, barangkali ada orang dari suku Bali Mula di Desa
Mangaaleng bisa menjelaskan apa hubungan Bali Mula dengan penduduk asli
Pulau Bali yang disebut Bali Mula (baca: mule, yang berarti awal).
Padahal setahu saya, suku Pepageka (di Pepageka), Bali Mula (di
Mangaaleng) dan Mao Meka (di Adobala) adalah rombongan manusia dalam
satu perahu saat berangkat dari Seram, Ambon, ratusan tahun lalu, sempat
berlabuh sebentar di Harageka, Solor, kemudian meneruskan perjalanan ke
Adonara dan menetap hingga sekarang ini. Lalu, dari mana pula asal usul
seorang manusia bernama Drs. Adonara, M. Si., yang menjadi salah
seorang anggota pantia persiapan kabupaten Buton Utara (waktu itu)?
Dua
tahun lalu, seorang berasal dari Hinga yang hijrah tinggal di kampung
saya, Pepageka, mengisahkan panjang lebar tentang sejarah lewo tanah
bernama Nara Sao Sina di dekat Waiwerang sana. Dia menyebut, desa
tersebut mempunyai rumah adat, koke bale, nuba nara, nobo,
yang digambarkannya sebagai penjelmaan dari unsur-unsur dalam Pancasila
serta simbol-simbol lain NKRI. Saya memang belum ke Nara Sao Sina
sehingga hanya manggut-manggut saja. Semula, saya berpikir ceritra ini
hanyalah ocehan orang mabuk sehingga tidak perlu ditanggapi. Tetapi dua
hari ini saya mulai terusik manakala membaca dua posting “Komunal Adonara” (KA) di group “Adonara Fund”, yang ditulis hampir bersamaan.
KA menulis, ”Ada jejak yang setidaknya mampu menggambarkan evolusi perkembangan peradaban masyarakat Adonara”. Intinya sebagai berikut: 1. Simbol menula (tempat memanggil hujan), 2. Simbol rie hikun limana wanan (tempat mengucapkan rasa syukur kepada nenek moyang), 3. Simbol nuba nara (tempat menyebah rera wulan tana ekan). “Jejak/simbol
ini menggambarkan masyarakat Adonara mulai mengenal ide-ide absolut.
Ide ketuhanan, pencipta dan juga mulai menetap di sebuah wilayah dan
membangun sistem sosial hingga saat ini atau yang dikenal dengan lewo.
Dari penjelasan simbol-simbol ini menggambarkan evolusi orientasi hidup
masyarakat Adonara mulai dari orientasinya terhadap alam, leluhur dan
yang terakhir yaitu rera wulan tanah ekan,” demikian penjelasan KA.
Beberapa menit sebelumnya, KA menulis “kle lema” yang mengambil
pendapat Boli Wuran Martin (BWM). Meski kenal dengan BWM, sekalipun
saya tidk pernah berdiskusi dengannya atau membaca tulisannya secara
utuh tentang hal ini sehingga tak jelas apa yang dimaksudkan dengan “kle
lema”. Tetapi KA menyimpulkan-meski agak ragu-bahwa “kle lema” adalah
Pancasila. Kle lema ike kewaat lewotana (Lima kekuatan sebagai dasar berdirinya lewo/lewotana) versi BWM adalah 1. Nuba (Kemanusiaan), 2. Nara (Persatuan), 3. Koke (Keadilan), 4. Bale (Kerakyatan), 5. Rie hikhun liman wanan (Ketuhanan). Buat
saya, juga tidak tepat kalau hal ini disamakan dengan Pancasila.
Bayangkan saja, kalau Pancasila versi Piagam Jakarta yang disetujui
pendiri bangsa negeri kita, apa ini sama dengan ‘kle lema”?
Kedua
posting ini kemudian saya kaitkan dengan puluhan artikel CBT seperti
saya sebutkan di atas. Jika dicermati, suku bangsaku, Lamaholot,
khususnya suku-suku di Adonara, ternyata bukanlah manusia “kacangan”. Saya
tersanjung, sekaligus penasaran sehingga terus mencari dan mencari
terus untuk membuktikan kebenarnnya. Sayang sekali, ilmuku tak sampai ke
sana. Meski begitu, dari literatur yang saya baca, rasa-rasanya
tidaklah demikian. Setidaknya untuk saat ini. Tentu masih banyak
pendapat lain tentang Adonara, asal muasal masyarakat Adonara dan
suku-suku di dalamnya, yang mampu menjelaskannya tapi belum sempat saya
ketahui.
Hanya saja, setahu saya, pemikiran-pemikiran brilian dari CBT,
YM, BWM belum sekalipun disanggah oleh para pakar. Tetapi dengan
keterbatasan pengetahuan yang saya miliki, jelas saya tolak. Soal
letak Benua Atlantis Yang Hilang yang oleh Arysio Santos dikatakan
adalah Sundaland (Kalimaantan, Jawa, dan Sumatera) ternyata oleh CBT dikatakan
di sekitar Maluku dan NTT. Bahkan di beberapa artikelnya, saya
menangkap-jika tidak keliru-adalah daerah yang dikenal sekarang sebagai
Tanah Lamaholot. Penolakan saya terhadap pendapat CBT ini bukan berarti
saya melecehak CBT. Semata-mata karena analisisnya menurut saya terlalu
lemah. Tidak ada bukti-bukti geologis, arkelogis, vulkanologis dan ilmu
lain yang meyakinkan kita bahwa Tanah Lamaholot atau khususnya Adonara
serta peradaban manusianya atau daerah sekitar Maluku-NTT adalah bagian
dari benua yang hilang tersebut. Saya lebih setuju dengan pendapat Prof.
Budi Brahmantyo, pakar geologi ITB yang secara ilmia mengupas hal ini
untuk membantah buku Arysio Santos tersebut (Pikiran Rakyat, 7 Oktober
2006). Saya juga tidak sependapat dengan CBT dan YM yang mengutak-atik
kata “Adonara” dan kata “Ata” (manusia) untuk memperkuat kesimpulan mereka. Menurut CBT, kata
Adonara terbentuk dari suku kata Adon dan Nara (konsonan N menjadi
poros untuk suku kata Adon dan Nara). Suku kata “Adon”,
“Adonay”-Ra=Dewa Matahari, maka ADONARA mengandung makna Dewa Matahari
untuk surgan positivis. Suku kata “Nara”, “Na” bermakna “Anak”, ‘Ra”
berarti “Matahari” = Putra Matahari. Kata “Nara” sendiri dalam bahasa
Jawa Kuno bermakna “Manusia”, dipadukan dengan “Adon” berarti “Dewa”,
maka Adonara bermakna Putra Matahari, (Putra Tuhan) menjadi Manusia Dewa
(Adam), Manusia Pertama penghuni surga empirik. Dari kata Adam,
mengalami perubahan bentuk pengucapan sesuai proses waktu menjadi Ad,
Ata, Atl, Tlan, Atlantis, sedangkan bahasa Inggris menyebut “land”
berarti tanah. Akar kata “tanah”adalah “tlan”, dalam
kata “Atlantik”. Dalam bukunya “Hombresy Estrcllas”, Oscar Fonck
Sieveking mengurai arti kata “Atlantik” itu berdasarkan bahasa
Polinesia: Atl: Air, Tlan: Tanah. Sedangkan Ti: Dilingkupi. Dengan
demikian Atlantik berarti tanah yang dilingkupi, dikelilingi oleh air
(Idem Padre Yoseph Muda).
Membaca
penjelasan begini, memang begitu adanya sebuah tanah, pastilah
dikelilingi air. Entah air sungai/danau, air laut atau es. Pulau
Adonara, seperti halnya pulau-pulau lain di Indonesia dikeliling laut.
Kecuali, Pulau Samosir yang dikelilingi air danau Toba. Mengenai
Adonara, berkembang beberapa versi. Versi pertama menyebut, terdiri kata
Ado (dari kata Ado Pehang) dan Nara (kawan, klan); sehingga Adonara
adalah pulau milik Kelake Ado Pehang dan klannya. Sementara kakaknya,
Pati Golo sebagai pemilik Flores Timur daratan. Versi lain menyebut
Adonara terdiri dari kata Adok (hasut) dan Nara; yang artinya senang
menghasut kawan untuk berperang melawan orang lain. Dari perilaku dan
watak orang Adonara, saya lebih setuju dengan versi terakhir ini.
Lalu
apa hubungannya dengan Adam, manusia pertama penghuni bumi ini,
sebagaimana dikenal dalam semua kitab suci agama Samawi? Saya tak punya
kapasitas untuk menelah lebih lanjut. Yang ingin saya tegaskan, haruslah
dicari benang merah antara gelombang kedatangan orang Lamaholot
(Adonara) sebagaimana digambarkan CBT, dengan hipotesis Paul Arndt
mengenai suku Munde dan Pangi di India Selatan yang mempengaruhi suku Demon – Paji di Kepulauan Solor. Sebab, tidak ada bukti ilmiah bahwa ada pengaruh yang sebaliknya. Pendapat Arndt lebih bisa diterima, mengacu pada masa
sejarah Indonesia yang dikenal mulai tahun 400 M, bersamaan datangnya
orang-orang Aria dari India yang membawa kebudayaan kontinen. Meski
Menurut Radahar Panca Dhana, (sastrawan dan ahli sosiologi Universitas
Indonesia), sebelumnya pelaut-pelaut Nusantara saat itu sudah menjelajah
ke India, Afrika, dsb termasuk membawa kebudayaan-kebudayaannya,
sehingga ditemukanlah kebudayaan-kebudayaan yang mirip Nusantara di
India, Madagaskar atau Afrika Selatan. “Sayangnya mereka tak punya
tradisi mencatat,” kata Radhar, seperti diktip Budi Brahmantyo dalam blog-nya. Keduanya tampil sebagai pembicara bedah buku Arysio Santos. Saya tak yakin, pelaut-pelaut ini adalah suku bangsa Lamaholot. Kalau Bugis, Makassar Ok-lah.
Mitos Atlantis yang Hilang
Seperti
apa gambaran negeri Atlantis itu? Budi Brahmantyo, dalam artikelnya di
Harian Pikiran Rakyat (PR), Bandung, 7 Oktober 2006 (saya download dari blog-nya), menggambar Atlantsi, selengkapnya seperti berikut:
Mitos
Atlantis muncul ketika mahaguru Socrates berdialog dengan ketiga
muridnya; Timaeus, Critias dan Hermocrates. Critias menuturkan kepada
Socartes di hadapan Timaeus dan Hermocrates cerita tentang sebuah negeri
dengan peradaban tinggi yang kemudian ditenggelamkan oleh Dewa Zeus
karena penduduknya yang dianggap pendosa. Critias mengaku ceritanya
adalah true story, sebagai pantun turun temurun dari kakek buyut Critias sendiri yang juga bernama Critias.
Critias,
si kakek buyut, mengetahui tentang Atlantis dari seorang Yunani bernama
Solon. Solon sendiri dikuliahi tentang Atlantis oleh seorang pendeta
Mesir, ketika ia mengunjungi Kota Sais di delta Sungai Nil. Bayangkan
cerita lisan turun temurun yang mungkin banyak terjadi distorsi ketika
Critias, si cicit, menceritakan kembali kepada Socrates, sebelum ditulis
oleh Plato (427 – 347 SM).
Di
luar dari distorsi yang mungkin terjadi, tulisan tentang dialog
Socrates, Timaeus dan Critias tentang Atlantis yang ditulis Plato adalah
sumber tertulis yang menjadi referensi utama. Dari dialog itulah
tergambar suatu negeri yang makmur, gemah ripah loh jinawi yang bernama
Atlantis. Letak negeri berada di depan selat yang diapit pilar-pilar
Hercules (the Pillars of Heracles).
Negeri
itu lebih besar dari gabungan Libia dan Asia. Terdapat jalan ke
pulau-pulau lain di mana dari tempat ini akan ditemui sisi lain negeri
yang dikelilingi oleh lautan sejati. Laut ini yang berada pada Selat
Heracles hanyalah satu-satunya pelabuhan dengan gerbang sempit. Tetapi
laut yang lain adalah samudera luas di mana benua yang mengelilinginya
adalah benua tanpa batas.
Di
Atlantis inilah terdapat kerajaan besar yang menguasai seluruh pulau
dan daerah sekitarnya, termasuk Libia, kolom-kolom Heracles, sampai
sejauh Mesir, dan di Eropa sampai sejauh Tyrrhenia. Lalu terjadilah
gempa bumi dan banjir yang melanda negeri itu. Dalam hanya satu hari
satu malam, seluruh penghuninya ditenggelamkan ke dalam bumi, dan
Atlantis menghilang ditelan laut.
Jika dicermati, kisah ini secara jelas menyebut bahwa Atlantis yang hilang itu terletak di
sekitar Laut Tengah (Mediterania). Selain nama-nama Libia, Mesir, Eropa
dan Tyrrhenia, disebut pula selat dengan pilar-pilar Hercules yang
tidak lain adalah Selat Gibraltar (atau dalam bahasa Arab, Selat
Jabaltarik), selat di Laut Tengah antara Eropa dan Afrika yang merupakan
gerbang ke Samudera Atlantik. Apakah betul Atlantis sebuah benua yang
lebih besar dari gabungan Libia dan Asia? Pendapat ini ditentang juga
sebagai salah terjemah kata Yunani meson (lebih besar) dengan kata mezon (di antara).
24 Kriteria Lokasi Atlantis Yang Hilang
Keyakinan
saya bahwa suku bangsa Lamaholot bukanlah sisa-sia manusia Atlantis
Yang Hilang makin kuat setelah membaca artikel lain Budi Brahmantyo
tentang 24 kriteri sebagai syarat Atlantis Yang Hilang, hasil kesepakatan para peneliti Atlantis dari 15 negara yang berkumpul di Pulau Milos, Yunani, dari 11-13 Juli 2005. Dalam konferensi
bertjuk “Hipotesis Atlantis – Mencari Benua yang Hilang”, para
spesialis dalam bidang arkeologi, geologi, volkanologi dan ilmu-ilmu
lain ini memperesentasikan pandangannya tentang keberadaan Atlantis,
waktu menghilangnya, penyebabnya, dan kebudayaannya. Berdasarkan kepada
tulisan Plato, peserta konferensi akhirnya setuju pada 24 kriteria yang
secara geografis harus memenuhi persyaratan keberadaan lokasi Atlantis.
Yaitu: 1. Metropolis Atlantis harus terletak di suatu tempat yang
tanahnya pernah ada atau sebagian masih ada. 2.
Metropolis Atlantis harus mempunyai morfologi yang jelas berupa
selang-seling daratan dan perairan yang berbentuk cincin memusat. 3.
Atlantis harus berada di luar Pilar-pilar Hercules. 4. Metropolis
Atlantis lebih besar dari Libya dan Anatolia, dan Timur Tengah dan Sinai
(gabungan). 5. Atlantis harus pernah dihuni oleh masyarakat
maju/beradab/cerdas (literate population) dengan ketrampilan dalam
bidang metalurgi dan navigasi. 6. Metropolis Atlantis harus secara rutin
dapat dicapai melalui laut dari Athena. 7. Pada waktu itu, Atlantis
harus berada dalam situasi perang dengan Athena. 8. Metropolis Atlantis
harus mengalami penderitaan dan kehancuran fisik parah yang tidak
terperikan (unprecedented proportions). 9. Metropolis Atlantis harus
tenggelam seluruhnya atau sebagian di bawah air. 10. Waktu kehancuran
Metropolis Atlantis adalah 9000 tahun Mesir, sebelum abad ke-6 SM. 11.
Bagian dari Atlantis berada sejauh 50 stadia (7,5 km) dari kota. 12.
Atlantis padat penduduk yang cukup untuk mendukung suatu pasukan besar
(10.000 kereta perang, 1.200 kapal, 1.200.000 pasukan). 13. Ciri agama
penduduk Atlantis adalah mengurbankan banteng-banteng. 14. Kehancuran
Atlantis dibarengi oleh adanya gempa bumi. 15. Setelah kehancuran
Atlantis, jalur pelayaran tertutup. 16. Gajah-gajah hidup di Atlantis.
17. Tidak mungkin terjadi proses-proses selain proses-proses fisik atau
geologis yang menyebabkan kehancuran Atlantis. 18. Banyak mata air panas
dan dingin, dengan kandungan endapan mineral, terdapat di Atlantis. 19.
Atlantis terletak di dataran pantai berukuran 2000 X 3000 stadia,
dikelilingi oleh pegunungan yang langsung berbatasan dengan laut. 20.
Atlantis menguasai negara-negara lain pada zamannya. 21. Angin di
Atlantis berhembus dari arah utara (hanya terjadi di belahan bumi
utara). 22. Batuan Atlantis terdiri dari bermacam warna: hitam, putih,
dan merah. 23. Banyak saluran-saluran irigasi dibuat di Atlantis. 24.
Setiap 5 dan 6 tahun sekali, penduduk Atlantis berkurban banteng.
Dari
ke-24 kriteria di atas, jelas Atlantis yang hilang itu bukanlah
Sundaland (Indonesia). Tetapi ada dua kriteria terakhir yang mirip
dengan kondisi di Bali. Yakni, soal irigasi yang
sudah sangat maju (Subak) dan kebiasaan umat Hindu Bali mengurbankan
banteng dalam kurun waktu tetentu untuk upacara agamanya.
Mencari Identitas tanpa Provokasi
Beberapa tahun lalu, konon, di kecamatan Witihama secara diam-diam berkembang “pemikiran” saudara-saudara
kita dari empat suku: Lamahhoda, Lamanepa, Rianghepat, dan Palihama
yang tergabung dalam “Kelompok 4-1”. Dari informasi yang saya terima,
tujuan Kelompok Empat Satu ini adalah mewacanakan pemurnian sejarah asal
usul manusia Adonara, dengan setting utama –maaf jika
saya terlalu vulgar-Kelompok Empat Satu sebagai manusia pertama
Adonara. Sejak itu, saya ingin berdiskusi dengan mereka, sayangnya saya
belum menemukan figur yang tepat. Buat saya, kelompok apapun atau
siapapun dia dan dari suku mana saja sangat penting dan berhak mencari
jati dirinya. Namun, akan sangat lebih elegant
jika diformulasikan dalam sebuah karya ilmiah yang bisa
dipertanggungjawabkan secara ilmiah pula. Atau mungkin sudah waktunya
gagasan semacam itu dibicarakan dalam forum ilmiah seperti seminar
sehingga mendapat tanggapan balik dari para pakar. Belakangan, saya
mendapat informasi, ada suku lain mengklaim Gajah Mada adalah nenek
moyangnya. Saya pernah membaca berita bahwa di sebuah kampung di daratan
Flores Timur ditemukan jejak raksasa yang diyakini sebagai jejak Gajah
Mada. Benar atau tidak, sampai sekarang tampaknya belum ada kesimpulan
dari pihak yang berkompoten. Seandainya benar-ini seandainya loh-toh tidak pernah ditemukan jejak yang sama di Adonara. Patimura
dari Ambon juga mengalami ‘nasib’ yang sama. Pahlawan nasional itu
malah diklaim sebagai nenek moyang suku lainnya di Adonara. Ada kesan provokatif memang!
Sebelum
membaca literatur-literatur tentang Benua Atlantis Yang Hilang, saya
sudah mendengar ceritra “Belebo Lebo”, “Buta Mete Walang Mara” yang
dituturkan secara temurun dari suku-suku di Adonara dengan versinya
masing-masing. Padahal menurut saya, kedua ceritra ini mirip kisah
bencana gempa bumi disertai letusan gunung api dan
tsunami mahadahsyat yang menenggelamkan Benua Atlantis hanya dalam
hitungan satu hari. Cuma, tidak ada orang yang secara tegas menyatakan
bahwa “Belebo Lebo” dan“Buta Mete Walang Mere” itulah Atlantis yang
hilang.
Peradaban Suku Lamaholot memang tidak mengenal budaya tulis. Itulah maka tidak pernah dikenal aksara Lamaholot serta peninggalan peradaban Suku Lamaholot yang terekam dalam sastra-satra kuno, seperti halnya sastra
Jawa Kuna di Jawa atau sastra Lontar di Bali. Bangsa Lamaholot hanya
mengenal tradisi puisi lisan secara turun temurun. Uniknya,
subsuku-subsuku di dalam Suku Lamaholot mempunyai puisi lisan tersendiri
dan bisa dipastikan lebih hebat dari subsuku lainnya. Tidak berlebihan
jika mitos mengenai asal usul manusia Lamaholot juga berbeda dari setiap
subsuku. Raja Larantuka dan keturunannya (klan) suku Demon mengaku berasal dari Gunung (Ile) Mandiri, sebagaimana mitos Oa Wato Wele yang menikah dengan Pati Golo. Mitos ini diangkat
sebagai tesis oleh Yosep Japi Taum dengan judul: “Wato Wele Lia Nurat.
Dalam Tradisi Puisi Lisan Lamaholot”, yang kemudian diterbitkan dalam
buku dengan judul yang sama oleh Yayasan Ilmu-ilmu Sosial.
Orang Boleng, Lamawolo, Lewo Keleng dan semua desa di kecmatan Ile Boleng di Pulau Adonara merasa sebagai
‘pemilik’ Gunung Boleng karena mereka mengaku nenek moyangnya adalah
seorang putri titisan Gunung Boleng yakni Sode Boleng yang dinikahi Ado
Pehang (kakak kandung Pati Golo) yang terdampar di Selat Wai Tolang,
daerah sekitar Tanah Boleng. Kelake Ado Pehang dan Kewae Sode Boleng
inilah yang menurunkan klan Paji (KD Lamanele: Asal Usul Manusia Adonara, dalam www.nttonlinenews.com, Selasa, 28 September 2010).
Menarik
dicermati, seorang teman dari Witihama yang sekarang menetap di
Pasuruan, Jawa Timur-memiliki seorang anak perempuan bernama Kewae Sode
Bolen. Cuma, saya tak tahu apakah anaknya laki-laki bernama Kelake Ado
Pehang atau tidak. Padahal kita tahu, Witihama dan desa-desa seperti
disebutkan KD Lamanele adalah bersebalahan mengapit Ile Boleng. Lalu
bagaimana “nasib” Lamatokan Ile Lodo Hau yang mengaku berasal dari gunung? Tetapi mungkin karena posisi Desa Nisakarang
(Dua) di lereng Ile Boleng, seorang teman dari desa ini malah mengklaim
Ile Boleng adalah milik mereka. Entah kelakar atau serius, teman saya
ini tak mau berceritra lebih banyak mengenai sejarah “kepemilikan” atas
“pilar langit” Adonara ini. Semoga klaim seperti ini tak membuat
masyarakat Lamalota tersinggung karena saya tahu lewo alapen (alaten)
di Lamalota juga mengaku sebagai ‘pemilik’ Ile Boleng. Mungkin karena
posisi desa Lamalota paling tinggi mendekati puncak dibandingkan desa
lain di lereng Ile Boleng? Entalah.
Jadi, menurut saya, ceritra KD Lamanele yang didengar langsung dari orangtuanya ini tentu menjadi tak nyambung dengan kisah keturuan klan
Paji di Kecamatan Keluba Golit, Witihama dan Kecamatan Adonara. Lalu
bagaimana dengan asal muasal manusia di Adonara Timur, Adonara Tengah,
Wotan Ulu Mado dan Adonara Barat? Sejarah Desa Lamahala Jaya adalah
contoh tata susunan sistim pemerintahan tradisional sejak kedatangan
nenek moyang mereka dan bertahan hingga sekarang ini. Suku-suku di
Lamahala mempunyai peran yang jelas. Bela Suku Telo
sebagai pemimpin, dimana Suku Selolong sebagai kepala pemerintahan,
Atapukan (kepala adat), dan Malakalu sebagai kepala perang. Di bawahnya
ada kabinet (mentri) yang terdiri dari Kepitan Pulo, dan Pegawe Lema
yang mengurus masalah keagamaan. Selengkapnya lihat: Sejarah Polu –
Nipat yang ditulis oleh Abdurrahim Djafar di blog “Watan Lamahala”.
Suku
Pepageka di Desa Pepageka juga mempunyai pembagian tugas yang jelas
dari lima moyang mereka. Yang pertama bertugas sebagai pemimpin
pemerintahan, yang kedua sebagai kepala perang, yang ketiga memegang
urusan dengan “rera wulan – tana ekan”, yang keempat memegang urusan “tubak mula – hudung hubak”, dan terakhir memegang urusan “uran – wai”.
Sayangnya, saya
belum menemukan literatur atau artikel yang mengupas asal usul manusia
Adonara di bekas kecamatan Adonara Barat. Kalau ada tetapi luput dari
perhatian saya, barangkali bisa dipublikasikan secara luas memalui
jejaring sosial sehingga memperkaya wawasan kita. Dengan begitu, akan
diperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai manusia Adonara. Dari
sini barulah kita bisa mengungkap seperti apa identitas kita sebagai
manusia Adonara. Saya kira kita sepakat bahwa semua artikel tentang
Adonara bertujuan menemukan sejarah asal usul manusia Adonara yang
sebenarnya kemudian menempatkannya dalam sesuai tatanan sosial
masyarakat Adonara dan sedapat mungkin menghindari benturan dengan
tatanan sosial yang sudah ada.
Sebuah Simpul yang tak Sempurna
Pada
bagian akhir tulisan ini, saya mencoba membuat simpul meski tak
sempurna. Kita semua sepakat bahwa Pulau Adonara dan manusia serta
peradabannya memiliki keunikan tersendiri. Beberapa peneliti Barat,
terutama para misionaris sudah membukukan hasil penelitiannya. Seperti
Ernst Vatter (Ata Kiwang), Paul Arndt (Demon dan Paji), dan lain-lain. Arndt
menduga, nenek moyang suku bangsa Lamaholot berasal dari India Selatan.
Kata pastor ini, di daerah ini ada dua suku yakni Munde dan Pangi yang
saling bermusuhan. Persis dengan perilaku Demon dan Paji di Kepulauan
Solor. Lalu apakah, pendapat Arndt ini diterima sebagai sebuah
kebenaran? Adalah tugas kita-terutama para pakar- untuk membuktikannya.
Tentu, kajian tentang hal ini akan lebih sempurna
bila menggabungkan pendapat Arysio Santos dan Oppenheimer. Siapa tahu,
kelak akan terkuak indentitas manusia Adonara.
Tetapi
terlepas dari itu semua, untuk saat ini, buat saya yang terbaik adalah
mengumpulkan bukti-bukti ilmiah lalu diformulasikan berdasarkan
metodologi ilmiah supaya dikupas tuntas dalam forum terbuka atau semacam
seminar ilmiah. Apa yang sudah dipublikasikan oleh CBT, YM, BWM, Paul
Arndt, Ernst Vatter, bahkan posting-posting di
jejaring sosial adalah sebuah langkah awal ke arah menemukan jati diri
manusia Adonara. Mitos atau legenda, atau ceritra turun temurun yang
tidak pernah dibukukan bahkan sudah dibukukan sekalipun, tetaplah sebuah
ceritra. Tak ubahanya sebuah ceritra rakyat, pasti ada di manapun
manusia di seluruh dunia ini. Kalau pada akhirnya kita terbentur data
dan bukti ilmiah, maka garis tangan kita mungkin sudah demikian sehingga
tidak perlu dipaksakan. Justru kalau dipaksakan, hanya akan menimbulkan
perpecahan di antara sesama anak Adonara. Akhirnya, kita mau mencari
identitas tetapi jutsru mendapatkan musuh.
Lebih
dari itu, kalau ada praktek budaya Adonara yang mirip dan ditemukan di
belahan dunia lain di negara yang lebih maju sekalipun, menurut saya
hanyalah sebuah kebetulan saja. Sehingga tidak otomatis diklaim sebagai
‘milik’ kita. Logikanya, kalau kebudayaan itu adalah milik kita, maka seharusnya kita juga lebih maju atau
setidak-tidaknya setaraf dengan mereka. Ataukah generasi yang
melahirkan kita ini berada di tempat yang salah? Entalah! Pun kalau
praktek seperti itu mirip simbol-simbol negara kita, menurut saya juga
berlebihan. Daerah lain Indonesia juga banyak mempunyai tata cara budaya
seperti kita. Yang ingin saya katakan, semua suku di Adonara, baik yang
mengaku asli Adonara maupun suku yang datang belakangan, pastilah
sebelumnya berasal dari suatau wilayah yang sama, entah di mana. Yang
jelas bukan berasal daerah bekas Atlantis Yang Hilang atau sisa-sia
manusia Atlantis. Kesamaan ini ditandai oleh adanya nuba nara, rumah adat, koke, bale
yang hampir ditemukan di semua desa di Adonara; sesuatu yang tidak
pernah disebutkan Plato-si filsuf beken Yunani itu, atau 24 kriteria
yang dicetuskan para ilmuwan di Pulau Milos, Yunani, 11-13 Juli 2005. Yang
membedakan satu suku dengan lainnya di Adonara adalah peran
masing-masing, sejak era kedatangan suku tersebut dan bertahan hingga
sekarang ini. Celakanya, kini ada wacana untuk melabrak tatanan sosial
yang sudah ada. Kelompok antikemapanan ini menuding tatanan sosial adalah
warisan kolonial sehingga perlu dienyahkan di bumi Adonara. Padahal,
jika dicermati, tatanan sosial seperti ini sudah ada jauh sebelum bangsa
Eropa (Portugis) tiba di Flores Timur.
Melihat
tingkah polah kelompok antikemapanan adat ini, kelompok lain menuding
sebagai gerakan untuk mencari identitas yang pada ujung-ujungnya ingin
mendapat pengakuan masyarakat. Menurut saya, tatanan sosial adalah salah
satu kearifan lokal yang tidak perlu dipertentangkan. Jika ada kelompok
berusaha mencari identitasnya, maka hal yang sama juga akan bisa
dilakukan kelompok lain. Semakin banyak orang atau kelompok mencari jati dirinya, justru makin bagus. Dengan begitu akan memperkaya khasanah watak
dan karakter manusia Adonara. Asal saja hal itu dilakukan dengan
cara-cara etis. Kalaupun ada praktek tatanan sosial oleh sekelompok
orang diyakini tidak pas, atau ada perubahan peran di masyarakat adat,
maka dikembalikan kepada pelaku peran tersebut. Toh
hukum adat Adonara sudah jelas dan ekstra kejam. Salah menempatkan diri
dalam urusan adat, maka resikonya tujuh turunan bisa habis seketika.
Tanpa bermaksud membuka luka lama yang dialami keluarga saya di Desa
Lamahala Jaya, konon tragedi hilangnya lima orang pemuda Lamahala 10
tahun lalu, yang sampai sekarang tidak bisa diungkap Polres Flores
Timur, ada kaitannya dengan ‘kesalahan’ peran dalam struktur masyarakat
Lamahala seperti dijelaskan di atas.
Nah
kembali ke soal mencari identitas ini, setahu saya, sejak era
reformasi, tepatnya pemilihan kepala daerah dan pemilu legislatif, makin
banyak orang Adonara atau Flores Timur umumnya rajin mencari jati
dirinya dengan mendatangi rumah-rumah adat yang diyakini sebagai bagian
dari ceremoni adat sesuai garis keturunannya. Dengan cara sederhana ini,
sebenarnya bisa menggambarkan kepada kita dari mana jati diri seseorang
dan bagaimana perannya dalam struktur sosial masyarakat Adonara.*
Ditulis Oleh : Rahman Sabon Nama
Berasal dari Pulau Adonara, Flores Timur, NTT. Tinngal di Denpasar,
profesi jurnalis, sebagai Ketua Koordinator Daerah Bali PWI Reformasi
2008-sekarang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar