Laman
▼
Rabu, 23 Mei 2012
Bita Beach, Bertukar Sampan di Pantai Selatan Kota Ende
Bita Beach, pantai yang berlokasi di selatan kota Ende-Flores ini terpancar panorama nan menawan dengan hamparan luas laut Sawu yang begitu indah. Di tengah teluk pantai selatan Ende ini berdiri tegak sebuah daratan yang menjulang di tengah laut, Pulau Koa demikian nama daratan itu.
Bita Beach mungkin tidak asing bagi warga Ende. Selain setiap hari libur selalu saja ada yang datang untuk menikmati indahnya alam pantai, juga di tempat ini terdapat pelabuhan yang menghubungkan penduduk di wilayah-wilayah di pantai selatan kota Ende, seperti kecamatan Ndona dan sekitarnya. “Pelabuhan ini digunakan oleh kami warga pantai selatan, dari Desa Reka, Kekasewa,Ngalupolo, Wolotopo dan Nila,” ungkap salah seorang penumpang perahu motor kepada FBC, Selasa 13/06.
Memang, kalau bicara Bita Beach sebagai pelabuhan penyangga tidak ada yang meragukan. Datang saja pada pagi hari sekitar pukul 07.00-08.00, akan menjumpai perahu motor berukuran kecil, juga perahu-perahu dari desa-desa pesisir yang merapat.
Daniel Padu (70), pemilik perahu motor Caritas jurusan Reka-Ende menuturkan, perahu motor miliknya, mengangkut penumpang ke Desa Reka hanya satu kali dalam sehari. “Kami berangkat jam 6 dari kampung dan tiba di sini jam 7 atau setengah 8 dan pulang sekitar jam 11 atau paling lambat jam 12,” ujarnya.
Tapi ada pemandangan yang cukup menarik. Di keramaian perahu yang datang, di tempat ini tak ada dermaga yang permanen. Bagai bertukar sampan, para penumpang yang hendak turun ke pantai, dilayani oleh sampan-sampan kecil. Sampan-sampan kecil adalah milik dari perahu-perahu itu. Sampan ini diikat dibagian belakang dan selalu mengikuti perhu motor kemana pergi.
Perahu motor, tak ada yang mau menepi. Melalui sampan-sampan kecil, penumpang pun diseberangkan dari perahu ke tepi daratan. Begitu sebaliknya, melalui sampan-sampan kecil, penumpang dibawa menuju perahu untuk terus melanjutkan perjalanan ke desa yang dituju. Setelah selesai mengangkut penumpang,
Kisah para awak perahu, sungguh merupakan kisah sendiri. Sebelum mengangkut barang dan penumpang, meraka pun harus menghabiskan sedikit waktu dan tenaga untuk mengeluarkan air dari dalam perahu. Permukaan laut dengan bibir sampan jaraknya kira-kira 5 cm, selalu saja ada air yang masuk ke dalam sampan. Tapi itulah alam, selalu saja memungkinkan orang mengatasinya walau terkesan sulit dan menantang.
Sementara bagi penumpang yang menunggu keberangkatan perahu motor, selalu saja ada cara untuk menghilangkan rasa jenuh dan ngantuk. Bercerita dan bermain kartu adalah obat penawarnya.
Bila langit cerah, pemandangan pesisir pantai tampak indah. Gelombang laut yang tenang dan tiupan angin yang teduh membuat mata mudah terlelap dalam bayangan mimpi. Pepohonan yang tumbuh di pesisir pantai menjadi tempat berteduh bagi mereka.
Bila perahu yang hendak bertolak masih belum memberikan sinyal keberangkatan, segerombolan kaum pria pun memanfaatkan waktu untuk bermain kartu. Mungkin ini menjadi pilihan para penumpang untuk melepaskan kejenuhan mereka. “ Kami bermain hanya untuk mengisi waktu, dari pada tunggu perahu belum berangkat, sekedar untuk menghibur kami bermain kartu, kadang juga bermain domino,” ungkap Aris (30) pria asal desa Reka ini.
Di bawah timbunan pepohonan tampak para ibu dan perempuan lainnya, duduk sambil berbincang-bincang dan mengunya sirih pinang. Semakin dikunyah, semakin banyak hal yang dibicarakan. Rupanya, di antara mereka sudah saling kenal, atau juga punya hubungan keluarga walau berlainan desa. Alam telah sanggup membuat mereka saling terbuka berbagai ceritra.
Bita Beach, sungguh menjadi tempat yang indah dan nyaman untuk melepas lelah. Dari Bita Beach ini memandang ke arah barat akan tampak gunung Meja dan gunung Ia, sementara ke timur akan tampak relief pegunungan yang memukau mata. Tidak mengherankan jika siapa saja yang datang ke kota Ende, selalu saja ditawari untuk berkunjung ke Bita Beach.
(Nando Watu/Floresbangkit.com)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar