Laman

Rabu, 23 Mei 2012

Kelompok Ema Hingi Kembangkan Usaha “Jagung Titi”


Sejak dulu masyarakat Lamaholot Flores Timur dan Lembata, telah menemukan cara mengelola jagung agar dapat tampil beda dalam mengkonsumsi. Sebagai suatu makanan khas yang enak dipandang dan gurih dikonsumsi, ”Jagung Titi” selalu menjadi makanan baik dalam rumah maupun  dalam perayaan-perayaan adat masyarakat. “Jagung Titi”  juga  menjadi makanan yang dibawa anak-anak ke sekolah atau bertamsya. Orang-orang yang berpergian jauh pun selalu menyertai ”Jagung Titi” sebagai bekal dalam perjalanan.
“Jagung Titi”  atau lempengan jagung dihasilkan dari jagung yang digoreng,  dititi dengan sebuah batu kecil sebesar genggaman tangan di atas dasar sebuah batu alam sedang, seberat pikulan manusia. Walau kebanyakan  rumah tangga sudah meninggalkan tradisi meniti jagung, beberapa rumah tangga masih mempertahankan, bahkan ibu-ibu di wilayah ini kini sudah membentuk kelompok  untuk mengembangkan usaha ini. Kelompok Ema Hingi  di desa Lamatuka Kecamatan Lebatuka Kabupaten Lembata- Propinsi Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu contohnya.
Selasa, (22/5) pagi, FBC menemui kelompok Ema Hingi di desa Lamatuka. FBC sempat bertemu dan berbincang-bincang  dengan ina Antonia Lelo (Sekretaris Kelompok), ina Anastasia Prada (Bendahara) dan ina Ursula Uba (anggota) di rumah ina Anastasia Prada.
Dalam perbicangan FBC dengan ina-ina Ema Hingi ini, dikisahkan kalau Kelompok Ema Hingi dibentuk  tahun 2011. Kelompok ini, beranggotakan 9 (Sembilan) orang perempuan (ina-ina), dengan komposisi kepengurusannya : Yuliana Knuka sebagai Ketua, Antonia Lelo sebagai Sekretaris, Anastasia Prada sebagai Bendahara; dengan anggota-nggotanya : Ursula Uba, Marta Loma, Maria Peni, Yustina Jawa, Veronika Tean dan Petronela Ero.
“Semula, secara perorangan, kami melayani permintaan “Jagung Titi”  atau kripik jagung dari konsumen-konsumen perorangan. Ketika pesanan dalam jumlah yang agak besar, kami pun mulai secara bersama-sama menangani atau melayaninya. Pada saat itulah kelompok kami pun mulai terbentuk,” demikian  ina Antonia Lelo.
Dia menceritrakan, beberapa kali kegiatan atau pesta di kantor-kantor pemerintah yang lebih menekankan makanan lokal, biasanya datang memesan jagung titi, bose (kolak jagung), kripik ubi, pisang dan putu (kue lokal dari ubi kering atau gablek). “Semua pesanan kami kerjakan secara bersama-sama dalam kelompok,”katanya.


Tiga Jenis “Jagung Titi”
Usaha kelompok Ema Hinggi memang tergolong serius dalam mengembangkan usaha “Jagung Titi”. Ini terlihat dari inovasi yang dirancang kelompok ini dalam menghasilkan beberapa jenis “Jagung Titi”. Ina Antonia sapaan sehari-hari Antonia Lelo, menerangkan, “Jagung Titi” atau disebut juga kripik jagung, dikelola dalam 3 jenis dengan menu variatif sesuai selera pembeli.

Jagung titi jenis pertama adalah “jagung titi tradisional”, dengan proses pembuatannya, dititi per biji secara tradisional pula. Jagung titi jenis kedua adalah “kripik jagung semi jadi”, dengan proses pembuatannya : 3-5 biji jagung, dititi menjadi 1 kripik jagung berukuran sedang. Kripik jagung semi jadi, bisa dimakan setelah dijemur atau setelah digoreng akan melebar sebagaimana ukuran standar kripik jenis lainnya.
Jenis jagung titi ketiga adalah “Kripik Jagung Gurih”, siap saji untuk dimakan. Kripik jagung gurih atau jagung titi gurih bisa rasa manis, rasa asin, rasa pedas dan kombinasi rasa lainnya.
Terhadap semua jenis jagung titi ini, dapat dipesan dan dilayani dalam kemasan berlabel modern, pun dalam kemasan lokal kaleng atau blik bekas tempat biscuit dengan harga berfariatip, mulai dari Rp. 5.000,- (Lima Ribu rupiah), Rp.10.000,- (Sepuluh Ribu Rupiah) sampai dengan Rp.50.000,- (Lima Puluh Ribu Rupiah).


Mengembangkan Usaha
Kelompok Ema Hingi punya semangat berusaha, serta punya tekat untuk berkembang maju. Kelompok ini menginginkan agar produk yang dihasilkan  bisa terjangkau pasar yang luas.  Sungguh tekad yang luar biasa, karena para anggota kelompok berani meninggalkan berbagai pekerjaan dan kesibukan lain untuk lebih menekuni usaha ini.
Namun, lagi-lagi tingginya permintaan dan kesedian bekerja ternyata tidaklah cukup. Bagaimanapun usaha ini membutuhkan modal yang besar baik untuk untuk menghasilkan produksi yang banyak, maupun dalam kebutuhan promosi dan menjangkau pasar.
Ina Anas sapaan manis Anastasia Prada, bendahara kelompok Ema Hingi menuturkan dengan nada pesimistis : “Kami memang niat untuk mengembangkan usaha ini secara rutin pa, tetapi selalu saja berjalan tersendat-sendat karena tergantung dari pesanan, dan pesanan itu pun musiman dan masih bersifat lokal, dalam kampung atau dari kantor-kantor Lewoleba yang mereka tahu. Itu pun dalam jumlah kecil.”
Ina Anas kemudian menyampaikan bahwa mereka sangat mengharapkan bantuan  pihak lain dalam mendorong usaha yang tengah dirintis. Bagi Ina Anas, kehadiran pihak lain selain dalam hal modal usaha, tapi juga membantu memperkenalkan produk  ini ke  luar. ” Kami pun belum memiliki modal untuk mendatangkan orang pandai melatih kami membuat produk dengan resep menu yang lebih memenuhi selera konsumen. Belum lagi, kalau harus mendatangkan bahan kemasan (kertas) yang berlabel yang lebih baik ,” ujarnya, yang ketika itu ditemani ina Antonia Lelo dan Ursula Uba.


 (Lukas Narek/Floresbangkit.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar