Tidak salah jika Indonesia disebut
sebagai negara gudang kreativitas. Seperti ide kreatif satu ini yang
patut diacungkan jempol. Dua belas tahun silam, sekelompok seniman Solo
melahirkan genre wayang baru yang dinamakan Wayang Kampung Sebelah.
Apa yang membuatnya begitu istimewa?
Selain bahan boneka wayang yang terbuat dari kulit berbentuk manusia
yang distilasi, wayang ini juga benar-benar menampilkan realita hidup.
Tokoh-tokohnya adalah masyarakat kampung yang plural yang antara lain
terdiri dari penarik becak, bakul jamu, preman, pelacur, Pak RT, Pak
Lurah, hingga pejabat besar kota.
Pertunjukan Wayang Kampung Sebelah ini
berangkat dari keinginan membuat format pertunjukan wayang yang dapat
menjadi wahana untuk mengangkat kisah realitas kehidupan masyarakat
sekarang secara lebih lugas dan bebas tanpa harus terikat oleh
norma-norma estetik yang rumit seperti halnya wayang klasik.
Yang juga menarik adalah diangkatnya
isu-isu serius dengan muatan sinisme, satire, hingga kritikan tajam yang
begitu dominan namun berhasil tampil dalam wajah yang lebih segar penuh
humor dalam hal format alur, penokohan, dialog maupun syair lagu
iringan.
Isu-isu yang diangkat adalah isu-isu
aktual yang berkembang di masyarakat masa kini baik mengenai politik,
ekonomi, sosial, budaya maupun lingkungan. Akibat penyajian yang segar,
tentu saja kening Anda tidak akan berkerut meski isu yang sesungguhnya
begitu dalam.
Bahasa yang digunakan adalah bahasa
percakapan sehari-hari, baik bahasa Jawa maupun bahasa Indonesia
sehingga pesan-pesan yang disampaikan lebih mudah Anda tangkap. Yang
istimewa, Wayang Kampung Sebelah pun dapat melayani pesanan lakon dengan
catatan sejauh tidak bertentangan dengan asas kebenaran dan keadilan.
Ada lagi yang unik dari jenis wayang yang satu ini.
Berbeda dengan kebanyakan wayang pada
umumnya, Wayang Kampung Sebelah tidak menggunakan iringan gamelan
melainkan menggunakan iringan musik. Lagu-lagu iringannya lebih banyak
menyajikan lagu-lagu karya sendiri.
Lihat saja munculnya instrumen flute,
gitar, bass, drum, dan saxophone yang begitu dinamis, berpadu harmonis
dengan kendang, suling, dan jimble. Tak jarang pertunjukan ini
menghadirkan bintang tamu artis penyanyi atau pelawak yang sedang naik
daun.
Selain itu, kisah dalam pertunjukan Wayang Kampung Sebelah bukan monopoli dalang. Pemusik maupun penonton berhak nyletuk menimpali dialog maupun ungkapan-ungkapan dalang, membuat pertunjukan ini begitu hidup dan interaktif.
Dalam setiap adegan, sangat mungkin
berlangsungnya diskusi antara tokoh wayang, dalang, pemain musik, maupun
penonton. Bahkan untuk kepentingan tertentu dapat dihadirkan nara
sumber untuk melakukan diskusi membahas suatu persoalan sesuai tema yang
disajikan.
Pertunjukan Wayang Kampung Sebelah
berdurasi sekitar dua sampai tiga jam. Untuk kondisi tertentu,
pertunjukan dapat berlangsung dalam durasi kurang dari 60 menit. Tak
heran jika dalam setiap penampilannya, pagelaran wayang kontemporer yang
satu ini selalu mengundang semarak pengunjung. Begitu hidup, begitu
aktual.
Alamat: Siwal RT 05 RW 02, Desa Siwal, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah 57556
Telepon: (0271) 7012718, 081 2297 3185
Situs: http://wayangkampung.blogspot.com, http://sanggarpurbakayun.blogspot.com, http://orek-orek.blogspot.com
Sumber foto: obyektif.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar