Laman

Minggu, 19 November 2017

Bukan Terpengaruh Budaya Luar Tapi Tidak Miliki Keinginan Cintai Budaya Sendiri

Pembicara dalam seminar budaya, Kaum Muda dan Identitas Budaya di aula biara Scalabrinian Maumere, (kiri ke kanan) Heribertus Adjo, Pater Inocensius Guntus,Sc, moderator dan Dr.Andreas Hugo Pareira. Foto : Ebed de Rosary
MAUMERE – Orang sering menyalahkan masuknya budaya asing dan ikut mempengaruhi budaya lokal bahkan mengancam kelestarian budaya lokal padahal bila setiap orang mencintai budayanya sendiri maka ini dapat menjadi benteng yang kokoh membendung masuknya nilai-nilai negative dari luar.

Kegelisahan akan masuknya budaya asing mendapat tempatnya saat digelarnya Seminar dan Pentas Budaya, Kaum Muda dan Identitas Budaya Sabtu (18/11/2017) malam di biara Scalabrinian yang dihadiri sekitar 300 anak muda dari berbagai etnis dan kelompok yang berdiam di kabupaten Sikka.

“Ketakutan saya bukan karena terpengaruh budaya lain tapi kita tidak memiliki keinginan melestarikan budaya kita sendiri. Budaya itu warisan sosial yang mesti dipelajari,” sebut Pater Ansensius Guntur,Sc selaku salah satu pembicara.

Membahas persoalan Keterlibatan Anak Muda dalam Pelestarian Budaya, pater Yance sapaannya menekankan keterlibatan anak muda sangat penting dalam melestarikan budaya sehingga perlu terus didorong.

Pater asal manggarai ini menekankan,bila anak muda terlibat mempromosikan budaya maka dirinya yakin anak muda bisa membuat budaya lokal bisa dikenal dunia.Anak muda memiliki semangat yang luar biasa, memiliki energy lebih untuk berkarya.

“Saya yakin anak muda mampu berperan sebagai penerus budaya, anak muda sangat kreatif dan memiliki inovasi untuk membuat sebuha warisan budaya bisa dinikmati orang lain di luar komunitas budaya mereka,” tuturnya.

Pater Inocensius Guntur,Sc dari biara Scalabrinian Maumere saat membawakan meteri berjudul Keterlibatan Anak Muda dalam Pelestarian Budaya. Foto : Ebed de Rosary
Memperkuat Keyakinan Budaya

Ketakutan tergerusnya budaya lokal di era modernisasi dan globalisasi dengan perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat, mau tidak mau harus dilalui dan disikapi dengan sebuah pemikiran positif.

Dalam keseharian, setiap orang sering latah dan terkecoh bahkan ikut meniru mentah-mentah budaya luar yang masuk dan mengaplikasikan dalam kehidupan keseharian agar tidak dicap tradisional, kampungan,kuno atau dikatakan tidak gaul.

“Keresahan bukan akibat datangnya budaya dari luar tapi kita harus membentengi diri kita, meningkatkan kualitas diri serta memahami makna dan gaya hidup yang sesuai dengan diri kita,” ungkap Heribertus Adjo.

Pegiat pariwisata di Sikka ini tegas meminta agar generasi muda mulai memperkuat jati diri dan mempererat keyakinan bahwa budaya yang diwariskan leluhur kita baik adanya.

Hery mencontohkan,pemberian Belis atau Mahar dalam perkawinan dari seorang lelaki kepada perempuan dimana menurutnya Belis merupakan penghargaan yang diberikan kepada perempuan.Ada nilai-nilai yang terkandung di dalamnya namun saat ini orang hanya menyamakan Belis dengan uang.

“Berapa harga seekor kuda, sapi dan kerbau serta barang lainnya yang semuanya dilihat nilai uangnya.Orang kini tidak lagi melihat Belis sebagai sebuah bentuk pengharagaan laki-laki kepada perempuan bukan sebaliknya harga seorang perempuan yang disamakan dengan uang,” ungkapnya.

Pater Rofinus Sumanto,Sc menambahkan, dirinya pun saat bertugas ke beberapa negara di Asia, Eropa bahkan Afrika, ada kecenderungan dalam dirinya untuk melupakan budayanya sendiri.Ada krisis identitas budaya dan ini yang membuatnya memperkuat dan menata budaya lokalnya.


Kaum buruh migran kata Pater Rofinus sangat rentan terkontaminasi budaya luar, budaya di negara tempatnya mengadu nasib.Para buruh migran ini selalu dimintanya untuk mencintai budaya sendiri, mencintai modernisasi dengan tidak melupakan budaya lokalnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar