MAUMERE
– Orang sering menyalahkan masuknya budaya asing dan ikut mempengaruhi budaya
lokal bahkan mengancam kelestarian budaya lokal padahal bila setiap orang
mencintai budayanya sendiri maka ini dapat menjadi benteng yang kokoh
membendung masuknya nilai-nilai negative dari luar.
Kegelisahan akan
masuknya budaya asing mendapat tempatnya saat digelarnya Seminar dan Pentas
Budaya, Kaum Muda dan Identitas Budaya Sabtu (18/11/2017) malam di biara
Scalabrinian yang dihadiri sekitar 300 anak muda dari berbagai etnis dan
kelompok yang berdiam di kabupaten Sikka.
“Ketakutan saya bukan
karena terpengaruh budaya lain tapi kita tidak memiliki keinginan melestarikan
budaya kita sendiri. Budaya itu warisan sosial yang mesti dipelajari,” sebut Pater
Ansensius Guntur,Sc selaku salah satu pembicara.
Membahas persoalan
Keterlibatan Anak Muda dalam Pelestarian Budaya, pater Yance sapaannya
menekankan keterlibatan anak muda sangat penting dalam melestarikan budaya
sehingga perlu terus didorong.
Pater asal manggarai
ini menekankan,bila anak muda terlibat mempromosikan budaya maka dirinya yakin
anak muda bisa membuat budaya lokal bisa dikenal dunia.Anak muda memiliki
semangat yang luar biasa, memiliki energy lebih untuk berkarya.
“Saya yakin anak muda
mampu berperan sebagai penerus budaya, anak muda sangat kreatif dan memiliki
inovasi untuk membuat sebuha warisan budaya bisa dinikmati orang lain di luar
komunitas budaya mereka,” tuturnya.
![]() |
Pater Inocensius
Guntur,Sc dari biara Scalabrinian Maumere saat membawakan meteri berjudul
Keterlibatan Anak Muda dalam Pelestarian Budaya. Foto : Ebed de Rosary
|
Memperkuat
Keyakinan Budaya
Ketakutan tergerusnya
budaya lokal di era modernisasi dan globalisasi dengan perkembangan teknologi
informasi yang begitu cepat, mau tidak mau harus dilalui dan disikapi dengan
sebuah pemikiran positif.
Dalam keseharian,
setiap orang sering latah dan terkecoh bahkan ikut meniru mentah-mentah budaya
luar yang masuk dan mengaplikasikan dalam kehidupan keseharian agar tidak dicap
tradisional, kampungan,kuno atau dikatakan tidak gaul.
“Keresahan bukan akibat
datangnya budaya dari luar tapi kita harus membentengi diri kita, meningkatkan
kualitas diri serta memahami makna dan gaya hidup yang sesuai dengan diri
kita,” ungkap Heribertus Adjo.
Pegiat pariwisata di
Sikka ini tegas meminta agar generasi muda mulai memperkuat jati diri dan
mempererat keyakinan bahwa budaya yang diwariskan leluhur kita baik adanya.
Hery
mencontohkan,pemberian Belis atau Mahar dalam perkawinan dari seorang lelaki
kepada perempuan dimana menurutnya Belis merupakan penghargaan yang diberikan
kepada perempuan.Ada nilai-nilai yang terkandung di dalamnya namun saat ini
orang hanya menyamakan Belis dengan uang.
“Berapa harga seekor
kuda, sapi dan kerbau serta barang lainnya yang semuanya dilihat nilai
uangnya.Orang kini tidak lagi melihat Belis sebagai sebuah bentuk pengharagaan
laki-laki kepada perempuan bukan sebaliknya harga seorang perempuan yang
disamakan dengan uang,” ungkapnya.
Pater Rofinus
Sumanto,Sc menambahkan, dirinya pun saat bertugas ke beberapa negara di Asia,
Eropa bahkan Afrika, ada kecenderungan dalam dirinya untuk melupakan budayanya
sendiri.Ada krisis identitas budaya dan ini yang membuatnya memperkuat dan
menata budaya lokalnya.
Kaum buruh migran kata
Pater Rofinus sangat rentan terkontaminasi budaya luar, budaya di negara
tempatnya mengadu nasib.Para buruh migran ini selalu dimintanya untuk mencintai
budaya sendiri, mencintai modernisasi dengan tidak melupakan budaya lokalnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar