![]() |
Anak-anak muda yang hadir dalam seminar dan pentas
budaya, Kaum Muda dan Identitas Budaya di biara Scalabrinian Maumere. Foto :
Ebed de Rosary
|
MAUMERE
– Adat dan budaya lokal yang tumbuh dan berkembang sejak dahulu di seantero
Nusantara menjadi sebuah aset, sebuah kekayaan yang bisa diperkenalkan kepada
seluruh dunia asal kita sendiri menghargai budaya kita, mencintai budaya kita.
Identitas budaya kita
harus dijaga dan disesuaikan dengan perkembangan jaman, menjadi budaya yang
lebih maju sehingga orang lain akan melihat kita dari apa yang kita sampaikan.
“Kalau kita menjaga
identitas budaya kita maka orang lain akan menganggap kita, tidak akan
meremehkan kita. Tapi bila kita sendiri tidak menghargai produk budaya kita
maka orang lain akan meremehkan kita,” ungkap Dr.Andreas Hugo Pareira, anggota
DPR RI.
Dalam materinya,
Globalisasi dan Budaya, Peluang dan Tantangan dalam acara Seminar dan Pentas
Budaya,Kaum Muda dan Identitas Budaya yang digelar di biara Scalabrinian
Maumere, Sabtu (18/11/2017) malam,Andreas bersemangat bicara soal apa yang
harus dilakukan kaum muda untuk menjaga identitas budaya.
Identitas budaya harus
dijaga sebutnya sebab kita memiliki produk-produk budaya yang bisa menjadi
kelas dunia kalau kita sendiri menghargai budaya kita, identitas yang kita
miliki. Kita mempunyai kesempatan yang sama dengan seluruh warga dunia untuk
memperkenalkan budaya kita melalui alat yang dinamakan teknologi informasi.
“Manusia dengan akal
dan budinya menghasilkan budaya dari kehidupannya dimana saat ini cepatnya
perkembangan teknologi informasi dengan hadirnya telepon genggam pintar,handphone smartphone membuat manusia
bisa mendapatkan informasi dengan cepat dan menyebarkan informasi dengan
cepat,” tuturnya.
Harus
Berdampak Positif
Handphone yang
merupakan produk budaya manusia sudah begitu melekat dengan manusia dan
smartphone ini menjadi bagian dari hidup segenap insan manusia serta dapat
member pengaruh kepada orang lain dan pribadi kita.
Andreas menegaskan,
teknologi informasi membawa pengaruh kepada perilaku kita, makanan, keyakinan,
iman seseorang, ritual, adat istiadat dan juga bahasa serta identitas budaya
seseorang dengan begitu cepat.
“Gara-gara menonton
sinetron Korea orang mulai merubah penampilan seperti artis Korea, makan pun
makanan Korea. Teknologi informasi bisa merubah perilaku seseorang begitu kuat
sehingga budaya lokal bisa tergerus,” terangnya.
Teknologi informasi lanjut
putra Sikka ini,membuat orang bisa berbagi semua hal mulai dari musik, adat istiadat, keyakinan dan hal-hal
lain yang merupakan produk manusia yang disebut budaya dan membentuk budaya
baru
Orang semakin mudah
terpengaruh dan melepas identitasnya sebut Andreas,lalu mencari identitas baru karena
yang banyak muncul di halaman-halaman media sosial adalah produk budaya luar
yang begitu masif dan mempengaruhi
pribadi seseorang.
“Setiap orang ingin
menampilkan budayanya, hal yang diyakini sebagai identitasnya di halaman depan
media-media sosial agar orang bisa menghargai dan terpengaruh.Ketahanan
terhadap pengaruh ini harus dibentuk agar dampak positif yang dihasilkan dan
diterima bukan menelan mentah-mentah hal-hal negatif dan menajdikannya sebuah
kebenaran,” tuturnya,
Lagu Gemu Fa Mi Re tutur
Anderas, berasal dari Maumere dan di You Tube sudah 11 juta orang yang melihat
lagu ini. Bahkan tariannya ditarikan oleh presiden sampai anak kecil.Jadi ini
produk identitas yang berasal dari kampung kecil dan mendunia berkat alat
teknologi informasi.
Gemu Fa Mi Re tandasnya,
menjadi satu produk budaya, trend musik Indonesia dan dunai sebab ada kekhasan
yang dimiliki yang ditampilkan oleh pencipta lagu ini. Jadi identitas yang kita
miliki bisa menjual dan mempengaruhi orang lain
“Semakin banyak orang
yang mengenal produk budaya kita maka orang akan berbondong-bondong datang
mencari produk budaya kita. Tugas kita menjaga dan melestarikan adat budaya
kita dan dikemas dengan menarik agar bisa mendapat apresiasi dari orang lain
dan bisa laku dijual,” ungkapnya.
![]() |
Anggota DPR RI Dr.Andreas Hugo Pareira saat
berbicara dalam seminar budaya di biara Scalabrinian Maumere. Foto : Ebed de
Rosar
|
Peran
Generasi Muda
Hironimus Dama selaku
ketua panitia menekankan pentingnya menjaga identitas adat dan budaya lokal
kita masing-masing dimana di tengah perkembangan jaman budaya lokal mulai
tergerus dan luntur serta mulai dilupakan oleh generasi muda.
Berangkat dari
kegelisahan ini kata Hiro sapaannya, pihaknya dari komunitas anak muda
Sclabrinian mencoba membuat seminar dan pentas budaya dengan menghadirkan
berbagai elemen anak muda di kabupaten Sikka guna berbicara tentang identitas
budaya bukan budaya identitas.
“Budaya merupakan
identitas sebab setiap kita lahir dari sebuah komunitas budaya sehingga kami
berpikir betapa pentingnya kita mengangkat budaya-budaya lokal.Bicara budaya
sebagai identitas bangsa secara tidak langsung bicara tentang pluralism,
Bhineka Tunggal Ika atau NKRI,” tegasnya.
Hiro menambahkan,
generasi muda menjadi agen perubahan sehingga menanamkan kecintaan pada diri
generasi muda akan adat dan budaya lokal harus mukai dibangun dan digalakan.
Semakin banyak anak muda yang terlibat, kecintaan pada budaya lokal semakin
besar dan virus ini dengan mudah dan cepat ditularkan generasi muda.
Pater Rofinus Sumanto
dari biara Scalabrinian mengaku kagum dengan banyaknya anak muda yang hadir
dalam kegiatan ini yang menandakan ada kepedulian di kalangan anak muda, ada
ketertarikan dengan budaya.
Sementara lurah
Nangalimang Maria Getrudis Alestri Sute juga mengakui, peran kaum muda dalam
mempromosikan budaya lokal begitu penting.banyak anak muda yang mulai membentuk
kelompok music lokal dan pentas di berbagai kegiatan bukann hanya di Sikka saja
tapi di daerah lain bahkan ke luar negeri.
“Energi anak muda
memang luar biasa dan mereka harus diarahkan, terus didampingi agar mereka bisa
menjadikan produk budaya lokal mendunia. Kecintaan terhadap adat dan budaya
lokal mulai tumbuh di kalangan anak muda dan ini sebuah nilai positif asal
mereka diberi ruang berkreasi tanpa keluar dari nilai-nilai adat dan budaya,”
terangnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar