Laman

Selasa, 02 Agustus 2016

Suami Meninggal Akibat Kebakaran,Nenek Renta Hidup Bersama 10 Anak dan Cucu


 
Kebakaran rumah di dusun Senoda Wai Ono desa Pamakayo kecamatan Solor Barat yang terjadi bulan November 2011 merenggut nyawa Silvester Lewonama Kolin.


Semenjak ditinggal suami,Barbara Beto Kewohon (75) harus hidup sendirian bersama anak,menantu dan 7 orang cucunya.Hidup miskin tanpa pekerjaan membuat satu rumah sederhan berukuran 4x6 meter dihuni 10 anggota keluarga.

“Kami hidup dari hasil kebun dan menjual batu pecah,” ujar Barbara sesegukan.

Barbara bersama penghuninya ditemui Cendana News,Kamis (21/7/2016) sore di rumahnya,Dikatakannya,dirinya bersama anak,menantu dan ke 7 cucunya saban hari bekerja sebagai pemecah batu di bukit sebelah timur sejauh 1 kilometer dari rumahnya.

“Cucu saya juga ikut bekerja juga usai pulang sekolah.kami juga cari kayu bakar di hutan untuk dijual karena batu pecah hanya dibeli saat ada pengerjaan proyek pemerintah di pulau Solor,”ungkapnya.

Dalam sehari keluarga ini mampu menjual batu pecah sebanyak satu kubik sedangkan jika rajin mereka mampu menghasilkan dua kubik batu pecah.Batu tersebut dijual seharga 250 ribu rupiah.

 

Selain itu,Barbara beserta anggota keluarga juga mengharapkan hasil panen jagung setahun sekali di ladang berbatu seluas sekitar 1 hektar diatas bukit gersang sebelah selatan kampung.

Dalam rumah sederhana berdinding bambu belah (Keneka) beratap seng ini,selain Barbara juga tinggal anaknya Petronela Hingi Kolin (34) bersama suaminya Anselmus Lede Sengo (47) serta kelima anak mereka.

Juga tinggal dua cucunya dari anak perempuannya Yuliana Laga Waen Kolin yang dititipkan padanya.Yuliana bersama sang suami pergi merantau ke Malaysia meninggalkan 4 orang anak dimana 2 anak lainnya tinggal bersama orang tua sang suami.

Rumah yang ditempati 10 jiwa tersebut menurut penuturan kepala desa Pamakayo Valentinus Odiama Kein bahan bangunannya sebagian berasal dari bantuan warga sekitar.Warga juga bergotong royong membangun rumah tersebut untuk ditempati Barbara sekeluarga.

Sejauh ini kata Valens,keluarga ini belum mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk membiayai sekolah 7 cucu Barbara yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Ditambahkan Barbara,pegawai dari dinas Sosial,Tenaga Kerja dan Transmigrasi Flores Timur pernah menyambanginya dan mengambil data guna diberikan bantuan namun belum juga terelisasi.

“Setelah mengambil data mereka tidak kemari lagi.Petugas dari desa pun pernah janji mau beri bantuan dana Anggur Merah namun itu pun hanya janji manis saja,” ungkapnya kesal.

(Ebed de Rosary)

Wartawan CDN (cendananews.com)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar