Kebakaran
rumah di dusun Senoda Wai Ono desa Pamakayo kecamatan Solor Barat yang terjadi
bulan November 2011 merenggut nyawa Silvester Lewonama Kolin.
Semenjak ditinggal
suami,Barbara Beto Kewohon (75) harus hidup sendirian bersama anak,menantu dan
7 orang cucunya.Hidup miskin tanpa pekerjaan membuat satu rumah sederhan
berukuran 4x6 meter dihuni 10 anggota keluarga.
“Kami hidup dari hasil
kebun dan menjual batu pecah,” ujar Barbara sesegukan.
Barbara bersama
penghuninya ditemui Cendana News,Kamis (21/7/2016) sore di
rumahnya,Dikatakannya,dirinya bersama anak,menantu dan ke 7 cucunya saban hari
bekerja sebagai pemecah batu di bukit sebelah timur sejauh 1 kilometer dari
rumahnya.
“Cucu saya juga ikut
bekerja juga usai pulang sekolah.kami juga cari kayu bakar di hutan untuk
dijual karena batu pecah hanya dibeli saat ada pengerjaan proyek pemerintah di
pulau Solor,”ungkapnya.
Dalam sehari keluarga
ini mampu menjual batu pecah sebanyak satu kubik sedangkan jika rajin mereka
mampu menghasilkan dua kubik batu pecah.Batu tersebut dijual seharga 250 ribu
rupiah.
Selain itu,Barbara
beserta anggota keluarga juga mengharapkan hasil panen jagung setahun sekali di
ladang berbatu seluas sekitar 1 hektar diatas bukit gersang sebelah selatan
kampung.
Dalam rumah sederhana
berdinding bambu belah (Keneka) beratap seng ini,selain Barbara juga tinggal
anaknya Petronela Hingi Kolin (34) bersama suaminya Anselmus Lede Sengo (47)
serta kelima anak mereka.
Juga tinggal dua
cucunya dari anak perempuannya Yuliana Laga Waen Kolin yang dititipkan
padanya.Yuliana bersama sang suami pergi merantau ke Malaysia meninggalkan 4
orang anak dimana 2 anak lainnya tinggal bersama orang tua sang suami.
Rumah yang ditempati 10
jiwa tersebut menurut penuturan kepala desa Pamakayo Valentinus Odiama Kein
bahan bangunannya sebagian berasal dari bantuan warga sekitar.Warga juga
bergotong royong membangun rumah tersebut untuk ditempati Barbara sekeluarga.
Sejauh ini kata
Valens,keluarga ini belum mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk membiayai
sekolah 7 cucu Barbara yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
Ditambahkan
Barbara,pegawai dari dinas Sosial,Tenaga Kerja dan Transmigrasi Flores Timur
pernah menyambanginya dan mengambil data guna diberikan bantuan namun belum
juga terelisasi.
“Setelah mengambil data
mereka tidak kemari lagi.Petugas dari desa pun pernah janji mau beri bantuan
dana Anggur Merah namun itu pun hanya janji manis saja,” ungkapnya kesal.
(Ebed
de Rosary)
Wartawan CDN (cendananews.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar