LARANTUKA
–
Rumah besar berukuran 8x6 meter tersebut berada di tepi pantai di desa Lewo
Nama kecamatan Solor Barat kabupaten Flores Timur.Rumah setengah tembok
berdinding bambu belah (Keneka) ini dibiarkan terlantar.
Hampir sebagian tembok
rumah sudah rubuh dan berlubang.Beberapa lembar seng sudah berlubang.Pintu dan
rangkanya tergeletak di bagian tengah rumah.Beberapa dinding bambunya juga
sudah terlepas.
Katharina Kewa Jawa
pemiliknya saat ditemui di dekat rumahnya,Jumat (22/7/2016) mengaku sejak
suaminya merantau 5 tahun lalu ke Malaysia,sejak itu tidak ada kabar
berita.Informasi yang didapat dari warga desa yang juga merantau di Malaysia
menyebutkan sang suami sudah beristeri lagi.
“Dia pergi meninggalkan
anak-anak yang masih sekolah dan masih kecil sehingga saya terpaksa yang
mengasuh dan mencari nafkah,”ujarnya.
Katharina sapaannya
mengakui,selain mengandalkan jagung dan singkong yang ditanam di kebun seluas
hampir setengah hektar dirinya pun harus membuat jagung Titi (jagung yang
dititi atau ditumbuk dengan batu hingga berbentuk ceper) untuk dijual.
“Saya jual jagung satu
toples seharga 10 ribu rupiah,sehari kadang bisa jual dua toples saja,”
ungkapnya.
Selain itu,ibu 4 orang
anak ini pun harus mengisi air di drum milik tetangga.Satu drum dihargai 10
ribu rupiah dan dirinya mampu menghasilkan uang 20ribu rupiah sehari.Kalau ada
pengerjaan proyek jalan atau jembatan di pulau Solor,dirinya baru menjual batu
pecah.
“Jagung dan Singkong
dari kebun kadang kami makan kalau tidak ada uang buat beli beras.Kalau makan
kami bisa cari tapi untuk biaya sekolah anak-anak saya kadang menunggak,”
ungkapnya.
Bantu
Bangun Rumah
Saat ditemui di
rumahnya yang sudah tak terpakai,Katharina ditemani ketiga anaknya.Dirinya
mengaku memiliki 4 anak dimana putri sulung beranama Adriana Werin Lewar
(20),anak kedua Fransiskus Paru Lewar
(18) siswa SMK St.Mikael Lewo Nama kelas 2.Anak ketiga bernama Antonius Lapan
Lewar (13) kelas 6 SD Inpres Pamakayo serta si bungsu bernama Seviana Tobi
Lolon Lewar (6).
Sejak
3 tahun silam,rumah Monika praktis tidak bisa ditinggali karena rusak
parah.Sehari-hari dirinya bersama 4 anak menumpang di rumah mama besar (kakak
peremuan besar).Sang kakak tidak meminta uang hanya mereka harus mencari makan
dan memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri sebab sang kakak pun hidupnya sangat
susah.
Frans
anak keduanya,saat ditanyai mengakui sering kerja membangun jalan,jembatan atau
lainnya usai pulang sekolah demi membiayai sekolahnya dan biaya
adik-adiknya.Dirinya kasihan bila sang ibu harus berjuang sendiri membesarkan
mereka.
“Saat SD saya dapat bantuan dana Bantuan
Operasional Sekolah dan katanya di SMA
dapat Kartu Indonesia Pintar.Kalau dapat bantuan,mama bisa terbantu,”
ungkapnya.
Frans
berharap agar pemerintah bisa membantu memperbaiki rumah mereka yang rusak agar
keluarga mereka bisa tinggal di rumah sendiri.Bila terus menumpang di rumah
keluarga,Frans mengaku akan membebani mama
besarnya.
“Kaau
bisa pemerintah bantu kami bangun rumah dan bantu biaya sekolah kami biar bisa
mengurangi penderitaan mama,” pintanya.
Pemerintah
desa tambah Katharina,tidak mendata keluarga mereka agar bisa mendapatkan
bantuan.Dinas Sosial,Tenaga Kerja dan Transmigrasi kabupaten Flores timur pun
tidak pernah turun ke desa dan mendata warga yang sangat miskin untuk diberikan
bantuan.
Terkdang
Katharina mengaku harus menunggak uang sekolah anak-anaknya karena uang yang
didapat lebih diprioritaskan untuk membeli beras.Dia mengaku memleihara seekor
babi untuk dijual bila butuh uang membeli beras dan biaya sekolah.
“Saya
sungkan bila tinggal terus dengan saudara,tapi mau bagaimana lagi,kami ini
orang miskin,buat makan saja susah apalagi harus perbaiki rumah,” pungkasnya.
Ebed de Rosary
Wartawan CDN ( cendananews.com )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar