Tangannya terampil
memotong bagian atas tutupan gelas plastik minuman dari aneka merek menggunakan
pisau cutter saat dijumpai Cendana News, Rabu ( 30/12/2015 ) di gudang penyimpanan Bank Sampah Flores di
kompleks Perumnas Maumere, kabupaten Sikka.
Gelas – gelas plastik
bekas minuman yang dikumpulkan dari anggota yang menjualnya ke Bank sampah
Flores oleh Fransiskus Saverinus didaur ulang dengan dibentuk menjadi aneka
tas, piring plastik,tempat kue dan lainnya. Sementara kertas akan dibentuk
untuk dijadikan tempat lampu dan juga aneka kerjaninan lain.
Meski duduk di kursi
roda, Saver sapaan akrabnya tak mau berputus asa dan tetap semangat menjalani
hidup.Sebelum kakinya tidak bisa digerakkan, Saver bekerja menjajakan sembako
di pasar tradisional. Tahun 2000 dirinya mengalami kecelakaan lalu lintas dan
berobat ke puskesmas dan rumah sakit tapi dikatakan dirinya tidak
menderita penyakit.
“ Saya akahirnya berobat ke dukun sampai 40
orang dukun tapi tidak sembuh. Tahun 2005 ada seorang dukun yang urut saya dia
tarik pergelangan kaki saya dan saya mendengar bunyi di pinggang, saya merasa
tulang saya bergeser. Sejak dia pulang keesokan harinya saya mau berdiri tidak
bisa padahal selama 5 tahun saya bisa berjalan meski pelan – pelan “ ucapnya
lirih.
Selama 4 tahun sejak
kejadian tersebut, lelaki kelahiran
Hale, Mapitara 29 Januari 1975 terkurung 4 tahun di kamar rumahnya di
Mapitara. Setiap hari lelaki berumur 40 tahun ini selalu berfoa meminta Tuhan
agar dirinya bisa bertemu orang yang bisa mengajak bekerja serta bisa membuat
dirinya tersenyum dan bahagia.Selama 4
tahun menetap di kampung halaman Saver merasa bak di penjara.
“ Meski diolok saya
tetap tersenyum dan tidak dendam. Karena saya tidak pernah membuat orang susah,
akhirnya Tuhan menjawab doa saya dan saya bisa dipertemukan dengan ibu Susi dan
bergabung di Bank Sampah Flores “ tuturnya bersemangat.
Menjadi
Relawan
Saat berjumpa dengan
Ibu Wenefrida Efodia Susilowati atau kerap disapa ibu Susi, Saver diajak
bergabung bersama 5 penyandang cacat lainnya dan 6 orang normal untuk membentuk
Bank Sampah Flores tanggal 14 Februari 2014. Dirinya tertarik bergabung karena
menyadari kalau bukan kita yang mengurus sampah siapa lagi, apalagi ini kan
untuk kebersihan lingkungan.
Setiap orang yang
bergabung di Bank Sampah Flores bekerja secara sukarela tanpa mendapat
imbalan.Karena kerjanya sukarela akhirnya setelah berjalan setengah tahun sebut
Saver,banyak pendiri yang tidak aktif karena tidak mendapat gaji dan ambil
bagian kalau ada kegiatan sosialisasi atau pelatihan.Saver mendapat tugas
sebagai bendahara.
“ Awalnya saya tidak
mau jadi bendahara tapi ibu Susi katakan kalau kita pilih orang yang normal
kalau kita ada butuh uang orangnya sering tidak ada di tempat bagaimana?.
Akhirnya sata terima tapi dalam perjalanan karena banyak tidak aktif saya
rangkap juga jadi sekertaris, penimbangan sampah, daur ulang hingga menjualnya “ bebernya.
Setiap hari lelaki yang
belum menikah ini bekerja sejak pukul 07.30 wita hingga 16.30 wita di gudang
Bank Sampah Flores. Saver menerima semua sampah yang dibawa masyarakat dan
beberapa kelompok organisasi dengan dibantu tiga relawan dimana seorang relawan
merupakan penyandang cacat seperti dirinya.
“ Kami menerima sampah
dari masyarakat dan dipilah karena banyak sampah yang tercampur. Kami tidak mau
menolaknya karena kasihan mereka sudah membawanya sendiri ke tempat kami “
tuturnya.
Untuk setiap relawan
yang membantunya, Saver memberikan uang transport 20 ribu sehari ditambah makan
siang. Tak berselang lama dirinya kasihan melihat para relawan yang
meninggalkan keluarga seharian sehingga
Saver pun membayar hasil kerja para relawan dimana dari satu kilo kertas
yang dipilah dirinya membayar 250 rupiah sementara palstik 750 rupiah.Saver
sadar uang ini tidak seberapa namun drinya tak bisa berbuat banyak karena
lembaga yang didirikannya hanya bermodalkan semangat tidak memiliki dana.
“ Biar tiap hari saya
bergumul dengan sampah tapi saya tidak kena sakit karena Tuhan pasti tahu.
Banyak masyarakat yang jijik dengan sampah apalagi setelah mereka tahu saya
bekerja secara sukarela mereka cuma menggelengkan kepala saja “ ungkap Saver
dengan suara datar.
Memberi
Pelatihan
Selama bergabung di
Bank Sampah Flores, Saver yang saat ditemui mengenakan kaus oblong lusuh tak
pernah merasa malu. Bakan Saver merasa bersyukur bisa ikut memelihara
lingkungan. Dirinya pun tak sungkan membagi ilmu tentang proses mendaur ulang
sampah dengan membentuknya menjadi aneka kerajinan tangan.Keterampilan ini
sebut Saver dipelajari sendiri setelah melihat seorang instruktur yang diundang
memberikan pelatihan di tempatnya bagi anak – anak sekolah.
Awalnya anak dari
almahrumah Lusia Lodan yang meninggal sewaktu melahirkannya, tidak tertarik
membuat kerajinan tangan. Namun saat berada di kantornya yang berbatasan dengan
pantai Saver mendapati anak – anak sekolah dasar yang sedang bermain di pantai
saat liburan panjang sekolah. Dirinya pun bertanya dalam hati, kalau anak –
anak ini diajak memotong gelas plastik untuk dibuat kerajinan dan diberi upah
apa mereka bersedia?.Kasihan bila anak – anak hanya bermain selama sebulan masa
liburan tanpa ada kegiatan positif.
“ Akhirnya saya
kumpulkan mereka dan kasih tahu Tak diduga esoknya ada 12 anak yang bersedia
dan mulai bekerja.Setelah ring gelas minuman yang dipotong banyak terkumpul
saya bingung mau buat apa dan siapa yang membuatnya? “ bebernya.
Anak bungsu dari 3
bersaudara ini pun meminta ibu Susi membeli tali dan dirinya pun mulai belajar
menganyam piring, keranjang dan tas.Hari pertama, Saver cuma mampu merangkai 5
gelang plastik saja karena tanganya masih susah digerakkan namun dirinya tidak
putus asa.Lama kelamaan lelaki yang sejak kecil diasuh dan dijadikan anak
angkat oleh pamannya ini mulai terbiasa hingga mahir membuat aneka kerajinan
dari gelas minuman plastik hingga kertas dan koran bekas.
Ilmu yang didapatnya
awalnya ditularkan kepada 16 anak dari Mauloo dari Paga. Pelatihan yang
dilaksanakan beber Saver berlangsung selama 3 hari.Hari pertama dilakukan
sosialisasi tentang sampah sementara hari kedua diajarkan cara memotong,
mengiris gelas plastik dilanjutkan dengan menganyamnya menjadi aneka barang.
Hari ketiga lanjut Saver, peserta dilatih cara menerima sampah dari masyarakat
dimulai dari cara menimbang, memilah dan merapikan sampah.
“ Kalau mereka bisa
membuat satu keranjang selama diadakan pelatihan maka keranjangnya bisa dibawa
pulang.Syukurlah, ke 16 anak tersebut bisa membuat keranjang semua “ ungkapnya
bangga.
Anggota maupun yang belum bergabung.Bila tak ada yang menyetor
sampah dirinya tetap melakukan aktfitas membuat kerajinan tangan dari sampah.
Tidur di tempat sederhana di gudang penyimpanan sampah tidak membuatnya malu.
Saat ditanyai kendala
yang dihadapina, Saver dengan suara pelan mengatakan, dirinya butuh modal untuk
membeli samoah dari masyarakat. Selain itu karena tidak memiliki armada untuk
mengangkut sampah, pihaknya hanya berharap pinjaman mobil dari para
relawan.Banyak yang memintanya mengangkut sampah di desa – desa maupun di dalam
kota Maumere namun dirinya hanya meminta mereka bersabar. Jika ada yang
menyediakanmobil gratis dan dananya sudah ada baru dirinya akan mengambil
sampah – sampah tersebut.
“ Untuk membeli sampah
kami butuh uang cach karena masyarakat banyak yang minta sampahnya langsung
dibayar. Kami juga harus menjemput sampah di tempat mereka karena mereka mau
antar ke bank sampah tapi tidak ada ongkos. Kalau dibayat cash mereka sering
bersemangat mengumpulkan lagi “ kata Saver.
Walau memiliki
keinginan untuk berobat lagi untuk menyembuhkan kakinya, namun sampai sekarang
Saver belum melakukan karena belum ada yang membantu membiayai pengobatannya.
Saver juga merasa bersyukur bisa bekerja dan berharap tetap bisa menghidupkan
bank sampah yang sudah dibentuknya karena bagi dirinya, jika tidak ada orang
yang peduli maka sampah akan menumpuk dimana – mana.
“ Saya senang bisa
bekerja disini.Kalau ada mobil truck atau pick up sendiri saya akan memilih sampah di tempat
umum dan di desa - desa untuk di daur ulang lagi. Selain bisa menghasilkan
uang, memilih sampah juga menjadikan lingkungan bersih dan tidak tercemar
apalagi sampah plastik yang butuh ratusan tahun baru terurai “ pungkasnya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar