(
Bagian Kedua )
MAUMERE
-
Bertamu ke Bank Sampah Flores yang juga dijadikan rumah tinggal Wenefrida
Efodia Susilowati atau kerap disapa Susi, kita akan merasakan suasana asri
dimana ada taman yang dipenuhi pepohonan seraya menikmati laut utara Flores
yang hanya beberapa langkah saja dari kantor ini.Pepohonan ini sebut Susi
dipupuk menggunakan pupuk organik yang diolah dari sisa bahan makanan.
Saat bertandang ke
rumahnya Sabtu ( 12/12/2015 ), Susi mengajak
penulis memanen pupuk cair organik yang dibuatnya dari bahan – bahan
sisa makanan seperti sayuran dan lainnya. Pupuk cair ini oleh Susi ditaruh di
dalam botol - botol plastik dan dipakai untuk memupuk tanaman di pekarangan
rumah sekaligus kantornya.Kadang juga pupuk ini dijual untuk dijadikan modal
membeli sampah dari masyarakat.
Susi praktis kini
bekerja berdua bersama Fransiskus Saverinus salah seorang kaum difabel yang
juga seorang pendiri. Dari 12 pendiri sejak berjalan 6 bulan banyak yang tidak
aktif karena di Bank Sampah Flores tidak diberi gaji. Paling banyak hanya
mendapatkan uang transport dan makan saja. Namun jika ada sosialisasi maka bila
ada waktu para pendiri lainnya akan ikut bergabung.
Makanan
Ikan
Kirman, salah pemilik
home stay Anker Mi Watumita di desa Wairterang, Waigete yang ditemui penulis
Minggu ( 13/12/2015 ) mengatakan, adanya Bank Sampah Flores bisa memberikan
edukasi kepada masyarakat terkait sampah. Sampah plastik sebut Kirman paling
banyak dijumpai di pesisir pantai. Hal ini sesalnya mengganggu keindahan pantai
dan membuat para wisatawan asing sering mengeluhkan hal ini.
Untuk menghemat sampah
plastik sebutnya, pihaknya menyiapkan air isi ulang sehingga para tamu hanya
memabwa botol saja dan mengisinya sehingga tidak membeli air dalam botol
plastik kemasan.Sampah – sampah yang ada pun sebut kirman dipilah dan akan
ddisetor ke Bank Sampah Flores. Sebagai pengusaha pariwisata, dirinya berharap
agar pemerintah bisa bekerja sama dengan Bank Sampah Flores memberikan edukasi
dan membesarkan bank sampah ini karena bisa membuat tempat wisata dan kota jadi
bersih serta mendatangkan pemasukan bagi masyarakat.
Menurut Susi, sampah di
laut dan pesisir pantai akibat dari kebiasaan masyarakat yang membuang sampah
di saluran, di pinggir jalan dan di pesisir pantai.Kalau musim hujan sebut Susi banyak sampah plastik yang dibuang
di saluran, di jalan, di kali mati, akan terbawa banjir ke laut. Sampah plastik
itu beber Susi, akan terurai dalam kurun waktu tertentu menjadi molekul - molekul
kecil yang akan dimakan biota laut. Ikan - ikan ini yang makan juga manusia
ujar Susi sehingga otomatis tubuh manusia akan terkena racun.
“ Kami konsen dampak
dari pencemaran dari sampah itu sendiri terhadap air,tanah dan udara karena
tanpa disadari akan berdampak bagi kesehatan kita, “ ujar Susi.
Pihaknya terang Susi
selalu meminta agar pemerintah menyediakan tempat sampah di lokasi perumahan
dan tempat umum lainnya yang saat ini di kota Maumere fasilitas ini sangat
minim. Selain itu ke depan pihaknya akan bekerjasama dengan dinas pariwisata
dan bidang kebersihan dan pertamanan serta badan lingkngan hidup untuk bersama
memerangi sampah.Kerjasama ini tutur Susi yang beum terjalin baik dan semua
pihak masih bekerja sendirian.
Mencari
Yang Peduli
Fransiskus Saverinus,
salah seorang pendiri dari kaum difabel
sekaligus relawan yang masih bertahan dan bertugas menangani gudang mengatakan,
selama perjalanan Bank Sampah Flores pihaknya sudah mengirim ke Jawa 44 ton
sampah dan kini memiliki 1.156 nasabah.Selain itu, sudah terbentuk juga satu
Bank Unit di Kewapante. Di Bank Sampah Flores sampah yang dijual uangny tidak
diambil tetapi ditabung danbisa diambil setiap 3 bulan
“ Sampah kami kumpuk
hingga banyak lalu kami kirim ke Jawa untuk daur ulang. Kalau sudah dapat uang
baru kami bayar ke nasabah karena kami tidak punya uang cash, “ ujar Saver
panggilan akrabnya.
Gedung yang dipakai
sekarang untuk gudang pun sambung Saver merupakan gedung bekas pembuatan kompos
milik propinsi NTT dan sejak beberapa bulan lalu dipinjamkan oleh pemerintah.
Pihaknya pun tambah Saver pernah diberikan motor roda tiga bekas oleh
pemerintah kabupaten Sikka, namun sering mogok dan diperbaiki hingga tidak bisa
berjalan. Gara – gara mogok, tutur saver, saat pulang ambil sampah dari
desa,dirinya bersama ibu Susi dan kawan lainnya mendorong motor tersebut sejauh
8 kilometer hingga tiba di kantor.
“ Kalau mau ambil
sampah di desa – desa, kami sering membuat status di facebook dan ada saja
orang yang secara sukarela menyumbangkan mobil untuk mengangkut sampah, “ ujar
Susi.
Yang paling berkesan
selama perjalanan Bank sampah Flores sebut Susi, masyarakat kabupaten Sikka dan
Flores sangat antusias menerima ilmu tentang sampah. Yang membahagiakan juga
lanjutnya, waktu selesai sosialisasi dan mereka langsung action, artinya
kesadaran itu ada bukan hanya di dalam pikiran tapi action juga. Bahkan beber
Susi ada juga yang dari desa bahkan di pilau yang sebulan sekali datang
menabung sampah.
Mimpi besar bank sampah
Flores papar Susi,melalui sosialisasi dan edukasi yang dilakukan di kemudian
hari masyarakat bisa menjalankan dan menularkan ke orang lainnya. Bila produk
yang ada di toko kemasannya ramah lingkungan tentu sambung Saver hal ini akan
jauh lebih baik. Tapi karena kekurangan logistik dan kendaraan, pihaknya hanya
berupaya semampunya, Banyak nasabah yang ingin menerima uang cash usai
menimbang sampah terpaksa tidak terlayani.
Susi dan Saver tetap
optimis dan selalu berpikir positif karena keberhasilan itu suatu proses,
dimana proses pertama sosialisasi,
dilanjutkan edukasi, daur ulang dan menjalankan sistem bank sampah. Mereka
berharap dengan adanya peraturan daerah lama - lama pasti ada
perkembangan.Keduanya percaya dan
mengatakan apa yang dilakukan merupakan sebuah proses. Pihaknya sedang berusaha
untuk itu, dan masih mencari orang yang sangat peduli untuk membantu.
“ Mudah - mudahan
setelah dipublikasikan ada yang memberikan bantuan. Kami tetap semangat karena
sudah mulai kalau tidak dilanjutkan siapa lagi yang mau melakukan “ pungkas
Susi.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar