Laman

Selasa, 28 Juni 2016

Bank Sampah Flores, Mengangkut Sampah Mengandalkan Dermawan




( Bagian Kedua )

MAUMERE - Bertamu ke Bank Sampah Flores yang juga dijadikan rumah tinggal Wenefrida Efodia Susilowati atau kerap disapa Susi, kita akan merasakan suasana asri dimana ada taman yang dipenuhi pepohonan seraya menikmati laut utara Flores yang hanya beberapa langkah saja dari kantor ini.Pepohonan ini sebut Susi dipupuk menggunakan pupuk organik yang diolah dari sisa bahan makanan.

Saat bertandang ke rumahnya Sabtu ( 12/12/2015 ), Susi mengajak  penulis memanen pupuk cair organik yang dibuatnya dari bahan – bahan sisa makanan seperti sayuran dan lainnya. Pupuk cair ini oleh Susi ditaruh di dalam botol - botol plastik dan dipakai untuk memupuk tanaman di pekarangan rumah sekaligus kantornya.Kadang juga pupuk ini dijual untuk dijadikan modal membeli sampah dari masyarakat.

Susi praktis kini bekerja berdua bersama Fransiskus Saverinus salah seorang kaum difabel yang juga seorang pendiri. Dari 12 pendiri sejak berjalan 6 bulan banyak yang tidak aktif karena di Bank Sampah Flores tidak diberi gaji. Paling banyak hanya mendapatkan uang transport dan makan saja. Namun jika ada sosialisasi maka bila ada waktu para pendiri lainnya akan ikut bergabung.



Makanan Ikan

Kirman, salah pemilik home stay Anker Mi Watumita di desa Wairterang, Waigete yang ditemui penulis Minggu ( 13/12/2015 ) mengatakan, adanya Bank Sampah Flores bisa memberikan edukasi kepada masyarakat terkait sampah. Sampah plastik sebut Kirman paling banyak dijumpai di pesisir pantai. Hal ini sesalnya mengganggu keindahan pantai dan membuat para wisatawan asing sering mengeluhkan hal ini.

Untuk menghemat sampah plastik sebutnya, pihaknya menyiapkan air isi ulang sehingga para tamu hanya memabwa botol saja dan mengisinya sehingga tidak membeli air dalam botol plastik kemasan.Sampah – sampah yang ada pun sebut kirman dipilah dan akan ddisetor ke Bank Sampah Flores. Sebagai pengusaha pariwisata, dirinya berharap agar pemerintah bisa bekerja sama dengan Bank Sampah Flores memberikan edukasi dan membesarkan bank sampah ini karena bisa membuat tempat wisata dan kota jadi bersih serta mendatangkan pemasukan bagi masyarakat.

Menurut Susi, sampah di laut dan pesisir pantai akibat dari kebiasaan masyarakat yang membuang sampah di saluran, di pinggir jalan dan di pesisir pantai.Kalau musim hujan  sebut Susi banyak sampah plastik yang dibuang di saluran, di jalan, di kali mati, akan terbawa banjir ke laut. Sampah plastik itu beber Susi, akan terurai dalam kurun waktu tertentu menjadi molekul - molekul kecil yang akan dimakan biota laut. Ikan - ikan ini yang makan juga manusia ujar Susi sehingga otomatis tubuh manusia akan terkena racun.

“ Kami konsen dampak dari pencemaran dari sampah itu sendiri terhadap air,tanah dan udara karena tanpa disadari akan berdampak bagi kesehatan kita, “ ujar Susi.

Pihaknya terang Susi selalu meminta agar pemerintah menyediakan tempat sampah di lokasi perumahan dan tempat umum lainnya yang saat ini di kota Maumere fasilitas ini sangat minim. Selain itu ke depan pihaknya akan bekerjasama dengan dinas pariwisata dan bidang kebersihan dan pertamanan serta badan lingkngan hidup untuk bersama memerangi sampah.Kerjasama ini tutur Susi yang beum terjalin baik dan semua pihak masih bekerja sendirian.



Mencari Yang Peduli

Fransiskus Saverinus, salah  seorang pendiri dari kaum difabel sekaligus relawan yang masih bertahan dan bertugas menangani gudang mengatakan, selama perjalanan Bank Sampah Flores pihaknya sudah mengirim ke Jawa 44 ton sampah dan kini memiliki 1.156 nasabah.Selain itu, sudah terbentuk juga satu Bank Unit di Kewapante. Di Bank Sampah Flores sampah yang dijual uangny tidak diambil tetapi ditabung danbisa diambil setiap 3 bulan

“ Sampah kami kumpuk hingga banyak lalu kami kirim ke Jawa untuk daur ulang. Kalau sudah dapat uang baru kami bayar ke nasabah karena kami tidak punya uang cash, “ ujar Saver panggilan akrabnya.

Gedung yang dipakai sekarang untuk gudang pun sambung Saver merupakan gedung bekas pembuatan kompos milik propinsi NTT dan sejak beberapa bulan lalu dipinjamkan oleh pemerintah. Pihaknya pun tambah Saver pernah diberikan motor roda tiga bekas oleh pemerintah kabupaten Sikka, namun sering mogok dan diperbaiki hingga tidak bisa berjalan. Gara – gara mogok, tutur saver, saat pulang ambil sampah dari desa,dirinya bersama ibu Susi dan kawan lainnya mendorong motor tersebut sejauh 8 kilometer hingga tiba di kantor.

“ Kalau mau ambil sampah di desa – desa, kami sering membuat status di facebook dan ada saja orang yang secara sukarela menyumbangkan mobil untuk mengangkut sampah, “ ujar Susi.

Yang paling berkesan selama perjalanan Bank sampah Flores sebut Susi, masyarakat kabupaten Sikka dan Flores sangat antusias menerima ilmu tentang sampah. Yang membahagiakan juga lanjutnya, waktu selesai sosialisasi dan mereka langsung action, artinya kesadaran itu ada bukan hanya di dalam pikiran tapi action juga. Bahkan beber Susi ada juga yang dari desa bahkan di pilau yang sebulan sekali datang menabung sampah. 

Mimpi besar bank sampah Flores papar Susi,melalui sosialisasi dan edukasi yang dilakukan di kemudian hari masyarakat bisa menjalankan dan menularkan ke orang lainnya. Bila produk yang ada di toko kemasannya ramah lingkungan tentu sambung Saver hal ini akan jauh lebih baik. Tapi karena kekurangan logistik dan kendaraan, pihaknya hanya berupaya semampunya, Banyak nasabah yang ingin menerima uang cash usai menimbang sampah terpaksa tidak terlayani.

Susi dan Saver tetap optimis dan selalu berpikir positif karena keberhasilan itu suatu proses, dimana proses  pertama sosialisasi, dilanjutkan edukasi, daur ulang dan menjalankan sistem bank sampah. Mereka berharap dengan adanya peraturan daerah lama - lama pasti ada perkembangan.Keduanya  percaya dan mengatakan apa yang dilakukan merupakan sebuah proses. Pihaknya sedang berusaha untuk itu, dan masih mencari orang yang sangat peduli untuk membantu.

“ Mudah - mudahan setelah dipublikasikan ada yang memberikan bantuan. Kami tetap semangat karena sudah mulai kalau tidak dilanjutkan siapa lagi yang mau melakukan “ pungkas Susi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar