LARANTUKA–
Ribuan warga komunitas suku adat Demon Pagong setia menanti ritual terkahir
rangkaian upacara adat Koke Bale di di desa Lewokluok,Minggu (19/6/2016).
Sementara itu di sebuah
areal yang dijadikan tempat pemotongan hewan kurban, kaum lelaki sibuk memotong
daging kurban. Daging-daging tersebut dimasukan ke dalam anyaman daun
Gebang (Kolo).
Disaksikan Cendana News
beberapa lelaki dewasa terlihat cekatan memasukan potongan–potongan daging ke
dalam daun Gebang (Enau) tersebut seraya mengikatnya. Terlihat juga beberapa
tungku api yang diatasnya diletakan dandang dan wajan untuk memasak daging,
“Areal pemotongan
daging ini kalau selesai dipergunakan dan saat ritual adat belum selesai tidak
boleh ada yang lewat disana karena bisa mendapat celaka.Itu pantangan dan jika
dilanggar langsung kena sakit, ini pernah terjadi “ ujar Frans Beribe salah
seorang pengurus Lembaga Pemangku Adat di desa Lewokluok.
Terlihat seorang tetua
adat berjalan di pelataran Namang membawa beberapa kelapa muda.Menggunakan
parang,kelapa tersebut di potong ujungnya lalu airnya disiram di tanah di
beberapa tempat di Namang.
Kelapanya dibiarkan
tergeletak di tempat tersebut, Juga 3 buah kelapa disiram di Nuba (batu tempat
persembahan).Hal yang sama juga dilakukan oleh tetua adat di Korke.
Air kelapa diperciki di
beberapa tiang yang ada di Korke.Selain
itu kelapa muda yang ada di korke juga dibagikan usai ritual.
“Airnya
diyakini untuk mendinginkan, menghalau Bala atau kesialan.Biasanya orang
berebut memintanya untuk disiram di kendaraan atau rumah serta sekujur tubuh, “
tutur Frans.
Selain
dibagikan sambung Frans,kelapa tersebut juga dibawa ke setiap sudut kampung di
desa Lewokluok dan diletakan di 4 sudut kampung untuk memberikan kepada warga
suku yang berdiam di Blepanawa Bama dan kampung laiinya di utara yang termasuk
di dalam komunitas suku Demon Pagong.
“Kelapa
diletakan disana dan dikirim secara gaib ke wilayah setiap komunitas suku
berdiam.Air kelapa juga diperciki di bubungan atap rumah adat,”sambung Frans.
Menukar
Makanan
Seraya menunggu waktu
ritual dilanjutkan,beberapa lelaki menari Tandak di pelataran Korke.Usai semua
daging dan Lorit yang dibawa disiapkan di Korke, upacara dilanjutkan.
Tumpeng (Tupe) yang
disiapkan oleh suku Kabelen diberikan ke suku Lein yang memegang Padu, dan
dilanjutkan dengan Maran yang membicarakan tentang pembagian Lorit dan daging
kepada semua warga suku.
Sebelumnya Tupe diambil
oleh U’o Matan dan ditaruh di beberapa tiang dan atap bagian dalam Korke.Arak
di Dasa (tempurung kelapa) dan disiram ke tempat tersebut.
Beberapa tokoh adat
berjalan mengelilingi bale – bale Korke dan mengambil Lorit di beberapa tempat.
Lorit dari sebuah suku tersebut diambil dan ditukar ke wadah milik suku
lainnya.
“Ini bermakna membagi
rejeki dan menandakan kebersamaan. Jadi rejeki yang dilambangkan dengan makanan
tadi dibagi ke semua suku agar semua mendapatkan rejeki yang sama, “ beber Linus Lino Kabelen ketua Lembaga
Masyarakat Adat Demon Pagong.
Setelah semua Kolo
berisi daging dan lorit dibagikan merata,tokoh adat suku Nedabang menyampaikan
bahwa acara pembagian sudah selesai.
Satu persatu perempuan
menghampiri wadah yang dibawanya dan membawanya kembali ke rumah masing–masing.
Para tetua adat masih bertahan di Korke.
Acara ditutup dengan
Tihi Ketenek,makan daging sisa yang dialnjutkan dengan Tena Prat Lera Wulan, pesan terakhir, pesan pamit kepada Lera Wulan ( Dewa Langit ) dan Tanah Ekan ( Dewa Bumi ) bahwa rangkaian
kegiatan sudah selesai.
Disaat itu juga
dilaporkan pertanggungjawaban kegiatan dan pemakaian dana oleh Lembaga Pemangku
Adat serta membahas rencana pembukaan kebun baru ( Elo Buka Etan ).Semua suku kembali ke rumah suku untuk melakukan
evaluasi dan membahas rencana kegiatan tahun depan.
Setelah ritual selesai papar
Linus yang juga menjadi ketua Lembaga Pemangku Adat desa Lewokluok,semua warga
dilarang melintas di Koke Bale sampai besok pagi
Selama waktu
tersebut,komunitas suku meyakini para arwah leluhur akan datang ke Koke Bale
dan menyantap makanan dan minuman sisa ritual adat.Binatang yang berkeliaran di
tempat tersebut selama waktu tersebut diyakini merupakan jelmaan dari arwah
leluhur.
“Pantangan ini harus
ditaati karena jika dilanggara maka warga yang melanggar akan mendapat sakit
dan bisa meninggal saat itu juga,” pungkas Linus.
Penulis : Ebed de Rosary
Wartawan Cendana News (www.cendananes.com)
dan Mongabay (www.mongabay.co.id)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar