
MAUMERE - Ubi kayu atau singkong merupakan makanan lokal masyarakat Flores dan
NTT.Berbagai macam cara pengolahan ubi disajikan setaip daerah menambah
khazanah kuliner nusantara.Bagaimana warga Tana Ai mengolah ubi kering (gaplek) menjadi makanan lezat siap yang
disajikan bersama Mage Wair masakan ikan kuah asam yang dibakar di bambu?.Ikuti
liputannya berikut.
Kali ini kembali Cendana News disuguhkan makanan Etnis Tana Ai.. Etnis di
wilayah timur kabupaten Sikka ini masih terkenal kental mempertahankan adat dan
budaya. Makanan lokal sederhana namun terasa memanjakan lidah sering kali
disajikan setiap ada perhelatan pernikahan,sambut baru (komuni pertama) maupun ritual adat.
Tak kesulitan Minggu (6/3/2016) Cendana News disuguhkan makanan lokal ini oleh Maria Wiliborda Parera,warga
kelahiran Wairbou,desa Nebe kecamatan Talibura dir rumahnya di kota Maumere. Ubi kayu
kering (gaplek) jelas Maria,biasanya
diambil dari kebun.Setelah dikupas,ubi tersebut dikeringkan dengan cara dijemur
minimal dua minggu. Masyarakat
Tana Ai sebut Maria,sering
menyimpan ubi kering tersebut di dalam Kata (anyaman dari daun kelapa) yang
dipakai untuk menyimpan ubi dan jagung dalam pondok di areal kebun.
Ditumbuk Halus
Maria Dua Lodan kepada Cendana News menuturkan,dirinya sedang membuat makanan lokal
Tana Ai yang dinamakan Ohu Ai Nome. Ohu Ai
bahasa Tana Ai artinya ubi kayu sementara Nome merupakan anyaman dari daun
lontar berbentuk kerucut. Masyarakat wilayah tengah kabupaten Sikka menamakan
masakan ini Ohu Ai Prungan. Meski
berbeda nama sebut Dua Lodan, bahannya
dan cara pembuatannya juga sama.
Maria Wiliborda Parera yang sedang meunmbuk ubi kayu di Lesung memakai Alu mengatakan, ubi kayu ditumbuk di Lesung hingga halus lalu ditapis memakai Nyiru. Ubi yang ditumbuk tutur Wiliborda harus sampai halus menyerupai tepung.
Sementara itu,di saat bersamaan
seorang wanita terlihat sedang memarut kelapa. Kelapa yang dipakai jelas
Wiliborda sebaiknya jangan terlalu tua biar hasilnya lebih renyah dan baunya
lebuh harum. Kelapa parut dan tepung ubi kayu
(Ohu Ai) diaduk merata di Nyiru (Lida) seraya diremas
kedua tangan.
“Saat diaduk tambahkan sedikit
air saja biar legket. Biasanya cuma dicampur kelapa saja tanpa dicampur gula.
Tapi kadang juga campur dengan gula merah atau gula aren “ungkap
Wiliworda.
Setelah dirasa adukan sudah
merata,campuran tersebut dikukus di periuk tanah yang ditaruh Nome
diatasnya. Supaya uapnya tidak keluar,
pinggiran periuk urai Wiliborda,ditempeli dengan sisa adonan. Jika tidak ada Nome tambahnya,adonan sering juga dikukus
menggunakan Korak (tempurung kelapa) yang dilubangi bagian matanya.Korak
pun seoerti Nome. diletakan di bagian atas periuk tanah.
Pengganti Nasi
Masyarakat Tana Ai biasa
menyantap hidangan Ohu Ai Prungan sebagai pengganti nasi saat di kebun. Bila dimakan sebagai pengganti nasi jelas Wiliborda campuran ubi dan
kelapa parut tidak dicampur dengan gula merah. Campuran
yang memakai gula merah sebutnya hanya disuguhkan saat sarapan pagi atau sore
ditemani secangki kopi atau teh.
Selain memberi rasa manis, bila
dicampur dengan gula aren Ou Ai Prungan yang sudah matang akan berwarna coklat.Kerap kali anak–anak mengambil adonan yang sudah
merata tadi dan ditusuk di batang kayu. Adonan ini pun
urai Wiliborda dipanggang di bara api. Rasanya juga enak.
“Kalau dimasak atau dikukus
memakai Nome maka hasil masakan akan berbentuk kerucut seperti tumpeng.
Tapi kalau di kota orang sering kukus di dandang biar lebih praktis “ paparnya.
Ebed de Rosary
Wartawan Cendana News.Com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar