Laman

Senin, 09 Mei 2016

Ohu Ai Prungan Hidangan Lokal Gaplek Tana Ai





MAUMERE - Ubi kayu atau singkong merupakan makanan lokal masyarakat Flores dan NTT.Berbagai macam cara pengolahan ubi disajikan setaip daerah menambah khazanah kuliner nusantara.Bagaimana warga Tana Ai mengolah ubi kering (gaplek) menjadi makanan lezat siap yang disajikan bersama Mage Wair masakan ikan kuah asam yang dibakar di bambu?.Ikuti liputannya berikut.

Kali ini kembali Cendana News disuguhkan makanan Etnis Tana Ai.. Etnis di wilayah timur kabupaten Sikka ini masih terkenal kental mempertahankan adat dan budaya. Makanan lokal sederhana namun terasa memanjakan lidah sering kali disajikan setiap ada perhelatan pernikahan,sambut baru (komuni pertama) maupun ritual adat.

Tak kesulitan Minggu (6/3/2016) Cendana News disuguhkan makanan lokal ini oleh Maria Wiliborda Parera,warga kelahiran Wairbou,desa Nebe kecamatan Talibura dir rumahnya di kota Maumere. Ubi kayu kering (gaplek) jelas Maria,biasanya diambil dari kebun.Setelah dikupas,ubi tersebut dikeringkan dengan cara dijemur minimal dua minggu. Masyarakat Tana Ai sebut Maria,sering menyimpan ubi kering tersebut di dalam Kata (anyaman dari daun kelapa) yang dipakai untuk menyimpan ubi dan jagung dalam pondok di areal kebun.

Ditumbuk Halus

Maria Dua Lodan kepada Cendana News menuturkan,dirinya sedang membuat makanan lokal Tana Ai yang dinamakan Ohu Ai Nome. Ohu Ai bahasa Tana Ai artinya ubi kayu sementara Nome merupakan anyaman dari daun lontar berbentuk kerucut. Masyarakat wilayah tengah kabupaten Sikka menamakan masakan ini Ohu Ai Prungan. Meski berbeda nama sebut Dua Lodan, bahannya dan cara pembuatannya juga sama. 

Maria Wiliborda Parera yang sedang meunmbuk ubi kayu di Lesung memakai Alu mengatakan, ubi kayu ditumbuk di Lesung hingga halus lalu ditapis memakai Nyiru. Ubi yang ditumbuk tutur Wiliborda harus sampai halus menyerupai tepung.

Sementara itu,di saat bersamaan seorang wanita terlihat sedang memarut kelapa. Kelapa yang dipakai jelas Wiliborda sebaiknya jangan terlalu tua biar hasilnya lebih renyah dan baunya lebuh harum. Kelapa parut dan tepung ubi kayu (Ohu Ai) diaduk merata di Nyiru (Lida) seraya diremas kedua tangan.

“Saat diaduk tambahkan sedikit air saja biar legket. Biasanya cuma dicampur kelapa saja tanpa dicampur gula. Tapi kadang juga campur dengan gula merah atau gula aren “ungkap Wiliworda.

Setelah dirasa adukan sudah merata,campuran tersebut dikukus di periuk tanah yang ditaruh Nome diatasnya. Supaya uapnya tidak keluar, pinggiran periuk urai Wiliborda,ditempeli dengan sisa adonan. Jika tidak ada Nome tambahnya,adonan sering juga dikukus menggunakan Korak (tempurung kelapa) yang dilubangi bagian matanya.Korak pun seoerti Nome. diletakan di bagian atas periuk tanah. 


Pengganti Nasi

Masyarakat Tana Ai biasa menyantap hidangan Ohu Ai Prungan sebagai pengganti nasi saat di kebun. Bila dimakan sebagai pengganti nasi jelas Wiliborda campuran ubi dan kelapa parut tidak dicampur dengan gula merah. Campuran yang memakai gula merah sebutnya hanya disuguhkan saat sarapan pagi atau sore ditemani secangki kopi atau teh.

Selain memberi rasa manis, bila dicampur dengan gula aren Ou Ai Prungan yang sudah matang akan berwarna coklat.Kerap kali anak–anak mengambil adonan yang sudah merata tadi dan ditusuk di batang kayu. Adonan ini pun urai Wiliborda dipanggang di bara api.  Rasanya juga enak.

“Kalau dimasak atau dikukus memakai Nome maka hasil masakan akan berbentuk kerucut seperti tumpeng. Tapi kalau di kota orang sering kukus di dandang biar lebih praktis “ paparnya.

Saat mencicipi hasil olahan ini Cendana News rasakan kelezatannya walau dibuat dengan bahan sederhana. Sambil ditemani segelas teh panas, Ou Ai Prungan atau Ou Ai Nome yang dicampur gula merah terasa manis.Teh pun hanya diberikan sedikit gula saja. Menikmati Ou Au Prungan bersama Mage Wair masakan ikan kuah asam di siang hari di bale–bale bambu serasa memberi sensasi tersendiri.

Ebed de Rosary
Wartawan Cendana News.Com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar