(
Bagian Pertama )
MAUMERE
-
Mendengar nama bank, tentu yang pertama terlintas dalam pikiran kita adalah
uang. Bank selalu identik dengan sebuah lembaga keuangan tempat orang menabung
dan meminjam uang. Tapi bank yang satu ini malah tak memiliki uang. Bank Sampah
Flores nama lembaga yang didirikan tepat dihari valentine 14 Februari 2014.
Bank yang dirikan oleh
12 orang dimana 6 orang pendirinya merupakan kaum difabel atau penyandang cacat
ini, selama 21 bulan kiprahnya harus berjalan tertatih – tatih. Semua pendiri
dan karyawan bekerja secara sukarela alias tanpa digaji. Akibatnya, kini
tinggal 2 orang saja yang aktif yakni Wenefrida Efodia Susilowati atau kerap
disapa Susi selalku inisiator dan Fransiskus Saverinus atau akrab disapa Saver
seorang penyandang cacat.
Saat ditemui penulis di rumah yang juga dijadikan kantor persis di
jalan negara Trans Flores samping pantai Paris yang selalu ramai dikunjungi
warga Maumere kabupaten Sikka, Sabtu ( 12/12/2015 ) Susi yang dijuluki Ratu
Sampah Indonesia oleh para tamu yang kerap berkunjung ke kantornya.Gelar Ratu
Sampah Indonesia sebut Susi seraya tertawa saat
tamu – tamu yang datang melihat dia dan teman - temannya melakukan hal -
hal kecil untuk menyelamatkan dunia khsususnya melalui kegiatan peduli sampah.
“ Mereka selalu
mengatakan tempat kami sebagai istana sampah sehingga saya dijuluki gelar
tersebut.Tapi sebagai ratu saya tdk bisa hidup sendiri, bekerja sendiri harus
ada rakyat yang membantu saya “ ujar Susi.
Merawat
Bumi
Saat ditanyai mengapa
mendirikan Bank Sampah Flores Susi pun bersemengat dan mulai berceritera.
Hampir 6 tahun yang lalu tutur Susi, dirinya bersama keluarga pindah ke
Maumere, Flores dan membeli tanah di pinggir pantai. Saat musim barat, mereka
selalu selalu memanen sampah teristimewa sampah palstikyangmenumpuk di pesisir
pantai dan hal ini berlangsung terus setiap tahun.
Kejadian berikutnya
yang tidak mengenakan juga beber Susi, setiap bangun pagi, di halaman rumah
selalu ada pampers dan pembalut wanita. Rupanya benda ini sebut Susi dibawa
anjing karena di samping rumah mereka ada halaman kosong yang oleh masyarakat seenaknya
dijadikan sebagai tempat sampah umum.
Selain itu sambungnya,
karena ankanya sudah remaja, dirinya melihat, setiap hari Valentine pasti akan
banyak orang yang memberi hadiah sehingga banyak kertas kado dan bungkus
cokelat dipergunakan. Di hari itu pasti produksi sampah meningkat,pikir Susi
sehingga tanggal itu dipilih sebagai hari lahirnya Bank Sampah Flores.
Sebagai orang Katolik,
Susi pun teringat akan sebauh ayat dalam Kitab Suci Alkitab dimana dikatakan “ Allah
Menciptakan manusia untuk merawat dan memelihara bumi dan segala ciptaanNya “, to
taker of it tapi tujuan itu sambungnya belum tercapai karena manusianya
sibuk sekolah dan setelah pintar bercita - cita mendapatkan pekerjaan yang baik
dan menghasilkan uang. Jadi orientasinya kata Susi hanya mencari uang sehingga tujuan
Allah menciptakan manusia belum tercapai.
“ Kami berjalan dengan
apa adanya, dengan tenaga tenaga sukarela.Kami memulainya dari nol, form sero to hero karena visi kami
sampah nol, from sero to sero wise “
tutur perempuan yang bersuamikan pria asal Belanda ini.
Sosialisasi
dan Edukasi
Selama 21 bulan
perjalanan Bank sampah Flores, Susi dan teman – temannya melihat, masih banyak
sampah yang dibuang sembarangan. Ada banyak penyebab kata Susi yakni pertama
terkait perilaku masyarakat.Yang kedua,
sebutnya, kurangnya pengetahuan masyarakat
akan dampak membuang sampah sembarangan.Ke tiga lanjut Susi, fasilitas umum seperti
tempat sampah yang disediakan sangat tidak cukup serta pihak perusahaan masih
banyak menggunakan packaging dari bahan plastik. Yang kelima dari pemerintah belum
adanya kebijakan terkait sampah seperti peraturan daerah atau isntruksi bupati.
“ Kami melihat banyak
tanah kosong yang dijadikan tempat pembuangan sampah liar.Solusinya harus ada
pembagian peran, karena tugas itu kalau kita jalankan secara holistik pasti
akan ringan “ sebutnya.
Karena didirikan secara
sukarela dan tidak ada dana maka bagaimana mengadakan pelatihan, uangnya dari
mana? Susi mengatakan, setiap ada event di kantor desa atau kecamatan pihaknya
datang dan meminta ijin panitia untuk memberikan waktu pihaknya berbagi. Susi bersyukur karena
selama ini pihaknya selalu diberikan kesempatan.Bahkan saat acara pramuka yang
dihadiri para kepala sekolah dari 9 kecamatan bulan November 2015 pihaknya pun
diberi kesempatan sosialisasi.
Bank Sampah Flores juga
melakukan sosialisasi ke sekolah – sekolah, kelompok masyarakat dan agama baik
di Maumere maupun di beberapa kota lainnya di propinsi Nusa Tenggara Timur. Dikatakan
Susi, pihaknya melakukan edukasi berkelanjutan di sekolah, sementara dimulai
dari Sekolah Dasar ( SD ) dan diharapkan tahun 2016 bisa mulai dari play
group.Bank Sampah Flores bekerja sama dengan Eco Flores mengerjakan program
untuk SD dengan menerbitkan buku pelajaran Indonesia Hijau.
Untuk Maumere awal
tahun 2016 kata Susi pihaknya sudah siap untuk melatih 50 SD.Kalau dana ada
Desember ini, bebernya, pihaknya akan melakukan TOT ( Trainer Of Trainer ) bagi
para guru. Untuk Manggarai Barat ( Mabar ) terang Susi, sudah diprogramkan oleh
dinas Pendidiakn,Pemuda dan Olahraga ( PPO ) Mabar dimana Bank Sampah Flores
diminta melatih 283 sekolah sekitar bulan April 2016.
“ Fokus utama program
Indnesia Hijau menyebarkan kesadaran bagaimana mengetahui jumlah sampah yang
dihasilkan setiap hari dan bagaiamana kita mengurangi, menggunakan kembali serta
mendaur ulang, ini pendidikan berkelanjutan.Setelah ada pengetahuan dan mereka
mengumpulkan sampah baru kami akan mengambilnya “ sebutnya. ( Bersambung )



Tidak ada komentar:
Posting Komentar