Laman

Selasa, 28 Juni 2016

Bank Sampah Flores, Mengangkut Sampah Mengandalkan Bantuan Sukarelawan




( Bagian Pertama )

MAUMERE - Mendengar nama bank, tentu yang pertama terlintas dalam pikiran kita adalah uang. Bank selalu identik dengan sebuah lembaga keuangan tempat orang menabung dan meminjam uang. Tapi bank yang satu ini malah tak memiliki uang. Bank Sampah Flores nama lembaga yang didirikan tepat dihari valentine 14 Februari 2014.

Bank yang dirikan oleh 12 orang dimana 6 orang pendirinya merupakan kaum difabel atau penyandang cacat ini, selama 21 bulan kiprahnya harus berjalan tertatih – tatih. Semua pendiri dan karyawan bekerja secara sukarela alias tanpa digaji. Akibatnya, kini tinggal 2 orang saja yang aktif yakni Wenefrida Efodia Susilowati atau kerap disapa Susi selalku inisiator dan Fransiskus Saverinus atau akrab disapa Saver seorang penyandang cacat.

Saat ditemui penulis  di rumah yang juga dijadikan kantor persis di jalan negara Trans Flores samping pantai Paris yang selalu ramai dikunjungi warga Maumere kabupaten Sikka, Sabtu ( 12/12/2015 ) Susi yang dijuluki Ratu Sampah Indonesia oleh para tamu yang kerap berkunjung ke kantornya.Gelar Ratu Sampah Indonesia sebut Susi seraya tertawa saat  tamu – tamu yang datang melihat dia dan teman - temannya melakukan hal - hal kecil untuk menyelamatkan dunia khsususnya melalui kegiatan peduli sampah. 

“ Mereka selalu mengatakan tempat kami sebagai istana sampah sehingga saya dijuluki gelar tersebut.Tapi sebagai ratu saya tdk bisa hidup sendiri, bekerja sendiri harus ada rakyat yang membantu saya “ ujar Susi.


Merawat Bumi

Saat ditanyai mengapa mendirikan Bank Sampah Flores Susi pun bersemengat dan mulai berceritera. Hampir 6 tahun yang lalu tutur Susi, dirinya bersama keluarga pindah ke Maumere, Flores dan membeli tanah di pinggir pantai. Saat musim barat, mereka selalu selalu memanen sampah teristimewa sampah palstikyangmenumpuk di pesisir pantai dan hal ini berlangsung terus setiap tahun.

Kejadian berikutnya yang tidak mengenakan juga beber Susi, setiap bangun pagi, di halaman rumah selalu ada pampers dan pembalut wanita. Rupanya benda ini sebut Susi dibawa anjing karena di samping rumah mereka ada halaman kosong yang oleh masyarakat seenaknya dijadikan  sebagai tempat sampah umum.

Selain itu sambungnya, karena ankanya sudah remaja, dirinya melihat, setiap hari Valentine pasti akan banyak orang yang memberi hadiah sehingga banyak kertas kado dan bungkus cokelat dipergunakan. Di hari itu pasti produksi sampah meningkat,pikir Susi sehingga tanggal itu dipilih sebagai hari lahirnya Bank Sampah Flores.

Sebagai orang Katolik, Susi pun teringat akan sebauh ayat dalam Kitab Suci Alkitab dimana dikatakan “ Allah Menciptakan manusia untuk merawat dan memelihara bumi dan segala ciptaanNya “,  to taker of it tapi tujuan itu sambungnya belum tercapai karena manusianya sibuk sekolah dan setelah pintar bercita - cita mendapatkan pekerjaan yang baik dan menghasilkan uang. Jadi orientasinya kata Susi hanya mencari uang sehingga tujuan Allah menciptakan manusia belum tercapai.

“ Kami berjalan dengan apa adanya, dengan tenaga tenaga sukarela.Kami memulainya dari nol, form sero to hero karena visi kami sampah nol, from sero to sero wise “ tutur perempuan yang bersuamikan pria asal Belanda ini.


Sosialisasi dan Edukasi

Selama 21 bulan perjalanan Bank sampah Flores, Susi dan teman – temannya melihat, masih banyak sampah yang dibuang sembarangan. Ada banyak penyebab kata Susi yakni pertama terkait  perilaku masyarakat.Yang kedua, sebutnya,  kurangnya pengetahuan masyarakat akan dampak membuang sampah sembarangan.Ke tiga lanjut Susi, fasilitas umum seperti tempat sampah yang disediakan sangat tidak cukup serta pihak perusahaan masih banyak menggunakan packaging dari bahan plastik. Yang kelima dari pemerintah belum adanya kebijakan terkait sampah seperti peraturan daerah atau isntruksi bupati.

“ Kami melihat banyak tanah kosong yang dijadikan tempat pembuangan sampah liar.Solusinya harus ada pembagian peran, karena tugas itu kalau kita jalankan secara holistik pasti akan ringan “ sebutnya.

Karena didirikan secara sukarela dan tidak ada dana maka bagaimana mengadakan pelatihan, uangnya dari mana? Susi mengatakan, setiap ada event di kantor desa atau kecamatan pihaknya datang dan meminta ijin panitia untuk memberikan waktu  pihaknya berbagi. Susi bersyukur karena selama ini pihaknya selalu diberikan kesempatan.Bahkan saat acara pramuka yang dihadiri para kepala sekolah dari 9 kecamatan bulan November 2015 pihaknya pun diberi kesempatan sosialisasi.

Bank Sampah Flores juga melakukan sosialisasi ke sekolah – sekolah, kelompok masyarakat dan agama baik di Maumere maupun di beberapa kota lainnya di propinsi Nusa Tenggara Timur. Dikatakan Susi, pihaknya melakukan edukasi berkelanjutan di sekolah, sementara dimulai dari Sekolah Dasar ( SD ) dan diharapkan tahun 2016 bisa mulai dari play group.Bank Sampah Flores bekerja sama dengan Eco Flores mengerjakan program untuk SD dengan menerbitkan buku pelajaran Indonesia Hijau.

Untuk Maumere awal tahun 2016 kata Susi pihaknya sudah siap untuk melatih 50 SD.Kalau dana ada Desember ini, bebernya, pihaknya akan melakukan TOT ( Trainer Of Trainer ) bagi para guru. Untuk Manggarai Barat ( Mabar ) terang Susi, sudah diprogramkan oleh dinas Pendidiakn,Pemuda dan Olahraga ( PPO ) Mabar dimana Bank Sampah Flores diminta melatih 283 sekolah sekitar bulan April 2016.

“ Fokus utama program Indnesia Hijau menyebarkan kesadaran bagaimana mengetahui jumlah sampah yang dihasilkan setiap hari dan bagaiamana kita mengurangi, menggunakan kembali serta mendaur ulang, ini pendidikan berkelanjutan.Setelah ada pengetahuan dan mereka mengumpulkan sampah baru kami akan mengambilnya “ sebutnya. ( Bersambung )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar