MAUMERE - Tradisi
menenun wajib dilestarikan. Selain menghargai leluhur, keterampilan yang
diwarisi secara turun temurun bisa menafkahi hidup.Wisatawan yang menyambangi gereja
tua Sikka dipandang sebagai pembeli potensial.Pasar ini yang coba dimasuki
kelompok Dona Ines. Meski tidak semua yang menyambangi gereja tua Sikka membeli
selembar kain tenun, toh bagi kaum perempuan kelompok Dona Ines, kesetiaan memasarkan
tenun Sikka tetap dilakoni.
Menenun
bagi kaum perempuan di kabupaten Sikka merupakan sebuah keterampilan yang wajib
dimiliki. Tak heran, hampir semua pelosok di kabupaten Sikka, aktifitas menenun
dengan mudah kita temui. Menenun dilakukan baik secara perorangan di rumah-rumah
maupun secara berkelompok.Di kota Maumere, ibukota kabupaten Sikka, aktifitas
menenun juga masih kita jumpai di rumah-rumah penduduk.
Kain
tenun, bagi masyarakat Sikka wajib dibawa saat ada kematian maupun
perkawinan.Anggota keluarga yang berduka, datang ke rumah duka selalu
membawanya untuk diberikan kepada keluarga berduka. Saat perkawinan pun, kain
tenun diberikan kepada keluarga pengantin perempuan kepada keluarga pengantin laki–laki
saat antar Belis (mahar perkawinan).
Menenun
pun bisa dilakukan untuk mencari nafkah. Kain tenun dijual kepada wisatawan maupun
kepada warga masyarakat Sikka yang membutuhkan. Sadar akan potensi ini,
kelompok perempuan Dona Ines di desa Sikka bergabung dan bersatu menjual kain
tenun dan aksesoris dari kerang yang diproduksinya.
“Kami
ada lima kelompok perempuan di desa ini yang sudah terbentuk sejak tahun 2012.
Kami awalnya berjualan sendiri–sendiri namun akhirnya kami semua sepakat
bergabung menjadi sebuah kelompok besar dan setiap hari berjualan di samping
gereja tua Sikka “ujar Margaretha Alexa kepada Cendana News yang menemuinya di Sikka, Minggu (31/01/2016).
Dikatakan
Alexa, awalnya mereka berjualan kain tenun sendiri –sendiri. Saat ada kunjungan
wisatawan bebernya, mereka berlarian mengejar para wisatawan guna menawarkan
kain tenun mereka. Ketidakteraturan ini membuat banyak wisatawan yang tidak
merasa nyaman dan urung membelinya.Bila tidak ada kelompok, mereka juga sulit
mendapatkan bantuan.Kejadian inilah yang membuat 50 orang sepakat membentuk 5
kelompok dan bergabung dalam sebuah kempok besar.
Tergantung Wisatawan
Saat
disambangi Cendana News
pagi itu, kelompok ini sedang menunggu pembeli. Sepinya tamu saat itu membuat
kelompok dua yang mendapat kebagian jatah menjual, sudah dua belas hari tak ada
selembar kain tenun yang dijual.Meski begitu, para ibu-ibu ini terlihat tetap
semangat.
Lokasi
tempat menggelar dagangan dan memamerkan proses menenun tidak terlalu luas.Berada
persis di sebelah selatan,di bawah tangga masuk halaman gereja tua Sikka dan
berdampingan dengan makam raja Sikka.Lahan seluas ± 100 meter persegi ini
dijadikan pangkalan rutin mengais rejeki dari wisatawan yang mengunjungi gereja
tua dan Lepo Gete (istana raja)
Rineldis
Epifania ketua kelompok Dona Ines menuturkan, di desa Sikka sebenarnya ada 15
kelompok tenun.Lima kelompok sebut Epifania,terbentuk tahun 2012 sementara 10
kelompok lainnya terbentuk tahun 2013.Kelima kelompok yang tergabung dalam
kelompok Dona Ines rutin menempati lokasi di sekitar Lepo Gete sedangkan 10
kelompok lainnya tidak.
Masing–masing
kelompok beranggotakan 10 orang.Kelima kelompok tersebut juga dinamai sesuai
motif kain tenun yang jadi andalan kelompok tersebut.Kelompok satu bernama
Mawarani yang diketuai Maria Anselmia sedangkan kelompok dua bernama Manuagi
yang diketuai Maria Dua Eda da Gomes. Kelompok tiga dinamakan Medan Wedeng Werang yang diketuai Edoksia
Sima, kelompok empat Nape Wungung diketuai Maria Rosari dan kelompok terakhir
dengan ketua Putri Finansi bernama Naga Lalang.
“Biasanya
setiap kelompok dibagi setiap hari memamerkan kain tenunnya, tapi kalau belum
ada yang terjual berarti kelompok tersebut tetap memamerkan kain tenun sampai
ada yang beli.Ini sudah jadi kesepakatan bersama seluruh anggota dalam
pertemuan “ kata Epifania.
Semua
kelompok jelas Epifania,menempati lokasi di sekitar Lepo Gete Hasil penjualan
disisihkan juga untuk uang kas kelompok.Wisatawan ramai berkunjung saat
seminggu jelang Paskah dan juga di bulan Juni hingga Oktober. Selepas itu,
ungkap Epifania, jarang sekali ada kunjungan wisatawan.Saat turun hujan, kain
tenun dipajang di kolong rumah panggung Lepo Gete dan para perempuan anggota
kelompok berteduh di atas terasnya.
“
Tidak semua yang berkunjung ke gereja tua dan Lepo Gete membeli kain tenun (
sarung ) yang kami jual.Biasanya usai mengunjungi gereja tua, kami tawarkan
mereka guna melihat kain tenun kami, siapa tahu mereka bisa membelinya. Tapi
semua itu tergantung wisatawan “ papar
Epifania.
Kain
– kain tenun terlihat dipajang dengan meletakannya pada bambu – bambu pagar
yang ada di sekeling tempat tersebut. Ada juga yang ditaruh di meja. Setiap
sudut dipasang tiga tingkat bambu panjang sehingga memudahkan kain – kain tenun
tersebut diletakan disana.
Memamerkan Proses
Kelompok
ini juga menawarkan pertunjukan proses menenun kain.Biasanya kegiatan ini suka
diminta para wisatawan untuk bisa mengetahui secara jelas hingga terjadinya
selembar kain tenun.Tarif yang dikenakan untuk memperlihatkan proses ini
dikutip sebesar 100 ribu rupiah.Penasaran akan hal ini, penulis pun ikut
memperhatikannya.
Pohon
kapas yang ada di sekitar tempat tersebut terlihat berbuah dan beberapa buahnya
mulai mengering.Dijelaskan Alexa, juru bicara kelompok, kapas yang sudah kering
diambil dan bijinya dikeluarkan memakai alat tradisional yang disebut
Ngeung.Agneta Agnes terlihat
sedang memasukan kapas kedalam celah diantara dua kayu bulat sementara tangan
satunya memutar pegangan di samping alat tersebut.
“Ngeung
berfungsi untuk memisahkan biji kapas. Satu alat punya dua fungsi dimana kapas yang sudah
dibersihkan akan keluar di bagian depan sementara yang ada bijinya akan keluar
dibelakang “jelas Alexa.
Kapas
pun dihaluskan.Dua perempuan dengan batang kayu bulat sepanjang ± 1 meter dan
diameter ± 2 sentimeter terlihat memukulkan kapas yang diletakan di atas tikar (Tutu). Di bawah
tikar ditaruh tumpukan daun pisang kering sehingga saat dipukul tikar akan
membal. Dipukul oleh dua orang jelas Alexa, supaya kapas bisa rata dan halus
hingga ke ujungnya.
Setelah
itu kapas dibentuk bulatan panjang memakai lidi atau kayu dengan maksud supaya
dapat dipintal dan jadi benang larinya satu arah saja (Ogo). Hasil gulungan
satu persatu mulai diuraikan jadi benang, memakai alat pintal Jata Kapa).
Setelah perentangkan benang urai Alexa, proses pembuatan kain tenun dilanjutkan
dengan membuat pola atau motif gambar.Setiap ibu-ibu di kelompok terangnya,
mempunyai buku pegangan masing - masing sehingga jika hendak mengikat motif
mereka akan mengikuti contoh di dalam buku tersebut.
“Ikat
pakai tali daun gebang (Tebuk) supaya saat dicelup motifnya tetap dalam ikatan.
Yang tidak diikat bagian luar yang akan dikasih warna, dimana kalau dibuka
bagian yang diikat akan terbentuk pola atau gambar. Ikat pakai daung Gebang supaya
tidak licin dan bergeser.Prosesnya butuh waktu sekitar dua minggu “urainya.
Selanjutnya
benang tersebut diberi pewarna dengan dicelupkan ke dalam tembikar yang sudah
diberi pewarna alami. Proses warna merah,beber Alexa, akar pohon Mengkudu
dihaluskan dicampur air soda dari abu kayu bakar (kayu Asam atau kayu kesambi) dan
diaduk merata bersama daun Lobak. Benang putih pun dicelupkan ke
dalamnya.
Prosesnya bertahap. Satu bulan dikasih warna setelah itu disimpan,
dikasih warna dan disimpan lagi dan dilakukan terus menerus. Butuh waktu sampai
tiga tahun hingga dasar warna merah sampai berubah jadi coklat baru dibuka
ikatan motif dan diluruskan atau dirapikan dalam alat pemidang (Daong).
“Proses
pembuatan warnanya butuh waktu lama karena pemberian warna secara bertahap dan
disimpan supaya warnanya semakin lama semakin melekat.Daun Nila direndam di
tembikar dicampur air dingin dan kapur sirih untuk kasih warna biru. Prosesnya
sama seperti warna coklat tadi hingga sampai warna biru berubah jadi warna
hitam.Proses pemberian warna alami lama, dicuci juga tidak luntur,“ paparnya.
Sesudahnya
benang diikat satu persatu (Sipe),
supaya kalau ditenun motifnya dalam satu posisi, tidak lari kiri kanan
atau bengkok dan sudah menyatu. Sipe sebut Alexa, bisa dilakukan selama dua
hari.Setelahnya benang tersebut ditenun. Ada banyak proses menenun
yang lebih detail ungkapnya,namun yang ditampilkan disini merupakan proses
menenun secara umum saja.
Motif Tradisional
Setiap
kelompok di Dona Ines menghasilkan sarung motif khusus untuk dijual.Setiap
motif sarung memiliki arti tradisi budaya.Terdapat 38 motif yang dikembangkan
di kelompok ini. Dari jumlah tersebut, sekitar 23 motif merupakan motif
tradisional yang diwarisi turun temurun sementara sisanya merupakan motif
modern hasil kreasi kelompok.
Motif
tradisional seperti diungkapkan Epifania selaku ketua kelompok terdiri atas
Mawarani,Manuagi,Nagalalang,Nape Wungung,Oko
Kirek,Rembing dan Moko. Selain itu juga terdapat motif Medan Wedeng Werang,Jarang
Ata Biang,Selepa, Dama,Kapa Wuang,Kelang Kobar,Medan Taling,Medan Turang,Geda
Ata Wuang dan Pote Sere.Sementara Motif modern diantaranya Bunga,Laba-Laba,Puto
dan lainnya.
Dari
banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Sikka dan membeli kain tenun hasil
produksi mereka, sebut Epifania, wisatawan asing lebih menyukai kain tenun
pewarna alami yang lebih gelap sementara wisatawan dari Jawa lebih menyukai
warna cerah.
“Kami
selalu kasih tahu ke wisatawan, kalau pewarna kimia warnanya cerah–cerah, kalau
pewarna alami warnanya agak buram. Ada benang kapas dan benang pabrik juga.
Kalau pakai kapas prosesnya agak lama “katanya.
Untuk
selembar kain tenun pewarna alami memakai kapas sepanjang 1,5 meter dan lebar
40 sentimeter dilepas dengan harga 2 juta rupiah.Sementara memakai benang
pabrik dan menggunakan pewarna alami dijual seharga 1,5 juta rupiah.Jika
memakai benang pabrik dan pewarna kimia, selembar kain tenun dilego dengan
harga 300 ribu rupiah.Kelompok ini juga menerima pesanan kain dalam jumlah
banyak.
Pemasaran
dan modal jadi alasan klasik yang menyebabkan kelompok ini ibarat pepatah “hidup enggan mati tak mau”. Tahun 2012
berdiri, ungkap Maria Dua Eda da Gomes ketua kelompok Manuagi saat ditanyai Cendana News, kelompok Dona
Ines mendapat bantuan dari dinas pariwisata Sikka sebesar 75 juta rupiah. Tiap
kelompok sebut Dua Eda, mendapat 4 juta rupiah. Tahap kedua lanjutnya, kembali
mendapat dana 100 juta rupiah yang disalurkan lewat desa tapi tidak jelas
pembagian dananya.Kelompok Dona Ines pun lanjut Dua Eda hanya memasarkan kain
tenun di samping gereja tua Sikka dan Lepo Gete saja.
“Kami
belum pernah jual ke tempat lain tapi kalau di dalam keluarga anggota kelompok
yang butuh mereka bisa beli.Kami butuh modal sebagai penguat untuk mengembangkan
kelompok tenun ikat “pungkasnya.
Selain
kain tenun, kelompok tersebut juga membuat aksesoris dari kerang seperti
gelang, kalung, anting dan Rosario.Kerang–kerang
tersebut dipilih di pesisir pantai desa Sikka.Harga yang ditawarkan bervariasi
mulai dari 25 ribu rupiah hingga 50 ribu rupiah untuk sebuah Rosario.
Ebed de Rosary
Wartawan Cendana News.Com
Ebed de Rosary
Wartawan Cendana News.Com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar