Lepo Gete dalam bahasa Sikka diartikan sebagai rumah
yang ditempati oleh orang besar.Rumah ini ditempati oleh raja Sikka sehingga
biasa disebut istana raja.Berada persis di bibir pantai selatan, Lepo Gete
warisan kerajaan ini hancur bak ditelan ganasnya ombak pantai selatan.Niat baik
pemerintah kabupaten Sikka membangunnya kembali membuat Lepo Gete bisa
disaksikan generasi muda saat ini.Meski tidak sesuai aslinya, Lepo Gete tetap
menjadi sebuah bangunan unik penuh sejarah.
Kampung Sikka
atau Sikka Natar terletak di pantai selatan Kabupaten Sikka, di Kecamatan Lela,
berjarak ± 28
kilometer dari kota Maumere. Sikka Natar ini kelihatan sederhana, namun
sesungguhnya mengandung suatu perjalanan sejarah yang sangat berarti. Di
kampung inilah terdapat sebuah gereja tua dan rumah yang disebut Lepo Gete.
Lepo Gete ini menjadi istana kerajaan Sikka dan sekaligus pusat
pemerintahan kerajaan Sikka dalam rentan waktu yang cukup lama terutama dalam
masa penjajahan Portugis abad ke XVI dan Belanda abad ke XVII. Lepo Gete
hanya berjarak ± 5 meter dari bibir pantai selatan. Lepo Gete pernah menjadi
pusat kontak budaya antara penduduk pribumi Sikka pada umumnya dan bangsa asing
seperti Portugal dan Belanda.
Sejak
awal terbentuknya Kerajaan Sikka sekitar tahun 1607,raja Sikka, Don Alexius
Alessu Ximenes da Silva,membangun pusat pemerintahannya dengan bermarkas di
kampung Sikka, di istana "Lepo Gete".Hampir semua raja Sikka mendiami
istana kerajaan Sikka ini.
Lepo
Gete persis berada di sebelah selatan gereja tua Sikka berjarak ± 15 meter.Saat
disambangi Cendana News,Minggu(31/01/2016),terlihat beberapa
lelaki sedang tidur di tempat ini. Beberapa wanita yang menjajakan kain tenun
ikat di seberang jalan mengatakan, bila turun hujan, mereka semua akan
berlindung di Lepo Gete. Tali-tali diikatkan menghubungkan tiang yang satu dengan
yang lainnya.Sarung pun diletakan di tali yang terentangdi kolong bangunan Lepo
Gete tersebut sementara mereka duduk di atas berandanya.
Tidak Seperti Aslinya
Menurut
penuturan Gregorius Tamela Karwayu (67
tahun)yang ditemui Cendana News,Minggu(31/01/2016)
bangunan Lepo Gete memang sejak dulu sudah ada.Tapi setelah raja Don Alesu
pulang dari Malaka,tutur Goris pria ini biasa disapa, istana raja pun
diperbesar karena wilayah kerajaan juga diperluas.Bangunan ini sebutnya
berbentuk rumah panggung dengan panjang 20 meter dan lebar 15 meter beratap
tinggi melancip dengan dua sisi air.
Lepo
Gete sebut Goris terdiri atas dua bagian utama yakni Tedang yang berfungsi sebagai pendopo rumah, tempat menerima tamu,
tempat musyawarah, tempat perjamuan atau acara pesta lainnya. Bagian kedua disebut Une.Tempat ini ungkap lelaki kelahiran 12 Maret 1948, khusus hanya
untuk penghuni rumah atau anggota keluarga dekat dimana disitu juga terdapat
tempat tidur dan tempat menyimpan harta
kekayaan yang berharga. Bagian Une
letaknya lebih tinggi dari bagian Tedang dan
ada tangga (Dang) yang menghubungkan
kedua bagian itu.
“Selain Une
dan Tedang pada bagian belakang
terdapat dapur dan tempat menyimpan persediaan makanan yakni Awu dan Ronang. Bagian ini juga
letaknya lebih rendah dari Tedang dan
dilengkapi dengan kamar tidur untuk pembantu rumah.Bangunan Lepo Gete sekarang
ini tidak seperti aslinya.Ada rencana mau dibangun lagi seperti aslinya
“ujarnya.
Rumah
besar ini seperti disampaikan Orestis Parera (75) kepada Cendana News di hari yang sama,pada jaman
Belanda dan sebelum merdeka baru dipindah ke Maumere. Raja Don Yosephus Thomas
Ximenes da Silva sebut pak Res,pria ini biasa disapa, pernah tinggal di Lepo Gete tapi setelah itu
pindah ke Maumere.Pemerintah Kabupaten Sikka saat bupati dijabat Paulus
Moa,beber lelaki kelahiran 25 Juni 1940, membangun kembali rumah adat itu pada
tahun 2000 dengan biaya 100 juta rupiah untuk melestarikan sejarah, budaya dan
sekaligus menjadi obyek wisata.
Ditambahkan
pak Res, memang Lepo Gete mau dibangun baru karena ada seorang donator yang mau
bantu tapi belum juga ada tindak lanjutnya.Lepo Gete sekarang ini tiang
rumahnya kurang tinggi dan harus ditambah lagi tingginya minimal 1,5
meter.Bentuk rumahnya urai Res,masih dengan rumah panggung tapi kayu-kayu
penyangganya harus besar sehingg bisa lentur.
“Dulunya,
rumah para pembantu raja juga berbentuk seperti Lepo Gete hanya lebih kecil.
Rumah saya juga sebelum tahun 70 - an masih seperti itu karena orang tua
termasuk Moang Puluh. Tapi kami tidak ada uang untuk memperbaiki sebab butuh
biaya besar sehingga dirobohkan dan bangun rumah seperti sekarang ini. Bapak
E.P da Gomez juga rumahnya sampai tahun
80-an masih seperti itu” jelasnya.
Berpindah Ke Maumere
Istana
raja Sikka urai Goris dan Res pernah berpindah ke Maumere atas saran penguasa
Belanda. Bapak E.P. da Gomez dan Oscar P Mandalangi dalam bukunya yang berjudul
“Don Thomas Peletak Dasar Sikka Membangun“ menyebutkan, pemerintah Belanda
untuk pertama kalinya pada tanggal 24 Agustus 1879 mengangkat seorang "Posthouder"
di Maumere. Posthouder GA.VAN SIEK itulah yang menyarankan agar Raja Sikka
sebaiknya selalu berada di Maumere sebab ketika itu Maumere sudah ramai sekali
sebagai tempat pertemuan para pedagang dari berbagai jurusan. Saran yang baik
itu sangat menarik perhatian sang Raja Sikka.
Secara
bertahap urai EP da Gomes dan Oscar P Mandalangi dalam bukunya,raja Sikka mulai
membuat rencana untuk memindahkan ibukota Kerajaan Sikka ke Maumere.Akan tetapi
hal ini baru terlaksana pada tanggal 26 Pebruari 1894 dengan dipancangkanlah
tiang pertama bangunan istana Raja Sikka itu di Maumere.Dan pada tanggal 8
Maret 1894 diselenggarakan suatu pesta rakyat yang marak meriah dengan acara
main dadu dan sabung ayam selama seminggu sebagai tanda peresmian pembangunan
istana itu. Istana yang sudah runtuh tersebut kini di atasnya berdiri bangunan
rumah dua bersaudara sekandung keturunan Raja Sikka, Mikhael da Silva dan
Rafael da Silva. Namun demikian, Raja Sikka masih tetap saja berdiam di kampung
Sikka. Beliau datang ke Maumere hanya sesewaktu apabila perlu atau diminta
Posthouder.
Don
Josephus Nong Meak da Silva dinobatkan menjadi Raja Sikka ke-14 pada tahun
1903. Pada mulanya beliau menetap di kampung Sikka, dan barn pada tahun 1918,
beliau mengambil keputusan untuk memindahkan ibukota pemerintahan Kerajaan
Sikka ke Maumere.Menurut PS da Cunha
dalam surat khabar Mingguan "BENTARA" Ende edisi tanggal 15
Juni 1954 menyebutkan kepindahan itu terjadi tahun 1917. Raja Nong Meak
membangun istananya, yang disebut oleh masyarakat setempat sebagai "Oring
Sirat",di lokasi yang sekarang sudah berdiri bangunan Losmen Lareska,
sedangkan bangunan kantor pemerintahan Kerajaan Sikka (Landschaap Sikka) terletak
di kompleks lapangan Tugu (sementara ini sudah menjadi lokasi sakral patung
Kristus Raja).
Tiang Kayu Bulat
Lepo
Gete yang ada sekarang berbentuk rumah panggung, ditopang oleh 25 kayu bulat
dari pohon Tuak (Lontar) yang dipancang
berbaris memanjang dan melintang. Terdapat 5 baris dengan masing – masingnya
memiliki 5 tiang.Tiang yang berada di sisi terluar utara dan selatan kesemuanya
memiliki tinggi ± 5 meter. Baris kedua tiang yang lebih ke dalam setinggi ± 5,2
meter sedangkan barisan tiang di bagian tengah setinggi ± 7 meter.Semua tiang
bulat ini berdiri di atas pondasi semen segi empat setinggi ± 30 sentimeter.
Bangunan
Lepo Gete sekarang diperkirakan panjangnya 15 meter dan lebar 10 meter
sementara tinggi lantai dari tanah ± 1,7 meter. Untuk menaikinya, dibuatkan 9
anak tangga dari semen di sisi barat.Tangga ini pun semennya sudah mulai rontok
di bagian pinggirnya.Semua dinding rumah raja ini terbuat dari papan selebar 15
sampai 20 sentimeter. Dinding pendopo bagian utara setinggi ± 1 meter sementara
ketiga sisi lainnya setinggi ± 1,5 meter.Dinding pembatas kamar ketinggiannya ± 2 meter.
Lantai
rumah panggung berbahan kayu di topang oleh kayu - kayu yang disusun memanjang
sebanyak ± 96 batang kayu (Usuk) dengan masing–masing bagian terdapat 6 batang kayu.
Kayu–kayu inilah yang menjadikan lantai rumah panggung ini kuat menahan beban.
Kayu –kayu di sekelilingnya maupun dinding ruangan banyak yang sudah terlepas.
Disaksikan Cendana News,kondisi
ruangan sudah berantakan dan tidak mencerminkan sebuah hunian. Kamar – kamarnya
pun tidak ada kayu pembatas lagi, banyak yang sudah terlepas begitu pula
pintunya.
Atap
yang terbuat dari ilalang ada yang sudah terlepas ikatannya.Bahkan di bagian
tengah, dari ujung ke ujung terlihat lubang menganga.Dengan lebar lubang
sekitar 20 sentimeter, jika turun hujan dijamin bagian tengah rumah akan
dipenuhi air hujan. Ini yang mengakibatkan lantai di bagian tengah rumah banyak
yang sudah hancur terkena rembesan air.
Belum Sepaham
Bagian
depan Lepo Gete dipenuhi rumput liar (Keroko) dan bunga–bunga yang tidak
terurus.Pondasi tiang juga terlihat semennya mulai rontok dan tanahnya
tergerus. Saat Cendana News
sedang berkeliling, datang beberapa anak muda dan tidur di pendopo
Lepogete.Mereka beralasan bahwa di Lepo Gete lebih sejuk karena bangunannya
terbuka dan atapnya dari ilalang tidak seperti rumah mereka yang beratap seng.
Memang
keinginan untuk membangun Lepo Gete yang baru seperti disampaikan Goris dan Res
sudah ada tapi pemerintah masih beralasan adanya satu dua ahli waris kerajaan
yang belum sepaham. Setelah dibangun memang ada rencana untuk ditinggali atau
minimal ada yang menjaganya. Tapi sambung Res, harus diatur oleh pemerintah
desa atau ahli waris raja siapa yang pantas menempatinya.
Mikael
Manda da Cunha yang juga mantan kepala desa Sikka yang pertama menyayangkan
anak cucu keluarga keturunan raja yang saling mengklaim atas hak kepemilikan
bekas rumah raja (Lepo Gete). Padahal pemerintah kabupaten Sikka ungkap
Mikhael, telah menetapkan bahwa Lepo Gete sebagai benda warisan bersejarah
sehingga dilindungi oleh undang - undang. Mereka kurang memiliki sense sejarah,
sesal lelaki 72 tahun ini.
“Warisan
pusaka kerajaan Sikka (Regalia Sikka) sendiri saat ini bertebaran di beberapa
keluarga keturunan raja. Sehingga tidak bisa dijadikan aset sejarah yang bisa
dilihat oleh orang umum, setidaknya dibuatkan replikanya sebagai benda
bersejarah.Sekarang banyak turis yang menyatakan kecewa karena tidak
mendapatkan benda-benda bersejarah itu. Padahal ini juga bisa menambah daya
tarik turis selain gereja tua, peninggalan portugis, seni dan tari tradisional
serta seni tenun ikat“imbuhnya.
Jika tidak
segera dicari jalan keluar dan langkah konkrit untuk memugar ataukah membangun
baru, warisan kerajaan Sikka ini suatu saat akan punah.Banyak orang asli
kampung Sikka yang terkenal pintar dan bertebaran di kabupaten Sikka, NTT
maupun di beberapa kota besar di Indonesia. Tentunya pemikiran dan sumbangsih
mereka dibutuhkan agar kelak anak cucu mereka bisa menyaksikan dan bangga
terhadap peninggalan kerajaan Sikka bukan hanya sekedar melihat foto dan
membaca tulisannya.
Ebed de Rosary
Wartawan Cendana News.Com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar