MAUMERE - Meski kerap
dilupakan pemerintah daerah Sikka, berwisata dengan berjalan melintasi jembatan
bambu diselimuti hutan bakau merupakan sebuah sensasi yang tentunya tidak bisa didapatkan
di tempat lain di negeri ini bahkan di belahan dunia manapun. Selain berjalan
di titian bambu, pengunjung pun bisa merasakan kenikmatan memungut kerang di
hutan bakau, mencari kepiting dan ikan, surfing di lautnya hingga melepas penat
di pantai berpasir putih.
Hal
ini yang menjadikan areal hutan bakau seluas 50 hektar dengan ketebalan bakau
mencapai 300 meter lebih di Mageloo Ndete
desa Reroroja kecamatan Magepanda ini kerap disambangi
wisatawan saban minggu. Banyak juga yang memanfaatkan tempat ini untuk membuat
film dan foto pre wedding.Berjarak 29,5kilometer
arah barat kota Maumere, lokasi ini bisa dicapai dengan menumpang angkutan
dengan biaya 15 ribu rupiah maupun sepeda motor.
Jembatan Bambu
Membangun
jembatan bakau di tengah rimbunnya pohon bakau,kisah Viktor Emanuel Raiyon
pemilik tempat ini kepada Cendana News
yang menemuinya, Minggu ( 03/01/2015
) seraya membawa majalah yang memuat dirinya. Membangun jembatan dilakukan
saat proses pembuatan film dokumenter oleh sebuah stasiun televisi swasta di
Indonesia tahun 2008 silam.
“
Kami mau shooting film dokumenter tapi camera
man kesulitan melakukan pengambilan gambar
akibat lumpur di hutan bakau bisa capai kedalaman 30 sentimeter.Petugasnya
hampir jatuh dan kami takut kalau peralatannya rusak. Akhirnya saya minta
donatur untuk beli bambu dan kami
kerja kelompok buat bangun ini jembatan “ jelas pria yang akrab disapa Baba
Akong ini.
Jembatan
bambu ini sepanjang 300 meter dan direncanakan akan ditambah lagi 50 meter.Penambahan ini
sebut Raiyon dilakukan agar pengunjung tidak bersusah payah berjalan selepas
lokasi pembibitan bakau miliknya.
Sepanjang
rute yang dilewati, pengunjung tidak bisa melihat pemandangan sekelilingnya
karena tertutup rimbunnya bakau setinggi 5 hingga 6 meter di kedua sisinya.Pegangan
kayu hanya ada di bagianpangkal jembatan agar memudahkan pengunjung menanjak
menaiki jembatan.
Tiang
jembatan menggunakan batang bambu sementara kayu penyangga dipaku di kedua sisinya sebagai penahan.Di atasnya
dipaku bilah – bilah bambu belah selebar 3 sampai 5 sentimeter.Jembatan
setinggi 1,5 meter dan lebar 1 meter ini beberapa bambunya sudah mulai
keropos.Baba Akong yang menemani Cendana
News,
terus memperingatkan agar
berhati – hati.
“
Kalau bisa pemerintah Sikka bantu ganti bambunya dan tiang bawahnya dicor
sedikit biar tidak
cepat rusak.Sekarang banyak tiang dan bambu yang sudah lapuk.Kami terpaksa baru sektar enam bulan tarik retribusi lima
ribu rupiah untuk beli bambu dan sudah gantti beberapa bagian yang rusak
“ ungkap Anselina Nona isteri Raiyon.
Setelah
berjalan sejauh 100
meter terdapat sebuah pondok di sebelah kiri
jembatan berjarak 4 meter.Pondok seluas 6 meter persegi ini bisa dijadikan
tempat beristirahat sementara untuk kembali malanjutkan perjalanan.Sementara itu pondok kedua berada di barat sejauh ± 200
meter.Pada pohon – pohon bakau yang berjejer
di kiri kanan jembatan bambu tertempel tulisan nama dalam bahasa Latin dan
Indonesia.
Hutan Bakau
Saat
hari libur banyak pengunjung yang datang berekreasi ke tempat ini.kepada para pengunjung
asal Sikka, Raiyon bersama isterinya hanya
memungut biaya 5
ribu rupiah sedangkan dari luar daerah dan luar negeri
dirinya mengutip lebih mahal, 20
ribu hingga 50 ribu rupiah..Uang – uang itu sebut
Raiyon dipakai untuk membeli polybag untuk pembibitan bakau dan bambu.
‘
Disini ada 15 jenis bakau dan terlengkap. Bakaunya saya namakan sendiri dalam
bahasa Indonesia dan ada nama latinnya juga sehingga memudahkan pengunjung
mengenalnya “ ujar Raiyon.
Pengunjung
juga diperbolehkan berjalan di jalan setapak masuk keluar hutan bakau, mencari
ikan dan kerang.Saat musim angin kencang bulan Mei hingga Agustus, harga ikan
mahal sehingga banyak penduduk dari pegunungan yang datang ke hutan bakau ini
memilih kerang dan mencari ikan.Pengunjung
juga bisa menatapa hutan bakau dari ketinggian menara yang terbuat dari bambu
setinggi 15 meter.
“
Pemerintah bisa bantu pasang lentera atau lampu di ujung menara biar kalau ada
masyarakat yang mencari ikan di hutan bakau saat malam hari tidak tersesat saat
mau pulang “ tambah Mama Nona sapaan akrab Anselina Nona.
Dalam
hutan bakau juga ada empat kolam ikan masing – masing seluas seperempat hektar
berada terpisah. Kolam ikan ini dulunya
dipenuhi ikan Bandeng.Setiap tamu dari luar daerah yang berkunjung ke tempat
ini sebut Baba Akong, dirinya bersama isteri biasa menyuguhkan ikan Bandeng
untuk disantap.
Tapi
saat ini kolam tersebut sudah tidak dipenuhi Bandeng lagi.Selepas dirinya
terkena serangan jantung tahun 2005, Baba Akong tidak memperhatikan kolam
tersebut sehingga kolamnya jebol.Jika ada bantuan dana, dirinya akan memelihara
ikan lagi agar bisa disuguhkan bagi para wisatawan sebab menurutnya ikan di
kolam tersebut lebih enak dan gurih dan bisa dipanen setelah Bandeng berumur 6
bulan.
Wisata Alam
Mimpi
Raiyon dan isterinya, bukan saja menghutankan pesisir Mageloo dan Ndete dengan
bakau saja, tapi menjadikan daerah ini sebagai tempat wisata alam.Saat ada
relawan dari Inggris dan berkunjung ke tempat ini,urai Raiyon mereka sudah
survey semua, mereka bilang di Ndete ini akan dijadikan pusat wisata alam,dan
mereka akan datang kesini semua karena mereka ingin ke alam yang sebenranya yang ada
oksigennya.
“ Mereka juga cek ke laut,ternyata terumbu
karangnya masih bagus dan airnya jernih. Mereka bilang bagus buat snorkeling dan diving dan kalau dijadikan wisata alam sangat bagus karena
tempatnya juga sehat “ katanya.
Maria
Parera. Warga Maumere yang ditemui Cendana News sedang memanjat menara pengawas
menyatakan sangat senang bisa menikmati wisata alam ini. Meski cuaca panas, ujar
Maria pengujung yang berjalan di jembatan bambu tidak kepanasan karena tertutup
rimbunan bakau.
“Kalau
dibangun dua atau tida jembatan lagi dengan arah berbeda tentunya sangat
menyenangkan bisa keliling seluruh areal hutan bakau. Tempatnya bagus ada sensasi
tersendiri saat melinatsi jembatan bambu lagipula biayanya Cuma lima ribu
rupiah saja “ sebut Maria.
Kegigihan Raiyon menularkan ilmu kepada
anak sekolah, guru besar, peneliti dan kesabarannya mempraktekannya dengan
menghutankan kawasan pantai di dusunnya seluas 50 hektar dan ratusan hektar
pesisir pantai utara Flores dan Indonesia,membuahkan Kalpataru tahun 2009 untuk
kategori Perintis Lingkungan.
Penghargaan
Eagle Award tahun 2008 yang diselenggarakan salah satu stasiun TV swasta pun
digenggamnya lewat film dokumenter berjudul “ Prahara Tsunami Bertabur Bakau
”.Dalam perlombaan ini dirinya menyisihkan 256 peserta dari berbagai daerah di
Indonesia.
Selain
itu,dari 80 peserta, dirinya terpilih mendapatkan penghargaan Kick Andy Heroes
untuk kategori lingkungan di tahun 2009, penghargaan dari Bupati Sikka Paulus
Moa tahun 2000 dan gubenur
NTT Piet A Tallo yang berkaitan dengan perintis lingkungan hidup.
Ebed de Rosary
Wartawan Cendana News.Com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar