Ritual
Hari Ketiga atau Hari Terakhir " Koke Bale "
Hari
terakhir rangkaian ritual Koke Bale yang diadakan komunitas suku Demon Pagong
di desa Lewokluok ditutup dengan Gole Mati, membagikan daging hewan sembelihan
sehari sebelumnya. Setiap komunitas suku mengantar makanan persembahannya
berupa Mati atau Lorit berbentuk kerucut di dalam anyaman daun Lontar ke
Korke.Ikuti perjalanan liputan di ritual akhir ini.
Jarum jam menunjukan
pukul 09.00 wita. Kamis ( 18/06/15 ) satu persatu perempuan dari berbagai suku
mulai terlihat berjalan menuju Korke.Mati atau Lorit semacam tumpeng kecil yang
diletakan di dalam anyaman lontar ( Bukat ) dijunjung di kepala.Ada yang
meletakannya di dalam rantang atau piring yang dibungkus dan diikat kain.Masing
– masing suku menyiapkan Lorit dan semuanya di bawa oleh perempuan dan
diletakan di bale – bale bambu di Korke.
Ritual dimulai dengan
Hudu Bakat, meminta kekuatan diselenggarakan di rumah suku Goran.Dikisahkan
Theodorus Tolan Lein ( 70 ) tetua suku Lein kepada penulis, Kamis ( 16/06/15 )
suku Lein kawin dengan suku Goran saatmasih di tanah asal Sina Jawa dan saat
berpencar mereka kembali ketemu di Lewokluok.Karena bertemu Goran maka sebelum
membuat ritual adat sebut Theodorus,Lein harus mengambil kekuatan di suku
Goran.
“ Khusus hari ini suku
Lein bisa makan ayam dari Goran kalau hari lainnya tidak boleh “ ujarnya.
Beri
Kekuatan
Petrus Botaama ( 83 ) sesepuh adat Demon Pagong yang ditemui penulis
di hari yang sama menjelaskan, Hudu Bakat adalah salah satu ritual adat yang
dimaksudkan untuk menyiapkn seseorang menjadi kader pemimpin di masa depan yang
bisa menggantikan posisi orang tua mereka suatu saat nanti di meja adat.Selain
itu tambah Botaama, Hudu Bakat juga bermakna menyiapkan sesorang agar kelak
mampu berperan sebagai Ata Maran (mengucapkan mantra - mantra adat atau Koda
Kirin).Selain itu, Hudu Bakat sambungnya, bertujuan agar seseorang memiliki
keberanian untuk berbicara di depan umum guna menyampaikan ide dan pendapatnya
serta memiliki keberanian dalam berperang.
Usai ritual Hudu Bakat,
dilanjutkan dengan menyalahkan Padu ( Damar ) di rumah adat suku Lein dan
disaat bersamaan, tiga buah Rengki atau Tumpeng besar disiapkan di rumah adat
suku Kabelen.Yang siapkan suku Kabelen sementara yang membawanya suku Lein.
Usai Padu dinyalakan, Rengki di rumah suku Kabelen dihantar bersamaan dengan
Padu keluar dari masing – masing rumah suku menuju Korke. Suku Lubur pun
berdiri di masing – masing sudut Korke dan berteriak mempersilahkan masing –
masing suku membawa Lorit atau Rengki ke Korke.
Beberapa Lorit
diletakan di Namang oleh suku Kabelen sementara suku Lein memegang Padu yang
menyala berada di sampingnya.Padu diikat di tiang Korke sebagai makna
menyinari, menerangi semua yang hadir. Ritual selanjutnya jelas Theodorus, suku
Lubur memberi sepotong daging mentah ke suku Nedabang untuk dimakan.
“ Daging ini bermakna
penghargaan bagi suku Nedabang yang harus makan duluan “ jelasnya.
Pantangan
Sementara itu di sebuah
areal yang dijadikan tempat pemotongan hewan kurban, kaum lelaki sibuk memotong
daging kurban. Daging – daging tersebut dimasukan ke dalam anyaman daun
Gebang ( Kolo ). Disaksikan penulis beberapa lelaki
dewasa terlihat cekatan memasukan potongan – potongan daging ke dalam daun
Gebang ( Enau ) tersebut seraya
mengikatnya. Terlihat juga beberapa tungku api yang diatasnya diletakan dandang
dan wajan untuk memasak daging,
“ Areal pemotongan
daging ini kalau selesai dipergunakan dan saat ritual adat belum selesai tidak
boleh ada yang lewat disana karena bisa mendapat celaka.Itu pantangan dan jika
dilanggar langsung kena sakit, ini pernah terjadi “ ujar Ronald Lein (27 )
teman yang setia memandu.
Terlihat seorang tetua
adat berjalan di pelataran Namang membawa beberapa kelapa muda.Menggunakan
parang, kelapa tersebut di potong ujungnya dan airnya disiram di tanah di
beberapa tempat di Namang dan kelapanya dibiarkan tergeletak disana. Juga 3
buah disiram di Nuba ( batu tempat persembahan ).Hal yang sama juga dilakukan
oleh tetua adat di Korke. Air kelapa diperciki di beberapa tiang yang ada di
Korke.Selain itu kelapa muda yang
ada di korke juga dibagikan usai ritual.
“
Airnya diyakini untuk mendinginkan, menghalau Bala atau kesialan.Biasanya orang
berebut memintanya untuk disiram di kendaraan atau rumah serta sekujur tubuh “
tutur Ronald.
Selain
dibagikan sambung Ronald, kelapa tersebut juga dibawah ke setiap sudut kampung
di desa Lewokluok, Blepanawa dan Bama yang termasuk di dalam 3 desa komunitas
suku Demon Pagong.Air kelapa juga ungkap Ronald diperciki di bubungan atap
rumah adat ( Korke )
Menukar
Makanan
Seraya menunggu waktu
ritual dilanjutkan, beberapa lelaki menari Namang di pelataran Korke.Usai semua
daging dan Lorit yang dibawa disiapkan di Korke, upacara dilanjutkan dimana
Tumpeng ( Tupe ) yang disiapkan oleh suku Kabelen diberikan ke suku Lein yang
memegang Padu, dan dilanjutkan dengan Maran yang membicarakan tentang pembagian
Lorit dan daging kepada semua warga suku.
Sebelumnya Tupe diambil
oleh U’o Matan dan ditaruh di beberapa tiang dan atap bagian dalam Korke.Arak
di Dasa ( tempurung kelapa ) pun disiram ke tempat tersebut.Beberapa tokoh adat
berjalan mengelilingi bale – bale Korke dan mengambil Lorit di beberapa tempat.
Lorit dari sebuah suku tersebut diambil dan ditukar ke wadah milik suku
lainnya.
“ Ini bermakna membagi
rejeki dan menandakan kebersamaan. Jadi rejeki yang dilambangkan dengan makanan
tadi dibagi ke semua suku agar semua mendapatkan rejeki yang sama “ beber
Theodorus, tokoh adat suku Lein.
Setelah semua Kolo
berisi daging dan lorit dibagikan merata, tokoh adat suku Nedabang menyampaikan
bahwa acara pembagian sudah selesai. Satu persatu perempuan menghampiri wadah
yang dibawanya dan membawanya kembali ke rumah masing – masing. Para tetua adat
masih bertahan di Korke.
Acara ditutup dengan
Tihi Ketenek, makan daging sisa yang dilanjutkan dengan Tena Prat Lera Wulan, pesan terakhir, pesan pamit kepada Lera Wulan ( Dewa Langit ) dan Tanah Ekan ( Dewa Bumi ) bahwa rangkaian
kegiatan sudah selesai.Disaat itu juga dilaporkan pertanggungjawaban kegiatan
dan pemakaian dana oleh Lembaga Pemangku Adat serta membahas rencana pembukaan
kebun baru ( Elo Buka Etan ).Semua
suku kembali ke rumah suku untuk melakukan evaluasi dan membahas rencana
kegiatan tahun depan.
Penulis : Ebed de
Rosary Email : ebedallan@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar