Laman

Sabtu, 24 Oktober 2015

Gole Mati, Membagi Berkah Lewat Daging Kurba


Ritual Hari Ketiga atau Hari Terakhir " Koke Bale " 

Hari terakhir rangkaian ritual Koke Bale yang diadakan komunitas suku Demon Pagong di desa Lewokluok ditutup dengan Gole Mati, membagikan daging hewan sembelihan sehari sebelumnya. Setiap komunitas suku mengantar makanan persembahannya berupa Mati atau Lorit berbentuk kerucut di dalam anyaman daun Lontar ke Korke.Ikuti perjalanan liputan di ritual akhir ini.

Jarum jam menunjukan pukul 09.00 wita. Kamis ( 18/06/15 ) satu persatu perempuan dari berbagai suku mulai terlihat berjalan menuju Korke.Mati atau Lorit semacam tumpeng kecil yang diletakan di dalam anyaman lontar ( Bukat ) dijunjung di kepala.Ada yang meletakannya di dalam rantang atau piring yang dibungkus dan diikat kain.Masing – masing suku menyiapkan Lorit dan semuanya di bawa oleh perempuan dan diletakan di bale – bale bambu di Korke.

Ritual dimulai dengan Hudu Bakat, meminta kekuatan diselenggarakan di rumah suku Goran.Dikisahkan Theodorus Tolan Lein ( 70 ) tetua suku Lein kepada penulis, Kamis ( 16/06/15 ) suku Lein kawin dengan suku Goran saatmasih di tanah asal Sina Jawa dan saat berpencar mereka kembali ketemu di Lewokluok.Karena bertemu Goran maka sebelum membuat ritual adat sebut Theodorus,Lein harus mengambil kekuatan di suku Goran.

“ Khusus hari ini suku Lein bisa makan ayam dari Goran kalau hari lainnya tidak boleh “ ujarnya.

Beri Kekuatan

Petrus Botaama ( 83 ) sesepuh adat Demon Pagong yang ditemui penulis di hari yang sama menjelaskan, Hudu Bakat adalah salah satu ritual adat yang dimaksudkan untuk menyiapkn seseorang menjadi kader pemimpin di masa depan yang bisa menggantikan posisi orang tua mereka suatu saat nanti di meja adat.Selain itu tambah Botaama, Hudu Bakat juga bermakna menyiapkan sesorang agar kelak mampu berperan sebagai Ata Maran (mengucapkan mantra - mantra adat atau Koda Kirin).Selain itu, Hudu Bakat sambungnya, bertujuan agar seseorang memiliki keberanian untuk berbicara di depan umum guna menyampaikan ide dan pendapatnya serta memiliki keberanian dalam berperang.

Usai ritual Hudu Bakat, dilanjutkan dengan menyalahkan Padu ( Damar ) di rumah adat suku Lein dan disaat bersamaan, tiga buah Rengki atau Tumpeng besar disiapkan di rumah adat suku Kabelen.Yang siapkan suku Kabelen sementara yang membawanya suku Lein. Usai Padu dinyalakan, Rengki di rumah suku Kabelen dihantar bersamaan dengan Padu keluar dari masing – masing rumah suku menuju Korke. Suku Lubur pun berdiri di masing – masing sudut Korke dan berteriak mempersilahkan masing – masing suku membawa Lorit atau Rengki ke Korke.

Beberapa Lorit diletakan di Namang oleh suku Kabelen sementara suku Lein memegang Padu yang menyala berada di sampingnya.Padu diikat di tiang Korke sebagai makna menyinari, menerangi semua yang hadir. Ritual selanjutnya jelas Theodorus, suku Lubur memberi sepotong daging mentah ke suku Nedabang untuk dimakan.

“ Daging ini bermakna penghargaan bagi suku Nedabang yang harus makan duluan “ jelasnya.

Pantangan

Sementara itu di sebuah areal yang dijadikan tempat pemotongan hewan kurban, kaum lelaki sibuk memotong daging kurban. Daging – daging tersebut dimasukan ke dalam anyaman daun Gebang  ( Kolo ). Disaksikan penulis beberapa lelaki dewasa terlihat cekatan memasukan potongan – potongan daging ke dalam daun Gebang  ( Enau ) tersebut seraya mengikatnya. Terlihat juga beberapa tungku api yang diatasnya diletakan dandang dan wajan untuk memasak daging,

“ Areal pemotongan daging ini kalau selesai dipergunakan dan saat ritual adat belum selesai tidak boleh ada yang lewat disana karena bisa mendapat celaka.Itu pantangan dan jika dilanggar langsung kena sakit, ini pernah terjadi “ ujar Ronald Lein (27 ) teman yang setia memandu.

Terlihat seorang tetua adat berjalan di pelataran Namang membawa beberapa kelapa muda.Menggunakan parang, kelapa tersebut di potong ujungnya dan airnya disiram di tanah di beberapa tempat di Namang dan kelapanya dibiarkan tergeletak disana. Juga 3 buah disiram di Nuba ( batu tempat persembahan ).Hal yang sama juga dilakukan oleh tetua adat di Korke. Air kelapa diperciki di beberapa tiang yang ada di Korke.Selain itu kelapa muda yang ada di korke juga dibagikan usai ritual.

“ Airnya diyakini untuk mendinginkan, menghalau Bala atau kesialan.Biasanya orang berebut memintanya untuk disiram di kendaraan atau rumah serta sekujur tubuh “ tutur Ronald.

Selain dibagikan sambung Ronald, kelapa tersebut juga dibawah ke setiap sudut kampung di desa Lewokluok, Blepanawa dan Bama yang termasuk di dalam 3 desa komunitas suku Demon Pagong.Air kelapa juga ungkap Ronald diperciki di bubungan atap rumah adat ( Korke )

Menukar Makanan

Seraya menunggu waktu ritual dilanjutkan, beberapa lelaki menari Namang di pelataran Korke.Usai semua daging dan Lorit yang dibawa disiapkan di Korke, upacara dilanjutkan dimana Tumpeng ( Tupe ) yang disiapkan oleh suku Kabelen diberikan ke suku Lein yang memegang Padu, dan dilanjutkan dengan Maran yang membicarakan tentang pembagian Lorit dan daging kepada semua warga suku.

Sebelumnya Tupe diambil oleh U’o Matan dan ditaruh di beberapa tiang dan atap bagian dalam Korke.Arak di Dasa ( tempurung kelapa ) pun disiram ke tempat tersebut.Beberapa tokoh adat berjalan mengelilingi bale – bale Korke dan mengambil Lorit di beberapa tempat. Lorit dari sebuah suku tersebut diambil dan ditukar ke wadah milik suku lainnya.

“ Ini bermakna membagi rejeki dan menandakan kebersamaan. Jadi rejeki yang dilambangkan dengan makanan tadi dibagi ke semua suku agar semua mendapatkan rejeki yang sama “ beber Theodorus, tokoh adat suku Lein.

Setelah semua Kolo berisi daging dan lorit dibagikan merata, tokoh adat suku Nedabang menyampaikan bahwa acara pembagian sudah selesai. Satu persatu perempuan menghampiri wadah yang dibawanya dan membawanya kembali ke rumah masing – masing. Para tetua adat masih bertahan di Korke.

Acara ditutup dengan Tihi Ketenek, makan daging sisa yang dilanjutkan dengan Tena Prat Lera Wulan, pesan terakhir, pesan pamit kepada Lera Wulan ( Dewa Langit ) dan Tanah Ekan ( Dewa Bumi ) bahwa rangkaian kegiatan sudah selesai.Disaat itu juga dilaporkan pertanggungjawaban kegiatan dan pemakaian dana oleh Lembaga Pemangku Adat serta membahas rencana pembukaan kebun baru ( Elo Buka Etan ).Semua suku kembali ke rumah suku untuk melakukan evaluasi dan membahas rencana kegiatan tahun depan.

Penulis : Ebed de Rosary                        Email : ebedallan@gmail.com





Tidak ada komentar:

Posting Komentar