Laman

Sabtu, 24 Oktober 2015

Melihat Peruntungan Lewat Empedu Binatang Sembelihan

Mengambil hati hewan yang disembelih saat ritual Belo Howok di Korke desa Lewokluok untuk melihat peruntungan di tahun depan. ( Foto : Ebed de Rosary )
Ritual Belo Howok,Ritual Hari Kedua

Ritual Belo Howok merupakan kelanjutan dari ritual Take Koke sehari sebelumnya.Saat ritual, semua binatang disembelih dengan cara memenggal lehernya hingga putus. Binatang yang sudah disembelih di gantung di sebatang bambu yang diikat di pohon Kelua ( baca Keluwang ) yang ada di pelataran Koke Bale. Ritual yang dihadiri komunitas suku Demon Pagong ini diadakan setahun sekali. Ikuti penuturannya berikut.

Komunitas suku Demon Pagong di tiga desa yakni Lewokluok, Blepanawa dan Bama kembali mendatangi Koke Bale ( rumah adat ) di Lewokluok, Rabu ( 17/06/15 ).Binatang sembelihan berupa babi dan kambing terlihat di bawa ke pelataran rumah adat. Ritual diawali dengan membawakan Maran ( mantra adat ) di rumah suku kabelen.Setelah mantra pembukaan dilanjutkan dengan mantra Mani Moe, Demon Pagong, Raya Tuan, Ile Wokak, Ai Watan, Persatuan, Blepeknei atau perlindungan dan Lapit Loma.

Susudahnya para kepala suku beranjak ke Korke meminta penyerahan Tali Kora ( tali untuk mengikat binatang saat disembelih ) dari leluhur yang pertama kepada penerusnya .Usai ritual,semua kembali ke rumah suku masing – masing.Suku Nedabang menggelar ritual Pau Suri Kada, memotong binatang pertama untuk memberi makan Namang ( tempat ritual ), Suku Kabelen memberi makan Tale Kora ( Pau Tale Kora ) dan suku Lein Mudapukang menggelar Pau Laba Dolu ( memberi makan alat pertukangan yang pertama dipakai membuat Korke )

Suku Beribe memberi makan Bala ( gading ) sementara suku Goran Sisir.Lein juga memberi makan ( memberi sesajen ) Pau Bala Lodan, rantai emas ( Lodan ) dan Bala ( Gading ),Sementara itu suku lainnya memberi makan gading dan benda pusaka peninggalan masing – masing suku.Usai itu, digelar  ritual memberi makan Damar ( Padu ), di rumah suku Lein.usai ritual semua suku bergerak dari rumah masing – masing menuju ke Korke.

Lihat Empedu

Frans Keliwu Lein ( 56 ) salah seorang tokoh adat yang ditemui penulis di rumah suku, Rabu ( 17/06/15 ) menjelaskan, saat tiba di Namang, Suku kabelen Koten Kelen ( tuan tanah ) memotong hewan di Nuba Nara sementara suku Lein yang memegang Damar menyala berdiri disamping yang dimaknai untuk menerangi. Sesudahnya, semua kepala suku sebut Frans, naik dan seekor babi disembelih diatasnya, dibelah lalu diambil empedunya untuk dilihat ( Gelia Urat ).

“ Jika empedunya penuh dan isi dalamnya bersih berarti hasil panen tahun depan melimpah keadaan dikampung aman, tidak ada gangguan jika kotor maka bernasib sebaliknya. Tadi saat melihat kita sudah tahu ke depannya akan seperti apa “ tuturnya.

Seekor kambing juga disembelih di pelataran Namang dan isi empedunya juga diperiksa, jika kondisinya sama dengan empedu babi kata Frans, maka dua - duanya sudah pas, artinya nasib ke depannya akan sesuai.Kepala babi yang dipotong di Korke dan masih berdarah sambungnya,oleh U’o Matan dioleskan ke tiang – tiang di Korke. Ini dilakukan untuk memberi penghargaan kepada suku – suku pemilik tiang.

Saat ditanyai penulis, setelah melihat empedu tadi bagaimana nasib panenan di tahun 2016? Frans sedikit berfilosofis mengatakan, curah hujan cukup namun keberhasilan panenan tergantung kepada masing – masing orang. Kalau rajin bekerja ucapnya, tentu hasil panen akan banyak. Awal masa tanam sambung Frans,akan ditentukan suku Lein dimana kepala suku akan melihat tanda lewat tengah kayu bercabang. Jadi setelah suku Lein tanam lanjutnya, maka semua komunitas suku mulai menanam.

Kampung Basi

Petrus Kerowe Lein ( 60 ) ketua adat suku Lewolein dalam kesempatan yang sama memaparkan, ritual kembali dilanjutkan dengan pemotongan hewan untuk diberikan kepada Laba Dolu alat - alat pertukangan yang dipakai saat pertama membangun Korke. Sesudahnya smabung Petrus, suku Lein memotong hewan untuk dipersembahkan kepada Padu ( damar ) serta suku Beribe untuk Suri Kada lalu dilanjutkan dengan pemotongan hewan oleh suku lainnya.

“ Yang memotong hewan setiap suku punya saudara sulung, Setelah dipotong hingga kepalanya terlepas, binatang sembelihan digantung di Namang “ terang kepala desa Lewokluok ini.

Sebelum penyembelihan hewan, tambah Petrus, suku Lubur yang memanggil setiap perwakilan suku guna menyiapkan hewan sembelihan. Suku Lubur juga bertugas menuang Arak bagi setiap wakil suku yang mengelilingi Namang saat ritual Belo Howok. Disaksikan penulis, semua perwakilan suku maju ke pelataran dengan membawa parang masing – masing. Ukuran babi dan kambing sembelihan beragam. Ada yang sekali tebas kepala binatang langsung terlepas dan ada satu dua yang dua kali potong.

Beberapa warga mengatakan, kalau langsung terpotong berarti bagus,dan kalau dilakukan berkali – kali nasibnya kurang baik.Hewan yang terkahir disembelih beber Petrus, dipotong untuk makan bersama di Korke saat itu sementara yang lainnya digantung.Hewan sembelihan yang digantung ini sambungnya, dibiarkan sampai keesokan harinya baru dipotong untuk dimasak dan dibagikan ke setiap anggota komunitas suku.

“ Karena hewan yang digantung tadi dimakan esoknya dan biasanya makanan yang disimpan suka basi maka kampung ini dinamakan Lewokluok,dimana bahasa daerahnya Lewo berarti kampung dan Kluok berarti basi. Jadi Lewokluok artinya kampung basi “ terangnya.

Berkat dan Kekuatan

Usai penyembelihan hewan kurban,U’o Matan memakan sirih pinang dan mengoleskan ke dahi peserta yang hadir seraya membuat tanda salib ( Hode Ilu  ). Semua masyarakat berebut dan berdesakan sambil memberikan dahinya ditandai.Untuk peserta yang tidak hadir cairannya ditampung di kapas dan dibawa pulang untuk dioleskan sendiri. Hode Ilu sebut Petrus bermakna memberi kesejukan kepada semua penduduk termasuk siapa saja yang hadir. Hewan yang disembelih dimakan bersama untuk menjamu semua masyarkat yang hadir.

“ Ada yang tidak hadir esok hari jadi mereka sudah menerima bagiannya hari ini. Ini dinamakan Wai Lala, makanan yang bermakna menguatkan jiwa dan raga “ terangnya.

Hode Ilu, menurut penjelasan Bernadus Tukan ( 56 ) sejarawan dan budayawan Lamaholot yang ditemui penulis, Jumad ( 19/06/15 ) bisa disamakan dengan berkat penutup Imam saat akhir perayaan ekaristi.Makna dari ritual ini terang Bernadus, memberi ketenangan atau semacam kekuatan bagi semua anak suku.Dengan adanya ini tambahnya orang merasa ada semangat, Lewo Tana atau leluhur selalu menyertai dan menjaga setiap perjalanan hidup mereka.

Usai Toto Dulat dilanjutkan dengan Hudu Bakat, makan memberi kekuatan Ada 3 Rengki  atau tumpeng yang diletakan di atas pelataran Korke yang disiapkan suku Kabelen, Lein dan Beribe. Suku kabelen memberi makan kepada suku Lein,suku Lein kepada suku Beribe serta suku Beribe kepada suku Kabelen dan Goran.Selanjutnya semua menari bersama ( Tandak ) dan nanti malam semua orang Mete ( begadang ) menjaga hewan yang disembelih dan digantung.

Penulis : Ebed de Rosary                                 Email; ebedallan@gmail.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar