![]() |
Mengambil hati hewan yang disembelih saat ritual Belo Howok di Korke desa Lewokluok untuk melihat peruntungan di tahun depan. ( Foto : Ebed de Rosary )
|
Ritual Belo Howok,Ritual
Hari Kedua
Ritual
Belo Howok merupakan kelanjutan dari ritual Take Koke sehari sebelumnya.Saat
ritual, semua binatang disembelih dengan cara memenggal lehernya hingga putus.
Binatang yang sudah disembelih di gantung di sebatang bambu yang diikat di
pohon Kelua ( baca Keluwang ) yang ada di pelataran Koke Bale. Ritual yang
dihadiri komunitas suku Demon Pagong ini diadakan setahun sekali. Ikuti
penuturannya berikut.
Komunitas suku Demon
Pagong di tiga desa yakni Lewokluok, Blepanawa dan Bama kembali mendatangi Koke
Bale ( rumah adat ) di Lewokluok, Rabu ( 17/06/15 ).Binatang sembelihan berupa
babi dan kambing terlihat di bawa ke pelataran rumah adat. Ritual diawali dengan membawakan Maran
( mantra adat ) di rumah suku kabelen.Setelah mantra pembukaan dilanjutkan
dengan mantra Mani Moe, Demon Pagong, Raya Tuan, Ile Wokak, Ai Watan,
Persatuan, Blepeknei atau perlindungan dan Lapit Loma.
Susudahnya para kepala suku beranjak ke Korke meminta
penyerahan Tali Kora ( tali untuk mengikat binatang saat disembelih ) dari
leluhur yang pertama kepada penerusnya .Usai ritual,semua kembali ke rumah suku
masing – masing.Suku Nedabang menggelar ritual Pau Suri Kada, memotong binatang
pertama untuk memberi makan Namang ( tempat ritual ), Suku Kabelen memberi
makan Tale Kora ( Pau Tale Kora ) dan suku Lein Mudapukang menggelar Pau Laba
Dolu ( memberi makan alat pertukangan yang pertama dipakai membuat Korke )
Suku Beribe memberi makan Bala ( gading ) sementara suku
Goran Sisir.Lein juga memberi makan ( memberi sesajen ) Pau Bala Lodan, rantai emas ( Lodan )
dan Bala ( Gading ),Sementara itu suku lainnya memberi makan gading dan benda
pusaka peninggalan masing – masing suku.Usai itu, digelar ritual memberi makan Damar ( Padu ), di rumah
suku Lein.usai ritual semua suku bergerak dari rumah masing – masing menuju ke
Korke.
Frans Keliwu Lein ( 56 ) salah seorang tokoh adat yang
ditemui penulis di rumah suku, Rabu ( 17/06/15 ) menjelaskan, saat tiba di Namang,
Suku kabelen Koten Kelen ( tuan tanah ) memotong hewan di Nuba Nara sementara
suku Lein yang memegang Damar menyala berdiri disamping yang dimaknai untuk menerangi.
Sesudahnya, semua kepala suku sebut Frans, naik dan seekor babi disembelih
diatasnya, dibelah lalu diambil empedunya untuk dilihat ( Gelia Urat ).
“ Jika empedunya penuh dan isi dalamnya bersih berarti hasil
panen tahun depan melimpah keadaan dikampung aman, tidak ada gangguan jika
kotor maka bernasib sebaliknya. Tadi saat melihat kita sudah tahu ke depannya
akan seperti apa “ tuturnya.
Seekor kambing juga disembelih di pelataran Namang dan isi
empedunya juga diperiksa, jika kondisinya sama dengan empedu babi kata Frans,
maka dua - duanya sudah pas, artinya nasib ke depannya akan sesuai.Kepala babi
yang dipotong di Korke dan masih berdarah sambungnya,oleh U’o Matan dioleskan
ke tiang – tiang di Korke. Ini dilakukan untuk memberi penghargaan kepada suku
– suku pemilik tiang.
Saat ditanyai penulis, setelah melihat empedu tadi bagaimana
nasib panenan di tahun 2016? Frans sedikit berfilosofis mengatakan, curah hujan
cukup namun keberhasilan panenan tergantung kepada masing – masing orang. Kalau
rajin bekerja ucapnya, tentu hasil panen akan banyak. Awal masa tanam sambung
Frans,akan ditentukan suku Lein dimana kepala suku akan melihat tanda lewat
tengah kayu bercabang. Jadi setelah suku Lein tanam lanjutnya, maka semua
komunitas suku mulai menanam.
Petrus Kerowe Lein ( 60 ) ketua adat suku Lewolein dalam
kesempatan yang sama memaparkan, ritual kembali dilanjutkan dengan pemotongan
hewan untuk diberikan kepada Laba Dolu alat - alat pertukangan yang dipakai
saat pertama membangun Korke. Sesudahnya smabung Petrus, suku Lein memotong
hewan untuk dipersembahkan kepada Padu ( damar ) serta suku Beribe untuk Suri
Kada lalu dilanjutkan dengan pemotongan hewan oleh suku lainnya.
“ Yang memotong hewan setiap suku punya saudara sulung,
Setelah dipotong hingga kepalanya terlepas, binatang sembelihan digantung di
Namang “ terang kepala desa Lewokluok ini.
Sebelum penyembelihan hewan, tambah Petrus, suku Lubur yang
memanggil setiap perwakilan suku guna menyiapkan hewan sembelihan. Suku Lubur
juga bertugas menuang Arak bagi setiap wakil suku yang mengelilingi Namang saat
ritual Belo Howok. Disaksikan penulis, semua perwakilan suku maju ke pelataran
dengan membawa parang masing – masing. Ukuran babi dan kambing sembelihan
beragam. Ada yang sekali tebas kepala binatang langsung terlepas dan ada satu
dua yang dua kali potong.
Beberapa warga mengatakan, kalau langsung terpotong berarti
bagus,dan kalau dilakukan berkali – kali nasibnya kurang baik.Hewan yang
terkahir disembelih beber Petrus, dipotong untuk makan bersama di Korke saat
itu sementara yang lainnya digantung.Hewan sembelihan yang digantung ini
sambungnya, dibiarkan sampai keesokan harinya baru dipotong untuk dimasak dan
dibagikan ke setiap anggota komunitas suku.
“ Karena hewan yang digantung tadi dimakan esoknya dan
biasanya makanan yang disimpan suka basi maka kampung ini dinamakan
Lewokluok,dimana bahasa daerahnya Lewo berarti kampung dan Kluok berarti basi.
Jadi Lewokluok artinya kampung basi “ terangnya.
Usai penyembelihan hewan kurban,U’o Matan memakan sirih
pinang dan mengoleskan ke dahi peserta yang hadir seraya membuat tanda salib ( Hode Ilu ). Semua masyarakat berebut dan berdesakan
sambil memberikan dahinya ditandai.Untuk peserta yang tidak hadir cairannya
ditampung di kapas dan dibawa pulang untuk dioleskan sendiri. Hode
Ilu sebut Petrus bermakna memberi kesejukan kepada semua penduduk termasuk
siapa saja yang hadir. Hewan yang disembelih dimakan bersama untuk menjamu
semua masyarkat yang hadir.
“ Ada yang tidak hadir esok hari jadi mereka sudah menerima
bagiannya hari ini. Ini dinamakan Wai Lala, makanan yang bermakna menguatkan
jiwa dan raga “ terangnya.
Hode Ilu, menurut penjelasan Bernadus Tukan ( 56 ) sejarawan
dan budayawan Lamaholot yang ditemui penulis, Jumad ( 19/06/15 ) bisa disamakan
dengan berkat penutup Imam saat akhir perayaan ekaristi.Makna dari ritual ini
terang Bernadus, memberi ketenangan atau semacam kekuatan bagi semua anak
suku.Dengan adanya ini tambahnya orang merasa ada semangat, Lewo Tana atau
leluhur selalu menyertai dan menjaga setiap perjalanan hidup mereka.
Usai Toto Dulat dilanjutkan dengan Hudu Bakat, makan memberi
kekuatan Ada 3 Rengki atau tumpeng yang
diletakan di atas pelataran Korke yang disiapkan suku Kabelen, Lein dan Beribe.
Suku kabelen memberi makan kepada suku Lein,suku Lein kepada suku Beribe serta suku
Beribe kepada suku Kabelen dan Goran.Selanjutnya semua menari bersama ( Tandak
) dan nanti malam semua orang Mete
( begadang ) menjaga hewan yang disembelih dan digantung.
Penulis : Ebed de Rosary Email; ebedallan@gmail.com




Tidak ada komentar:
Posting Komentar