
Saat kurindukan perjumpaan rawan
berdua
Kenapa harus terulur lewat putaran
jam
Yang selalu menyiasati kehendak
angan
Dalam udara lembab,suara-suara tanpa
dasar
Bakal kuserahkan pada siapa
Duka yang telah lama tinggal?
Ngigau dingin tidurku beku
Ranjang batu dengan impian garam
Meremas-remas kekecewaan lindap
bayangmu
( dan desah nafasmu menyatu dengan
jam )
Saat kurindukan jumpaku rindukanmu
kembali
Debar rongga dada memecah keheningan
pandang
Yang mendadak nanar..Terpukau
Baying disana berpelukan erat,
Berdekap dengan kesunyian
masing-masing
Karena batas jarak berdua, beda
cakrawala
Hanya terkaca diri sendirian
terjaga, rasa
“ Sadari sendiri, bahwa yang tiada
terkata
Lebih kekal adanya! “.
Malang,1979
Sajak : Wahyu Prasetya Suwarna
Dikutip dari buku : Nafas Telanjang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar