Musim panen setahun terjadi sampai dengan tiga kali, suasana gotong royong
masih terasa disini
Bagi
orang yang pernah mendengar kata Nusa Tenggara Timur, maka kata panas,
kering, susah air, tanahnya berbatu sering lebih dulu menghinggapi.
Mudah untuk menunjukkan sisi gersang tanah Nusa Tenggara ini
dibandingkan menunjukkan sisi suburnya tanah ini. Bukan satu dua kali
saya mendapatkan pertanyaan (atau pernyataan?) ketidakpercayaan kalau
saya menunjukkan salah satu wilayah subur dari Nusa Tenggara Timur.
Gambaran perbukitan diambil dari belakang bukit di kawasan
kantor kabupaten yang baru
Salah satunya
waktu saya menunjukkan foto persawahan yang ada di Mbay, Kabupaten
Nagekeo. Saya sendiri awalnya kurang terlalu yakin waktu diberitahu
kalau di Flores ada kawasan persawahan yang luas seperti halnya di
Lembor, yang berada di Kabupaten Manggarai Barat. Diantara
kabupaten-kabupaten yang ada di Nusa Tenggara Timur, sawah di kawasan
Lembor memang yang sudah dikenal luas, karena memang tidak banyak
kawasan sawah di Nusa Tenggara Timur.
Pemandangan sawah sebelum musim tanam
Namun
sesampainya di Mbay, saya harus mengakui kalo di daerah ini memang
memiliki kawasan persawahan yang luas sebagaimana di Lembor. Bahkan saya
mendapatkan cerita tambahan unik seputar sawah di daerah ini.
Kawasan
persawahan Mbay langsung tampak dari atas bukit yang kita lintasi
sewaktu memasuki kota Mbay. Hamparan hijau sepanjang tahun
berpetak-petak tampak memenuhi tanah datar sampai mendekati di batas
pantai.
Sawah
disini memang tak pernah berhenti karena pengairannya menggunakan
bendungan bukan berasal dari hujan atau dikenal dengan istilah sawah
tadah hujan.
Bendungan
"Sutami" yang dibangun tahun 1970-an yang memiliki kemampuan 47.751
juta meter kubik inilah yang menjadi penyangga berlangsungnya pertanian
di daerah ini. Dan masih bersihnya udara disini bisa tampak dari
banyaknya jenis bangau dan burung lain yang ada di sawah. Beberapa jenis
bangau tampak singgah di persawahan ini.
Setidaknya
aku menemukan 4 jenis burung berkaki panjang sejenis bangau dari yang
berwarna kepala dan leher oranye, sampai bermotif lurik dengan ukuran
kecil.
Keunikan
pertama dari daerah ini adalah banyak ditemukannya dangau-dangau yang
sebenarnya dulu digunakan untuk menyembunyikan peralatan tempur jepangan
seperti pesawat, tank ataupun kendaraan panser. Itulah mengapa dulu di
kawasan ini pernah dibangun bandara yang disebut sebagai Surabaya 2,
yang sepertinya adalah bahasa sandi sebagai tempat apabila pangkalan
Surabaya yang dikuasai Jepang mengalami masalah. Itulah kenapa di dangau
rata-rata memiliki sebuah rawa/kubangan membentuk huruf U. Dahulu
menurut cerita penduduk, di dangau masih mudah ditemukan bangkai pesawat
atau tank yang sudah rusak, namun saat ini sudah sulit dijumpai.
Mungkin pendatang baru yang datang ke daerah ini yang ikut mengambil
bangkai-bangkai itu.
Padang rumput saat rumput-rumput masih hijau
Rata-rata
padi yang ditanam di persawahan ini adalah padi Mamberamo, dan meskipun
beberapa kali serangan hama menyerang persawahan di sini, petani tetap
enggan untuk berpindah menanam jenis padi yang lebih tahan terhadap
serangan hama wereng.
Sawah-sawah
yang tergenang disini juga banyak hidup ikan lele, menurut salah satu
penduduk, ikan lele di sini mudah didapat karena masyarakat sendiri
kurang suka mengkonsumsinya.![]() |
| Bukit pada bulan-bulan kering |
Selain
menikmati senja dari persawahan juga dapat anda lakukan di antara
perbukitan. Perbukitan di Mbay yang lebih kering lebih sering hanya
tumbuh rumput saja. Pada musim-musim hujan dan bulan-bulan dimana tanah
masih mengandung air, duduk diperbukitan yang lebih mirip padang savanna
ini seperti menikmati alam koboy. Anda akan melihat hamparan rumput
hijau dan gembalaan sapi atau kambing.
Jangan
lupakan menyiapkan minuman dan makanan, rasanya sayang kalau hanya
sekedar menikmati padang sawannah ini jika ingin sekaligus menikmati
saat-saat tenggelamnya matahari diantara perbukitan.
Kekosongan hamparan perbukitan berpadu begitu eksotis di perbukitan
Mbay. Mengajak anda sejenak melupakan rutinitas dan menikmati sebuah
taman rumput yang begitu luas membentang dengan menunggu tinta-tinta
langit bergambar biru kuning begitu cepat, siapa menyangka apa yang
terjadi pada menit berikutnya.
Pertunjukan langit senja yang tak pernah saya lewatkan bila saya telah duduk di hamparan rumput di bukit Mbay ini.
Sumber foto & tulisan : awalnya.blogspot.com / Baktiar Sontani






Tidak ada komentar:
Posting Komentar