View dermaga Labuan Bajo senja hari dari Puncak Waringin
Bagi yang
pernah singgah di Labuan Bajo, tidak akan heran bila mengetahui bahwa
Labuan Bajo, ibukota dari Kabupaten Manggarai Barat ini memiliki hotel
berbintang yang lebih banyak daripada hotel di Kupang, ibukota dari
Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sebuah alam yang menjanjikan wisata alam
luar biasa, potensi yang mulai dilirik olah para investor baik dalam
negeri maupun investor asing.
Senja hari di daerah pendinginan ikan
Kabupaten yang
berada diujung pulau Flores ini memiliki kontur alam yang membuat kita
mengganggukkan kepada betapa banyak potensi yang mungkin tergali dari
daerah ini. Kabar terkuat belakangan ini justru dari keberadaan pulau
Komodo yang sedang dalam pertarungan di dunia untuk menjadi satu dari
keajaiban alam.
Sebuah pesawat
bermesin baling-baling mendaratkan rodanya di bandara Komodo saat
kulirik jam 09.00 WITA, aku menunggu kedatangan seseorang hampir
setengah jam sampai akhirnya memastikan bahwa pesawat tiba saat
keudengar bunyi sirine dari menara pengawas bandara. Ini adalah hari
ketiga aku di Labuan Bajo, sebuah tugas dari kantor telah membawaku ke
tempat ini. Bukan pertama kali aku kesini, tapi mungkin saat inilah
waktu terpanjang aku kesini setidaknya sampai seminggu ke depan.
Pasir putih dan kawasan terumbu karang di P. Bidadari
Kalo sore dan
langit tidak terlalu mendung, maka aku akan menyempatkan diri naik ke
atas bukit dimana terdapat satu tempat yang menarik untuk melihat kota
Labuan Bajo, namanya Puncak Waringin. Di Puncak Waringin ini berdiri
bangunan yang dibangun oleh pemerintah setempat dan sekarang tempat ini
telah menjadi hotel dan restauran. Sayang sekali, padahal tempat ini
sangat menarik jika dijadikan ruang publik dan tidak ada bangunan
seperti hotel ini. Dari atas Puncak Waringin ini, dapat kulihat kontur
Manggarai Barat yang berbukit-bukit dengan banyak pulau-pulau seperti
saling menutup menjadi perairan disini terlindung dari gelombang laut.
Bahkan sering sekali laut di sini terasa tenang sekali seperti air
danau.
Suasana pagi hari di dermaga pelabuhan
Tapi disamping
pantai Pede sendiri terdapat bangunan hotel New Bajo Beach yang
tampaknya sudah lama berdiri. Beberapa bangunan lama seperti villa-villa
berdinding bambu tampak menganggur dan dalam kondisi rusak, padahal
dulu aku sering melihat bule (wisatawan asing) backpacker tinggal
disini.
Sebuah bangunan
baru juga tampak baru dibangun di sebelah kanan pantai Pede, katanya
teman yang bekerja di pemerintahan, bangunan itu adalah calon hotel
bintang lima. Sebuah hotel lain yang akan melengkapi keberadaan hotel
berkelas lain seperti hotel Bintang Flores dan hotel Jayakarta. Dari
bangunan dan jalan yang baru dibangun, tampaknya arah pembangunan hotel
dan tempat hiburan akan diarahkan ke tempat ini. Bangunan-bangunan baru
yang berdiri ini seperti mengisyaratkan kesiapan investor untuk menjadi
daerah tujuan wisata kelas dunia. Apalagi jika pulau Komodo nantinya
berhasil menjadi salah satu ikon keajaiban alam dunia.
Disepanjang
jalan utama dari Labuan Bajo banyak dipenuhi hotel dan tempat-tempat
yang menawarkan jasa travelling dan tempat kursus diving karena memang
salah satu yang menarik dari Manggarai Barat adalah banyaknya
lokasi-lokasi terumbu karang yang indah di sepanjang alur pantai di
pulau-pulau.
![]() |
| Seekor anak komodo mengintip dari rerumputan |
Saya juga
sempat menikmati perjalanan darat ke arah perbukitan sebelah barat
Labuan Bajo dimana mengantarkan saya sampai ke tempat pendinginan ikan.
Sebuah dermaga kayu kecil memanjang yang digunakan nelayan-nelayan yang
akan menyetorkan ikannya ke tempat ini. Arinya begitu tenang dengan
ikan-ikan warna-warni yang begitu mudah ditemui mata. Sayang sekali,
sekali lagi saya menemukan pantai yang begitu banyak sampah padahal jika
di tempat ini bersih dari sampah, saya akan menemukan tempat yang
menarik untuk disinggahi.
Baru pada hari
kedelapan, saat bersamaan tim kerja memiliki waktu longgar kita bisa
merencanakan perjalanan ke luar pulau. Sebenarnya awal kita akan
merencanakan perjalanan ke pulau Komodo tapi berhubung jarak tempuh yang
sekitar 4 jam sedangkan hari ini ada tim yang harus kembali ke Kupang,
maka kita memutuskan untuk mengunjungi pulau Rinca. Pulau Rinca adalah
pulau lain yang juga menjadi habitat hidup Komodo.
![]() |
| Komodo tertua di P. Rinca yang dipanggil the Big Boss |
Perjalanan ke
pulau Rinca ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam, di antara jarak itu,
mata kami disuguhi landskap Manggarai Barat dan beberapa pulau yang
begitu indah. Laut yang begitu tenang terbelah mesin perahu motor kami.
Suara raungan moto perahu seperti tidak terdengar karena aku begitu
terpaku pada setiap view yang lewat di depan mata. Setelah melewati
selat Molo, sebuah tempat yang harus diwaspadai karena arus yang kadang
sangat kencang, tak lama kemudian kami mulai memasuki ceruk ke dalam
melewati Loh Timah menuju ke Loh Buaya.
![]() |
| Di atas perahu memasuki Loh Buaya |
Beberapa ekor
monyet bertengger di pohon bakau menyambut kedatangan kami, dari dermaga
masuk ini kami harus berjalan sekitar 400 meter menuju sebuah kawasan
bangunan milik penjaga. Beberapa ekor komodo tampak tak antusias
menyambut kami, setidaknya itulah yang kami inginkan, karena kami tak
ingin menjadi santapan mereka. Sebuah anak komodo kecil menarik
perhatianku, ukurannya yang seperti biawak dewasa tampaknya menarik
apalagi dengan gerakannya yang cenderung lebih gesit dari pada induknya.
Dengan ditemani seorang penjaga yang selalu memegang tongkat bercabang
seperti ketapel, kami memasuki ke kawasan yang lebih dalam kami disambut
beberapa ekor komodo yang ukurannya jauh lebih besar. Menurut penjaga
tersebut, komodo di pulau Rinca ini ukurannya lebih kecil daripada
ukuran yang ada di pulau Komodo. Sebenarnya dua habitat berbeda ukuran
ini adalah satu jenis, namun berbedaan ekosistem tempat habitat mereka
rupanya mempengaruhi ukuran tubuh komodo.
![]() |
Sebelum
kami kembali ke Labuan Bajo, kami menyempatkan diri berenang di pulau
Kelor, sebuah pulau yang malah sebenarnya tidak ada pohon Kelor. Entah
apa makna dari nama pulau Kelor ini. Hamparan pasir dan laut yang begitu
jernih menyambut kami, kesempatan yang tidak kami sia-siakan tentunya
walaupun ada yang harus kami tebus: kulit yang makin terbakar. Ah,
kesenangan yang tidak tergantikan dengan hanya sebuah kulit yang
terbakar matahari. Siang tidak menjadi penghalang kaki-kaki mengayuh di
beningnya air Pulau Kelor.
Inilah
Manggarai Barat, potensi-potensi wisata luar biasa yang terbentang
dengan keterbatasan-keterbatasan infrastruktur dan prasarana seolah
saling bertarung untuk menentukan: apakah Kabupaten ini berhasil
mengatasi hambatan infrastruktur dan menjadi menjadikan salah satu
pulaunya menjadi ikon wisata dunia ataukah menjadi sebuah kota yang
nyaris menjadi tempat wisata dunia yang ditinggalkan.
Rasanya
dibutuhkan hubungan yang lebih baik antara pemerintah dan komponen
masyarakat yang peduli wisata di Manggarai Barat untuk membuatnya
menjadi tempat yang layak untuk dikunjungi. Mari kita dukung pulau
Komodo menjadi salah satu keajaiban dunia.
Sumber foto & tulisan : awalnya.blogspot.com / Baktiar Sontani








Tidak ada komentar:
Posting Komentar