KOMPAS/LASTI KURNIA
Suwardi
dengan bagian terakhir Kapal Berouw yang dia temukan di Lembah Sungai Kuripan,
Kampung Berouw, Kelurahan Negeri Olok Gading, Teluk Betung, Bandar Lampung,
Kamis (11/8/2011). Di lembah sungai tersebut, ia mendapati sisa bagian dari
kapal yang hanyut terbawa tsunami dari meletusnya Krakatau tahun 1883. Kampung
di lembah itu kemudian diberi nama Kampung Berouw.
Oleh
Indira Permanasari dan Ahmad Arif
Dua besi hitam
berkarat dengan tuas panjang teronggok di tepi kolam ikan di belakang rumah
Suwardi (61), warga Kampung Brau, Teluk Betung, Lampung. Berkali-kali datang
pemburu besi tua menawar, tetapi Suwardi bersikukuh tak menjualnya.
"Ada yang
menawarkan dua juta rupiah, tetapi saya tak cari uang lagi dari barang
ini," kata Suwardi. Ia menemukan besi tua berbentuk segitiga itu saat
menjala ikan di Sungai Kuripan di belakang rumahnya pada awal 2001. Butuh empat
orang untuk mengangkatnya dari sungai. Bobot besi tersebut diperkirakan lebih
dari 150 kilogram.
Suwardi bukannya
tak butuh uang. Namun, baginya, besi tua itu adalah sejarah berharga yang mesti
dipelihara. Satu-satunya kenangan tersisa, yang membuat nama desanya,
Brau—diambil dari kataberouw, dalam bahasa Belanda berarti penyesalan—dikenal
hingga luar negeri dan ditulis dalam buku.
"Besi ini sisa
Kapal Berouw yang dulu pernah terdampar di Sungai Kuripan," katanya.
Suwardi lalu menunjukkan posisi kapal perang Angkatan Laut Belanda tersebut,
yang dulu melintang di badan Sungai Kuripan selebar 7 meter. Saat ini, tempat
terdamparnya kapal itu telah berubah menjadi bendungan PDAM Way Rilau.
Lokasi terdamparnya
kapal tersebut, 3,3 kilometer dari Pantai Teluk Betung, menjadi saksi
kedahsyatan tsunami akibat letusan Krakatau, 27 Agustus 1883. "Sekitar
pukul tujuh pagi, kami melihat gelombang sangat tinggi. Kapal Berouw terangkat
melewati pohon kelapa," demikian catatan Kapten TH Lindeman, nakhoda Kapal
GG Loudon. Saat ombak tinggi menerjang, Lindeman yang dalam perjalanan dari
Anyer ke Sibolga bermaksud menepikan kapal berpenumpang 111 orang itu ke
Pelabuhan Teluk Betung.
Namun, kapten Kapal
Berouw memperingatkan Lindeman agar jangan mendarat. Kapten Lindeman membuang
sauh agak di tengah laut. Bagi pelaut, ombak di tengah laut lebih tidak
berbahaya ketimbang di dekat daratan.
Berhasil
menyelamatkan Kapal GG Loudon, kapten Kapal Berouw ternyata gagal menyelamatkan
kapalnya. NH van Sandick, penumpang Kapal GG Loudon, menyaksikan ombak tinggi
mengangkat Kapal Berouw dan memutuskan rantai sauhnya. Kapal perang tersebut
diempaskan ke muara Sungai Kuripan, lalu ombak besar kembali menghantam
sehingga Kapal Berouw diempaskan ke lembah nun jauh di tengah hutan.
Pada September
1883, tim dari Belanda mengunjungi Sungai Kuripan dan melaporkan kapal itu
terdampar dalam kondisi utuh di ketinggian 38 meter dari permukaan laut.
Jejak
yang dijual
Setelah bertahan
puluhan tahun, awal 1970-an, tubuh kapal mulai rusak. Bukan oleh tsunami atau
cuaca, melainkan karena dipereteli. Warga pendatang, yang kebanyakan dari Jawa,
melihat kapal itu mengganggu aliran sungai lalu memereteli dan menjual
bagian-bagiannya.
"Saya pernah
menjual baut dan lempengan besi dari kapal itu. Beratnya 130 kilogram,"
kata Suwardi. Ia juga pernah menemukan balok kayu kapal yang sudah membatu,
yang kemudian diminta Pemerintah Provinsi Lampung.
Pada tahun 1979,
menurut Suwardi, kapal yang telah dipereteli ini dihanyutkan banjir bandang
hingga ke bawah jembatan di Desa Olok Gading. Di lokasi inilah nasib kapal
perang ini tamat. "Warga berebut memereteli sisa tubuh kapal dan
menjualnya," kata Imron (56), warga Olok Gading.
Pemerintah
melupakan kapal ini dan tutup mata terhadap perusakan itu. Namun, peneliti dan
turis asing, terutama dari Belanda, sering berkunjung ke sana melihat sisa-sisa
Kapal Berouw atau sekadar melihat bekas lokasi terdamparnya.
Setelah tubuh Kapal
Berouw habis, barulah Suwardi dan warga desa yang lain mulai menyadari
pentingnya Kapal Berouw dalam sejarah. Pemerintah Provinsi Lampung meratapi
hilangnya Berouw. Mereka kini berancang-ancang membangun tiruan kapal.
"Kami berharap replika ini akan menjadi ikon baru Lampung untuk memajukan
pariwisata," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lampung Gatot
Hadi. Namun, pembuatan replika tak mudah. "Kami pelajari dulu bentuk
kapalnya dulu seperti apa," katanya.
Merawat
ingatan
Kapal Berouw
hanyalah satu drama kecil dibandingkan dengan kedahsyatan letusan Krakatau pada
1883. Tsunami yang terjadi setelah keluarnya awan panas dari Krakatau
menghancurkan pesisir Banten dan Lampung. Setidaknya 36.417 orang tewas dan 163
desa hancur.
Jejak petaka itu
dikisahkan samar-samar oleh Ratu Supiah (90), warga Caringin, Kabupaten
Pandeglang, Banten. Dengan suara pelan dan terpatah-patah dia bercerita.
"Waktu itu langit tiba-tiba gelap. Air laut mendadak surut," kata
Supiah, menirukan cerita kakeknya, Sheikh Asnawi. "Kakek yang curiga
dengan keanehan itu mengajak tetangga dan keluarga lari ke tempat lebih tinggi.
Namun, mereka tak mau pergi. Tetangganya tergiur melihat banyak ikan di
pantai."
Tiba-tiba air laut
datang menggulung hingga 4 kilometer ke daratan. Asnawi memandu keluarganya
lari ke Menes, Desa Muruy. Setelah petaka reda, Asnawi kembali ke kampungnya
yang rata dengan tanah dan dipenuhi mayat. Nyaris semua warga desa meninggal.
"Asnawi mengajarkan kepada keturunannya untuk selalu waspada jika Krakatau
meletus, terutama jika laut surut karena pasti akan ada gelombang besar,"
tutur Supiah.
Namun, petuah dan
kisah dari Asnawi tak banyak diketahui lagi. Putra Supiah, HRA Syaukatuddin
Inayah, mengatakan, generasi muda tak banyak lagi yang peduli. Bahkan,
Syaukatuddin juga hanya tahu sedikit kisah Krakatau. Dia harus memanggil ibunya
yang sudah sepuh itu untuk mengisahkan gelombang raksasa yang pernah
menghancurkan desanya itu.
Sebagaimana Kapal
Berouw habis dipereteli, ingatan warga tentang petaka yang diwariskan secara
lisan oleh para tetua itu pun memudar. Pudarnya ingatan berarti hilangnya pula
kewaspadaan terhadap Anak Krakatau yang tengah membangun kembali kekuatan.
Kini, Suwardi hanya
bisa menyesali hilangnya Kapal Berouw, kapal "penyesalan" itu, dengan
mempertahankan dua tuas yang tersisa....
Sumber : kompas.com
(Yulvianus Harjono/Cyprianus Anto Saptowahyono)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar