KOMPAS/EDDY HASBY
Lembah
yang terletak di bahu Gunung Rokatenda dengan ketinggian 863 mdpl di Pulau
Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Selasa (29/05), indah pada sore
hari. Lembah ini dihiasi padang sabana.
Oleh Ilham Khoiri dan Ahmad Arif
Satu
setengah jam berperahu dari Ropa, Kabupaten Ende, Gunung Rokatenda dengan kawah
terbuka menghadap laut terlihat angker. Asap tipis menguar dari gunung itu,
tengah hari di akhir Mei 2012.
Begitu
sampai di Pelabuhan Uwa, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, tukang ojek motor
langsung menjemput. Sepeda motor melaju melewati jalan menanjak terjal dan
menikung-nikung.
Jarak
5 kilometer ditempuh hampir setengah jam. Kami pun tiba di Kampung Wolondopo,
kampung terakhir di kaki Gunung Rokatenda. Sekitar pukul 15.00 Wita, kami mulai
berjalan kaki menelusuri jalur setapak menuju puncak gunung.
Meski
perjalanan menuju kawah Rokatenda hanya sejarak 3 km, namun pendakian ke gunung
berketinggian 875 meter dari permukaan laut ini tidaklah mudah. Tubuh gunung
yang nyaris kerucut sempurna, membuat perjalanan terus menanjak, nyaris tanpa
bonus.
Senja
mulai turun. Sinar mentari menguning, kami menyusuri perkebunan jambu mete.
Pohon-pohon jambu mete menyembul di antara lebat tanaman singkong dan kacang
hijau. ”Kami mengandalkan hidup dari kebun jambu mete. Panennya setiap kemarau,
sekitar Oktober,” kata Robertus Enga (30), warga yang mewarisi kebun di kawasan
itu. ”Untuk makan sehari-hari, warga mengandalkan ubi, jagung, dan
kacang-kacangan. Tak ada tanaman padi.”
Di
tanah lapang yang disesaki pohon kelapa, Maximus Musi (45), warga Wolontopo
yang mengantar pendakian, tiba-tiba berhenti. Ia bergegas memanjat kelapa
dengan cepat dan menjatuhkan beberapa butir ke tanah. ”Pesan orang-orang tua
kita, sebelum naik Rokatenda harus merasakan air kelapa di sini,” katanya
serius, sambil mengupas sabut kelapa.
Kami
sulit membedakan apakah Maximus bercanda atau serius. Namun, air kelapa muda
yang manis menyegarkan itu sayang untuk dilewatkan.
Sejenak
istirahat sambil meneguk air kelapa, membuat tenaga yang mulai terkuras,
kembali terisi. Perjalanan semakin mendaki. Kami menyibak lebat ilalang dan
menyisir jalan setapak yang jarang dilintasi.
Tiga
jam perjalanan, kami tiba di padang savana yang ditumbuhi beberapa anggrek
hutan. Kubah Gunung Rokatenda terlihat gagah di depan.
Maximus
memanjat batu yang menyerupai meja besar. Ia menaruh sebatang rokok dan satu
bungkus biskuit kering di atas batu, lalu komat-kamit berucap doa. ”Kami harus
minta izin kepada leluhur yang mendiami gunung ini,” katanya.
Matahari
kian condong ke ufuk barat. Kami pun bergegas mendaki dinding gunung yang
nyaris tegak. Dinding itu terlapisi leleran lava menyerupai aspal yang melapuk
dan kerap runtuh saat diinjak. Sekitar pukul 17.00 Wita, kami tiba di tepi
kawah Rokatenda pada ketinggian 819 meter dari permukaan laut.
Dari
tepi kawah, Laut Flores terlihat teduh dan menawan, membiaskan langit senja.
Angin berembus pelan.
KOMPAS/EDDY HASBY
Bibir
Kawah Gunung Rokatenda, di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur,
Selasa (29/05/2012). Gunung dengan ketinggian 863 mdpl ini terakhir kali
meletus tahun 1994.
Jejak kehancuran
Elok
pemandangan berganti jeri ketika kami melongok ke kawah. Tiga lubang besar
menganga, masing-masing menandai letusan besar yang pernah terjadi, tahun 1928,
1964, dan 1981. Batuan menghitam, gundul tanpa tanaman, bahkan rerumputan pun
tiada.
Beberapa
lubang mengepulkan asap. Bau belerang menyengat. ”Lubang yang itu baru saja
muncul beberapa tahun lalu,” kata Tesen Pima (37), warga Pulau Palue, menunjuk
kepulan asap tipis sekitar 500 meter dari kami.
Mentari
merah di ufuk barat berangsur tenggelam di balik puncak Rokatenda. Asap tipis
masih terus menguar dari beberapa titik lubang di kubah gunung. Perlahan langit
jingga berubah kelabu. Laut Flores seakan ditelan gelap.
Kami
turun gunung dalam gelap. Perjalanan malam hari di gunung memberi nuansa
berbeda. Tiadanya pemandangan menawan yang bisa ditonton, membuat pikiran
melayang.
Isi
kepala dipenuhi bayangan kengerian saat gunung ini meletus pada 1 Januari 1981.
Seperti dikisahkan Kepala Desa Lidi, Aloysus Landi Chinde, tiga kampung di Desa
Lidi ludes dihajar lava, yaitu Kampung Ona, Hoja, dan Natahati. Suasananya
seperti kiamat kecil.
”Udara
panas, debu dimuntahkan dari gunung, dan aliran awan panas turun deras dari
puncak. Tiga kampung di desa kami hangus terbakar, terkubur rata dengan tanah,”
kata Aloysus.
Semua
warga dari tiga kampung itu lari dan diungsikan ke Hewoli dan Waturia di
Kecamatan Alok Barat, di dekat Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka di Pulau
Flores. Hingga kini, sekitar 300 keluarga dari Kampung Ona dan Natahati masih
tinggal di Hewoli.
Imaculata,
yang kini menjadi Kepala Sekolah Dasar (SD) Ona, adalah salah satunya. Ia
bersama keluarganya pindah dari Pulau Palue ke Ona tahun 1982, dan tak ingin
lagi kembali ke kampung lamanya. ”Anak-anak sudah betah dan sekolah di sini.
Terkadang kami menengok pulau itu,” kata Imaculata.
Bagi
Imaculata, Pulau Palue sudah menjadi sejarah. Namun, tidak bagi sebagian besar
warga Palue. Mayoritas warga yang diungsikan bersama Imaculata memilih kembali
ke Pulau Palue. Mereka kembali menggarap lahan di pulau gunung api itu. Desa
Lidi yang dulu terkubur, kembali dihuni 1.000 warga.
Bersama
penduduk di tujuh desa lain di Pulau Palue, mereka mengambil risiko untuk hidup
di pulau gunung api yang kerap meletus ini. Padahal, tak hanya ancaman letusan,
ketiadaan sumber air tawar di pulau itu juga membuat hidup tak mudah di sana.
”Bagi
kami, hidup di Palue tidaklah sulit. Kalau haus, tinggal panjat kelapa,” kata
Maximus Musi, sebelum bersiap memanjat pohon kelapa.
”Silakan
diminum kelapanya. Enak bukan?” kata Maximus, lima menit kemudian, dengan
senyum ramah.
Malam
itu, di bawah rimbunan pohon mete, kami menikmati air kelapa yang terasa begitu
legit. Daging kelapa pun terasa gurih, mengobati lelah perjalanan.
Rembulan
yang bersinar temaram menambah kedamaian suasana. Kami pun enggan beranjak
turun gunung.
Di
lereng Rokatenda, kami akhirnya memahami ucapan Petrus Fideli Cawa (70), tokoh
adat Palue, tentang kecintaan warga pada pulau ini.
(Sumber : Kompas.com / Samuel Oktora/Amir
Sodikin)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar