Laman

Minggu, 03 Juni 2012

Si Anjing Yang Tertawa Belakangan


Tahun pertama saya sebagai seorang biksu di timur laut Thailand bertepatan dengan tahun terakhir Perang Vietnam. Di dekat wihara Ajahn Chah,tak jauh dari kecamatan Ubon terdapat pangkalan udara Amerika. Ajahn Chah senang menceritakan kisah nyata berikut tentang bagaimana menghadapi pelecehan.
Seorang tentara Amerika sedang jalan-jalan dari pangkalan menuju kota dengan naik becak. Di pinggiran kota, mereka melewati sebuah kedai pinggir jalan,dimana terdapat beberapa teman si penarik becak yang sudah agak mabuk.
“ Hei! Teriak mereka dalam bahsa Thai.Kau bawa kemana anjing kotor itu?”.Lalu mereka tertawa-tawa,sambil menunjuk si serdadu Amerika.
Sejenak,si penarik becak merasa keder. Si tentara berbadan sangat besar dan memanggil seseorang sebagai “anjing kotor” merupakan ajakan perkelajian yang bukan main-main. Namun si tentara diam saja sambil melihat kiri-kanan,menikmati pemandangan indah. Untung dia tidak mengerti bahasa Thai.
Si penarik becak,memutuskan untuk ikut mengolok-olok si tentara Amerika,berteriak balik,” Aku bawa anjing kotor ini dan melemparnya ke sungai untuk mencuci baunya yang tak sedap!”. Sewaktu si penarik becak dan teman-temannya yang mabuk terbahak-bahak,si tentara tetap diam saja.
Sewaktu mereka sampai ke tujuan dan si penarik becak menadahkan tangannya untuk meminta ongkos perjalanan,si tentara Amerika dengan cueknya berjalan menjauh.
Dengan gerah,si penarik becak meneriakinya dalam bahasa Inggris yang amburadul tetapi lumayan jelas,” Hey! Sir! You pay me dollars!”(Hey! Pak! Kamu bayar saya dolar).
Dengan kalem si tentara bertubuh besar itu membalikkan badan dan berkata dalam bahsa Thai yang sangat fasih,” Anjing kan tidak punya uang….”.

Sumber : Buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya
                Buku Best Seller karya Ajahn Brahm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar