Laman

Selasa, 29 Mei 2012

Gadis Cilik dan Kawannya


Ketika saya menceritakan sebuah kisah di sebuah kota kecil di Australia Barat,salah seorang manula menceritakan sebuah kisah yang terjadi pada masa mudanya pada awal abad yang lalu.
Putri temannya berusia sekitar 4 atau 5 tahun. Suatu pagi,dia meminta sepiring susu kepada ibunya.Ibunya yang sibuk merasa senang karena putrinya mau minum susu,jadi dia tak banyak pikir lagi kenapa putrinya meminta susunya dituang dipiring,alih-alih ke dalam gelas.
Pada hari berikutnya,pada sekitar waktu yang sama,si gadis cilik meminta sepiring susu lagi.Si Ibu dengan senang hati memenuhinya.Anak-anak memang suka bermain-main dengan makanannya; si ibu sudah senang karena putrinya mau meminum sesuatu yang menyehatkan.
Hal yang sama terjadi lagi,pada waktu yang sama,selama beberapa hari berikutnya. Sang ibu tidak pernah benar-benar melihat putrinya meminum sepiring susu yang dia minta,jadi sang ibu mulai heran apa sebenarnya yang dilakukan oleh putrinya. Dia memutuskan untuk diam-diam membuntuti si kecil
Pada masa itu,hampir semua rumah didirikan di atas tunggu-tunggul penopang,seperti rumah panggung.Si gadis cilik pergi ke luar rumah,berlutut di samping rumah,meletakan piring susu yang dibawanya dan dengan lembut memanggil-manggil ke arah kolong rumah yang gelap.Dalam sekejap,muncullah seekor ular macan hitam yang besar.Si ular mulai meminum susunya,sementara si gadis cilik tersenyum menyaksikan dari jarak hanya beberapa inci.Sang ibu tidak dapat berbuat apa-apa.Jarak putrinya terlalu dekat dengan si ular.Dalam ketercekaman dia terus mengawasi hingga si ular menghabiskan susunya dan kembali masuk ke kolong rumah.Soreh harinya,sang ibu menceritakan peristiwa itu kepada suaminya yang baru pulang kerja.Suaminya menyuruh sang ibu untuk tetap memberikan sepiring susu kepada putrinya besok.Sang suami akan membereskan sesuatu.
Pada waktu yang sama pada hari berikutnya,si gadis cilik meminta sepiring susu kepada ibunya.Dia lalu membawa susu itu ke luar rumah seperti biasanya ,meletakannya di sisi rumah dan memanggil kawannya. Segera setelah si ular besar muncul dari kegelapan,terdengar ledakan senjata api dari dekat situ.Kekuatan lontaran peluru dari senjata itu melempar si ular menubruk salah satu tunggul rumah,membelah kepalanya di depan mata si gadis cilik. Sambil meletakan senjatanya,sang ayah muncul dari salah satu semak-semak di dekat situ.
Sejak saat itu,si gadis cilik mogok makan.Dalam kata-kata manula yang berceritera kepada saya,” dia mulai rewel,” Tak ada yang bisa dilakukan oleh orang tuanya untuk membuat si gadis cilik mau makan.Dia lalu di bawa ke rumah sakit setempat,tetapi pihak rumah sakit pun tak dapat menolongnya. Si gadis cilik akhirnya meninggal dunia.
Ketika sang ayah menembak mati kawan putrinya di depan matanya,dia mungkin sama saja dengan menembak mati putrinya sendiri.
Saya bertanya kepada manula itu,apakah menurutnya si ularmacan itu akan pernah membahayakan nyawa si gadis cilik ?
“ Tidak benar-benar membahayakan,” jawab si orang tua.
Saya setuju,tetapi tidak dengan kata-kata yang sama.

Sumber : SI Cacing dan Kotoran Kesayangannya
                 Buku Best Seller karya : Ajahn Brahm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar