Laman

Senin, 12 November 2018

Gelur Oblong Maumere,Populerkan Kaos Bahasa Daerah




Victoria Ginoveva Sumarni, pemilik usaha Gelur Oblong Maumere di tempat usaha sederhana miliknya yang beromzet lumayan besar.Foto : Ebed de Rosary


MAUMERE- Menjadi wirausahawan diperlukan naluri dan insting bisnis serta kemamouan membaca peluang usaha yang ada di depan mata, termasuk berani mengambil peluang usaha tersebut dan membuatnya menjadi berkembang.

Kemampuan ini yang ada dalam diri perempuan asal Yogyakarta yang selama sekitar 7 tahun menekuni usaha Warung Internet (Warnet) serta jasa printing di Maumere, ibukota kabupaten Sikka.

“Sudah dua bulan kami beralih ke usaha sablon kaos menggunakan mesin.Awalnya kami desain kaos dengan tulisan bahasa daerah Sikka, “ sebut Victoria Ginoveva Sumarni, Selasa (2/10/2018) siang.

Saat berbincang  di tempat usaha yang berada persis di samping kediamannya,di jalan Baru Maumere,terlihat dua sepeda motor pelanggan masuk dan ingin memanfaatkan jasa Warnet sebab masih mengira dirinya menekuni usaha ini.

Sudah sejak bulan Juli 2018, ruangan usaha Warnet seluas 4 kali 7 meter ini dirubah  Rani sapaannya dengan disekat menjadi dua bagian untuk usaha printing atau sablon kaos digital dengan nama Gelur Oblong Maumere.

“Kami ingin agar wisatawan yang ke Maumere kabupaten Sikka pulangnya bisa membawa oleh-oleh kaos yang disablon menggunakan bahasa daerah Sikka serta gambar khas daerah ini,” sebutnya.


Salah satu produk kaos yang dihasilkan Gelur Oblong Maumere. Foto : Ebed de Rosary


Desain Sesuai Permintaan

Keberanian menekuni usaha sablon kaos menggunakan mesin tentu patut diacungi jempol mengingat usaha sejenis di Maumere hanya ada satu.Tapi sablon kaos dengan tulisan dalam bahasa daerah Sikka dan lainnya merupakan merupakan sebuah peluang yang patut direbut.

“Memang sebelumnya ada yang sablon kaos dalam bahasa daerah Sikka tetapi sablonnya manual sementara kami sablon menggunakan mesin dan kami mencoba masuk di pasar ini,” ungkap Rani.

Bisnis warnet dan print sebut perempuan 43 tahun ini, semakin lama semakin sepi akibat kemajuan teknologi dimana orang lebih memilih berselancar di dunia maya menggunakan telepon genggam.

Belum banyak usaha printing kaos  di kota Maumere yang menggunakan mesin membuat Rani apalagi pihaknya lebih mengedepankan memproduksi kaos dengan tulisan bahasa daerah yang unik dan kata-kata bahasa daerah lain dimana desainnya disesuaikan dengan permintaan pelanggan.

“Desainnya kami lakukan sendiri sesuai permintaan pemesan dan gratis.Yang melakukan desain adik perempuan yang kebetulan mengikuti kursus desain grafis di Bali,” tuturnya.

Ibu dua anak perempuan yang duduk di bangku kelas 1 SMA dan kelas 2 SMP ini pun menjelaskan,untuk printing kaos satu sisi dikenakan harga Rp.85 ribu sampai Rp.100 ribu per buah.

Sementara dua sisi depan dan belakang di printing harganya Rp.100 ribu sampai Rp.125 ribu. Kaosnya  disiapkan dan pelanggan bisa memilih warna dan ukuran sesuai keinginan.

“Kalau pesan di atas 2 lusin diberi diskon Rp.5 ribu rupiah untuk satu potong kaosnya.Prosesnya pun cepat dan bisa ditunggu dimana satu buah kaos hanya butuh waktu setengah jam saja,” terangnya.


Tempat usaha Gelur Oblong Maumere di jalan Baru Maumere yang mulai ramai disambangi pelanggan termasuk dari luar kabupaten Sikka.Foto : Ebed de Rosary


Untung Lumayan

Meski tergolong baru dua bulan namun usaha sablon kaos digital milik isteri dari Hexsa Saputra ini bisa meraup untung yang lumayan besar setiap bulannya dengan modal usaha sebesar Rp.50 juta dari tabungan pribadi.

Dalam sebulan beber Rani, omzet usahanya mencapai Rp.25 juta bahkan bisa lebih dengan keuntungan kotor Rp.7 juta sampai Rp.13 juta sebulannya.Ini tentu sebuah angka yang lumayan besar untuk usaha yang baru dirintis.

“Dalam sehari bisa mencetak 5 sampai 10 kaos dan sudah mulai banyak pesanan dalam jumlah yang banyak.Gambar disablon menggunakan mesin dengan tekonologi Direct To Garment (DTG),” paparnya.

Pesanan membanjir selain dari perorangan, sebut Rani,  juga berasal dari kantor pemerintah dan swasta serta sekolah. Ada juga pesanan dari panitia kegiatan semisal renuni sekolah dan kegiatan organisasi.

Kalau untuk kantor biasanya minimal 20 lembar kaos dan untuk dalam jumlah lebih dari 2 lusin pihaknya memberikan diskon sebesar Rp.5 ribu untuk setiap lembar kaosnya.

“Sudah ada satu dua pesanan dari luar daerah juga sebab kami pun sering mempromosi karya lewat media sosial dan banyak yang mengetahui dan memesan karena postingan di media sosial,” bebernya.

Salah satu produk kaos yang dihasilkan Gelur Oblong Maumere. Foto : Ebed de Rosary

Terus Bersinar

Selama berusaha suka duka telah dilaluinya dan yang terbanyak dialami sebut Rani, dirinya harus sabar menghadapi pelanggan yang rewel.Kadang pihaknya sudah membuat desain sesuai pesanan tetapi pelanggan tidak jadi order.

Tetapi kejadian ini tuturnya, hanya terjadi pada satu dua pembeli saja. Kalau soal pembayaran tidak ada kendala soalnya pembayaran dilakukan sebelum kaos dicetak.

“Ke depannya saya ingin mengembangkan usaha sablon di topi, stiker, baliho atau spanduk.Saya ingin agar wisatawan yang ke Maumere bisa membawa oleh-oleh kaos dengan tulisan khas sini sama seperti daerah laiinya semisal di Bali,” harapnya.

Rani juga mengakui baru dua bulan bergabung dengan organisasi Ikatan Wanita Pengusaha Indoensia (Iwapi) cabang Sikka dan saat ini aktif di komunitas Kombet Kreatif Maumere biar menambah relasi serta bisa berpromosi dan mengikuti pameran.

Dalam berusaha sebutnya selain pandai memanfaatkan peluang, membangun relasi dan jejaring juga sangat penting agar usaha yang ditekuni bisa dikenal sekalian bisa berbagi pengalaman dengan sesame wirausahawan di dalam organisasi.

“Gelur bahasa Sikka artinya purnama, sehingga pilihan kata ini bisa memotivasi saya  agar usaha ini seperti  bulan purnama yang terus bersinar.usaha ini terus berkembang dan meriah kesuksesan,” pungkasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar