Laman

Jumat, 20 Oktober 2017

Refleksi Program Kerja Pemda Sikka 2016

Areal persawahan di kecamatan Magepanda yang belum digarap maksimal Foto : Ebed de Rosary

(Bagian Pertama)

Fokus Pembangunan Tetap pada Tiga Program Unggulan

MAUMERE -  Untuk tahun 2016 APBD kabupaten Sikka sebesar1,1 triliun rupiah (Rp.1.119.370.000.000). yang terdiri dari PAD  98,85 miliar rupiah (Rp.98.858.138.792), Dana Perimbangan sebanyak 903,38 miliar rupiah (Rp. 903.387.713.442), Pendapatan Lain - Lain yang Sah sebesar 116,72 miliar rupiah (Rp. 116.724.143.766).

Untuk belanja dialokasikan sebesar 1,21 miliar rupiah  (Rp. 1.219.581.664.527) yang terdiri dari Belanja Tidak Langsung 671.73 miliar rupiah (Rp. 671.739.054.009) dan  Belanja Langsung 547,8 miliar rupiah (Rp.547.842.610.518).

“Pelaksanaan program pembangunan selama tahun 2016 mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Manengah Daerah kabupaten Sikka 2013 sampai 2018,” sebut Drs.Yoseph Ansar Rera.

Bupati Sikka perionde 2013 sampai 2018 ini saat konferensi pers kepada media, Sabtu (31/12/ 2016) mengatakan,untuk tahun 2016 pemerintah tetap melaksanakan program dan kegiatan yang terfokus pada program pembangunan daerah yang diarahkan untuk mencapai 7 program utama pembangunan daerah.

Kebijakan untuk pemanfaatan belanja tidak langsung kata Ansar, pemanfaatannya untuk masyarakat pada bantuan keuangan kepada pemerintahan desa melalui Alokasi Dana Desa kepada 147 desa dan membiayai 8 partai politik yang ada di wilayah kabupaten Sikka.

“Selain itu juga Belanja hibah dan Bantuan Sosial untuk pembangunan sarana dan prasarana ibadah seperti gereja, kapela, masjid atau mushola sebanyak 36 unit,” tuturnya.

Kebijakan pelaksanaan program dan kegiatan pada belanja langsung lanjut mantan Sekda Ende ini, lebih difokuskan pada 7 program perencanaan pembangunan daerah.

Pertama, kata Ansar, percepatan pembangunan perekonomian daerah berbasis sektor unggulan merupakan langkah strategis dalam upaya meningkatkan daya saing daerah secara umum dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ketiga sektor unggulan dimaksud adalah perkebunan, perikanan dan pariwisata. Sektor perkebunan lebih difokuskan pada pengelolaan pasca panen tanaman perkebunan dengan tetap memperhatikan peningkatan produksi dan produktifitas tanaman perkebunan melalui rehabilitasi dan pemeliharaan tanaman perkebunan.

“Sektor perikanan lebih difokuskan peningkatan produksi perikanan dan sumber daya laut lainnya serta membuka jaringan pemasarannya,” terangnya.

Sektor pariwisata urai Ansar, lebih difokuskan pada pengelolaan obyek-obyek wisata unggulan seperti wisata bahari, wisata budaya, wisata religi dan wisata alam. Pengadaan sarana dan prasarana pariwisata, antara lain pembangunan pagar, pusat informasi pariwisata, lopo dan rehab panggung di Pusat Jajanan dan Cenderamata Maumere serta rehap pagar wisata rohani patung Kristus Raja.

Untuk sektor perkebunan, sebutnya, digunakan untuk penngkatan produksi pertanian perkebunan, khususnya produksi mente, kakao dan kelapa dan untuk peningkatan produksi perikanan dan kelautan. 

“Untuk ketiga sekotro ini dialokasi anggaran sebesar 50,7 miliar rupiah (Rp50.703.249.407),” terangnya,

Program  kedua ungkap Ansar yakni pengembangan infrastruktur sosial dan ekonomi dimaksudkan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap sumber daya ekonomi dan sosial yang tersedia, dengan tetap memperhatikan kualitas lingkungan hidup.

Ketersediaan infrastruktur lanjutnya lebih difokuskan pada wilayah-wilayah yang potensial khusus untuk tiga sektor ungulan relatif masih kurang sehingga menghambat proses produksi dan jaringan pemasaran untuk sektor perkebunan dan perikanan, serta menurunkan minat wisatawan untuk berkunjung ke obyek-obyek wisata yang menarik.

“Untuk pembangunan infrastruktur  ini  kami alokasikan dana sebesar 231 miliar rupiah untuk membangun jalan, jembatan, bendungan, jaringan irirgasi dan turap,” paparnya.

Dana sebesar 231 miliar rupiah (Rp. 231.267.829.92) digunakan untuk pekerjaan jalan sebanyak 34 titik, antara lain ruas jalan Wolowiro – Nuaria, Bola – Sikka, Habi – Nelle, Lambalena – Soko Ria, Tanangalu – Woloara dan Waigete – Galit.

Ada pula pembangunan jembatan 4 Unit yakni jembatan Soe Poa kecamatan Mego, jembatan Waiara kecamatan Mapitara, jembatan Watu Leke desa Masabewa kecamatan Paga dan jembatan Tuanggeo – Rokirole di kecamatan Palue.

Pembangunan daerah irigasi urai Ansar, berupa rehab bendungan 3 unit yakni bendungan Wairhewar, Ae Kana dan Henga. Juga dilakukan peningkatan 6 unit jaringan irigasi di Dagi Longga, Mase Kea, Tilang, Wodong, Wair Hewar dan Dage Naka. Juga dilanjutkan dengan pembangunan lima turap kali yakni di Wairklau, Nangalimang, Kaliwara, Natar Gete  dan turab Kali Nativitas Nangahure.

“Dana tersebut juga  untuk pembebasan tanah lingkar luar sepanjang 3 kilometer, serta dimanfaatkan untuk pembangunan jalan usaha tani,” jelasnya.

Selain itu papar mantan wakil bupati Sikka ini, juga dilakukan perbaikan jalan dalam kota Maumere, pembangunan Taman Kota dan Monumen Tsunami di usat perbelanjaan dan pertokoan Maumere, pembangunan Gedung Serba Guna di Jl Achmad Yani Maumere, pembangunan lanjutan Sikka Inovation Centre di Wairklau Maumere. (Bersambung)


(Ebed de Rosary)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar