![]() |
| Magar,sejenis ubi beracun yang biasa dikonsumsi masyarakat Tana Ai saat terjadinya rawan pangan akibat kekringan berkepanjang dampak dari kemarau panjang. Foto : Ebed de Rosary |
SIKKA
– Kemarau
panjang yang melanda wilayah Nusantara sejak bulan Juni hingga bulan Oktober
2017 saat ini menyebabkan berbagai wilayah mengalami kekeringan termasuk di
kabupaten Sikka terutama wilayah bagian timur kabupaten Sikka di kecamatan
Talibura dan Waiblama yang dihuni etnis Tana Ai.
Dampak kekeringan
menyebabkan 16 kepala keluarga di desa Natarmage kecamatan Waiblama bahkan
banyak warga Waiblama sudah sejak bulan Agustus 2017 mulai mengkonsumis ubi
hutan beracun atau Magar bahasa Tana Ai sebagai pengganti beras dan jagung yang
mulai menipis akibat tanaman perkebunan seperti kakao,mente dan kemiri yang
mengalami gagal panen.
Magar sebenarnya ubi
hutan, biasa disebut gadung (Dioscorea hispida Dennst.), termasuk suku
gadung-gadungan atau Dioscoreaceae. Bentuk bulat lonjong, mirip sirsak berwarna
coklat muda, dengan bintik-bintik pada umbi.
Di banyak hutan,
tanaman ini mudah ditemukan, meski dengan nama berbeda-beda. Sejumlah nama lokal
ubi hutan ini antara lain siaffa (Sinjai Sulsel), kolope (Bau-bau). Ada juga
menyebut O Wikoro (Konawe Selatan), bitule (Gorontalo), gadu (Bima), iwi
(Sumba), dan kapak (Sasak) (Lihat : http://www.mongabay.co.id/2015/05/09/ubi-hutan-ini-beracun-tetapi-banyak-manfaat/ )
Magar menjadi buah
bibir dan pemberitaan hebat di NTT sejak mencuat berita adanya 16 kepala
kelaurag mengkonsumsinya di desa Natarmage kecamatan Waiblama kabupaten Sikka
sebab tanaman ini beracun sehingga jarang sekali dikonsumsi masyarakat dan saat
diberitakan ada warga yang mengkonsumsinya seolah-olah telah terjadi kelaparan
di daerah tersebut akibat kemarau panjang yang mengakibatkan kekeringan.
![]() |
| Warga desa Natarmage kecamatan Waiblama kabupaten Sikka sedang menggali Magar di kebun belakang rumah mereka. Foto : Ebed de Rosary |
Bukan
Budaya
Gubernur NTT Drs.Frans
Lebu Raya saat ditanyai media Selasa (10/10) mengatakan mengkonsumsi ubi hutan
beracun sudah menjadi budaya sebagian besar masyarakat NTT termasuk di
kabupaten Sikka dan Nagekeo yang mengkonsumsi ubi hutan setahun sekali bukan
karena rawan oangan.
Ditambahkan Lebu Raya masyarakat di dua
kabupaten ini memang memahami bahwa ubi hutan ini beracun namun mereka juga
mengetahui cara mengolahnya sehingga aman untuk dikonsumsi dan tidak
menimbulkan dampak terhadapa kesehatan atau mengakibatkan orang yang
mengkonsumsinya meninggal dunia.
“Terkadang orang
mendengar cerita ini lalu mulai berpikir masyarakat disana sudah kelaparan dan
mau mati saja padahal itu kearifan lokal sama seperti orang di Lembata
mengkonsumsi biji tanaman bakau,”pungkasnya.
Penasaran, Mongabay
Indonesia turun ke desa Natarmage kecamatan Waiblama Kamis (12/10) guna
menelusuri apakah benar mengkonsumsi Magar merupakan sebuah kearifan lokal
masyarakat etnis Tana Ai di daerah tersebut.
Gabriel Manek Soge Tana
Puan (Tuan Tanah atau kepala suku) yang ditemui menuturkan,banyak orang salah mengartiikan kebiasaan masyarakat etnis Tana
Ai mengkonsumsi Magar merupakan budaya, padahal makan Magar dilakukan disaat
bahan pangan menipis dan menghindar dari bahaya kelaparan.
“Makan Magar bagi orang
Tana Ai bukan budaya tapi kami makan Magar karena menghindari kelaparan akibat
gagal panen yang disebabkan karena tanaman pertanian dan perkebunan diserang
hama atau ada kemarau panjang dan lainnya,”ungkapnya.
Mengkonsumsi Magar
sebut Gabriel,juga sebagai salah satu siasat yang sudah berlangsung turun
temurun untuk mengakali agar bahan pangan seperti padi dan jagung masih cukup
tersedia untuk bibit saat musim tanam berikutnya sebab cadangan untuk
dikonsumsi sudah menipis sehingga perlu diselingi dengan mengkonsumsi bahan
pangan lainnya seperti pisang dan Magar agar padi dan jagung bisa tersedia
hingga musim panen tiba.
“Sejak nenek moyang,
kami selalu makan Magar disaat bencana kelaparan melanda serta gagal panen
sehingga sudah menjadi sebuah kebiasaan atau kearifan lokal saat cadangan
pangan di lumbung menipis bahkan habis.Kami semua masyarakat disini
mengkonsumsinya kecuali Sope (pembuat ritual adat) seprti saya dan Luka (orang
yang membagi bibit padi dan jagung untuk ditanam),” tuturnya.
![]() |
| Gabriel Manek Soge,Tana Puan (kepala suku) Soge desa Natarmage kecamatan Waiblama kabupaten Sikka.Foto : Ebed de Rosary |
Harus
Ada Ritual
Kecamatan Waiblama
terdiri atas 6 desa yakni Tuabao, Ilinmedo, Tanarawa, Natarmage, Pruda dan
Werang dengan total jumlah penduduk menurut data bulan April 2017 sebanyak
8.247 orang dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 1.950 kepala keluarga dimana
jumlah penduduk terbanyak terdapat di desa Pruda dengan jumlah penduduk 2.192
orang dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 546.
Sebagian besar penduduk
kecamatan Waiblama atau sekitar 90 persen merupakan etnis Tana Ai yang terdiri
atas suku Soge, Lewar, Mau, Dewa, Goban,Iri,Aur, Uran, Tukan dan Liwu yang
menggunakan bahasa Tana Ai sementara untuk etnis Tana Ai di utara kecamatan
Talibura menggunakan bahasa Muhang mirip bahasa Lamaholot,etnis di ujung timur
pulau Flores.
Yosep Lisen Goban salah
seorang tokoh adat di dusun Api Matan desa Natarmage saat ditemui Kamis (12/10)
mengajak Mongabay Indonesia ke kebun
dibelakang rumahnya dan menggali satu pohon Magar yang baru berusia sekitar 4
bulan yang dengan mudah digali menggunakan Poron Waan (parang untuk
membersihkan rumput).
Yosep menjelaskan,Magar
atau ubi hutan beracun tersebiut tumbuh subur di kebun warga atau di
hutan-hutan atau semak belukar yang ada di sekitar kampung Natarmage dan di
hampir semua wilayah Waiblama sehingga mudah didapat dan dijadikan bahan
makanan.
“Kami disini hanya 3
kepala keluarga saja yang menggali Magar dan mengolahnya namun kalau makan
semua warga desa memakannya sebab untuk mengambilnya kami harus ada semacam
ritual khusus dan mengolahnya juga tidak sembarangan,” tuturnya.
Saat pertama masuk ke
hutan atau kebun dan hendak menggali Magar,dari rumah salah seorang tetua suku
membawa sebuah telur ayam kampung dan sebelum masuk ke hutan telur ayam
tersebut ditaruh di dalam sebuah bambu dan diletakan di pinggir jalan sambil
memanjatkan permohonan,meminta restu kepada leluhur atau roh-roh halus (Nitung)
agar bisa diperbolehkan menggali Magar.
Usai menggali dan
kembali ke rumah,setiap orang yang menggalinya harus menyentuh telur tersebut
baru boleh masuk ke dalam rumah dan juga saat Magar tersebut usai dijemur dan
direndam ddan dikonsumsi disiapkan sebuah telur lagi sambil memohon agar Magar
yang sudah dikonsumi bisa dimakan dna usai makan semua orang kembali merabah
atau menyentuh telur tersebut dahulu baru masuk ke dalam rumah.
“Menurut kepercayaan
masyarakat Tana Ai tanaman Magar tersebut merupakan milik Nitung (roh-roh
halus) sehingga sebelum diambil harus meminta dahulu dan petugas yang
menggalinya sebelum masuk rumah harus memegang telur tersebut untuk pendinginan.Magar
juga tidak boleh ditaruh di dalm rumah tapi diletakan di Tedang atau balebale
bambu dan memasak serta mengkonsumsinya
juga dilakukan di luar rumah,” jelas Yosep.
Menggali Magar
dihentikan bila hendak masuk musim tanam sekitar bulan November atau Desember
dan kembali dibuat ritual lagi dengan menyediakan sebuah telur ayam dan setelah
memanjatkan doa serta ucapan syukur dari tetua adat,semua orang yang menggali
Magar diberi kesempatan meraba telur ayam tersebut dan usai ritual tidak boleh
lagi ada yang menggali Magar sampai ritual adat pesta panen usai digelar.
“Tapi usai ritual adat
saat tanam berakhir kita bisa mengkonsumsi Magar yang sudah diproses dan
disimpan di lumbung atau dapur tapi kalau menggalinya tidak boleh lagi.Jadi ada
3 ritual yaitu rabah pahit,rabah masak dan rabah tutup dengan wajib menyediakan
minimal 3 telur ayam kampung,” paparnya.
Saat menggali Magar
tutur Yosep,ada pantangan yakni tidak boleh ada suara ribut-ribut atau
berteriak dan berbicara dengan suara keras,tidak boleh ada permusuhan,caci
maki, saling marah saat menggali serta saat mengkonsumsi Magar sebab bila pantangan
ini dilanggar maka meski sudah direndam berhari-hari dan dimasak atau diolah
secara benar tapi tetap saja rasa Magarnya pahit.(Bersambung)
Penulis : Ebed de Rosary
Wartawan : Cendananews.com - CDN dan Mongabay Indonesia ( www.mongabay.co.id )




Tidak ada komentar:
Posting Komentar