MAUMERE
–
Provinsi NTT menempati peringkat 4 indeks rawan bencana nasional.Dengan skor
indeks rawan 187,provinsi NTT berada di bawah provinsi Jawa Tengah dengan skor
203,Jawa Barat 200 serta Jawa Timur yang memiliki skor 189.
Demikian ditegaskan
Abraham Djumina Sekertaris BPBD provinsi NTT,Kamis (30/6/2016) saat rakor
penanganan bencana yang dihadiri perwakilan dari daratan Flores dan Lembata.
Dikatakan
Abraham,dengan mengantongi skor ini,provinsi NTT termasuk salah satu dari 11
provinsi yang termasuk klasifikasi tinggi soal kerawanan bencana.
“Tingkat kebencanaan di
NTT tinggi sehingga perlu diambil langkah untuk mengantisipasi dan pesiapan
untuk melakukan penyelamatan dan evakusi bila terjadi bencana,” tegasnya.
Untuk pulau Timor
lanjutnya,ancaman bencana terdiri dari tanah longsor,banjir,kekeringan,angin
puting beliung dan kebakaran.Sementara untuk pulau Flores bagian barat
ancamannya berupa KLB,banjir,kekeringan dan konflik sosial
Khusus wilayah Flores
bagian timur,ancaman bencananya lebih beragam meliputi tanah longsor,gunung
meletus,puting beliung,gelombang pasang,gempa bumi dan tsunami serta konflik
sosial.
Pulau Sumba terdata
ancaman bencananya meliputi kekeringan,angin kencang,hama,banjir,tanah
longsor,KLB DBD dan konflik sosial sementara pulau Sabu memiliki ancaman
bencana kekringan,angin kencang,tanah longsor dan banjir.
Selain itu untuk pulau
Rote,ancaan bencana yang terdeteksi meliputi puting
beliung,kekeringan,kecelakaan laut dan banjir sementara pulau Alor ancamannya
terdiri atas puting beliung,banjir,gelombang pasang,gempa dan tsunami.
“Provinsi NTT memiliki
13 jenis bencana yakni gempa bumi,tsunami,gunung meletus,banjir,tanah
longsr,angin puting beliung,kekringan,kebakaran,epedemi,wabah dan KLB,kegagalan
teknologi serta gagal modernisasi dan konflik sosial,” paparnya.
Untuk itu sebut
Abarham,perlu ada kordinasi terkait proses pencegahan,penanganan dan sesudah
bencana antar instansi BPBD,Dinsos,Dinkes,Dinas PU,Polres,Kodim,Satpol PP,Setda
dan LSM sehingga tidak tumpang tindih dan over kewenangan.
Dengan demikian,tandasnya,filosofis
penanggulangan bencana yakni jauhkan masyarakat dari bencana,jauhkan bencana
dari masyarakat,hidup harmoni dengan bencana dan mengutamakan kearifan lokal
dalam penanganan bencana bisa terwujud.
(Ebed
de Rosary)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar