Laman

Minggu, 08 Mei 2016

Sikka Penting Memiliki Renstra dan Gugus Tugas PAUD HI




MAUMERE – Rencana strategi  Pengembangaan Anak Usia Dini Holistik dan Integratif (PAUD HI) di kabupaten Sikka untuk 5 tahun ke depan harus segera disusun. Renstra ini penting dan harus ditindaklanjuti dengan pembentukan gugus tugas yang akan mengimplementasikan di lapangan nantinya.

Hal ini disampaikan, Eka Hadiyanto, Program Area Manager Flores, Plan Internasional saat ditemui Cendana News di kantornya, Kamis (3/3/2016). Dikatakan Eka, sapaannya, untuk mewujudkannya, Plan Sikka membuat Workshop Road Map atau Rencana Aksi Daerah PAUD HI di Kabupaten Sikka berlangsung sejak Selasa (1/3/2016) hingga Kamis (3/3/2016).

Workshop yang digelar bersama Pemkab Sikka yang berlangsung di Aula rujab Bupati Sikka ini sebut Eka sangat penting guna menyamakan persepsi para pemangku kepentingan di kabupaten Sikka. Road Map ini penting tambahnya, karena setiap orang mengerjakan secara terpisah-pisah.

“ Kalau digabung menjadi satu maka kerjanya lebih efektif. Untuk mencapai itu maka kita dorong pembentukan gugus tugas yang terdiri dari berbagai elemen.Bupati juga meminta agar hasil Road Map ini dimasukan dalam rencana pembangunan di tahun 2017,” kata Eka.
Eka Hadiyanto, Program Area Manager Flores Plan Internasional.
Selain itu sebut Eka, pihaknya mendorong Pemkab Sikka dan DPRD Sikka agar membuat Perda terkait PAUD. Ranperda tersebut lanjut Eka sudah dibahas dan sedang melewati proses akhir untuk ditetapkan menjadi Perda. Plan Sikka lanjutnya, hanya ingin memastikan PAUD HI bukan sekedar diskusi judul, tapi semua pemangku kepentingan mengetahui arahnya kemana, pencapaiannya kemana dan siapa yang terlibat sebab hal itu sangat penting.

“ Kami bukan pemain utama, kami hanya mendorong dan memastikan agar hal ini bisa berjalan. Kita mau membuat peta jalan PAUD HI, menyamakan perepsi. Kenapa di pemerintah harus ada 3 SKPD yang menangani, kenapa tidak digabung menjadi satu sehingga semuanya terintegrasi, “ tuturnya.

Pengembangan usia dini ini jelas Eka, sebenarnya berada dalam rentang usia 0 sampai 3 tahun dan 3 sampai 6 tahun tapi harusnya dimulai saat seorang ibu hamil dimana pola pengasuhan, pemberian nutrisi yang cukup hingga melahirkan.

Pemanganan sejak dini kata Eka merupakan dasar, rentang usia yang sangat krusial bagi pertumbuhan manusia berikutnya. Kalau hal ini tidak dilakukan ujar Eka, maka jangan berharap anak kita ke depannya akan menajdi baik.

“ Salah satu contoh, apabila kita berkata kasar terhadap anak-anak, hal ini akan tersimpan dengan baik oleh mereka. Kalau orang tuanya boleh memaki, boleh memukul maka saya juga boleh melakukan itu. Ini yang harus kita putus mata rantainya, “ ungkapnya.
.
Plan sambung Eka, percaya bahwa anak adalah generasi yang akan menjadi pemimpin masa depan. Semua anak mempunyai kesempatan dan hak yang sama untuk berkembang. Untuk itu papar Eka Plan menterjemahkannya dalam program-programnya dimana salah satunya Pengembangan Anak usia Dini. Untuk di kabupaten Sikka papar Eka, pihaknya baru men dampingi 97 desa dari 147 desa dan kelurahan yang ada.

“ Perlu diidentifikasi peran SKPD, pihak kecamatan dan desa serta pemangku kepentingan guna menyuskseskan PAUD HI Sikka. Diharapkan dengan adanya workshop ini semunya bisa satu persepsi, “ harap Eka.

Bupati Sikka, Drs.Yoseph Ansar Rera saat membuka kegiatan workshop, memotivasi semua pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang mengurus kesehatan dan pendidikan anak usia dini agar mulai membangun pengembangan anak usia dini holistik dan integratif.

Ansar meminta Bappeda Sikka agar harus mulai tahun ini (2016) merancang program agar di tahun 2017 semua desa memiliki program PAUD HI dan masuk ke dalam rencana pembangunan di tingkat kabupaten.
 
Irma Tibuludji Rera, Ketua Team Penggerak PKK kabupaten Sikka
Ketua Team Penggerak PKK kabupaten Sikka,Ibu Irma Tibuludji Rera, yang ditemui Cendana Newws,Kamis (3/3/2016) di sela-sela kegiatan mengatakan, kegiatan workshop dan road map ini sangat membantu pemerintah terutama pembentukan gugus tugas dalam pengembangan anak usia dini. Dikatakan ibu Irma, dengan adanya gugus tugas bisa diketahui bagaiman peran semua SKPD yang masuk didalamnya.

“ Dengan adanya gugus tugas diharapkan ke depannya pelayanan terhadap anak sudah terpadu dan tidak tumpang tindih ” ujar Ibu Irma.

Peran PKK sendiri beber isteri hupati Sikka ini yakni mengimplementasikannya dalam keluarga sesuai dengan tugas pokok PKK yang terdapat dalam 4 Pokja dimana pokja satu terkait pola asuh anak, pokja dua pendidikan, pokja tiga tentang pangan serta pokja empat terkait kesehatan.

“ Kita sudah dibekali selama 8 tahun oleh Plan sehingga apa yang didapat akan kita tularkan ke kecamatan.Sisa dari kecamatan yang belum dibina Plan akan kami tangani sampai ke desa, “ papar Irma.

Pengembangan anak usia dini di Sikka dilihat Irma semakin lama semakin baagus namun faktor geografis yang sering menjadi kendala. Selain itu point positifnya sambung Irma, di desa sudah ada regulasi pemakaian dana desa untuk pendidikan anak usia dini. Pemkab Sikka tutur Irma, sangat membantu dan PKK Sikka bersama Pemkab Sikka sudah sepakat menjadikan kabupaten Sikka sebagai kabupaten layak anak.

Intervensi ke arah itu sambungya sudah dilakukan sejak bayi berada dalam kandungan seribu hari pertama, bagaimana peran keluarga terutama suami membantu sang isteri yang sedang hamil. Jika hal ini dilakukan secara baik sangat bermanfaat menekan angka kematian ibu dan anak terutama lewat kegiatan posyandu.

Irma berharap mudah-mudahan dengan kegiatan ini, semua pembangku kepentingan selalu kompak dan saling kordinasi, bekerjasama secara baik dalam gugus tugas sehingga cita-cita kita mendapatkan anak-anak Sikka yang cerdas, sehat, berakhlak mulia bisa tercapai .

“ Ini penting untuk masa depan generasi muda nantinya.Visi Satu sikka mandiri dan sejahtera bisa tercapai bila salah satunya kalau anak-anak dan ibu diperhatikan secara baik sejak awal,” punkas Irma.

Kegiatan yang dimotori Plan Internasional Sikka ini berlangsung selama 3 hari ini diikuti oleh PKK kabupaten Sikka, Badan Pemberdayaan Masyarakat, dinas PPO, Bappeda, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana, Dinas Kesehatan dan LSM pemerhati PAUD.

Ebed dde Rosary Warawan CendanaNews.Com (CDN)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar