Bagian
Terakhir dari Tiga Tulisan
Pulau pasir putih Meko
dan beberapa gugusan pulau kecil di sekitarnya masuk dalam wilayah desa Pledo
kecamatan Witihama kabupaten Flores Timur.Jika menggunakan kapal motor, rute
yang dituju ada dua pilihan yakni dari dermaga Larantuka melintasi arus Gonsalu
berputar ke Adonara Barat menyisisiri desa Wure, Waiwadan dan pesisir utara hingga ujung timur pulau
Adonara wilayah Sagu dan berbelok ke barat.
Dari utara, kapal melintasi
Tanjo Gemo ( Tanjung Gemuk ) berbelok ke
timur menyisiri pesisir selatan hingga ke Waiwerang Adonara Timur membelah arus
Watawoko melewati wilayah Witihama hingga bersua Meko.Perjalanan darat relatif
lebih lama sebab medan jalannya berbatu dan berlubang disana – sini selepas
Witihama.
Ada dua pilihan bila
ingin membawa sepeda motor. Pertama dari dermaga Larantuka menyebrang ke
pelabuhan Tobilota dan berpacu dengan motor hingga Waiwerang ,Witihama terus ke
arah timur hingga desa Pledo di dusun Meko 3. Bisa juga turun di dermaga
Waiwerang dan mengendarai sepeda motor ke Witihama hingga ke dusun Meko 3.
Bayi
Dalam Keranjang
Pulau Watan Peni persis
berada sekitar 200 meter arah timur pulau pasir putih Meko. Pulau seluas kurang
lebih 300 meter persegi ini menurut legenda masyarakat sekitar dahulunya dihuni
sendirian oleh seorang bayi hingga dewasa dan meninggal disana. Bernard Nara
Gere, warga kecamatan Witihama kepada penulis saat berbincang di pulau Meko
menuturkan, jaman dahulu ada seorang anggota keluarga raja Sagu mengambil
isteri perempuan dari Ile Ape di pulau Lembata bernama Peni Utan Lolon.
Suatu saat papar Bernard,
Peni meminta kiriman atau oleh – oleh dari orang tuanya di Ile Ape. Ketika
kiriman yang diletakan di dalam anyaman dari daun lontar tersebut tiba dan
dibuka oleh Peni dan suaminya, ternyata di dalamnya berisi seorang bayi.Saat
keluarga suaminya disuruh mengantar pulang kiriman tersebut ke orang tua Peni,
keranjang tersebut tidak diantar sampai ke Ile Ape namun diletakan di pulau
Watan Peni.
“ Bayi tersebut hidup
hingga dewasa dan tinggal sendirian di pualu tersebut sampai wafat “ ungkap
Bernard.
Hal ini menyebabkan
pulau tersebut sebut Bernard dinamai Nuha ( pulau ) Watan Peni.Di pulau
tersebut lanjut Bernard, saat ini ditinggali oleh anak dari bapak Umar yang
dahulunya sangat disegani oleh warga desa Pledo dan sekitarnya. Bapak Umar yang
asli Witihama ini beber Bernard, datang menyebarkan agama Islam dan mengajarkan
Pencak Silat bagi warga desa Pledo dan sekitarnya. Dirinya dijuliki orang suci
atau sakti serupa dengan wali di pulau Jawa.
“ Dahulunya pulau pasir
putih Meko dan wilayah sekitarnya terkenal angker.Sejak ada beliau orang bisa
tinggal di dusun Meko dan mengunjungi pulau pasir putih ini. Beliau mampu
menetralisir tempat yang awalnya sangat angker “ pungkasnya.
Bapak Umar sambung
Bernard oleh warga sekitar dianggap sosok yang sangat luar biasa meski postur
tubuhnya tidak terlalu tinggi bak orang kebanyakan di Adonara. Beliau lanjut
Bernard, menetap di sebuah pulau di bagian timur pulau Meko yang dinamai sesuai
namanya yakni pulau Umar.
“ Beliau wafat saat
berumur seratus tahun lebih. Sampai saat ini anak lelakinya yang menetap di
pulau Watan Peni “ tuturnya.
Kisah
Mama Nogo
Kata Meko dituturkan
Bernard berasal dari kata Beko yang dalam bahasa Adonara berarti “ mengambil
dari dalam “. Nama ini urai Bernard penuh arti sejarah.Dikisahkan Bernard,
dulunya sebelum banyak dihuni penduduk kampung, di pantai Meko terdapat sebuah
batu berlubang yang selalu disambangi seorang mama tua asal desa Sandosi
bernama Nogo.
Mama Nogo kisah
Bernard, sering datang ke lubang batu tersebutguna mengambil ikan yang terperangkap
di dalamnya saat air surut. Ikan berjumlah banyak tersebut oleh mama Nogo
dibawa ke pasar untuk dibarter dengan jagung titi, singkong dan bahan makanan
lainnya.Suatu ketika sambung Beranrd, mama Nogo mendatangi lubang batu tersebut
hendak mengambil ikan seperti kebiasaan yang kerap dilakoni selama ini.
Saat tangannya hendak mengeuarkan
ikan dari dalam lubang tersebut, tangan mama Nogo tersangkut di lubang batu
tersebut dan tidak bisa dikeluarkan. Mendengar teriakan mama Nogo, orang
kampung berdatangan dan berusaha menolong namun semua usaha sia – sia dan
tangan mama Nogo tetap tak bisa dikeluarkan.Akhirnya penduduk desa pun
membiarkan keadaan mama Nogo dan meninggalkannya sendirian di tempat tersebut.
“ Kepercayaan
masyarakat kami, bila mengambil atau menikmati sesuatu terus menerus dan tanpa
membuat ritual pengucapan syukur maka akan ada petaka “ bebernya.
Ada tiga buah Nuha yang
letaknya saling berdekatan di pantai utara pulau Adonara yakni Ke Nuha Watan
Peni, Nuha Kroko dan Nuha Gambus. Nuha Watan Peni merupakan Nuha yang paling
dekat dengan pulau Adonara sementaraNuha Kroko adalah Nuha yang paling besar
dan Nuha Gambus terdiri dari dua gugus daratan yang jika dilihat dari kejauhan
tampak berbentuk seperti gambus.Pandangan mata diarahkan ke utara, gungung Ile
Boleng terlihat menjulang sementara bagian selatan di kejauhan nampak gunung
Ile Ape kekar berdiri seakan tak mau kalah bersaing.
Tidak
Berdampak
Tenarnya pantai pasir
putih Meko dan gugusan pulau kecildi sekitarnya yang berujung pada membanjirnya
wisatawan asing sebut Kamilus Tupen Jumad, tidak memberikan dampak ekonomi bagi
masyarakat desa Pledo khususnya warga dusun Meko. Rata – rata turis asing urai
Kamilus membawa kapal pesiar atau datang menggunakan kapal berukuran besar dan
menyambangi pulau ini tanpa berkunjung ke daratan.
“ Tiga hari lalu
sepsang turis Asutralia memasang tenda dan menginap di pulau ini. Mereka tidak
sampai ke darat bahkan kapal pesiar yang membawa rombongan pun hanya mampir di
pulau beberapa lama dan berpaling pulang “
sebut Kamilus, tokoh yang kini gencar menghidupkan kembali budaya
Gemohing di Adonara.
Penulis pun sempat
menemukan beberapa tempat lilin tercecer di pasir pulau ini. Saat ditanyai,
Kamilus mengatakan, pulau ini sering didatangi pasangan wisatawan asing yang
hendak membuat foto pre wedding. Para turis asing paparnya datang subuh dan
berjemu serta berfoto dan langsung melanjutkan perjalanan bilatidak menginap.
Ada juga yang snorkling dan diving di sekitar gugusan pulau di sekitar pulau
Meko.
Pemerintah pinta
Kamilus, jangan menyerahkan pulau ini untuk dikuasai investor tetapi sebaiknya
dikelola oleh masyarakat dengan selalu didampingi pemerintah. Wisatawan yang
datang urai Kamilus, diarahkan ke darat agar bisa membeli kelapa muda atau
barang dagangan lainnya. Dengan demikian sambungnya, masyarakat bisa
mendapatkan keuntungan ekonomi dan bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat
sekitar.
“ Jika aset ini dikelola
dengan benar, masyarakat bisa merasakan dampaknya dan bisa mendatangkan
pemasukan bagi pemerintah daerah “ katanya.
Selang beberapa lama
ribuan kelelawar keluar dari pulau panjang di bagian barat.Rekan Kamilus
berseloroh, kelelawar juga ingin memberikan ucapan selamat datang.Biasanya
kelelawar celotehnya, kerap keluar sarang malam hari tapi kenapa saat ini
mereka keluar sarang dan bergerombol di atas langit pulau tersebut. Mungkin
saja mereka juga ingin diabadikan dan ini
pertanda baik sambungnya ditimpali tawa kecil rekan Simon Nany.
Asyik memotret ria dan
puas mencumbui pulau pasir putih Meko, Jody Felik mengajak semua peserta untuk
kembali ke kapal guna bersantap siang.Kembali perjalanan menggunakan perahu
Ketinting yang sudah menjadi idola. Ketupat, ikan tongkol dan Serundeng Gurita
terasa nikmat dan membuat asa untuk menambah porsi makan.Sekantung Jagung Titi
buah tangan dari ama Kamilus dan Bernard pun dilahap usai mencicipi masakan
yang diolah keluarga rekan Ansis Uba Ama.
Tak terasa mentari
sudah mulai bergeser ke barat.Kapal Purin Lewo menarik sauh dan kembali
bertolak menyusuri sepenggal pesisir selatan pulau Adonara, mengitari Sagu
berbelok ke timur menyambangi selat Gonsalu untuk kembali ke dermaga
Larantuka.Mengingat banyak permintaan peserta, kapal tetap bertolak ke timur
hingga mengitari pulau Waibalun dan kembali ke tempat semula mengakiri
perjalanan.
Tak dinyana 12 jam
lebih waktu yang dihabiskan selama perjalanan. Namun semuanya ini tidak sia –
sia sebut abang Hexsa Saputra, Ambo Kerans dan dokter Gerta serta semua
peserta. Meski terlihat capek dan diguncang ombak wajah – wajah kuyu itu tetap
semangat saat berfoto bersama mengakiri perjumpaan.
“ Sampai jumpa dalam
perjalanan berikutnya. Ayo ke Flores Timur “ pesan Jody Felik saat jabat tangan
perpisahan. ( Selesai )
Penulis : Ebed de
Rosary Email
: ebedallan@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar