Laman

Sabtu, 24 Oktober 2015

Umar dan Jasanya Yang Terpatri di Sanubari Warga Meko


Bagian Terakhir dari Tiga Tulisan

Pulau pasir putih Meko dan beberapa gugusan pulau kecil di sekitarnya masuk dalam wilayah desa Pledo kecamatan Witihama kabupaten Flores Timur.Jika menggunakan kapal motor, rute yang dituju ada dua pilihan yakni dari dermaga Larantuka melintasi arus Gonsalu berputar ke Adonara Barat menyisisiri desa Wure, Waiwadan  dan pesisir utara hingga ujung timur pulau Adonara wilayah Sagu dan berbelok ke barat.

Dari utara, kapal melintasi Tanjo Gemo  ( Tanjung Gemuk ) berbelok ke timur menyisiri pesisir selatan hingga ke Waiwerang Adonara Timur membelah arus Watawoko melewati wilayah Witihama hingga bersua Meko.Perjalanan darat relatif lebih lama sebab medan jalannya berbatu dan berlubang disana – sini selepas Witihama.

Ada dua pilihan bila ingin membawa sepeda motor. Pertama dari dermaga Larantuka menyebrang ke pelabuhan Tobilota dan berpacu dengan motor hingga Waiwerang ,Witihama terus ke arah timur hingga desa Pledo di dusun Meko 3. Bisa juga turun di dermaga Waiwerang dan mengendarai sepeda motor ke Witihama hingga ke dusun Meko 3.

Untuk perjalanan darat, wisatawan terpaksa harus menginap di Waiwerang yang ada penginapan sementara di Witihama maupun desa Pledo tak ada penginapan dan harus mengandalkan rumah penduduk yang bisa ditempati semalam.Disarankan bila bertolak dari Waiwerang atau Witihama waktu start dimulai saat subuh sekitar pukul 04.00 wita agar bisa menikmati sunrise dan seluruh pasir putih pulau Meko.

Bayi Dalam Keranjang

Pulau Watan Peni persis berada sekitar 200 meter arah timur pulau pasir putih Meko. Pulau seluas kurang lebih 300 meter persegi ini menurut legenda masyarakat sekitar dahulunya dihuni sendirian oleh seorang bayi hingga dewasa dan meninggal disana. Bernard Nara Gere, warga kecamatan Witihama kepada penulis saat berbincang di pulau Meko menuturkan, jaman dahulu ada seorang anggota keluarga raja Sagu mengambil isteri perempuan dari Ile Ape di pulau Lembata bernama Peni Utan Lolon.

Suatu saat papar Bernard, Peni meminta kiriman atau oleh – oleh dari orang tuanya di Ile Ape. Ketika kiriman yang diletakan di dalam anyaman dari daun lontar tersebut tiba dan dibuka oleh Peni dan suaminya, ternyata di dalamnya berisi seorang bayi.Saat keluarga suaminya disuruh mengantar pulang kiriman tersebut ke orang tua Peni, keranjang tersebut tidak diantar sampai ke Ile Ape namun diletakan di pulau Watan Peni.

“ Bayi tersebut hidup hingga dewasa dan tinggal sendirian di pualu tersebut sampai wafat “ ungkap Bernard.

Hal ini menyebabkan pulau tersebut sebut Bernard dinamai Nuha ( pulau ) Watan Peni.Di pulau tersebut lanjut Bernard, saat ini ditinggali oleh anak dari bapak Umar yang dahulunya sangat disegani oleh warga desa Pledo dan sekitarnya. Bapak Umar yang asli Witihama ini beber Bernard, datang menyebarkan agama Islam dan mengajarkan Pencak Silat bagi warga desa Pledo dan sekitarnya. Dirinya dijuliki orang suci atau sakti serupa dengan wali di pulau Jawa.

“ Dahulunya pulau pasir putih Meko dan wilayah sekitarnya terkenal angker.Sejak ada beliau orang bisa tinggal di dusun Meko dan mengunjungi pulau pasir putih ini. Beliau mampu menetralisir tempat yang awalnya sangat angker “ pungkasnya.

Bapak Umar sambung Bernard oleh warga sekitar dianggap sosok yang sangat luar biasa meski postur tubuhnya tidak terlalu tinggi bak orang kebanyakan di Adonara. Beliau lanjut Bernard, menetap di sebuah pulau di bagian timur pulau Meko yang dinamai sesuai namanya yakni pulau Umar.

“ Beliau wafat saat berumur seratus tahun lebih. Sampai saat ini anak lelakinya yang menetap di pulau Watan Peni “ tuturnya.

Kisah Mama Nogo

Kata Meko dituturkan Bernard berasal dari kata Beko yang dalam bahasa Adonara berarti “ mengambil dari dalam “. Nama ini urai Bernard penuh arti sejarah.Dikisahkan Bernard, dulunya sebelum banyak dihuni penduduk kampung, di pantai Meko terdapat sebuah batu berlubang yang selalu disambangi seorang mama tua asal desa Sandosi bernama Nogo.
Mama Nogo kisah Bernard, sering datang ke lubang batu tersebutguna mengambil ikan yang terperangkap di dalamnya saat air surut. Ikan berjumlah banyak tersebut oleh mama Nogo dibawa ke pasar untuk dibarter dengan jagung titi, singkong dan bahan makanan lainnya.Suatu ketika sambung Beranrd, mama Nogo mendatangi lubang batu tersebut hendak mengambil ikan seperti kebiasaan yang kerap dilakoni selama ini.

Saat tangannya hendak mengeuarkan ikan dari dalam lubang tersebut, tangan mama Nogo tersangkut di lubang batu tersebut dan tidak bisa dikeluarkan. Mendengar teriakan mama Nogo, orang kampung berdatangan dan berusaha menolong namun semua usaha sia – sia dan tangan mama Nogo tetap tak bisa dikeluarkan.Akhirnya penduduk desa pun membiarkan keadaan mama Nogo dan meninggalkannya sendirian di tempat tersebut.

Keesokan paginya saat air laut surut dan disambangi di tempat tersebut,mama Nogo tidak ditemukan meski penduduk kampung sudah mencarinya kemana – mana.Beko tersebut dalam bahasa sastra Adonara jelas Bernard disebut “ Nogo Soron Lima “. Kata Beko bila diucapkan sambungnya dirasakan tidak etis sehingga diplesetkan menjadi Meko dan nama tersebut terbawa hingga kini.

“ Kepercayaan masyarakat kami, bila mengambil atau menikmati sesuatu terus menerus dan tanpa membuat ritual pengucapan syukur maka akan ada petaka “ bebernya.

Ada tiga buah Nuha yang letaknya saling berdekatan di pantai utara pulau Adonara yakni Ke Nuha Watan Peni, Nuha Kroko dan Nuha Gambus. Nuha Watan Peni merupakan Nuha yang paling dekat dengan pulau Adonara sementaraNuha Kroko adalah Nuha yang paling besar dan Nuha Gambus terdiri dari dua gugus daratan yang jika dilihat dari kejauhan tampak berbentuk seperti gambus.Pandangan mata diarahkan ke utara, gungung Ile Boleng terlihat menjulang sementara bagian selatan di kejauhan nampak gunung Ile Ape kekar berdiri seakan tak mau kalah bersaing.

Tidak Berdampak

Tenarnya pantai pasir putih Meko dan gugusan pulau kecildi sekitarnya yang berujung pada membanjirnya wisatawan asing sebut Kamilus Tupen Jumad, tidak memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat desa Pledo khususnya warga dusun Meko. Rata – rata turis asing urai Kamilus membawa kapal pesiar atau datang menggunakan kapal berukuran besar dan menyambangi pulau ini tanpa berkunjung ke daratan.

“ Tiga hari lalu sepsang turis Asutralia memasang tenda dan menginap di pulau ini. Mereka tidak sampai ke darat bahkan kapal pesiar yang membawa rombongan pun hanya mampir di pulau beberapa lama dan berpaling pulang “  sebut Kamilus, tokoh yang kini gencar menghidupkan kembali budaya Gemohing di Adonara.

Penulis pun sempat menemukan beberapa tempat lilin tercecer di pasir pulau ini. Saat ditanyai, Kamilus mengatakan, pulau ini sering didatangi pasangan wisatawan asing yang hendak membuat foto pre wedding. Para turis asing paparnya datang subuh dan berjemu serta berfoto dan langsung melanjutkan perjalanan bilatidak menginap. Ada juga yang snorkling dan diving di sekitar gugusan pulau di sekitar pulau Meko.

Pemerintah pinta Kamilus, jangan menyerahkan pulau ini untuk dikuasai investor tetapi sebaiknya dikelola oleh masyarakat dengan selalu didampingi pemerintah. Wisatawan yang datang urai Kamilus, diarahkan ke darat agar bisa membeli kelapa muda atau barang dagangan lainnya. Dengan demikian sambungnya, masyarakat bisa mendapatkan keuntungan ekonomi dan bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar.

“ Jika aset ini dikelola dengan benar, masyarakat bisa merasakan dampaknya dan bisa mendatangkan pemasukan bagi pemerintah daerah “ katanya.

Selang beberapa lama ribuan kelelawar keluar dari pulau panjang di bagian barat.Rekan Kamilus berseloroh, kelelawar juga ingin memberikan ucapan selamat datang.Biasanya kelelawar celotehnya, kerap keluar sarang malam hari tapi kenapa saat ini mereka keluar sarang dan bergerombol di atas langit pulau tersebut. Mungkin saja mereka juga ingin diabadikan dan ini  pertanda baik sambungnya ditimpali tawa kecil rekan Simon Nany.

Asyik memotret ria dan puas mencumbui pulau pasir putih Meko, Jody Felik mengajak semua peserta untuk kembali ke kapal guna bersantap siang.Kembali perjalanan menggunakan perahu Ketinting yang sudah menjadi idola. Ketupat, ikan tongkol dan Serundeng Gurita terasa nikmat dan membuat asa untuk menambah porsi makan.Sekantung Jagung Titi buah tangan dari ama Kamilus dan Bernard pun dilahap usai mencicipi masakan yang diolah keluarga rekan Ansis Uba Ama.

Tak terasa mentari sudah mulai bergeser ke barat.Kapal Purin Lewo menarik sauh dan kembali bertolak menyusuri sepenggal pesisir selatan pulau Adonara, mengitari Sagu berbelok ke timur menyambangi selat Gonsalu untuk kembali ke dermaga Larantuka.Mengingat banyak permintaan peserta, kapal tetap bertolak ke timur hingga mengitari pulau Waibalun dan kembali ke tempat semula mengakiri perjalanan.

Tak dinyana 12 jam lebih waktu yang dihabiskan selama perjalanan. Namun semuanya ini tidak sia – sia sebut abang Hexsa Saputra, Ambo Kerans dan dokter Gerta serta semua peserta. Meski terlihat capek dan diguncang ombak wajah – wajah kuyu itu tetap semangat saat berfoto bersama mengakiri perjumpaan.

“ Sampai jumpa dalam perjalanan berikutnya. Ayo ke Flores Timur “ pesan Jody Felik saat jabat tangan perpisahan. ( Selesai )

Penulis : Ebed de Rosary                                Email : ebedallan@gmail.com





Tidak ada komentar:

Posting Komentar