| Suku Lein sedang mengangkat daun Gebang yang sudah dianyam untuk menutup bubungan atap saat ritual Tuhuk Klewodi desa Lewokluok. ( Foto : Ebed de Rosary ) |
Mengganti
atap dan bubungan umah adat “ Koke Bale “ merupakan sebuah ritual tahunan yang
dilaksanakan komunitas suku Demon Pagong. Semau kaum lelaki dewasa, warga suku
( anak suku ) wajib menghadirinya. Bagaiman prosesi ritual komunitas adat yang
tersebar di tiga desa yakni Lewokluok, Blepanawa dan Bama dari 6 desa di
kecamatan Demon Pagong ini melakoni ritual ini? Ikuti kilasan perjalanan tahap
demi tahap ritualnya.
Suasana pagi itu Selasa
( 09/06/15 ) begitu ramai. Semua lelaki dewasa berkumpul di Koke Bale. Sesuai
penyampaian yang dikeluarkan U’o Matan, hari itu dilakukan ritual “ Take Koke “
pergantian atap rumah adat Lewo ( kampung ) yang sudah mulai rusak. Tak
berselang lama, suku Lein dari dusun Subanriang datang membawa rotan dan daung
gebang yang sudah dikeringkan.
Yoseph Ike Kabelen ( 75
) mantan ketua lembaga pemangku adat ( LPA ) desa Lewokluok yang ditemui
penulis di sela – sela ritual, Selasa ( 16/06/15 ) menjelaskan, Rotan yang
dibawa pun diiris menyerupai tali yang akan dipakai mengikat daun Gebang (
Enau). Kaum lelaki lainnya tutur Frans, menganyam daun Gebang hingga memanjang
sekitar ± 2,5 meter. Daun Gebang yang sudah dianyam pun dimasukan ke dalam kayu
dan diikat di sepanjang ujung atap yang Koke bale.
“ Ritual ini hanya
mengganti bagian atap saja. Ujung atap yang rusak dibuka dan diganti dengan
yang baru.Setelah ini baru dilakukan ritual penutupan bubungan atap Koke Bale “
ujarnya.
Potong
Bambu
Pagi, Selasa ( 16/06/15
), meski sang surya belum menampakan diri, satu dua lelaki sudah bergegas
menenteng parang di tangan. Berjalan beriringan 5 orang lelaki dewasa warga
suku Lewolein ( Lein ) bergegas menuju sebuah tempat yang berada di bagian
ujung bawah sebelah selatan desa Lewokluok saat ini.
Membawa sebuah botol
berisi Arak ( minuman beralkohol yang disuling dari Tuak yang disadap dari
pohon Tuak atau Lontar ) dan sirih pinang, mereka berjalan menuju Ongaleren
pemukiman awal masyarakat adat Demon Pagong.Setelah meletakan sirih pinang dan
menuangkan arak di Merang, sebuah batu bulat sebagai wadah meletakan
persembahan bagi leluhur, semuanya bergegas memotong bambu. Bambu bulat
tersebut pun di bawa melewati jalan menanjak menuju tempat ‘ Koke Bale “
berada.
“ Mereka
berjalan melewati jalan yang sejak dahulu kala dilintasi nenek moyang saat membawanya
ke areal Koke Bale.Kepala suku yang tentukan orang yang memotong bambu
tersebut. Saat jalan juga orang tidak tegur karena sudah mengetahuinya “
paparnya.
Tak lama berselang, dari arah timur desa Lewokluok datang
beberapa orang warga suku Lein dari dusun Subanriang membawa rotan disertai
gong yang dibunyikan selama perjalanan.Saat tiba di beberapa rumah suku di
Lewokluok, mereka berhenti sebentar membuang beras.Juga terdapat suku Kabelen
yang menetap di desa Blepanawa datang dari arah bersamaan membawa sirih pinang
dan telur yang akan dipakai memberi makan ( sesajen ) di Nuba ( batu tempat
meletakan persembahan )..Memasuki Koke Bale, mereka dijemput dengan bunyian
gong dan gendang.
Rotan diiris menyerupai tali dan daun daun gebang dianyam.Bila
bambu dipotong guna menahan sambungan daun Gebang yang dianyam memanjang ± 2,5
meter.Kedua lembar tadi pun disatukan hingga berbentuk kerucut dimana di
bagaian atasnya beberapa helai daun gebang dibiarkan berdiri tegak.Seoarng
lelaki separuh baya terlihat mengikat dua balok kayu dari pohon Gebang
menyerupai segitiga.Saat semuanya selesai, anyaman ini pun dibawa ke atap untuk
menutupi bubungan Koke Bale.
Theodorus Tolan Lein ( 70 ) tokoh adat desa Lewokluok yang
ditemui penulis Rabu ( 17/06/15 ) di Koke Bale menuturkan, dalam pembuatan Koke
Bale tidak diperbolehkn memakai paku. Rotan dipergunakan ntuk mengikat atap
dari daun Gebang sementara kayunya di Kep atau disambung.Hanya suku Lein tambah
Theodorus yang boleh naik ke atap Koke dan menutup bubungan atap Koke.
Terlihat 3 lelaki naik ke atap Koke smentara seorang lainnya
berdiri di tangga bambu yang disandarkan di samping Koke.Daun Gebang berbentuk
segitiga yang sudah dianyam di angkat ke atap dan diletakan di bubungan.Kayu
berbentuk segitiga sebanyak 5 buah dipakai untuk menahan bubungan. Rumah adat
ini beber Theodorus, baru dibangun tahun lalu ( 2014 ) sehingga tidak
membutuhkan banyak perbaikan hanya mengganti beberapa bagian atap yang rusak
saja.
“ Selama atap atau bumbungan rumah adat masih terbuka maka
segala kegiatan pesta ditiadakan dahulu, ini pantangannya. Atap ditutup supaya
semua kegiatan ritual bisa berjalan “ papar mantan guru ini.
Sebelum penutupan bubungan, suku Kabelen memberi makan
leluhur di Nuba Nara. Beberapa tandan kelapa muda yang belum ada isinya
diletakan di atas pelataran Koke Bale.
Hidupkan Kebersamaan
Bernardus Tukan ( 56
),budayawan dan sejarawan Lamaholot yang ditemui penulis di rumahnya, Jumad (
19/06/15 ) menyebutkan, rumah adat saat ini cuma berdiri saja dan sepanjang
tahun tidak ada kegiatan. Paling setahun sekali komunitas suku memperbaikinya.
Ritual ini beber Dus sapaan akrabnya, ditransformasikan juga ke dalam devosi umat
Katolik di Larantuka menjadi Muda Tuan yakni memandikan patung dan benda kudus
lainnya.
Sebenarnya upacara
pembaharuan, pembersihan, ganti atap, simbol simbol itu semacam itu sambungnya,
sejauh ini masih dipertahankan secara historis. Dengan adanya rumah suku, beber
Dus, anggotanya merasa berada didalam masyarakat Lewo Tana. Di dalam
masyarakat Lamaholot sambungnya setiap
suku mempunyai peran dan fungsi masing – masing yang mana hal ini diperankan
dalam setiap ritual adat dan perbaikan atau pembangunan Koke Bale.
Masyarakat Lamaholot
papar Dus, terbentuk dari Ata Diken, Ata Diken membentuk Uma Lango, Uma Lango, rumah keluarga baru membentuk
suku dengan Lango Belen ( rumah besar
) dengan benda pusaka sebagai solidaritas dan identitas. Kemudian suku
lanjutnya, membentuk Lewo ( kampung )
yang dicirikan dengan Nuba Nara dan Koke Bale. Jadi Koke Bale boleh
dikatakan merupakan solidaritas dan identitas masyarakat Lewo itu sendiri.
Penulis : Ebed de Rosary Email: ebedallan@gmail.com
| Persembahan atau sesajian yang diletakan di Nuba Nara depan Koke Bale, rumah adat di Lewokluok. ( Foto: Ebed de Rosary ) |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar