Laman

Sabtu, 24 Oktober 2015

Tuhuk Klewo dan Pesan Kebersamaan Komunitas Adat Demon Pagong

Suku Lein sedang mengangkat daun Gebang yang sudah dianyam untuk menutup bubungan atap saat ritual Tuhuk Klewodi desa Lewokluok. ( Foto : Ebed de Rosary )
Ritual Koke Bale di Lewokluok

Mengganti atap dan bubungan umah adat “ Koke Bale “ merupakan sebuah ritual tahunan yang dilaksanakan komunitas suku Demon Pagong. Semau kaum lelaki dewasa, warga suku ( anak suku ) wajib menghadirinya. Bagaiman prosesi ritual komunitas adat yang tersebar di tiga desa yakni Lewokluok, Blepanawa dan Bama dari 6 desa di kecamatan Demon Pagong ini melakoni ritual ini? Ikuti kilasan perjalanan tahap demi tahap ritualnya.

Suasana pagi itu Selasa ( 09/06/15 ) begitu ramai. Semua lelaki dewasa berkumpul di Koke Bale. Sesuai penyampaian yang dikeluarkan U’o Matan, hari itu dilakukan ritual “ Take Koke “ pergantian atap rumah adat Lewo ( kampung ) yang sudah mulai rusak. Tak berselang lama, suku Lein dari dusun Subanriang datang membawa rotan dan daung gebang yang sudah dikeringkan.

Yoseph Ike Kabelen ( 75 ) mantan ketua lembaga pemangku adat ( LPA ) desa Lewokluok yang ditemui penulis di sela – sela ritual, Selasa ( 16/06/15 ) menjelaskan, Rotan yang dibawa pun diiris menyerupai tali yang akan dipakai mengikat daun Gebang ( Enau). Kaum lelaki lainnya tutur Frans, menganyam daun Gebang hingga memanjang sekitar ± 2,5 meter. Daun Gebang yang sudah dianyam pun dimasukan ke dalam kayu dan diikat di sepanjang ujung atap yang Koke bale.

“ Ritual ini hanya mengganti bagian atap saja. Ujung atap yang rusak dibuka dan diganti dengan yang baru.Setelah ini baru dilakukan ritual penutupan bubungan atap Koke Bale “ ujarnya.

Potong Bambu

Pagi, Selasa ( 16/06/15 ), meski sang surya belum menampakan diri, satu dua lelaki sudah bergegas menenteng parang di tangan. Berjalan beriringan 5 orang lelaki dewasa warga suku Lewolein ( Lein ) bergegas menuju sebuah tempat yang berada di bagian ujung bawah sebelah selatan desa Lewokluok saat ini.

Membawa sebuah botol berisi Arak ( minuman beralkohol yang disuling dari Tuak yang disadap dari pohon Tuak atau Lontar ) dan sirih pinang, mereka berjalan menuju Ongaleren pemukiman awal masyarakat adat Demon Pagong.Setelah meletakan sirih pinang dan menuangkan arak di Merang, sebuah batu bulat sebagai wadah meletakan persembahan bagi leluhur, semuanya bergegas memotong bambu. Bambu bulat tersebut pun di bawa melewati jalan menanjak menuju tempat ‘ Koke Bale “ berada.

 “ Mereka berjalan melewati jalan yang sejak dahulu kala dilintasi nenek moyang saat membawanya ke areal Koke Bale.Kepala suku yang tentukan orang yang memotong bambu tersebut. Saat jalan juga orang tidak tegur karena sudah mengetahuinya “ paparnya.

Tak lama berselang, dari arah timur desa Lewokluok datang beberapa orang warga suku Lein dari dusun Subanriang membawa rotan disertai gong yang dibunyikan selama perjalanan.Saat tiba di beberapa rumah suku di Lewokluok, mereka berhenti sebentar membuang beras.Juga terdapat suku Kabelen yang menetap di desa Blepanawa datang dari arah bersamaan membawa sirih pinang dan telur yang akan dipakai memberi makan ( sesajen ) di Nuba ( batu tempat meletakan persembahan )..Memasuki Koke Bale, mereka dijemput dengan bunyian gong dan gendang.

Tuhuk Klewo

Rotan diiris menyerupai tali dan daun daun gebang dianyam.Bila bambu dipotong guna menahan sambungan daun Gebang yang dianyam memanjang ± 2,5 meter.Kedua lembar tadi pun disatukan hingga berbentuk kerucut dimana di bagaian atasnya beberapa helai daun gebang dibiarkan berdiri tegak.Seoarng lelaki separuh baya terlihat mengikat dua balok kayu dari pohon Gebang menyerupai segitiga.Saat semuanya selesai, anyaman ini pun dibawa ke atap untuk menutupi bubungan Koke Bale.

Theodorus Tolan Lein ( 70 ) tokoh adat desa Lewokluok yang ditemui penulis Rabu ( 17/06/15 ) di Koke Bale menuturkan, dalam pembuatan Koke Bale tidak diperbolehkn memakai paku. Rotan dipergunakan ntuk mengikat atap dari daun Gebang sementara kayunya di Kep atau disambung.Hanya suku Lein tambah Theodorus yang boleh naik ke atap Koke dan menutup bubungan atap Koke.

Terlihat 3 lelaki naik ke atap Koke smentara seorang lainnya berdiri di tangga bambu yang disandarkan di samping Koke.Daun Gebang berbentuk segitiga yang sudah dianyam di angkat ke atap dan diletakan di bubungan.Kayu berbentuk segitiga sebanyak 5 buah dipakai untuk menahan bubungan. Rumah adat ini beber Theodorus, baru dibangun tahun lalu ( 2014 ) sehingga tidak membutuhkan banyak perbaikan hanya mengganti beberapa bagian atap yang rusak saja.

“ Selama atap atau bumbungan rumah adat masih terbuka maka segala kegiatan pesta ditiadakan dahulu, ini pantangannya. Atap ditutup supaya semua kegiatan ritual bisa berjalan “ papar mantan guru ini.

Sebelum penutupan bubungan, suku Kabelen memberi makan leluhur di Nuba Nara. Beberapa tandan kelapa muda yang belum ada isinya diletakan di atas pelataran Koke Bale.
Hidupkan Kebersamaan

Bernardus Tukan ( 56 ),budayawan dan sejarawan Lamaholot yang ditemui penulis di rumahnya, Jumad ( 19/06/15 ) menyebutkan, rumah adat saat ini cuma berdiri saja dan sepanjang tahun tidak ada kegiatan. Paling setahun sekali komunitas suku memperbaikinya. Ritual ini beber Dus sapaan akrabnya, ditransformasikan juga ke dalam devosi umat Katolik di Larantuka menjadi Muda Tuan yakni memandikan patung dan benda kudus lainnya.

Sebenarnya upacara pembaharuan, pembersihan, ganti atap, simbol simbol itu semacam itu sambungnya, sejauh ini masih dipertahankan secara historis. Dengan adanya rumah suku, beber Dus, anggotanya merasa berada didalam masyarakat Lewo Tana. Di dalam masyarakat  Lamaholot sambungnya setiap suku mempunyai peran dan fungsi masing – masing yang mana hal ini diperankan dalam setiap ritual adat dan perbaikan atau pembangunan Koke Bale.

Masyarakat Lamaholot papar Dus, terbentuk dari Ata Diken, Ata Diken membentuk Uma Lango, Uma Lango, rumah keluarga baru membentuk suku dengan Lango Belen ( rumah besar ) dengan benda pusaka sebagai solidaritas dan identitas. Kemudian suku lanjutnya, membentuk Lewo ( kampung ) yang dicirikan dengan Nuba Nara dan Koke Bale. Jadi Koke Bale boleh dikatakan merupakan solidaritas dan identitas masyarakat Lewo itu sendiri.

“ Sebenarnya pesan yang ingin disampaikan dalam ritual memperbaiki Koke Bale ini yakni menghidupkan kembali kebersamaan dan jiwa gotong royong sekaligus mengingatkan kembali peran setiap suku dalam komunitas adat “ pungkasnya.

Penulis : Ebed de Rosary                                  Email: ebedallan@gmail.com

Persembahan atau sesajian yang diletakan di Nuba Nara depan Koke Bale, rumah adat di Lewokluok. ( Foto: Ebed de Rosary )





Tidak ada komentar:

Posting Komentar