Laman

Sabtu, 24 Oktober 2015

Memenuhi Hasrat Mencumbui Pulau Pasir Putih Meko

 Pulau Pasir Putih Meko yang tertutup air saat laut sedang pasang. ( Foto : Ebed de Rosary ) 
Bagian Pertama dari TigaTulisan

Pulau pasir putih Meko akrab di telinga wisatawan mancanegara.Hampir saban minggu ada saja penikmat wisata asing tersebut mampir sekedar berfoto, menyelam, bermalam bahkan melakukan sesi foto pre wedding di pulau mungil ini. Apa sich yang membuat wisatawan rela menempuh perjalanan jauh untuk bercumbu dengan pulau ini?

Pagi saat mentari masih tertidur, 28 anak muda penikmat wisata lokal yang terdiri dari berbagai profesi dan menetap di Larantuka ( Flores Timur ), Maumere kabupaten Sikka dan beberapa asal kabupaten Ende bersiap di pelabuhan laut Larantuka. Meski rasa kantuk masih menyerang, dengan ransel di bahu satu persatu mulai mendatangi titik start trip menuju pulau pasir putih Meko.

Pelabuhan pendaratan ikan ( PPI ) Amagarapati, menjelang pukul 04.30 wita sudah didatangi sebagain peserta trip. Penulis bersama sahabat Simon Lamakadu merupakan orang pertama yang menginjakan kaki di dermaga ini. Tak lama berselang, sekitar pukul 04.20 wita tiba dokter Risma Yuanita bersama suami tercinta. Beberapa menit kemudian teman Paksi dari Pertamina Larantuka merapat disusul rombongan Moffers ( komunitas fotografer dari Maumere ) datang dengan dua mobil pribadi.

“ Tempat pemberangkatan dipindah ke Pelabuhan Larantuka “ ujar Simon usai menerima telepon dari Jody Felik seorang rekan panitia.

Kendaraan pun berbalik arah dipacu ke arah timur yang berjarak beberapa ratus meter dari tempat semula. Mama – mama pedagang eceran yang menempati ruang tunggu pelabuhan Larantuka pun terbangun saat rombongan tiba. Beberapa anggota rombongan terlihat menyempatkan diri membeli makanan dan minuman, bekal selama perjalanan.

Bus Laut

Sebuah mobil pick up terparkir di ujung dermaga lama Larantuka persis di samping kapal motor Purin Lewo. Konsumsi dan perlengkapan yang ada di mobil segera dipindahkan ke kapal. Tak lupa kompor minyak tanah dan galon air minum ikut dibawa. Ternyata kompor ini sangat berguna memuasakan hasrat meneguk kopi dan teh saat subuh di atas kapal yang membelah ombak subuh di tengah dinginnya cuaca dan angin laut.

“ Selamat datang di Larantuka. Ini namanya bus laut, kapal penumpang antar pulau yang kerap digunakan di Flores Timur dan Lembata “ ujar Ansis Uba Ama sedikit berpromosi menyambut kedatangan peserta.

Ini kapal penumpang yang biasa berlayar ke Solor saban hari sebut Ansis saat ditanyai penulis. Jika dilihat kapal dua lantai yang dipenuhi tempat duduk ini memang mirip bus di darat. Kursi tempat duduk penumpang dibuat memanjang dan bisa menampung 4 penumpang satu deretnya. Terdapat sekitar 10 deretan bangku baik di kiri maupun kanannya. Bagian tengah disisakan space yang cukup lega untuk jalan. Samping body kapal terdapat jendela. Bangku kayu dengan sandaran ini agak nyaman dan hampir semua bus laut memiliki bentuk serupa.

Satu per satu peserta menginjakan kakinya di kapal dan bergegas mencari tempat berbaring di lantai dua. Selepas meletakan tas hampir semua peserta mengeluarkan alat charge handphone dan kamera. Semua sibuk memanfaatkan fasilitas listrik di kapal sembari merebahkan badan di bangku kayu yang berderet rapi.

  “ Bagaimana teman – teman, apakah kita bisa berangkat. Kita harus mengejar mentari terbit di pulau Meko dan berpacu dengan arus Watawoko “ tanya Felik kepada semua peserta.

Memotret Lumba - Lumba

Jarum jam menunjukan pukul 05.15 wita. Usai mengabsen peserta kapal pun bertolak meninggalkan dermaga Larantuka. Saat ditanyai penulis, Felik mengatakan semua peserta Fam Trip One Day Around Adonara Island lengkap, hanya dua teman panitia yang belum tiba dan kemungkinan besar tertidur sebab semalam menyiapkan semua perlengkapan hingga pukul 2 subuh.Kemungkinan kecapean dan terlambat bangun tambah Felik seraya berkata beberapa hari ini dirinya bersama Ansis Uba Ama, Bedi dan Frank Kico Lamanepa sibuk mempersiapkan rencana perjalanan dan berdiskusi hingga larut malam.

Arus laut Gonsalu masih belum mengalir deras saat kapal melintasi laut antara pulau Adonara dan Flores. Beberapa anggota bergegas keluar dari tempat berbaring mengambil posisi sesuai selera. Ada yang menempati buritan, atap kapal serta bagian belakang kapal.Kamera di tangan diarahkan mencari sisi – sisi obyek yang menarik untuk diabadikan.

Jauh ke arah timur terlihat celah kecil menyempit. Semakin ke ujung, jarak antara pulau Flores dan pulau Adonara bagai menyatu. Tempat yang sering terkenal dengan sebutan Selat Gonsalu ini kerap ditakuti kapal motor yang melintas akibat derasnya arus yang bukan saja mengalir tapi berputra membentuk pusaran – pusaran. Terkadang kapal dibuat berguncang bahkan sedikit berputar akibat terseret arus.

Gunung Ile Mandiri terlihat samar dari kejauhan. Momen indah ini jadi rebutan anggota bak sesi pemotretan baru dibuka.Emphi Lamanepa, Simon Nani, Hexsa Saputra dan lainnya asyik bermain dengan kamera mencari angle dan obyek yang menantang dan menarik.

“ Ayo Emphi tunjukan kebolehanmu “ canda Mariana Tanjung kepada salah satu anggota Moffers, komunitas fotografer asal Maumere.

Kapal pun berbelok melintasi tenangnya laut selepas Tanjo Gemo ( Tanjung Gemuk ) menuju ujung Timur pulau Adonara. Dari kejauhan Sunrise mulai samar – samar terlihat. Semua anggota sibuk menikmati keindahan ini seraya tentunya tak lupa mengabadikannya. Beberapa kapal nelayan terlihat mulai berseliweran mengantar hasil tangkapan saban malam menuju pelabuhan Waiwerang dan ada yang bergegas menuju Larantuka.

Arah utara kapal terlihat beberapa pelampung dan bola – bola apung berbaris lurus dan melingkar. Itu tempat memelihara mutiara terang Jody Felik saat ditanyai beberapa peserta. Biasanya lanjut Felik, perusahaan mutiara memilih daerah di teluk dan lautnya relatif tenang, tidak bergelombang. Selang beberapa  menit selepas kapal melewati budidaya mutiara, dari depan buritan sebelah utara dua buah lumba –lumba berukuran besar berwarna kehitaman melompat hanya beberapa meter dari kapal.
Momen ini tak disia – siakan. Kamera pun dirahkan ke lumba – lumba. Saat sang ikan yang kerap dijuluki “ penolong “ ini melompat ke permukaan laut peserta berteriak kegirangan. Penulis pun tak ketinggalan mengingatkan sang sahabat Simon Lamakadu dan dokter Simon Nani untuk jangan ketinggalan mengabadikannya.

“ Lumba – lumba kerap terlihat di perairan sekitar sini bahkan sering mereka bergerombol berenang mengapit kapal “  tutur Felik penuh semangat.

Mengarungi Watawoko

Dari kejauhan pusaran arus terlihat jelas. Kapal pun semakin mendekat dan saat memasuki pusarannya kapal seakan terdorong mundur beberapa sentimeter. Kapal seolah terasa menabrak sesuatu dan dalam hitungan detik kapal pun bergoyang. Melewati Watawoko merupakan sebuah sensasi tersendiri.Pusaran arus dan gelombang membuat guncangan kapal semakin terasa. Penulis pun terpaksa meninggalkan tempat favorit di lantai satu bagian belakang ke dek depan.

“ Daerah ini disebut Watawoko, arusnya sangat kencang dan berputar seperti angin puting beliung “ terang Ansis Uba Ama penulis buku Republik Facebook

Kapal pun melaju pelan meliuk membelah ombak dan ganasnya arus Watawoko.Tatapan mata tetap tak berkedip memandang deretan pantai di sepanjang setengah perjalanan lagi. Sun rise pun nampak dari kejauhan. Rencana menikmati sun rise di pulau pasir putih Meko pun terlewatkan. Namun tetap saja memberikan kepuasan tersendiri memandangnya dari atas kapal yang berlayar. Sangat indah sun rise nya celetuk Paksi seorang sahabat asal Jawa Tengah yang baru beberapa bulan menetap di Larantuka dan bertugas di Pertamina.

“ Bagus sekali pemandangannya. Saya baru pertama kali menikmati keindahan ini dari atas kapal di tengah laut diapit dua pulau yang berdekatan “ ungkapnya bangga.

Gulungan gelombang memanjang di sisi utara kapal. Ketinggian ombak pun semakin bertambah membuat kapal bak diayun. Para anak buah kapal mnegingatkan peserta yang berada di bagian atap dan asyik memotret untuk berpegangan serta berhati – hati.

Dari atas kapal yang berjarak hanya sekitar 200 meter dari biri pantai, pesisir selatan Adonara hanya terlihat beberapa pasir putih itu pun bentangannya tidak relatif panjang. Beberapa batu terjal kehitaman berderet disepanjang pantai Watotena yang bersisian dengan pantai Ina Bura. Bebetuan cadas ini ada yang menjulang berbentuk seperti  kapal sehingga masyarakat sekitar menamakannya Watotena yang berarti batu kapal.

Ada juga pantai pasir merah ( Pantai Meang ) dan beberapa pantai lainnya dengan beberapa baris pohon kelapa di pesisir pantainya.Dari kejauhan terlihat beberapa pondok dari daun kelapa dibangun di sekitar areal pantai.Menurut Ansis, pantai ini dikelola warga desa sekitar dan kelompok pemuda.Tarif masuknya pun relatif murah berkisar antara 2 ribu hingga 5 ribu rupiah. Kerap saat musim liburan sekolah dan hari minggu atau hari libur lainnya masyarakat sekitar memanfaatkannya untuk berekreasi, jelasnya berpromosi.( Bersambung )

Penulis : Ebed de Rosary                                Email : ebedallan@gmail.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar