| Pulau Pasir Putih Meko yang tertutup air saat laut sedang pasang. ( Foto : Ebed de Rosary ) |
Bagian Pertama dari TigaTulisan
Pulau
pasir putih Meko akrab di telinga wisatawan mancanegara.Hampir saban minggu ada
saja penikmat wisata asing tersebut mampir sekedar berfoto, menyelam, bermalam
bahkan melakukan sesi foto pre wedding di pulau mungil ini. Apa sich yang
membuat wisatawan rela menempuh perjalanan jauh untuk bercumbu dengan pulau
ini?
Pagi saat mentari masih
tertidur, 28 anak muda penikmat wisata lokal yang terdiri dari berbagai profesi
dan menetap di Larantuka ( Flores Timur ), Maumere kabupaten Sikka dan beberapa
asal kabupaten Ende bersiap di pelabuhan laut Larantuka. Meski rasa kantuk masih
menyerang, dengan ransel di bahu satu persatu mulai mendatangi titik start trip
menuju pulau pasir putih Meko.
Pelabuhan pendaratan
ikan ( PPI ) Amagarapati, menjelang pukul 04.30 wita sudah didatangi sebagain
peserta trip. Penulis bersama sahabat Simon Lamakadu merupakan orang pertama
yang menginjakan kaki di dermaga ini. Tak lama berselang, sekitar pukul 04.20
wita tiba dokter Risma Yuanita bersama suami tercinta. Beberapa menit kemudian
teman Paksi dari Pertamina Larantuka merapat disusul rombongan Moffers (
komunitas fotografer dari Maumere ) datang dengan dua mobil pribadi.
“ Tempat pemberangkatan
dipindah ke Pelabuhan Larantuka “ ujar Simon usai menerima telepon dari Jody Felik
seorang rekan panitia.
Kendaraan pun berbalik
arah dipacu ke arah timur yang berjarak beberapa ratus meter dari tempat
semula. Mama – mama pedagang eceran yang menempati ruang tunggu pelabuhan
Larantuka pun terbangun saat rombongan tiba. Beberapa anggota rombongan
terlihat menyempatkan diri membeli makanan dan minuman, bekal selama
perjalanan.
Bus
Laut
Sebuah mobil pick up
terparkir di ujung dermaga lama Larantuka persis di samping kapal motor Purin
Lewo. Konsumsi dan perlengkapan yang ada di mobil segera dipindahkan ke kapal.
Tak lupa kompor minyak tanah dan galon air minum ikut dibawa. Ternyata kompor
ini sangat berguna memuasakan hasrat meneguk kopi dan teh saat subuh di atas
kapal yang membelah ombak subuh di tengah dinginnya cuaca dan angin laut.
“ Selamat datang di
Larantuka. Ini namanya bus laut, kapal penumpang antar pulau yang kerap
digunakan di Flores Timur dan Lembata “ ujar Ansis Uba Ama sedikit berpromosi
menyambut kedatangan peserta.
Ini kapal penumpang
yang biasa berlayar ke Solor saban hari sebut Ansis saat ditanyai penulis. Jika
dilihat kapal dua lantai yang dipenuhi tempat duduk ini memang mirip bus di
darat. Kursi tempat duduk penumpang dibuat memanjang dan bisa menampung 4
penumpang satu deretnya. Terdapat sekitar 10 deretan bangku baik di kiri maupun
kanannya. Bagian tengah disisakan space yang cukup lega untuk jalan. Samping
body kapal terdapat jendela. Bangku kayu dengan sandaran ini agak nyaman dan
hampir semua bus laut memiliki bentuk serupa.
Satu per satu peserta
menginjakan kakinya di kapal dan bergegas mencari tempat berbaring di lantai
dua. Selepas meletakan tas hampir semua peserta mengeluarkan alat charge
handphone dan kamera. Semua sibuk memanfaatkan fasilitas listrik di kapal
sembari merebahkan badan di bangku kayu yang berderet rapi.
“ Bagaimana teman – teman, apakah kita bisa
berangkat. Kita harus mengejar mentari terbit di pulau Meko dan berpacu dengan
arus Watawoko “ tanya Felik kepada semua peserta.
Memotret
Lumba - Lumba
Jarum jam menunjukan
pukul 05.15 wita. Usai mengabsen peserta kapal pun bertolak meninggalkan
dermaga Larantuka. Saat ditanyai penulis, Felik mengatakan semua peserta Fam
Trip One Day Around Adonara Island lengkap, hanya dua teman panitia yang belum
tiba dan kemungkinan besar tertidur sebab semalam menyiapkan semua perlengkapan
hingga pukul 2 subuh.Kemungkinan kecapean dan terlambat bangun tambah Felik
seraya berkata beberapa hari ini dirinya bersama Ansis Uba Ama, Bedi dan Frank
Kico Lamanepa sibuk mempersiapkan rencana perjalanan dan berdiskusi hingga
larut malam.
Arus laut Gonsalu masih
belum mengalir deras saat kapal melintasi laut antara pulau Adonara dan Flores.
Beberapa anggota bergegas keluar dari tempat berbaring mengambil posisi sesuai
selera. Ada yang menempati buritan, atap kapal serta bagian belakang
kapal.Kamera di tangan diarahkan mencari sisi – sisi obyek yang menarik untuk
diabadikan.
Jauh ke arah timur
terlihat celah kecil menyempit. Semakin ke ujung, jarak antara pulau Flores dan
pulau Adonara bagai menyatu. Tempat yang sering terkenal dengan sebutan Selat
Gonsalu ini kerap ditakuti kapal motor yang melintas akibat derasnya arus yang
bukan saja mengalir tapi berputra membentuk pusaran – pusaran. Terkadang kapal
dibuat berguncang bahkan sedikit berputar akibat terseret arus.
Gunung Ile Mandiri
terlihat samar dari kejauhan. Momen indah ini jadi rebutan anggota bak sesi
pemotretan baru dibuka.Emphi Lamanepa, Simon Nani, Hexsa Saputra dan lainnya
asyik bermain dengan kamera mencari angle dan obyek yang menantang dan menarik.
“ Ayo Emphi tunjukan
kebolehanmu “ canda Mariana Tanjung kepada salah satu anggota Moffers,
komunitas fotografer asal Maumere.
Kapal pun berbelok
melintasi tenangnya laut selepas Tanjo Gemo ( Tanjung Gemuk ) menuju ujung
Timur pulau Adonara. Dari kejauhan Sunrise mulai samar – samar terlihat. Semua
anggota sibuk menikmati keindahan ini seraya tentunya tak lupa mengabadikannya.
Beberapa kapal nelayan terlihat mulai berseliweran mengantar hasil tangkapan
saban malam menuju pelabuhan Waiwerang dan ada yang bergegas menuju Larantuka.
Arah utara kapal
terlihat beberapa pelampung dan bola – bola apung berbaris lurus dan melingkar.
Itu tempat memelihara mutiara terang Jody Felik saat ditanyai beberapa peserta.
Biasanya lanjut Felik, perusahaan mutiara memilih daerah di teluk dan lautnya
relatif tenang, tidak bergelombang. Selang beberapa menit selepas kapal melewati budidaya
mutiara, dari depan buritan sebelah utara dua buah lumba –lumba berukuran besar
berwarna kehitaman melompat hanya beberapa meter dari kapal.
Momen ini tak disia –
siakan. Kamera pun dirahkan ke lumba – lumba. Saat sang ikan yang kerap
dijuluki “ penolong “ ini melompat ke permukaan laut peserta berteriak
kegirangan. Penulis pun tak ketinggalan mengingatkan sang sahabat Simon Lamakadu
dan dokter Simon Nani untuk jangan ketinggalan mengabadikannya.
“ Lumba – lumba kerap
terlihat di perairan sekitar sini bahkan sering mereka bergerombol berenang
mengapit kapal “ tutur Felik penuh
semangat.
Mengarungi
Watawoko
Dari kejauhan pusaran
arus terlihat jelas. Kapal pun semakin mendekat dan saat memasuki pusarannya
kapal seakan terdorong mundur beberapa sentimeter. Kapal seolah terasa menabrak
sesuatu dan dalam hitungan detik kapal pun bergoyang. Melewati Watawoko
merupakan sebuah sensasi tersendiri.Pusaran arus dan gelombang membuat
guncangan kapal semakin terasa. Penulis pun terpaksa meninggalkan tempat
favorit di lantai satu bagian belakang ke dek depan.
“ Daerah ini disebut
Watawoko, arusnya sangat kencang dan berputar seperti angin puting beliung “
terang Ansis Uba Ama penulis buku Republik Facebook
Kapal pun melaju pelan
meliuk membelah ombak dan ganasnya arus Watawoko.Tatapan mata tetap tak
berkedip memandang deretan pantai di sepanjang setengah perjalanan lagi. Sun
rise pun nampak dari kejauhan. Rencana menikmati sun rise di pulau pasir putih
Meko pun terlewatkan. Namun tetap saja memberikan kepuasan tersendiri
memandangnya dari atas kapal yang berlayar. Sangat indah sun rise nya celetuk
Paksi seorang sahabat asal Jawa Tengah yang baru beberapa bulan menetap di
Larantuka dan bertugas di Pertamina.
“ Bagus sekali
pemandangannya. Saya baru pertama kali menikmati keindahan ini dari atas kapal
di tengah laut diapit dua pulau yang berdekatan “ ungkapnya bangga.
Gulungan gelombang
memanjang di sisi utara kapal. Ketinggian ombak pun semakin bertambah membuat
kapal bak diayun. Para anak buah kapal mnegingatkan peserta yang berada di
bagian atap dan asyik memotret untuk berpegangan serta berhati – hati.
Dari atas kapal yang
berjarak hanya sekitar 200 meter dari biri pantai, pesisir selatan Adonara
hanya terlihat beberapa pasir putih itu pun bentangannya tidak relatif panjang.
Beberapa batu terjal kehitaman berderet disepanjang pantai Watotena yang
bersisian dengan pantai Ina Bura. Bebetuan cadas ini ada yang menjulang
berbentuk seperti kapal sehingga
masyarakat sekitar menamakannya Watotena yang berarti batu kapal.
Ada juga pantai pasir
merah ( Pantai Meang ) dan beberapa pantai lainnya dengan beberapa baris pohon
kelapa di pesisir pantainya.Dari kejauhan terlihat beberapa pondok dari daun
kelapa dibangun di sekitar areal pantai.Menurut Ansis, pantai ini dikelola
warga desa sekitar dan kelompok pemuda.Tarif masuknya pun relatif murah
berkisar antara 2 ribu hingga 5 ribu rupiah. Kerap saat musim liburan sekolah
dan hari minggu atau hari libur lainnya masyarakat sekitar memanfaatkannya
untuk berekreasi, jelasnya berpromosi.( Bersambung )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar