Bagian
Kedua dari Tiga Tulisan
Jarum jam menunjukan
pukul sembilan lewat saat dari kejauhan terlihat sebuah daratan di tengah laut
yang hanya diselimuti pasir putih.Kapal motor Purin Lewo tetap menyisir ke arah
timur melintas di sisi ombak yang menggulung membentuk garis lurus sebelum
pecah di bibir pantai dan mengahantam karang.
Beberapa pulau terlihat
dari kejauhan mengapit gugusan pasir putih Meko. Gelombang pun semakin besar
karena angin mulai bertiup kencang dan kapal mulai mendekati ujung timur pulau
Adonara. Sejauh mata memandang hanya lautan lepas yang nampak.
“ Meski ombaknya tinggi
namun jarak antar gelombang jauh sehingga tidak terlalu berbahaya “ ucap Faustinus
Kolin sang nahkoda kapal.
Satu dua kapal nelayan
berbodi fiber yang kerap dipakai nelayan memancing ikan tongkol dan tuna
terlihat di kejauhan. Ada yang bertolak dari laut lepas memasuki selat namun
ada pula yang hendak mengarungi laut lepas. Kalau yang pergi ucap Petrus Krowin
salah seorang anak buah kapal, mereka hendak memancing usai mengambil umpan di
perahu bagan.
Gugusan
Atol
Ombak dengan ketinggian
sekitar semeter terlihat berayun mengombang – ambingkan kapal. Kapal tetap
bergoyang ke kiri dan kanan meski daratan terlihat jelas. Rumah pendudk dusun
Meko terlihat tak jauh dari bibir pantai. Hanya sedikit pohon kelapa yang ada
sebab kata Ansis Uba Ama, penduduknya hampir semua bermata pencaharian sebagai
nelayan.
“ Daerah ini
kemungkinan merupakan pulau karang atau atol sehingga gulungan ombak terlihat
memanjang “ sebut Faustinus saat ditanyai penulis mengenai deretan ombak
berbuih putih.
Kapal berlayar ke arah timur melewati pulau ( Nuha ) Watan
Peni dan menyisir masuk ke barat hingga mendekati pulau pasir putih Meko.
Kecepatan kapal diperlambat mencari tempat untuk membuang sauh. Saat ditanyai
penulis kenapa tidak langsung memotong masuk melewati sisi utara melewati pulau
Gambus dan harus memutar jauh, Faustinus sang nahkoda mengatakan, dirinya harus
mengambil jalur jalan memutar untuk menghindari karang dan gugusan atol guna mencegah
kapal karam.
“ Saya tidak mau
mengambil resiko sebab daerah ini jarang saya lewati apalagi kapal kami besar.
Jika berlayar dari arah utara waktu tempuhnya bisa lebih cepat dibandingkan
saat ini yang melewati jalur selatan pulau Adonara yang baru pertama saya alami
“ tuturnya.
Naik
Ketinting
Kapal motor diparkir
sekitar 100 meter dari pulau pasir putih Meko yang berada di selatan kapal.
Banyaknya rumput yang berada di sekitar pulau cantik ini menyebabkan sang
nahkoda takut jika baling – baling kapal mengenai rumput di lautan ini. Dari
kejauhan sebuah perahu motor kecil bermesin tempel yang kerap dinamakan
Ketinting oleh masyarakat lokal, bergerak menuju kapal yang kami
tumpangi.Rupanya sahabat Kamilus Tupen Jumad dan Bernard Nara Gere menyambangi
kami setelah sebelumnya di telepon.
Tak sabar mengungkapkan
kegembiraan, sahabat Jody Felik disusul Empy Lamanepa terjun ke laut dan
berenang menggapai pulau mungil cantik ini. Dari atas buritan kapal pasir putih
di dasar laut terlihat jelas bersama rumpun rumput hijau melambai yang hanya
berjarak beberapa meter di depan kapal. Sahabat Simon Lamakadu pun tak mau
kalah.Usai memakai perlengkapan snorkling dirinya langsung melompat dan
berenang pelan menikmati alam bawah laut sekitar pulau pasir putih Meko.
Satu persatu peserta menuruni kapal berpindah ke
Ketinting. Pengemudi Ketinting merapatkan perahunya di bagian kanan kapal dan
satu per satu peserta berjalan menyisir samping kapal. Kaki – kaki peserta
menginjak ban mobil yang digantung menggunakan tali di samping body kapal
sebelum benar – benar dirasa aman berpijak di Ketinting.
“ Tidak usah takut yang penting jangan goyang
badan saja biar perahu tidak oleng. Semua kamera dan handphone harap diamankan
biar tidak terkena air laut “ pesan
Bernard Nara Gere kepada peserta yang terlihat takut.
Kerap
Menginap
Tak butuh waktu lama,
semua peserta menjejakan kaki di pulau impian Meko. Semua berhamburan mencari
posisi buat bergaya saat dijepret kamera. Pasir putih Meko saat dipijak hanya
menyisahkan sekitar 100 meter saja sebab air laut sudah mulai pasang.Beberapa
bagian sudah tertutup air asin dan namun pasir putihnya masih nampak terlihat
jelas.Tak ada sebatang pohon pun tumbuh disini.
Air laut baru beranjak
naik beberapa meter saja sebab dasar pasir putih masih terlihat jelas. Arus
laut sekitar pulau pasir putih juga relatif kencang meski aman untuk berenang,
snorkling maupun diving.Hanya ada ikan – ikan kecil di sekitar rumpun rumput
yang tumbuh di laut jelas Simon Lamakadu usai snorkling saat ditanyai penulis.
“ Kalau mau dapat dan
menikmati seluruh pulau semuanya harus maksimal jam delapan pagi sudah ada di
sini “ pesan Kamilus kepada para peserta.
Meski demikian
bentangan pasir putih yang tersisa masih luas buat dicumbui. Pengamatan
penulis, panjang bentangan pasir putih di pulau Meko sekitar 300 meter dengan
lebar sekitar 100 meter.Jika air pasang beber Kamilus pulau Meko hanya tersisa
sekitar 20 meter saja.Terlihat gundukan pasir di area pulau yang tetap terlihat
lebih tinggi sekitar 50 sentimeter dari yang lainnya.
Keindahan pulau Meko
terkenal hingga mancanegara. Beberapa turis asing dengan kapal pesiar pribadi
sering merapat kesini bahkan bermalam di pulau ini dengan mendirikan tenda.
Bulan Juli dan Agustus menjadi waktu teramai pulau ini dikunjungi wisatawan
asing.Hari – hari biasa beber Kamilus, pulau ini hanya disinggahi satu dua
wisatawan asing saja.
“ Beberapa hari lalu
ada sepasang warga Polandia menginap disini selama tiga hari “ pungkas Kamilus.
( Bersambung )
Penulis : Ebed de
Rosary Email
: ebedallan@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar