Laman

Sabtu, 24 Oktober 2015

Meko Mempesona Diapit Nuha Watan Peni dan Gambus


Bagian Kedua dari Tiga Tulisan

Jarum jam menunjukan pukul sembilan lewat saat dari kejauhan terlihat sebuah daratan di tengah laut yang hanya diselimuti pasir putih.Kapal motor Purin Lewo tetap menyisir ke arah timur melintas di sisi ombak yang menggulung membentuk garis lurus sebelum pecah di bibir pantai dan mengahantam karang.

Beberapa pulau terlihat dari kejauhan mengapit gugusan pasir putih Meko. Gelombang pun semakin besar karena angin mulai bertiup kencang dan kapal mulai mendekati ujung timur pulau Adonara. Sejauh mata memandang hanya lautan lepas yang nampak.

“ Meski ombaknya tinggi namun jarak antar gelombang jauh sehingga tidak terlalu berbahaya “ ucap Faustinus Kolin sang nahkoda kapal.

Satu dua kapal nelayan berbodi fiber yang kerap dipakai nelayan memancing ikan tongkol dan tuna terlihat di kejauhan. Ada yang bertolak dari laut lepas memasuki selat namun ada pula yang hendak mengarungi laut lepas. Kalau yang pergi ucap Petrus Krowin salah seorang anak buah kapal, mereka hendak memancing usai mengambil umpan di perahu bagan.

Gugusan Atol

Ombak dengan ketinggian sekitar semeter terlihat berayun mengombang – ambingkan kapal. Kapal tetap bergoyang ke kiri dan kanan meski daratan terlihat jelas. Rumah pendudk dusun Meko terlihat tak jauh dari bibir pantai. Hanya sedikit pohon kelapa yang ada sebab kata Ansis Uba Ama, penduduknya hampir semua bermata pencaharian sebagai nelayan.

“ Daerah ini kemungkinan merupakan pulau karang atau atol sehingga gulungan ombak terlihat memanjang “ sebut Faustinus saat ditanyai penulis mengenai deretan ombak berbuih putih.

Kapal berlayar  ke arah timur melewati pulau ( Nuha ) Watan Peni dan menyisir masuk ke barat hingga mendekati pulau pasir putih Meko. Kecepatan kapal diperlambat mencari tempat untuk membuang sauh. Saat ditanyai penulis kenapa tidak langsung memotong masuk melewati sisi utara melewati pulau Gambus dan harus memutar jauh, Faustinus sang nahkoda mengatakan, dirinya harus mengambil jalur jalan memutar untuk menghindari karang dan gugusan atol guna mencegah kapal karam.

“ Saya tidak mau mengambil resiko sebab daerah ini jarang saya lewati apalagi kapal kami besar. Jika berlayar dari arah utara waktu tempuhnya bisa lebih cepat dibandingkan saat ini yang melewati jalur selatan pulau Adonara yang baru pertama saya alami “  tuturnya.

Naik Ketinting

Kapal motor diparkir sekitar 100 meter dari pulau pasir putih Meko yang berada di selatan kapal. Banyaknya rumput yang berada di sekitar pulau cantik ini menyebabkan sang nahkoda takut jika baling – baling kapal mengenai rumput di lautan ini. Dari kejauhan sebuah perahu motor kecil bermesin tempel yang kerap dinamakan Ketinting oleh masyarakat lokal, bergerak menuju kapal yang kami tumpangi.Rupanya sahabat Kamilus Tupen Jumad dan Bernard Nara Gere menyambangi kami setelah sebelumnya di telepon.

Tak sabar mengungkapkan kegembiraan, sahabat Jody Felik disusul Empy Lamanepa terjun ke laut dan berenang menggapai pulau mungil cantik ini. Dari atas buritan kapal pasir putih di dasar laut terlihat jelas bersama rumpun rumput hijau melambai yang hanya berjarak beberapa meter di depan kapal. Sahabat Simon Lamakadu pun tak mau kalah.Usai memakai perlengkapan snorkling dirinya langsung melompat dan berenang pelan menikmati alam bawah laut sekitar pulau pasir putih Meko.

Satu persatu peserta menuruni kapal berpindah ke Ketinting. Pengemudi Ketinting merapatkan perahunya di bagian kanan kapal dan satu per satu peserta berjalan menyisir samping kapal. Kaki – kaki peserta menginjak ban mobil yang digantung menggunakan tali di samping body kapal sebelum benar – benar dirasa aman berpijak di Ketinting.

“  Tidak usah takut yang penting jangan goyang badan saja biar perahu tidak oleng. Semua kamera dan handphone harap diamankan biar tidak terkena air laut  “ pesan Bernard Nara Gere kepada peserta yang terlihat takut.

Kerap Menginap

Tak butuh waktu lama, semua peserta menjejakan kaki di pulau impian Meko. Semua berhamburan mencari posisi buat bergaya saat dijepret kamera. Pasir putih Meko saat dipijak hanya menyisahkan sekitar 100 meter saja sebab air laut sudah mulai pasang.Beberapa bagian sudah tertutup air asin dan namun pasir putihnya masih nampak terlihat jelas.Tak ada sebatang pohon pun tumbuh disini.

Air laut baru beranjak naik beberapa meter saja sebab dasar pasir putih masih terlihat jelas. Arus laut sekitar pulau pasir putih juga relatif kencang meski aman untuk berenang, snorkling maupun diving.Hanya ada ikan – ikan kecil di sekitar rumpun rumput yang tumbuh di laut jelas Simon Lamakadu usai snorkling saat ditanyai penulis.

“ Kalau mau dapat dan menikmati seluruh pulau semuanya harus maksimal jam delapan pagi sudah ada di sini “ pesan Kamilus kepada para peserta.

Meski demikian bentangan pasir putih yang tersisa masih luas buat dicumbui. Pengamatan penulis, panjang bentangan pasir putih di pulau Meko sekitar 300 meter dengan lebar sekitar 100 meter.Jika air pasang beber Kamilus pulau Meko hanya tersisa sekitar 20 meter saja.Terlihat gundukan pasir di area pulau yang tetap terlihat lebih tinggi sekitar 50 sentimeter dari yang lainnya.

Keindahan pulau Meko terkenal hingga mancanegara. Beberapa turis asing dengan kapal pesiar pribadi sering merapat kesini bahkan bermalam di pulau ini dengan mendirikan tenda. Bulan Juli dan Agustus menjadi waktu teramai pulau ini dikunjungi wisatawan asing.Hari – hari biasa beber Kamilus, pulau ini hanya disinggahi satu dua wisatawan asing saja.

“ Beberapa hari lalu ada sepasang warga Polandia menginap disini selama tiga hari “ pungkas Kamilus. ( Bersambung )

Penulis : Ebed de Rosary                                Email : ebedallan@gmail.com



Tidak ada komentar:

Posting Komentar