Laman

Senin, 23 Juli 2012

Sejarah Perkebunan Kopi Belanda di Gayo

l
Takengon yang merupakan salah satu penghasil kopi terbaik dunia dan pengekspor kopi terbesar Indonesia ke luar negeri ternyata memiliki sejarah tersendiri. Tanah Gayo merupakan tempat yang cukup baik untuk perkebunan kopi dengan ketinggian 1.000 sampai 1300 meter dpl. Perkiraan insyinyur Belanda bahwa kopi terbaik berada pada ketinggian 1200 meter dpl. Empat tempat perkebunan Belanda di Tanah Gayo (Red: Takengon, Bener Meriah) adalah Belang Gele, Bius dan Bergendal, dan satu tempat lagi adalah perkebunan The yang terletak di Pondok Baru, Bener Meriah. Lokasi Kopi dengan Aroma terbaik saat ini adalah Belang Gele, Bius dan ketiga adalah Bergendal.

Awal dibukanya Perkebunan Belanda
Seperti yang diungkapkan oleh Pak Tomo dan Pak Jafar selaku mantan pekerja perkebunan, Belanda mendatangkan buruh perkebunan dari pulau Jawa pada tahun 1931 untuk dipekerjakan diperkebunan, untuk satu wilayah perkebunan para pekerja terdiri atas ratusan pekerja dan memiliki fungsi masing-masing, ada yang ditempatkan sebagai Mandor atau pengawas perkebunan ataupun sebagai pengawas pekerja.
Seperti halnya kebudayaan Suku Jawa, setiap awal gajian Belanda mengadakan acara hiburan seperti Ketoprak, wayang dll sebagai hiburan rakyat. Disamping para pendatang sebelumnya diwilayah perkebunan tersebut sudah ada suku pribumi (suku Gayo). Saat Belanda memperkenalkan Kopi ke Gayo barulah saat itu masyarakat Gayo mengenal adanya Kopi Gayo namun sulit dipasarkan karena perdagangan masih dikuasai Belanda.

Belanda memperkenalkan tanaman ke Gayo
Suku Gayo sebelum kedatangan Belanda waktu itu hanya bersawah dan bercocok tanam lainnya. Belanda yang memulai Investasinya memperkenalkan Kopi, Teh, alpukat, Pinus dan Terong agur. Saat itu alpukat merupakan makanan mewah khusus orang Belanda, jika terbukti menanam akan ditindak, namun alpukat ternyata disukai anjing sehingga biji alpukat tumbuh dimana-mana sehingga tidak bias dikontrol oleh Belanda lagi. Terong Agur yang sebagian orang menyebutnya merupakan makanan khas Gayo (Cecah). Pinus yang ditanam oleh Belanda dilakukan pembibitannya di Lampahan, Bener Meriah yang kemudian ditanam diseputaran Danau Laut Tawar dan sebagian Besar di Wilayah kecamatan Linge, Linge merupakan dataran tinggi diatas 1400 meter dpl, sehingga tidak cocok untuk kopi namun Pinus di Linge ternyata menghasilkan Getah Pinus terbaik di dunia.

Perkebunan Kopi Belang Gele
Belang Gele merupakan salah satu desa di Takengon yang berada 1,200 meter dpl dan 10 Km dari arah kota dan kecepatan angin yang tidak cukup tinggi dan sumber air yang banyak di sekelilingnya sehingga memungkinkan menghasilkan kopi dengan aroma tinggi. Pada tahun 1931 adalah awalnya masuknya para pekerja dari pulau Jawa dengan membuka kurang lebih 300 hektar di kampong Belang Gele, sebuah gunung diberi nama gunung Cilaka karena saat pembukaan lahan perkebunan terjebak kebakaran saat membuka lahan perkebunan tersebut.
Panen kopi dimulai setelah 1 tahun 8 bulan masa tanam dan menghasilkan ratusan ton kopi yang diekspor Belanda saat itu. Belum genap Belanda menuai panen kopinya, jepang datang ke Indonesia. Belanda yang saat itu berpokus pada Investasi Perkebunan dengan berat hati harus meninggalkan Tanah Gayo.

Perkebunan dialihkan ke Raja Ilang dan Perusahaan MD
Raja Ilang (Red:Raja Merah) adalah kerajaan Gayo yang sangat dekat dengan penguasa Belanda sebagai terusan tangan pemerintahan Belanda, saat itu Belanda menarik Pajak dari Raja Ilang yang dikutip dari rakyat. Pada Tahun 1933 Pemerintahan Belanda juga menyediakan sekolah-sekolah bagi keluarga-keluarga Belanda dan Keluarga kerajaan Raja-raja di Gayo dan masyarakat mampu. Walau saat itu hasil alam begitu melimpah, masyarakat Gayo tidak dapat menjual hasil perkebunan untuk mendapatkan uang sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang bias mengenyam pendidikan.
Dengan segala pertimbangan dan perhitungan, pada tahun 1964 Belanda menjual asset perkebunannya ke Perusahaan MD. MD adalah singkatan dari Muhammad Daud yang merupakan saudagar Kaya dari Pesisir Aceh. Sejak dikuasainya perkebunan oleh MD, saat ini para pekerja terdiri atas pekerja yang datang dari Aceh maupun pekerja Jawa sebelumnya. Dengan alasan ketidak cocokan para pekerja banyak yang mengundurkan diri dari perkebunan.

Pemberontakan
Setahun setelahnya pada tahun 1965, para pekerja menuntut status kepemilikan atas perkebunan. Para pekerja Jawa dan masyarakat pribumi mengklaim bahwa tanah tersebut adalah milik mereka. Perusahaan MD yang sangat dekat Raja Ilang saat itu menangkap puluhan pekerja Jawa dan masyarakat pribumi untuk diadili. Saat terjadi penangkapan oleh polisi tidak banyak yang mempu diperbuat oleh masyarakat dan pekerja. Namun saat bersamaan pekerja dan masyarakat membentuk Tim Khusus untuk perjuangan status kepemilikan tanah tersebut menuju Banda Aceh, namun tidak membuahkan hasil tim tersebut menuju Pusat. Saat itu belum terjadi G30SPKI, masyarakat yang dalam tahanan dilepaskan oleh jaminan ketua PKI Dolah Rohani dengan syarat masuk ke PKI. Saat itu PKI adalah singkatan dari Partai Ketoprak Isaq, dan buruh yang rata-rata orang Jawa langsung menerima tawaran tersebut.
Setelah terjadinya G30SPKI, polisi mencari daftar nama PKI (Partai Ketoprak Isaq) yang belakangan diketahui adalah Partai Komunis Indonesia. Para tahanan yang dilepas dengan jaminan saat itu menjadi buronan Polisi, namun saat dilepaskan mereka hanya masuk daftar PKI namun tidak dibubuhi tanda tangan sehingga menyelamatkan mereka dari penumpasan G30SPKI.

Akhir Perjuangan
Tim yang berjuang ke pusat adalah Pak Dipo, Mat Narju, Pak Mar, Syaid Usman, Gergaji, Agraria, Kasum. Tidak tanggung tanggung akhirnya perjuangan mereka membuahkan hasil dengan keluarnya Keputusan Menteri Pertanahan atas status tanah tersebut dikembalikan kepada masyarakat dan pekerja.
Kembalinya Tim tersebut diteruskan membagi tanah perkebunan dengan rincian 2 hektar untuk Tim 7 (tujuh orang) dan 65 x 100 untuk tiap anggota pekerja perkebunan dan masyarakat.

Sumber :  http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2012/06/15/sejarah-perkebunan-kopi-belanda-di-gayo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar