Laman

Sabtu, 28 Juli 2012

Peradaban Lamaholot di nusa Tenggara Timur dan Brahmanisme

 
Oleh Chris Boro Tokan 
Dosen Luar Biasa Pasacasarjana Ilmu Hukum UNdana


Adalah seorang Pastor Paul Arndt, SVD telah dengan tekun  mengkaji pengaruh Hinduisme  dalam Masyarakat Ngdha di Flores Tengah melalui karyanya     “Hinduismus der Ngadha”    terpublikasi   Folklore Studies, 17. 1958. Sedangkan  khusus Pengaruh Hinduisme dalam  Masyarakat Lamaholot  di  Kepulauan Solor dikaji    dalam karyanya Demon und Padzi, Die Feindlichen Bruder Des Solor-Archipels, terpublikasi Athropos, Band XXXlll, (1938), hal 1-58, diindonesiakan  Demon dan Paji, Dua Bersaudara yang Bermusuhan di  Kepulauan Solor, (2002).  Dalam kaitan keyakinan Suku Bangsa Lamaholot tentang  Rerawulan-Tanahekan , ditegaskan  bahwa  adanya hubungan  antara masyarakat Kepulauan Solor dengan Suku Munda di India. Suku Munda yang dikelilingi oleh orang-orang Hindu dari masa sebelum Budhisme, yakni  Brahmanisme, (hal 78).
“Semuanya itu telah cukup menunjukan, bahwa Hinduisme mempunyai pengaruh yang besar di Kepulauan Solor”, demikian Pater Paul Arndt, SVD   dalam kesimpulannya pada kalimat terakhir (hal. 83).    Ditegaskan  bahwa Doni adalah kebalikan dari Indo dan menunjukan adanya suatu hubungan dengan orang Hindu dalam masa yang kemudian. Kalau demikian orang Munda yang telah mengungsi ke Kepulauan Solor, mungkin masih ada di India dalam abad-abad pertama masa Budhisme. Pada saat ini  Shiwa dan Wisnu belum mempunyai perkembangan seperti yang kita temukan kemudian di Jawa (hal.92-93).
Dalam konteks Teori Atlantis Arysio Santos dan Teori Sundaland Oppenheimer, maka sesungguhnya yang benar tentu pengaruh Peradaban Lamaholot (Kepulauan Solor) yang besar  terhadap Hinduisme, bahkan sebelum Hinduisme yakni Brahmanisme di India. Begitupun masyarakat Ngadha di Flores Tengah sebagai wilayah Lamaholot Purba, tentu mempunyai pengaruh yang besar terhadap Hinduisme bahkan Brahmanisme di India.  Terjelaskan  melalui tiga siklus peradaban dunia yang hilang dikarenakan bencana alam yang sangat dasyat: siklus 1 pada 75 ribu tahun lalu mengakhiri Atlantis Lemuria, siklus 2 pada 11 ribu tahun lalu mengakhiri Atlantis Sang Putra, siklus 3 terjadi 3ribu tahun lalu mengakhiri Replika atlantis (bandingkan Arysio Santos, “ATLANTIS The Lost Continent Finally Found”, The Devinitive Localization of Plato’s Lost Civilization (2005), diIndonesiakan menambah subjudul: INDONESIA TERNYATA TEMPAT LAHIR PERADABAN DUNIA (2009) hal 96 s/d 160 dan  hal 574 s/d 592).
Pendapat Paul Arndt, SVD  tentang pengaruh Hinduisme di Ngadha maupun di Kepulauan Solor,  tentu hanya dapat di pahami dalam siklus peradaban 3 tentang mencairnya es di puncak pegunungan Himalaya. Siklus 3 sebagai bencana yang membuat orang dari India dan sekitarnya mengungsi,  antara lainnya ke Kepulauan Solor,  turunan kekinian menyebut diri Ata Sina Jawa Papan Haka. Namun sesungguhnya jauh sebelumnya ada bencana dasyat dalam Siklus Peradaban 2 dan 1, yang membuat orang-orang Lamaholot sebagai bagian wilayah Atlantis yang hilang,  ada yang mengungsi dan terdampar di india (bandingkan Arysio Santos hal 59-160).
Pengaruh mendasar Peradaban Lamaholot  Raga manusia, dalam sebutan bahasa Lamaholot “Kakon”, menjadi “Replika Rumah”, yakni  “Umalango Lamaholot,  menjelaskan sketsa Manusia Atlantis (manusia moderen),  juga sebagai Replika Atlantis. Dalam Tata Susunan Atlantis, sepasang Pilar Utama di Timur dan sepasang Pilar Utama di Barat, menjelaskan juga Poros Bumi Atlantis seperti kisah umat Hindu tentang Meru Kembar (Bandingkan Arysio Santos hal 248), menegaskan raga surga yang hilang.  Atlantis yang hilang, surga empiris, surga nyata, TANAHEKAN bagi Suku Bangsa Lamaholot.
Lahatala, Atala, Tala,  Atta, Ata, tla,  Atlas: Atlantis
Pater Paul Arndt, SVD menandaskan, bahwa Maha Dania di Munda pasti identik dengan Masan Doni di Kepulauan Solor, yang pada akhirnya adalah Wujud Tertinggi itu sendiri, Lera Wulan. Jika Masan Doni, yang adalah Lera Wulan, diturunkan derajatnya menjadi orang yang harus menjunjung bumi dan bernama Doni Dunia, maka jelaslah bahwa hal ini menandakan adanya pertemuan antara dua kebudayaan, dimana satu kebudayaan lebih kuat dari yang lain. Di Solor dan Adonara Lahatala Dunia adalah juga wujud tertinggi, sama dengan Lera Wulan (hal.79-80). Sampai kekinian di Lamaholot (Kepulauan Solor) pertemuan Lera Wulan (Langit) dengan Lahatala Dunia =Tanah Ekan (Bumi) disebut dengan Lerawulan-Tanahekan=Lewotanah.
Doni Dunia,  identik dengan  penelusuran Arysio Santos, bahwa sesungguhnya nama dewa ATLAS  Yunani itu tertelusuri asal muasal dari kata ATLANTIS.  Berasal dari  akar kata Yunani  “tla” yang berarti  “memikul”, didahului  oleh awalan negatif  “a” yang berarti  “tidak”. Jadi secara harafiah nama ATLAS berarti “seseorang yang tak kuasa memikul (beban langit)”. Inilah sebenarnya Atlas  (dan titan sombong lainnya) kerap digambarkan dengan kaki lemah berkeluk (seperti ular). Lebih jauh sebutan Atlas dari kata bahasa Yunani itu, sebenarnya berasal dari istilah Sansekerta  (Hindu) yang serupa, yaitu Atala. Dalam kepercayaan Hindu, Atala adalah Neraka, tempat di mana Surga tenggelam. Seperti dalam Bahasa Yunani , nama Atala tersusun dari awalan sansekerta “a” yang berarti  “tidak”, dan  “tala” yang berarti “pilar” (pilar langit), berarti tidak berpilar  (hal 129).
Pertemuan, persatuan Lera Wulan dengan Tanah Ekan, sehingga disebut Lerawula-Tanahekan=LEWOTANAH=SURGA bagi Suku Bangsa Lamaholot. Ungkapan magic-religius Suku Bangsa Lamaholot melukiskan pertemuan itu sebagai berikut: Rerawulan gikat teti lodo hau=Langit menghujam tajam dari atas datang dari barat,  Tanahekan tama lali gere haka=Bumi kokoh menadah dari bawah datang dari timur, Raan one tou, kirin ehan, puin raan’ro uin’na, gahan raan’ro kahan’na=Bersatu menjadi satu hati, satu kata untuk bertindak, dalam kesatuan, dan persatuan. Tempat pertemuan sesungguhnya  disebut Poros, Tengah, Antara Langit dengan Bumi (Bandingkan dengan Aryso Santos bahwa Timur Terjauh dengan Barat Terjauh itu tempat Matahari Terbit, senyatanya hanya SATU TEMPAT saja, hal.36). Di situ TAMAN EDEN sebagai FIRDAUS yang hilang, diyakini oleh Suku Bangsa Lamaholot dalam ritual magis-religius dengan LEWOTANAH.
Dalam ritual magis-religius,  kenyataan pertemuan antara Masan Doni=Maha Dania=Lerawulan=ALLAH dengan Doni Dunia=Atlas=Tanahekan=Manusia,  tersimbol melalui EKEN MATAN PITO oleh Suku Bangsa Lamaholot, simbol MENORAH tempat lilin bercabang tujuh oleh Suku Bangsa Yahudi (Arysio Santos, hal. 197). Terpahami dalam Atlantis Lemuria (Bumi=Tanah Ekan) sebagai yang membuahi (Peradaban Alam) melalui ROH (Langit=Rera Wulan), dan melahirkan Atlantis Sang Putra yang menjadi awal mula Kebudayaan Dunia (Taman Eden/Taman Firdaus).
Pertemuan Lerawulan-Tanahekan, bersatunya Bumi dengan Langit,  dipahami oleh orang Lamaholot,  juga sebagai pertemuan dan bersatunya sepasang manusia (Laki-laki dengan Perempuan) secara spirituil (rohaniah) maupun jasmaniah (biologis). Langit=Rerawulan=laki-laki dengan Bumi=Tanahekan=wanita/perempuan bersatu untuk membentuk/melahirkan keturunan (Manusia) demi membangun Dunia, Bumi, Tanahekan, sebagai tanda kemuliaan ALLAH. Bandingkan dengan  Arysio Santos, bahwa dalam mitos-mitos Hindu, letusan gunung berapi dan takdir yang menyertainya biasa dikiaskan sebagai pengebirian primodial, yang mengubah palus (lingga/penis) kosmis menjadi yoni (vulva/vagina) kosmik. Yoni bumi sama dengan  Khasma Mega yang dikatakan Hesiod dan Vadavamukha dalam tradisi-tradisi Hindu (hal. 128-129).
Mitos Brahma, leluhur bangsa-bangsa Nusantara
Di dalam Mitologi Jawa diceritakan bahwa salah satu leluhur Bangsa Sunda (Jawa) adalah Batara Brahma atau Sri Maharaja Sunda, yang bermukim di Gunung Mahera. Selain itu, nama Batara Brahma, juga terdapat di dalam Silsilah Babad Tanah Jawi. Di dalam Silsilah itu, bermula dari Nabi Adam yang berputera Nabi Syits, kemudian Nabi Syits menurunkan Sang Hyang Nur Cahya, yang menurunkan Sang Hyang Nur Rasa. Sang Hyang Nur Rasa kemudian menurunkan Sang Hyang Wenang, yang menurunkan Sang Hyang Tunggal. Berikut Sang Hyang Tunggal menurunkan Batara Guru, yang menurunkan Batara Brahma.
Kitab ‘al-Kamil fi al-Tarikh‘ tulisan Ibnu Athir, menyatakan bahwa Bani Jawi (di dalamnya termasuk semua suku Bangsa yang ada di Nusantara ), adalah keturunan Nabi Ibrahim. Suku Bangsa Melayu Deutro, oleh para sejarawan modern menyebutnya untuk mengindentifikasikan Bani Jawi.   Telusuran  Ibnu  Athir, diperkuat  teori ahli genetika dan struktur DNA manusia, dari  Oxford University, Inggris, Stephen Oppenheimer. Terbuktikan bahwa, di dalam darah DNA Melayu, terdapat 27% Variant Mediterranaen (merupakan DNA bangsa-bangsa EURO-Semitik). Variant Mediterranaen sendiri terdapat juga di dalam DNA keturunan Nabi Ibrahim yang lain, seperti pada bangsa Arab dan Bani Israil.
Stephen Oppenheimer menandaskan kembali  dalam diskusi bedah bukunya berjudul  “Eden in The East”(1998) diIndonesiakan “Taman Eden di Timur” (2010),   di gedung LIPI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat,  28 Oktober 2010.  Mengungkapkan bahwa peradaban yang ada sesungguhnya berasal dari Timur, khususnya Asia Tenggara. Sejarah selama ini mencatat bahwa induk peradaban manusia modern itu berasal dari Mesir, Mediterania dan Mesopotamia. Tetapi, menurut dia, nenek moyang dari induk peradaban manusia modern berasal dari tanah Melayu yang sering disebut dengan Sundaland atau Indonesia.
Penelusuran mendalam oleh Ibnu Athir, diperoleh fakta, bahwa Brahma yang terdapat di dalam Mitologi Jawa indentik dengan Nabi Ibrahim. Mitos Brahma sebagai leluhur bangsa-bangsa di Nusantara, boleh jadi merupakan peristiwa sejarah, yakni mengenai kedatangan Nabi Ibrahim untuk berdakwah. Terpahami bahwa, Nabi Ibrahim berasal dari bangsa ‘Ibriyah, kata ‘Ibriyah berasal dari ‘ain, ba, ra atau ‘abara yang berarti menyeberang. Nama Ibra-him (alif ba ra-ha ya mim), merupakan asal dari nama Brahma (ba ra-ha mim).
Beberapa fakta  menunjukkan bahwa Brahma yang dikisahkan di dalam Mitologi Jawa adalah Nabi Ibrahim. Tertelusuri bahwa Nabi Ibrahim memiliki isteri bernama Sara, sementara Brahma pasangannya bernama Saraswati. Nabi Ibrahim hampir mengorbankan anak sulungnya yang bernama Iskak atau Ismail, sementara Brahma terhadap anak sulungnya yang bernama Atharva.  Dewa Brahma adalah perlambang Monotheisme, yaitu keyakinan kepada Tuhan Yang Esa (Brahman), sementara Nabi Ibrahim adalah Rasul yang mengajarkan ke-ESA-an dari ALLAH. Bangsa Melayu Deutro (Malai Muda), yang saat ini mendiami kepulauan Nusantara, juga mendapat sebutan Bani Jawi. Bani Jawi yang berasal dari kata Bani (Kaum/Kelompok) JiWi (Ji = satu ; Wi = Widhi atau Tuhan).
Suku Jawa dari dulu hingga kekinian  adalah suku bangsa terbesar dari Bani Jawi. Penganut monotheisme, seperti keyakinan terhadap Sang Hyang Widhi atau Sangkan Paraning Dumadi.  Keyakinan monotheisme ditemukan pula dalam masyarakat Sunda Kuno, yakni Keyakinan Sunda Wiwitan. Mereka meyakini adanya ‘Allah Yang Maha Kuasa‘, yang dilambangkan dalam ungkapan ‘Nu Ngersakeun‘ atau disebut juga ‘Sang Hyang Keresa‘.
Ata Jawa Muhan sebutan purba Ata Lamaholot: asal Brahma
Petu Sareng Orin Bao alias Pater Piet Petu, SVD (almarhum) dalam bukunya: “NUSA NIPA WARISAN PURBA” (1969), menyebutkan Jawa Muhan ialah ungkapan Kowe Sika yang sama artinya dengan Lamaholot, Larantuka…Unsur Jawa Muhan ialah unsur jawa yang semula bercokol di nusa Solor yang kemudian dialihkan ke bagian timur Nusa Nipa, yakni bagian daratan Larantuka. Suku Kowe mengungkap nama purba Larantuka sebagai Lewonama yang dipadukan dengan unsur  Jawa Majapahit menjadi Lewonamang Jawa (hal.12).
Walaupun senantiasa disadari oleh orang Sika khususnya dan orang Flores pada umumnya, bahwa penamaan atau sebutan purba pulau Flores itu sendiri sesungguhnya adalah NUSA SOLOT, seperti yang ditandaskan oleh Pater Piet Petu, SVD   bahwa: ”…Sebagaimana diutarakan tahun 1287 penanggalan Caka mengachirkan masa prasedjarah Nusa Nipa oleh pemberitaan nama purbanja Solot. Sedjak itu Nusa Nipa menjadi  Nusa bersedjarah, dikenal dengan nama Solor atau Solot. Tetapi terhentinja zaman prasedjarah itu tidak mutlak dalam arti bahwa Nusa Nipa dikenal merata dalam naskah-naskah tertulis” (hal. 221),  (catatan penulis: terkutip tetap menggunakan ejaan lama).
Penelusuran pater Paul Arndt, SVD, bahwa Horo (koro) dalam bahasa Munda (India) berarti Manusia. Dalam beberapa dialek bahasa Solor r kerap berubah dengan l, dan b bertukar dengan w. Di Solor holo berarti manusia; di Lio (Ende) holo atau kolo berarti kepala dan dipakai juga sebagai kata klasifikasi untuk manusia. Maka pulau Lama Holo, Solor tidak lain berarti negeri manusia (hal.70-71).
Posisi Kepulauan Solor di NTT, beserta pulau-pulau lain di NTB, Maluku, Sulawesi tertelusuri melalui Garis Wallace-Weber, tentang  keberadaan Indonesia Purba. Terbagi dalam Tiga Dataran: 1. Dataran Sahul (Bagian Timur), yang meliputi Pulau Irian dan Kepulauan Aru, plus Australia; 2. Dataran Sunda (Bagian Barat), yang meliputi Jawa, Kalimantan, Bali, Sumatra,  Malaka, India, Cina : 3.  Dataran Bagian Tengah meliputi NTT,  NTB, Maluku. Sulawesi (Bandingkan dengan Peta  buatan Dr. Harold K. Voris, Kurator dan Kepala Departemen  Zoologi pada Field Museum, Chicago, Illinois, termuat dalam Arysio Santos hal. 104 dan 150).  Karakter dari Pulau-pulau Bagian Tengah Indonesia (NTB, NTT, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi) sebagai wilayah Tengah (Poros), Antara atau Pembagi ke Dataran Sahul (Timur) dengan  Dataran Sunda (Barat).
Dalam penelusuran Ibnu Athir, bahwa Nabi Ibrahim berasal dari bangsa ‘Ibriyah, kata ‘Ibriyah berasal dari ‘ain, ba, ra atau ‘abara yang berarti menyeberang. Nama Ibra-him (alif ba ra-ha ya mim), merupakan asal dari nama Brahma (ba ra-ha mim). Maka sesungguhnya Brahma itu adalah Nabi Ibrahim yang berasal atau datang dari seberang atau dari Pulau di Seberang. Dengan demikian bertolak dari Garis Wallace-Weber  mengindikasikan Brahma (Nabi Ibrahim) dengan berbagai ajarannya, Brahmanisme sesungguhnya berasal dari Pulau Seberang, yakni dapat dipastikan dari  Kepulauan Solor Purba, Kepulauan Solar/Matahari (Nusa Tenggara-Maluku) atau Pulau Lama Holot Purba, sample  wilayah Lamaholot kekinian (Pulau Adonara, Pulau Solor, Pulau Lembata) yang dalam penelusuran Pater Paul Arndt, SVD sebagai Pulau Manusia.***
 Dataran Oepoi, Kota Karang Kupang, Tanah Timor, 9 Maret 2011.

Dimuat di : http://sosbud.kompasiana.com/2012/07/27/peradaban-lamaholot-di-nusa-tenggara-timur-dan-brahmanisme/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar