
Penonton yang
tadinya duduk di dalam keteduhan tenda, sontak berduyun-duyun maju ke arah
panggung, tepat di belakang danau. Sengatan terik matahari tak menghalangi
penasaran mereka.
Panasnya memang tak
kenal ampun. Orang-orang bilang, Papua punya sembilan matahari. Bahkan, siang
itu, Selasa (19/6/2012), matahari seakan ada sepuluh.
Hari itu, langit
begitu biru tanpa awan putih mengganggu. Terpaan sinar matahari ke permukaan
danau begitu menyilaukan. Ada beberapa pawang hujan dikerahkan khusus untuk
hari itu.
Ya, ini adalah
momen yang telah ditunggu-tunggu. Pembukaan Festival Danau Sentani V. Sebuah
festival yang diselenggarakan secara tahunan sejak 2008.
Festival Danau
Sentani (FDS) merupakan festival budaya berbasis kemasyarakatan yang
menampilkan keragaman adat, kesenian, kerajinan, sampai kuliner masyarakat Papua,
terutama penduduk asli Danau Sentani. Festival ini selalu berlangsung di
tanggal 19 Juni selama hampir sepekan.
Namun, berbeda
dengan tahun-tahun sebelumnya, sebuah tarian perang menjadi adegan klimaks
pembukaan festival tersebut. Dermaga kayu di Pantai Khalkote, tepi Danau
Sentani, menjadi pusat perhatian mereka. Elu-elu perang membahana, busur panah
dibusungkan, hentakan kaki memberi semangat.
Ratusan pria tampak
mengenakan bawahan dari jerami atau disebut khombou. Mereka bersiap untuk
bertempur. Sementara para kekasihnya menanti dengan setia berita kemenangan
para pria-pria itu.
Tari
Felabhe
Danau Sentani
merupakan danau terluas kedua di Indonesia dengan beberapa pulau dan kampung
yang menghuni pulau-pulau tersebut. Terdapat 24 kampung yang hidup harmonis
dengan Danau Sentani. Namun, dahulu, para kampung ini tak selamanya harmonis.
Ada perang antara kampung.
Tentu, itu hanya
terjadi di masa lalu. Saat ini, gambaran sejarah perang antarkampung tersebut
tergambar pada tari perang bernama Felabhe. Tarian ini menjadi puncak acara
pembukaan FDS V.
Seorang pemimpin
perang dengan tombak panjang meneriakan kidung-kidung pembangkit semangat.
Dengan gerakan menari layaknya sedang kesurupan, ia seakan memanggil pasukan
untuk maju berperang. Tak lama, munculah perahu-perahu berisikan para penari
perang.
Berhias kepala dari
bulu burung, bertelanjang dada, bawahan dari jerami, sementara busur dan anak
panah telah siap di tangan. Serentak mereka turun dari perahu, kemudian mulai
memenuhi area depan panggung.
Ratusan pria dengan
gerakan serupa menari sambil mengarahkan anak panah. Rasanya, mereka ingin
memanah para penonton. Seketika, muncul perasaan ngeri.
Namun, sekejap
perasaan itu berubah menjadi rasa takjub yang menyihir. Badan pun mulai ikut
bergerak, seirama dengan elu-elu yang mereka kumandangkan. Kaki pun ikut
menghentak, mengikuti gerakan kaki para penari.
Beberapa turis
asing terlihat tak segan ikut masuk ke tengah-tengah penari. Ya, mereka ikut
menari. Dan, dengan berbaik hati, para penari meminjamkan busur dan anak-anak
panahnya agar para turis bisa berlagak seperti mereka. Seru!
"Yo'i, seru! Ini ada 500
penari dari 24 kampung," tutur Kepala Dinas Pariwisata Jayapura, Yotam
Fonataba.
Yotam bilang, ini
kali pertama Tari Felabhe ditampilkan di Festival Danau Sentani. Rencananya,
tahun depan, tari perang ini pun akan kembali dipertontonkan. Bahkan, menurut
Bupati Jayapura, Jansen Monim, Tari Felabhe tak ubahnya seperti Tari Kecak
(Tari Cak) khas Bali. Kesamaannya, apalagi kalau bukan banyaknya penari yang
"naik panggung.
Keduanya juga
merupakan tarian dinamis, yang mampu membangkitkan semangat dengan hanya
mengandalkan bunyi dari mulut tanpa tambahan instrumen. Jika Anda melewatkan
Tari Felabhe tahun ini, maka tunggu tanggal mainnya kembali di Festival Danau
Sentani VI.
Rencananya, kali
keenam festival tersebut akan berlangsung di tanggal 19 Juni 2013. Agar
mendapatkan momen-momen terbaik menonton tarian ini, Anda harus mengambil
tempat terlebih dahulu di belakang panggung, tepat ke arah tengah danau.
Anda juga bisa
masuk ke area dermaga untuk mendapatkan pemandangan para penari yang
berdatangan dari pulau-pulau sekitar danau menggunakan perahu. Setelah itu,
ambil tempat di area bangku penonton. Cari yang agak ke depan. Saat mereka
mulai menari di depan penonton, bergabunglah dalam keriaan mereka, para penari
itu.
Satu lagi. Jangan
lupa minta teman untuk memotret aksi Anda menari Felabhe.
Kelar itu, para
penari akan kembali ke danau dan naik perahu. Maka, segeralah Anda ikut ke arah
danau. Para perempuan dengan hiasan perahu warna-warni telah menanti. Mereka
menunggu kekasih-kekasih mereka yang telah "bertempur" untuk Sentani.
Menuju
Danau Sentani
Anda bisa naik
pesawat menuju Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar, Sulawesi Selatan, jika
kedatangan Anda dari belahan Indonesia bagian barat. Dari Makassar, perjalanan
bisa dilanjutkan menuju Bandara Sentani yang terletak di Kabupaten Jayapura,
Provinsi Papua.
Beberapa maskapai
harus melakukan transit terlebih dahulu di Bandara Frans Kaiseipo, Kota Biak,
Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua. Waktu tempuh antara Makassar ke Biak
sekitar 3 jam. Sementara dari Biak menuju Bandara Sentani sekitar satu jam.
Maskapai yang
melayani rute Makassar (Bandara Sultan Hasanuddin) - Jayapura (Bandara Sentani)
adalah Batavia Air, Garuda Indonesia, Lion Air, Merpati, Sriwijaya Air.
Penerbangan rute tersebut tersedia setiap hari.
Harga tiket
tergantung bulan musim liburan. Namun, biasanya harga tiket ada di kisaran
mulai Rp 1.000.000. Bahkan, harganya bisa lebih murah untuk bulan-bulan sepi
kunjungan.
Jarak dari Bandara
Sentani menuju Danau Sentani sangat dekat. Anda hanya akan menempuhnya sekitar
10 menit dengan mobil. Anda bisa naik taksi yang terdapat di bandara ataupun
menumpang ojek.
Sumber : Kompas.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar