Sebuah pohon bakau besar tunggal di Kawaliwu
Entah kenapa
kalau ke Larantuka pasti cari kesempatan mampir ke Kawaliwu. Ada apa sih
dengan Kawaliwu, paling cuma lihat matahari terbenam yang kadang
kelihatan kadang hilang, atau paling juga nyemplungin kaki di cekungan
tempat menampung air panas yang mengalir di sela-sela batu di pinggir
laut. Atau bertingkah seperti remaja yang lagi galau duduk diam melihat
ke laut sampai gelap.
Iya, memang iya
cuma ada hal-hal seperti itu di Kawaliwu. Ada yang lain? Hmmmmm, ada
tapi mungkin tidak penting. Tidak penting kan cerita salah ambil jalan
sampai harus menerobos alang-alang tinggi sampai kaki gatal-gatal. Juga
tidak penting kan aku cerita lagi duduk enak-enak tiba-tiba ada bangkai
anak babi mengambang di pinggiran dengan perut kembung (kapan babi
pernah kurus perutnya). Lebih tidak penting lagi kan menceritakan aku
dan Kadek tiduran di batuan hanya untuk memotret jajaran kelapa yang
tumbuh tinggi-tinggi di sepanjang garis pantai.

Mencari Ikan dan kerang di Laut Saat Air Laut surut
Tapi meski cuma
ada semua itu di Kawaliwu tetep rasanya tidak pernah bosan kembali ke
sana. Apalagi dengan teman yang baru ke sini, pasti acara memperkenalkan
Kawaliwu menjadi hal pertama yang aku lakukan sesampai di Larantuka.
Lama-lama ini lebih seperti prosesi pembaptisan buat yang pertama ke
Larantuka: mengunjungi Kawaliwu.
Tentu saja
kesana untuk semua hal itu, tidak sama persis tapi ya tetap hal-hal itu
semua (kita tidak selalu harus membuat berbeda suatu hal hanya karena
tidak ingin sama).
Acara pertama
tentu saja acara mengejar matahari terbenam, apalagi kalau langit lagi
banyak awan dan berharap bisa melihat cahaya yang keluar di balik awan.
Tak selalu harapan itu terjadi, atau malah lebih sering gagal (kadang
itu tidak penting). Seperti hari itu, matahari justru telah hilang
sebelum sampai ke batas horison di telan awan tebal yang tak tampak dari
pantai. Hanya menyisakan warna merah kuning selapis, yang terus
menggelap. Kadang kamera harus menyerah dan membiarkan mata yang menjadi
penikmat sesungguhnya. Dan batu-batu hitam yang bertumpuk menjorong ke
laut tetap menjadi tempat yang menarik untuk menghabiskan hari menikmati
malam yang menggeser senja.

Bebatuan tempat nongkrong
Yang kedua
tentu saja kegiatan merendam kaki di cerukan-cerukan air panas di
beberapa tempat. Cerukan-cerukan ini hasil karya para penduduk asli yang
digunakan untuk mandi baik menggunakan kayu atau tangan. Setelah sebuah
cekungan selesai dibuat biasanya mereka menguras dulu beberapa kali
untuk membuat air di cerukan yang mereka buat menjadi bersih. Waktu aku
membuatnya ternyata menguras air pertama ini memang harus dilakukan
untuk membuang lapisan tanah halus yang membuat air cepat kotor sehingga
di cerukan tinggal batu dan pasir hitam kasar. Suhu tiap cerukan
bervariatif, kali ini aku dan Arief 'mbah' agak kurang ajar. Setiap
ketemu cerukan pasti ada kerjaan merendam kaki disitu entah berapa
cerukan yang menjadi korban kaki kami, untungnya tidak ada yang korengan
kakinya hehehehe.

Menikmati Bintang Dari Pantai
Kali kedua aku
kesini aku mendapatkan matahari bersinar terang, warna kuning dan bulat
tampak sampai di batas cakrawala. Arief agak keranjingan merendam kaki,
penyakit kalau mau spa gratis seperti itu.
Sebenarnya
ingin kembali menikmati matahari tenggelam di bebatuan seperti biasa
tapi di bagian atas terdengar suara yang ramai sekali. Ada rombongan
muda-mudi yang sedang berliburan. Kami bukan terganggu dengan jumlah
mereka tapi suara-suara yang terdengar ribut sekali macam orang yang
bertengkar. Padahal salah satu kesukaan kami dari Kawaliwu adalah
suasana yang terasa begitu tenang, bukan suara lagu yang terdengar keras
dari salah satu peralatan elektronik anak-anak muda itu. Aku pikir
mereka salah tempat menuju kesini, ada baiknya mereka duduk di cafe yang
hingar bingar.

Tempat Menikmati Senja yang Paling Menenangkan
Untung mereka
segera pulang tak lama setelah kami duduk-duduk di tepi laut. Suasana
kembali tenang, Kawaliwu kembali menjadi begitu nyaman, suara perahu
menyibak air laut memotong bayangan matahari begitu berpadu dengan
kecipak dayung perahu kecil yang mengoyak air laut yang tenang. Suara
tokek dan burung-burung seperti harmoni yang tak boleh dilewatkan.Mungkin ini
sebenarnya hal yang tak pernah membosankan, Kawaliwu sungguh menawarkan
ketenangan dan harmoni yang sungguh melenakan. Sehingga seperti apapun
kondisi matahari yang terlihat, melihat gradai-gradasi warna langit
senja dan harmoni segala sesuatunya seperti memanggil untuk kembali
menikmatinya, setiap kali aku kesini.

Boat Room untuk Menikmati Matahari Pagi
Oh iya, ada
satu tempat yang ingin aku bagi siapa tahu ada salah satu kalian kesini
dan tertarik menginap kesini. Namanya hotel Asa, tempat aku menginap
pertama kalinya karena biasanya aku tidak menginap di sini. Tapi ini
bukan tentang hotel itu tapi salah satu kamar hotel yang unik, namanya
Boat Room. Satu-satunya kamar yang unik dan paling murah, harga terakhir
adalah 325.000/malam. Boat room ini adalah kamar yang dibangun dari
bekas perahu/kapal kecil yang sudah tidak dipakai. Boat room ini
otomatis adanya di tepi pantai, jadi jalan masuknya ke perahu melewati
blok-blok semen di sepanjang pasir pantai. Anda akan menikmati kamar
dengan suara ombak yang terdengar berdebur sepanjang malam, dan kerennya
lagi anda akan bisa menikmati matahari terbit sambil menikmati
secangkir kopi panas di ujung kapal karena kapal ini menghadap ke arah
timur.
Sumber Foto dan Tulisan : Baktiar Sontani/awalnya.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar