![]() |
| Jalan setapak menanjak dan berlumut menuju ke kampung Bodo Ede |
Ama Soli dan Kampung Bodo Ede
Mulut dan gigi
penuh warna merah adalah hal jamak di sini, karena sirih dan pinang
sudah menjadi kebiasaan dan bagian tradisi seperti halnya parang, kerbau
dan kuda. Jadi kadang melihat seseorang seperti Ama Soli menjadi
pertanyaan tersendiri.
Batu kubur menjadi pemandangan umum di perkampungan
Kaget juga
waktu menengok jam tangan saat hendak pamit balik ke hotel, ternyata
sudah jam setengah sembilan berarti sudah dua jam aku duduk disini.
Ternyata ngobrol-ngobrol dengan Ama Soli, salah satu warga kampung Bodho
Ede ini dan menikmati suasana pagi di kampung yang nyaman ini tidak
terasa waktu berlalu. Tidak enak hati juga karena tentu saja mengobrol
selama itu bisa mengganggu aktifitas Ama Soli sendiri. Untungnya karena
ini hari Minggu sehingga tidak banyak kegiatan yang dilakukan, istrinya
sudah terlebih dahulu ke pasar semntara dia sendiri mau menyusul siang
nanti.
Berjalan
sekitar 200 meteran dari lapangan Waikabubak, nanti akan menemui sebuah
gerbang batu di pinggir jalan. Memasuki area jalan kecil ini di samping
kanan kiri adalah kubur batu, beberapa ukurannya sangat besar.
Kubur-kubur batu yang besar-besar ini bukanlah dari semen tapi dari batu
besar yang di potong langsung. Menurut penuturan Ama Soli, untuk
memasang penutup batu terbesar itu bahkan butuh ribuan orang yang
ditarik dengan tali dari pilinan akar kayu tertentu. Satu batu kubur dapat digunakan berulang-ulang dalam satu keluarga sedarah.
Di ujung jalan
tampak undakan tangga semen selebar jalan orang menanjak ke atas di apit
pohon-pohon besar seperti beringin dan beberapa pohon lain. Undakan
tangga ini di beberapa sudut telah ditumbuhi lumut-lumut hijau karena
kota Waikabubak memang udaranya sejuk karena terletak di ketinggian
sekitar 500 meter dpl.
Sesampai di
ujung undakan tangga paling atas maka akan tampak rumah-rumah adat yang
masih kental tradisional dengan bentuk khas, bagian tengah yang tinggi.
Seluruh rumah di kampung ini masih menggunakan atap ilalang.
![]() |
| Jalan menuju ke kampung Weetabar dan Tarung dipenuhi pohon besar |
Keramahan Pak SGR di Kampung Weeliang
Pak SGR sedang
asyik duduk di beranda dapur saat kami datangi. Pria baya berperawakan
sedang ini sedang asyik ngobrol dengan keluarganya waktu kami datang.
Dapur yang menjadi tempatnya duduk justru yang menarik perhatian kami
karena di antara dua pintu itu dipajang banyak tengkorak dan tanduk
kerbau dengan ukuran yang panjang-panjang yang disusun berjajar dari
bawah ke atas, sementara rahang babi di taruh di berjajar di bagian
atas. Beberapa tanduk bahkan panjangnya melebihi satu meter.
Salah satu tanduk paling panjang menurut penuturan pak SGR jika dijual mencapai harga ratusan juta rupiah. Kerbau tanduk terpanjang itu baru dipotong beberapa bulan lalu pada saat meninggalnya ibunya. Kerbau itu dipelihara sendiri oleh keluarga pak SGR dan umurnya waktu dipotong adalah 26 tahun. Mereka memotongnya sendiri dengan alasan kalau untuk diserahkan ke orang lain dalam acara perkawinan atau yang antaran yang lain nanti bisa memberatkan orang lain.
Selain banyak bercerita tentang adat istiadat Sumba dan permasalahan-permasalahan yang dihadapi, pak SGR juga mengajak kami melihat kampung Weeliang.
Memang kampung Weeliang ini kurang terlalu kental suasananya karena sebagian rumah sudah dipugar seperti halnya rumah pak SGR sendiri yang menjadi bangunan tembok berlantai keramik. Hanya ciri rumah Sumba yang masih dipertahankan yaitu bagian tengah meruncing ke atas, namun atapnya pun sudah berganti atap seng bukan jerami.
Dibagian tengah kampung Weeliang masih terdapat kubur batu yang ukurannya besar dari batu putih asli. Namun di samping kirinya telah ada sebuah antena parabola. Walau sebagian sudah berubah, masih ada juga rumah-rumah yang berdiri masih mempertahankan bangunan lama. Suasana agak ramai karena beberapa anak sedang asyik bermain
Pak SGR menyarankan kami mengunjungi kampung Weetabar dan Tarung yang letaknya bersebelahan jika ingin melihat suasana perkampungan yang masih kental adat Sumbanya. Pak SGR menunjukkan perbukitan dibelakang pasar yang dari kampung Weeliang tampak hanya pohon-pohon besar saja.
Kampung Tua: Weetabar dan Tarung
Kampung Weetabar dan Tarung merupakan kampung induk dari kampung-kampung lain masyarakat Loli. Pada bulan-bulan Oktober-November selama sebulan penuh masyarakat Loli melakukan acara Buru dimana masayarakat tidak boleh pergi ke sawah, jika ada orang meninggal tidak boleh ditangisi dan dipukul gong (salah satu bagian upacara pemberitahuan orang mati), serta tidak boleh ada acara-acara. Lelaki biasanya berburu dan mempersembahkan sebagian hasil buruan ke kampung induk di sini.
Jalan menanjak di kampung Weetabar benar-benar rindang, jika pagi atau sore kabut kadang datang. Bagi yang tidak terbiasa suasana seperti ini mungkin akan merasa seram jika berjalan sendiri di malam hari. Setelah melewati tikungan, tampak undakan-undakan tangga dari semen yang sudah berlumut. Diujung undakan adalah perkampungan Weetabar.
Kubur batu di tengah lapangan dikelilingi perkampungan
Deretan rumah yang berbentuk khas Sumba saling berhadapan menghadap lapangan yang dipenuhi dengan batu-batu kubur berbagai ukuran. Selain beberapa batu kubur juga biasanya ada beberapa tiang-tiang batu berbentuk tabung empat buah sebagai penyangga dan bagian atasnya dipasang lempengan batu kotak. Menurut pak Lesu Djaga, batu itu bukan kubur hanya dipakai untuk semacam meja atau menaruh daging kerbau atau babi yang dipotong pada perayaan.
Kami sempat mampir di rumah orang tua pak Djaga yang disambut oleh ibunya, seorang wanita yang sudah tua namun masih tergambar kecantikan waktu mudanya. Ngobrol-ngobrol seputar adat di sini, aku tertarik menanyakan satu tanduk terbesar dan terpanjang yang terpasang di dinding rumah. Pak Djaga bercerita bahwa tanduk kerbau terpanjang itu dipotong waktu acara meninggal ayahnya, dia juga mengatakan kematian ayahnya akhirnya juga membuatnya tidak meneruskan pendidikannya di bidang hukum di Kupang karena sepeninggal ayahnya mamanya tidak ingin ditinggal. Sewaktu bercerita ini, aku melihat mata mama berkaca-kaca sepertinya kenangan tentang almarhum suaminya bermain di pelupuk matanya.
Aku dan Andri mencoba berjalan terus menelusuri perkampungan sampai ke kampung Tarung. Suasana menjadi ramai saat kami menemui seorang mama yang sedang asyik membuat keranjang tempat menyimpan barang dari daun pandan hutan yang langsung di sambut dengan beberapa mama-mama yang menawarkan barang jualan seperti kain tenun, kalung dan gelang tangan serta keranjang kotak penyimpan.
Bahkan untuk merayu kami agar mau membeli barang dagangannya, mama Bobo mau menari, tak pelak acara pagi itu menjadi acara tertawa. Tak kalah lucunya melihat mama Bobo tertawa terpingkal-pingkal sendiri setelah dia menari dan bernyanyi.
Kami sempat mampir ke rumah mama Bobo sekedar membeli oleh-oleh tangan. Suasana hari itu mencairkan seluruh cerita-cerita yang berkembang tentang masyarakat Loli. Walau kadang wajah-wajah keras dan mata yang tajam menyurutkan langkah kami, tapi ternyata setiap senyum kami selalu berbalas senyum yang lebih lebar. Mereka tak segan berbagi cerita penuh kehangatan, apalagi para mama-mama itu yang sepertinya tak ada hari yang perlu dipikirkan selain ceria dengan hari tua.
Menjadi pejalan tidak berarti menjadi orang asing di tengah tempat menakjubkan, ternyata senyum dan sapa mudah bertemu dan menhilangkan sekat saat seorang pejalan tidak membuat sekat-sekat itu.
Sumber : awalnya.blogspot.com/ Baktiar Sontani




Tidak ada komentar:
Posting Komentar