Laman

Kamis, 28 Juni 2012

Sekak, Orang Laut dari Bangka Belitung

Oleh: Kris Razianto Mada


Kompas/Kris Razianto Mada
Rumah-rumah panggung di Pulau Pongok, Bangka Selatan. Rumah seperti itu dipakai sebagai tempat tinggal orang Sekak. Suku Sekak adalah sub suku Orang Laut yang tersebar di Bangka Belitung. Orang Laut tersebar di Kepulauan Riau hingga Kepulauan Bangka Belitung.

     Di antara pantai berlumpur di Kepulauan Bangka Belitung, hidup keluarga orang Sekak. Selama ratusan tahun, suku itu hidup dari hasil laut. Mereka mengambil secukupnya, sekadar untuk makan sehari-hari.  

    Sumardi (30), keturunan suku Sekak, menuturkan, hidup orang Sekak sepenuhnya dari laut. Di masa lalu, mereka adalah pemandu kapal-kapal yang akan melewati Bangka Belitung (Babel). Pesisir Babel yang berlumpur di masa itu membuat kapal membutuhkan pemandu yang kenal perairan setempat. Profesi itu membuat salah satu perkampungan suku Sekak di Belitung disebut kampung Juru Seberang. Kampung itu terletak di seberang Pelabuhan Tanjung Pandan, Belitung
 

    Namun, di pengujung abad ke-20, orang Sekak tidak lagi menjadi pemandu. Navigasi pelayaran sudah canggih. Kondisi laut di sekitar Babel berubah, makin banyak lokasi yang dalam dan tanpa lumpur. Hanya sedikit orang Sekak yang masih menjadi pengemudi perahu penyeberangan, seperti dilakoni Sumardi saat ini.

    Pemuda yang tidak lagi bisa bercakap dalam bahasa asli Sekak itu menjadi juru seberang di Pongok dan Celagen.
 

    Kedua pulau itu terletak di Selat Gaspar yang menghubungkan Pulau Bangka dan Pulau Belitung. Celagen dihuni mayoritas Bugis dan Buton, sementara Pongok dihuni sedikit orang Sekak bersama Melayu, Jawa, Bugis, Makassar, dan Buton. Semua suku yang punya catatan sebagai suku pelaut.

Nelayan 
    Selain sebagai juru seberang, mayoritas orang Sekak menjadi nelayan. Meski bisa melaut lebih dari sepekan, mereka bukan nelayan dengan alat modern. Alat paling modern hanyalah pancing dan bubu atau perangkap ikan dari bambu. Kedua jenis alat itu selama berabad-abad sudah dikenal orang-orang di berbagai pelosok Nusantara. Namun, orang Sekak baru menggunakannya di pengujung 1970-an.

    Sebelum itu, orang Sekak hanya kenal tombak dan tombak bertali sebagai alat tangkap. Mereka juga mengambil teripang di dasar laut hanya dengan tangan.



Kompas/Kris Razianto Mada
Rumah-rumah panggung di Pulau Pongok, Bangka Selatan. Rumah seperti itu dipakai sebagai tempat tinggal orang Sekak. Suku Sekak adalah sub suku Orang Laut yang tersebar di Bangka Belitung. Orang Laut tersebar di Kepulauan Riau hingga Kepulauan Bangka Belitung.

    ”Mereka suku yang menghormati laut dan tak serakah. Mereka hanya ambil apa yang dibutuhkan untuk makan satu hari. Untuk makan besok, akan dicari besok lagi,” ujar antropolog maritim dari Universitas Tokyo, Akifumi Iwabuchi, yang tengah meneliti kehidupan suku Sekak.

    Mereka menolak menggunakan jala. Sebab, jala dikhawatirkan akan mengangkut makhluk hidup laut lainnya yang bukan sasaran tangkap. Cara seperti itu tidak sesuai dengan falsafah: hidup secukupnya, ambil seperlunya. Falsafah itu dianggap sesuai jika menangkap ikan dan teripang dengan tangan atau tombak. Tangkap teripang dengan tangan, tangkap ikan dengan tombak. Penggunaan tombak untuk memastikan hanya ikan sasaran yang terkena.
 

    Karena itu, mereka membuat bubu yang memungkinkan ikan kecil tetap lolos dari perangkap. Sementara ikan-ikan besar ditangkap.
 

    ”Bubu ditaruh di dasar laut. Saat meletakkan atau mengambil hasil bubu, kami menyelam. Dulu hanya bermodal kacamata kecil dan tahan napas. Sekarang sudah ada kacamata besar dan udara dari mesin,” ujar Wak Jem (74), sesepuh Sekak.

    Mesin yang dimaksud adalah pompa angin. Mereka tidak punya mesin penghasil oksigen murni. Mesin angin itu dijadikan satu dengan mesin perahu.



Musim pancing 
    Tidak sepanjang tahun orang Sekak mencari ikan. Selama September hingga Januari biasanya mereka memancing. Saat itu arus kencang dan pesisir relatif keruh. ”Ikan tidak bisa lihat jelas umpan pancing, jadi dimakan saja,” ujar Sumardi.

    Selama Februari-Agustus jadi masa mencari teripang. Ikan dan teripang dicari hanya di pesisir. Orang Sekak tidak melaut sampai jauh ke tengah laut.

    Sutedjo Sujitno dalam Sejarah Timah Indonesia (1996) mencatat, di masa lalu ada orang laut dimanfaatkan jadi bajak laut. Karena itu, sebagian orang Sekak di Belitung menyebut dirinya manih bajau atau keturunan bajak laut. Pemanfaatan oleh orang luar itu diperkirakan membuat orang Sekak tak mau lagi melaut terlalu jauh.

    Apalagi, sampai pertengahan 1980-an, orang Sekak hanya mengenal kolek sebagai sarana transportasi. Kolek adalah perahu yang terbuat dari kayu tanpa layar ataupun mesin. Perahu itu sekaligus jadi tempat tinggal setiap saat bagi orang Sekak. ”Saya dan beberapa saudara lahir di perahu. Tidak ingat sedang melaut di daerah mana,” ujar Naskah (18), pemuda keturunan Sekak di kampung Juru Seberang.

    Namun, hampir semua kolek musnah sejak adanya kebijakan hidup di darat pada pengujung dekade 1980-an. Dengan alasan untuk memudahkan bantuan, orang Sekak dibuatkan rumah di darat, seperti di Juru Seberang dan Kampung Baru di Belitung. Kebijakan itu menghancurkan banyak kebudayaan laut masyarakat Sekak.
 

    ”Sekarang sebagian mereka menghabiskan hidup di darat,” ujar Naskah.

    Iwabuchi mengatakan, belum terlambat untuk memulihkan kebudayaan Sekak. Jika serius membantu, seharusnya mereka diberi kolek baru. Bukan dibuatkan rumah di darat seperti masa lalu.


 Sumber : Kompas.com/Tanah Air

Tidak ada komentar:

Posting Komentar