Kelangkaan pemimpin berkualitas
sejujurnya bersifat interaktif. Nyaris semua persoalan berputar-putar
rumit tanpa terobosan berarti. Pada saat yang sama, tuntutan masyarakat
akan kualitas pemimpin juga naik. Apalagi di zaman kebebasan media, yang
disebut berita adalah keburukan pemimpin, sehingga citra pemimpin tidak
sebaik dulu. Dalam sejumlah keputusan penting, pemimpin malah dijadikan
tontonan. Diberi tepuk tangan sambil jempol tangan ditunjukkan mengarah
ke bawah sebagai tanda mengecewakan.
Tidak adil meletakkan semuanya pada
pemimpin. Ada memang pemimpin yang membuat sejarah, tapi sejarah juga
membuat pemimpin. Ketidakpekaan pemimpin akan tanda-tanda zaman sehingga
kerap ketinggalan sejujurnya adalah hasil peradaban manusia yang
mendewakan akal secara berlebihan. Akal kerap berjanji bahwa ia bisa
menguasai dunia.
Dan ternyata melalui sejumlah “kecelakaan kepemimpinan”, klaim tersebut tidak terbukti.
Dalam sejumlah kekisruhan politik yang
melibatkan jumlah uang berlimpah, bagian akal yang dipilih adalah yang
bisa membantu seseorang menumpuk uang dan mempertahankan kekuasaan. Ini
membuat dunia kepemimpinan berwajah amat menyentuh hati. Dalam kisah
Libya dengan Muammar Qadhafi malah lebih mengenaskan, pemimpin harus
turun dengan cara mengenaskan. Dalam cerita Ferdinand Marcos di Filipina
bahkan jasadnya pun tidak diperkenankan pulang.
Sebagai bahan penggalian, cermati dialog
pemimpin dan pengikut. Sejujurnya, jarang ada dialog, yang kerap terjadi
adalah monolog bertabrakan dengan monolog. Cerita ditutupnya jalur
pengiriman hasil tambang di Kalimantan oleh penduduk setempat karena
menuntut bahan bakar bersubsidi lebih banyak lagi menunjukkan, baik
pemimpin maupun rakyat sama-sama sedang melakukan monolog. Dialog
mungkin terjadi bila kedua kubu menyisakan ruang untuk orang lain.
Ketegangan terjadi karena pikiran kedua kubu sama-sama didominasi
keyakinan bahwa “saya benar, maka harus didengar”. Telah lama manusia
dicengkeram oleh keyakinan ini. Apa lagi yang ada di balik ini kalau
bukan pendewaan akal secara berlebihan. Akibatnya, terjadi keterpisahan
antara pemimpin dan rakyat. Sifat terbuka, rendah hati, serta pelayanan
kerap dimasukkan ke kotak tolol dan menderita.
Padahal Socrates pernah berpesan,
satu-satunya alasan kenapa seseorang disebut bijaksana adalah menyadari
bahwa ia tidak tahu apa-apa. Filsuf Karl Popper lebih rendah hati lagi
dengan mengatakan ia tidak tahu apa-apa. Ahli fisika di zaman Newton
pernah dengan pongah menyebut bahwa tertinggal sedikit lagi pertanyaan
tentang alam semesta yang belum terjawab. Tapi, saat mekanika kuantum
lahir, ternyata masih terlalu banyak ketidaktahuan manusia akan alam
semesta. Itu menyangkut ilmu eksakta bernama fisika, tidak terbayang apa
yang terjadi dalam ilmu manusia yang jauh lebih rumit.
Dalam ilmu kepemimpinan ditulis, pikiran
seperti parasut, berguna kalau dibuka. Bila parasutnya tidak terbuka
(baca: pikiran tidak terbuka), pemimpin jatuh dengan tubuh yang hancur.
Ini pelajaran terpenting yang ditulis Muammar Qadhafi dan Ferdinand
Marcos dalam sejarah kepemimpinan. Sekaligus menyisakan pekerjaan rumah,
bagaimana sebaiknya pemimpin membuka parasut pikirannya.
Sudah dicatat dalam sejarah panjang
kepemimpinan, pemimpin terlalu banyak mengemukakan pernyataan, sehingga
ruang untuk pertanyaan dan pelayanan tidak tersisa. Itu sebabnya, di
tingkatan kepemimpinan yang lebih tinggi, pertanyaan menunjukkan
kualitas seseorang. Saat krisis terjadi, pemimpin berkualitas rendah
akan bertanya emosi “mau apa?”, pemimpin agung dengan tersenyum tenang
bertanya “ada apa?”, sebagai pembuka dialog. Dialog tidak selalu membawa
kepastian keberhasilan, kerap malah membawa penyadaran betapa bodohnya
manusia.
Lebih-lebih bila pertanyaan dialogis
dibimbing oleh spirit kepemimpinan yang menyentuh hati, jauh dari marah
dan dendam. Mungkin itu sebabnya, Desmond Tutu memberi judul karyanya
dengan No Future Without Forgiveness. Tanpa memaafkan, tidak
ada masa depan. Mahatma Gandhi di akhir hidupnya bercerita, ia bahagia
setelah hatinya tidak lagi berisi orang yang layak dimusuhi. Thich Nhat
Hanh menyebut hidup yang bebas permusuhan sebagai peace is every step. Kedamaian ada di tiap langkah. Mungkin itu sebabnya, Jalaluddin Rumi menyebut agamanya dengan agama cinta.
Murid di jalan meditasi mengerti, pikiran
bisa jadi kawan, bisa jadi lawan. Bila dilatih meditasi, pikiran adalah
kawan mengagumkan. Bila tidak dilatih, pikiran menjadi ibu penderitaan.
Nyaris semua penyakit psikis khususnya–termasuk dalam hal ini pemimpin
yang mengalami kecelakaan–berkaitan dengan pikiran yang tidak terlatih.
Itu sebabnya, pikiran tidak terlatih digambarkan sebagai air terjun yang
ganas. Semuanya diterjang sehingga menimbulkan luka di mana-mana.
Awalnya, meditasi melatih pikiran menjadi air sungai yang mengalir
lembut sejuk melalui belajar menyaksikan apa saja yang muncul dengan
penuh penerimaan dan pengertian. Kemudian pikiran diminta “istirahat”
melalui konsentrasi. Ujungnya, meditasi membawa pikiran pulang ke
samudra. Di rumah (home) samudra ia berjumpa kedalaman.
Ternyata hujan tidak melakukan penambahan, kemarau tidak melakukan
pengurangan (baca: pujian tidak melahirkan kecongkakan, cacian berhenti
menjadi awal pertengkaran). Kendati demikian, samudra tidak pernah
berhenti melayani makhluk dalam jumlah tidak berhingga. Sesampai di sini
baru mungkin pemimpin berhenti menjadi tontonan, mulai menjadi
tuntunan. Ia menuntun tidak dengan pernyataan, melainkan dengan
pelayanan.
Gede Prama
Penulis Buku Simfoni di Dalam Diri, Fasilitator Meditasi di Bali Utara
Sumber: Koran Tempo, 7 Juni 2012
(Kliping Opini)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar