Laman

Minggu, 10 Juni 2012

Noverius Nggili: Merangkai Mimpi Sekolah Jalanan

 Langit sore agak mendung. Di halaman belakang sebuah rumah mungil di Jalan Soverdi No. 72, Oebufu, Kota Kupang, beberapa anak muda duduk berhimpun di bawah rimbunan pohon sukun.

Di sebuah kursi berbalut karet ban mobil bekas, duduk seorang pria bertubuh gempal, berambut gondrong dan berjanggut panjang.

Ia adalah Noverius Nggili, Koordinator Geng Motor iMuT, sebuah komunitas anak muda jalanan di Kota Kupang, yang suka tapaleuk (pelesir, Red) dengan sepeda motornya. "Tapi kitong (kami) bukan harbabiruk (sembarangan dan suka cari gara-gara) seperti geng motor lainnya," katanya.

Bisa ceritakan kenapa Anda dirikan Komunitas Geng Motor iMUT?
Kisahnya panjang. Tapi saya ringkaskan saja. Dulu kitong (kami, Red) adalah anak-anak jalanan yang suka tapaleuk (pelesir, Red) dengan sepeda motor. Jumlah kami sekitar 50 orang. Kadang-kadang kami `dipakai' untuk berdemo di Kantor Gubernur NTT atau Gedung DPRD NTT, termasuk di Kantor Walikota dan instansi pemerintah lainnya. Maklumlah anak muda, darahnya masih panas dan bergolak serta penuh idealisme. Mungkin pengaruh demo-demo di Jakarta menumbangkan rezim Orde Baru.

Selanjutnya?
Dalam satu kesempatan, saya mencoba mengasingkan diri dari `keramaian' perpolitikan. Saya merenung. Apakah aksi demo itu sudah pas untuk konteks NTT? Apakah selama ini rakyat NTT sudah menikmati langsung dari aksi demo kami itu? Di ujung kontemplasi, saya simpulkan bahwa ternyata kelompok kami hanya `dipakai' oleh elite tertentu untuk meraih kekuasaan. Setelah punya jabatan bagus, mobil bagus dan rumah mewah, justru perilaku korup semakin menjadi-jadi.

Lalu apa keputusannya?
Keputusannya ya, banting setir. Saya bilang sama anak-anak (anggota komunitas), kita harus ubah arah perjuangan kita. Kita fokuskan perjuangan kita di desa. Kebetulan anak-anak ini umumnya berlatar belakang sarjana peternakan. Saya ajak mereka turun ke kampung-kampung untuk mengurus ternak sapi. Berikan penyuluhan dan mengajarkan inovasi dan teknologi pengembangan ternak sapi.

Nah, kenapa dinamakan Geng Motor iMuT?
Oh, iya. Setelah sepakat banting setir arah perjuangan, kami lakukan visioning untuk membentuk kelompok yang permanen dan punya arah serta tujuan perjuangan yang jelas. Kami buat program kerja. Itu tuntas dalam dua hari pada tahun 2005 lalu. Kami sepakat tetap menggunakan sepeda motor untuk berkeliling dari kampung ke kampung sambil berbagi ilmu. Mantera sukses kami: tapaleuk untuk urus ternak. Kenapa ditambah kata "iMut"? Kata iMut singkatan dari Aliansi Masyarakat Peduli Ternak. Komunitas anak muda ini berkeliling kampung dengan sepeda motor sambil membagi ilmu dan berinovasi dalam rangka mengembangkan ternak sapi milik para petani di dusun-dusun.

Semua anggota harus sarjana peternakan?
Oh, tidak. Ada juga sarjana pendidikan, sastra, ilmu komunikasi, psikologi, perbankan, juga ada yang sementara kuliah dan sebagainya. Bahkan ada anggota kami bekas narapidana, tapi punya keahlian yang tidak dimiliki anggota lain. Semua potensi itu saya maksimalkan untuk melayani para petani, peternak dan warga di kampung-kampung. Total anggota kami 50 orang, anggota simpatisan 500 orang bahkan ada anggota simpatisan dari luar negeri.

Jadi sudah bermetamorfosis dari kelompok sempalan politik menjadi kelompok yang menjalankan gerakan edukasi dan sosial karitatif?
Tepat sekali. Dulu kami diongkosi untuk berdemo, sekarang tidak lagi. Arah perjuangan kami sudah berubah yang berlandaskan kepada keprihatinan terhadap kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat petani dan peternak di dusun terpencil. Kami ingin menyumbangkan pikiran, berbagi ilmu, merekayasa teknologi sederhana guna memacu produksi petani dan peternak. Inovasi dan rekayasa teknologi yang mudah, murah dan ramah lingkungan atas dasar potensi-potensi yang ada di dusun itu. Kami punya motto: Berbagi ilmu sebelum ajal menjemput.

Dari mana Anda mengongkosi aktivitas Geng Motor iMuT?
Dari dompet sendiri, dari kas anggota kelompok yang disumbangkan secara sukarela serta donatur pihak ketiga. Modal kami paling utama adalah kebersamaan dan kekeluargaan. Dua modal ini melengkapi kekurangan-kekurangan lainnya.

Anda sendiri tercatat sebagai PNS di Pemkot Kupang. Tidak takut `dibuang' karena aktivitas kelompok Anda?
Bagi saya, PNS itu pekerjaan sampingan. Pekerjaan pokok saya berada di tengah kampung dan dusun yang miskin dibantu teman-teman. Kami bekerja melayani langsung petani dan peternak serta nelayan miskin. Soal `dibuang', saya tidak takut. Mutiara dan intan dibuang di kandang babi, tetaplah sebuah mutiara dan intan. Itu pasti.

Istri dan anak tidak protes?
Mereka sudah siap mental. Mereka sudah paham dan mengerti kegiatan yang saya lakoni bersama teman-teman. Rumah saya jadi markas Geng Motor iMuT. Teman-teman makan dan tidur. Mereka bebas di rumah saya. Hanya kamar tidur saya saja yang tidak mereka sentuh. Itu wilayah privasi saya.

Apa saja yang sudah dibuat kelompok Anda?
Sudah banyak yang kami buat. Misalnya, mengaplikasi inovasi pakan ternak berbasis bahan lokal serta pengolahan limbah peternakan, khususnya feces untuk kemandirian energi warga dalam bentuk energi alternatif (Biogas) serta pupuk organik untuk pertanian organik dan juga mengaplikasikan
ramuan pestisida/herbisida organik. Selain itu, kami juga akan membuat beberapa prototipe dan mengembangkan teknologi tepat guna yang murah, mudah dan ramah lingkungan, khususnya yang berkaitan dengan kemandirian energi, air dan pangan guna peningkatan produksi pertanian-peternakan. Kegiatan ini akan tetap terus dilanjutkan sampai waktu-waktu mendatang guna perbaikan dan penyempurnaan teknologi tepat guna yang sudah dibuat serta menelurkan lagi inovasi baru.

Di desa mana saja Anda dan Geng Motor iMuT berkarya?
Dalam rentang waktu 2010 - 2011 kami sudah masuk ke 22 desa pada tujuh kabupaten dan tujuh pulau besar di NTT. Warga di kampung dan dusun menerima kami seperti anak sendiri. Itu kebahagiaan kami. Pada tahun 2012 ini kami sedang merancang program untuk turun ke beberapa desa terpencil.

Pasti banyak prestasi yang sudah diukir?
Betul itu. Kerja keras saya dan Geng Motor iMuT sudah dibalas dengan penghargaan baik di tingkat regional maupun di tingkat nasional. Meski tujuan kami bekerja bukan untuk mengejar penghargaan, tapi ganjaran perhatian dari pihak luar itu memacu saya dan teman-teman bekerja lebih tekun untuk melayani masyarakat. Prestasi kami di antaranya tanggal 18 Desember 2010, kami menerima Academia Award FAN NTT untuk kategori bidang Sains dan Inovasi Keteknikan dengan karya inovator teknologi terapan dengan memanfaatkan limbah ternak dan limbah industri rumah tangga menjadi biogas. Berikutnya pada anggal 8 Juli 2011, kami lolos seleksi dan menjadi 103 Inovasi Indonesia 2011, yang dilaksanakan oleh Business Innovation Center Indonesia-Kemenristek RI, dengan inovasi Digester Biogas Terintegrasi: DePo BiMuT S-002 untuk sumber biogas dan listrik rumahan yang mudah, murah dan ramah lingkungan. Dan baru saja, pada tanggal 16-22 Januari 2012, kami menjadi finalis dan masuk empat besar nasional serta mengikuti Expo Mandiri Young Technopreneur Award untuk Kategori Pengolahan Air Bersih dengan Inovasi Desalinator iMuT: mengubah air laut menjadi air tawar dan garam tanpa mesin.

Luar biasa ya. Omong-omong, apa mimpi Anda bersama Geng Motor iMuT?
Selama ini kami sudah melaksanakan sekolah jalanan. Pelesir dengan sepeda motor untuk masuk kampung dan keluar kampung sambil mengajar dan belajar bersama para petani, peternak, nelayan dan kelompok usaha mikro lainnya. Saya punya mimpi untuk mendirikan bengkel dan laboratorium inovasi, kios inovasi serta sedang mempersiapkan pendirian perpustakaan inspirasi kreatif. Semoga mimpi saya ini terwujud. (julianus akoit)


Desalinator iMuT

PEMBUATAN alat desalinator air laut menggunakan panas matahari ini sebenarnya sudah lama sekali ada di beberapa negara. Proses operasionalnya relatif sama. Namun yang membedakannya adalah dari sisi desain bentuk/konstruksi dan bahan-bahan dasar yang digunakan serta seberapa besar produksi air tawarnya.

Secara tradisional, di beberapa pulau di NTT, masyarakat memproduksi garam dengan cara menjemur air laut pada wadah yang terbuat dari daun lontar (di Pulau Rote= Haik) atau juga pada cangkang kerang yang besar (Kima). Sejak lama kami mengamati proses itu, yang dari sisi ilmiahnya adalah pemisahan air murni (H2O) dan mineral yang mayoritas adalah garam (NaCl).

Pada tahun 2004, di Pulau Sabu-NTT oleh Bren Heymans (seorang Arsitek Belanda berdarah Sabu) pernah diprakarsai pembuatan alat penyulingan air laut menjadi air tawar dengan atap berbentuk rumah adat sabu, yang ia ajarkan kepada penggiat Yayasan Rai Due Nga Donahu (Yaradundo) di Sabu.

Bekerjasama dengan Yayasan PIKUL (2005) alat ini kemudian dibuat dan diuji coba lagi oleh para penggiat Yaradundo di Desa Sabu, dan tenaga teknis untuk konstruksi perakitannya adalah Noldy P. Franklin (Kepala Bengkel Inovasi dan anggota Devisi Inovasi geng motor iMuT). Air tawar yang dihasilkan telah diuji laboratorium BPOM RI Kupang dengan hasil kadar garamnya nol. Saat itu pengembangannya di desa Wadumeddi, desa Mehona dan desa Lobo Rui.

Dalam perjalanan berbagi ilmu sebagai aktifis sejak tahun 1996 - 2011, beberapa tempat yang kami kunjungi sangat kesulitan memperoleh air bersih untuk minum dan masak, terutama di daerah pesisir dan pulau-pulau kecil. Di musim kemarau, warga harus mengambil atau membeli air tawar ke pulau-pulau besar, jika tidak meraka terpaksa mengkonsumsi air payau dan mandi cuci menggunakan air laut.

Dari kondisi ini lalu, di awal tahun 2011, kami membuat dan mengujicobakan alat desalinator versi geng motor iMuT (Desalinator iMuT), yaitu dengan atap berbentuk piramid dengan dua sudut lubang penetesan air serta menggunakan pipa paralon terbelah untuk mengalirkan air ke penampungan air tawar.

Dalam pengamatan kami, desain ini belum maksimal memproduksi air (2 liter/jam). Lalu di bulan Agustus tahun 2011, kami memodifikasi lagi atap desalinator iMuT ini berkerangka piramid dengan empat sudut lubang penetesan. Hasilnya, dapat memproduksi 3 sampai 4,5 liter air laut per jam saat puncak panas musim kemarau di NTT (pukul 11.00 - 14.30 = 3,5 jam).

Oleh Noverius H. Nggili, Noldy P. Franklin dan Donald W. Manggi, Desalinator iMuT diikutkan dalam kompetisi Mandiri Young Technopreneur Award (MYT) tahun 2011 serta Expo di JCC, Jakarta yang diselenggarakan oleh Bank Mandiri. Desalinator iMuT menjadi empat besar finalis nasional MYT kategori pengolahan air bersih.

Sejak dipublikasikan pasca menjadi empat besar Finalis Nasional MYT Award 2011 hingga saat ini, secara resmi 'penawaran' kerjasama pengembangan Desalinator iMuT ini sudah datang dari NGO ChildFund Kupang dan Wetlands International. Disamping itu datang juga dari BBPTTG LIPI lewat program IPTEKDA (Ilmu Pengetahuan Teknologi untuk Daerah) serta dari pemerintah Propinsi NTT.

Pada tanggal 17 Februari 2012 yang lalu, kami secara perdana menghibahkan satu unit Desalinator iMuT Seri 002 kepada warga di Pulau Kera, Kabupaten Kupang-NTT. Dan atas kerja sama dengan Wetlands International di Desa Talibura - Kabupaten Sikka, pada tanggal 12 Mei 2012 yang lalu kami telah menyerahkan pesanan dua unit Desalinator iMuT Seri 003 kepada warga setempat. (ade)

Data Diri

Nama : Noverius Henutesa Nggili, S.Pt
(Frits)

Tempat, Tanggal Lahir: Maumere, 17 November 1977
Pendidikan Terakhir: Sarjana, Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Nusa Cendana. Lulus 2002.
Organisasi Geng Motor iMuT

Jl. Soverdi No.72, RT.005/RW.001-Kelurahan Oebufu,
Kecamatan Oebobo-Kota Kupang (85111)

Rumah JL. Souverdi No.72, RT.005/RW.001-Kelurahan Oebufu
Kecamatan Oebobo-Kota Kupang (85111)
Ph. 0380-840200

Keluarga
Istri : Silvia Jublina Fanggidae, S.Sos
Saat ini bekerja pada Perkumpulan PIKUL
Anak :

1. Eunike Hosalien Fanggidae (Siswi SMAN I Kupang)
2. Sintikhe Bethlien Nggili (kelas 2 SD Abdi Kasih Bangsa Kupang)

Pengalaman Kerja
· 2000-2002 voluntir pada FKPB (Forum Kesiapan danPenanganan Bencana)-Kupang.

· 2002-2003, sebagai pegawai honorer PD Pasar Kota Kupang.

- Tahun 2003 menjadi PNSD Pemerintah Kota Kupang sampai saat ini. Sekarang menjabat sebagai Kapala Sub Bagian Perekonomian pada Bagaian Ekonomi dan Pembangunan Sekertariat Daerah Kota Kupang-NTT.

· 2005-sekarang: Koordinator Umum Geng Motor iMuT (Aliansi
Masyarakat Peduli Ternak).


Editor : alfred_dama
Sumber : Pos Kupang.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar