Oleh: A Hendriyo Widi dan Sonya Hellen sinombor
Kompas/P Raditya Mahendra Yasa
Pekerja
menyelesaikan pembuatan kapal kayu yang memakan waktu hingga tiga bulan
di Desa Kalipang, Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah,
Rabu (21/3)
Dampuawang berasal dari bahasa Sanskerta dang puhawang, artinya ’nakhoda yang dihormati’. Julukan itu diberikan kepada orang yang mempunyai semangat besar menjaga, melindungi, dan memajukan maritim.
Kisah tentang dampuawang itu bermula pada tahun 230 sebelum Masehi. Waktu itu, para pendatang dari Yunan, China, yang dipimpin Kie Seng Dhang berlabuh di Kragan, sekitar 30 kilometer dari kota Rembang, Jawa Tengah (Jateng).
Generasi Kie Seng Dhang, Hang Sambadra, menurunkan dampuawang pertama, yaitu Sie Ba Ha atau Sibaha. Sibaha adalah saudari Sie Ma Ha yang terkenal sebagai Ratu Shima, penguasa Kerajaan Kalingga pada abad VII.
Sibaha merupakan seorang pendekar laut yang mempertahankan wilayah perairan Lasem, Teluk Lusi, dan Jepara yang konon pada waktu itu menjadi jalur pelayaran dan perdagangan. Waktu itu Rembang masih terpisah dengan Jepara yang berada di Kepulauan Muria.
Konon, Sibaha kerap menantang berkelahi pelaut-pelaut tangguh yang melewati area kekuasaannya. Sibaha bersumpah, pendekar tangguh yang dapat mengalahkannya bakal dijadikan suami (lihat Sejarah Kawitane Wong Jawa lan Wong Kanung, 1930).
Tokoh lain yang disebut-sebut sebagai dampuawang pada abad Mataram Islam adalah Oei Ing Kiat, panglima perang Tionghoa ketika Perang Kuning. Dia meninggal dalam perang Godo antara Tionghoa Lasem dan Belanda pada 1741.
Dalam abad XIV, Lasem adalah salah satu mahkota Kerajaan Majapahit. Ketika itu Lasem yang meliputi Kragan, Tuban, Bojonegoro, Gresik, Jepara, dan Blora menjadi salah satu pusat kekuatan maritim Majapahit.
Begitu pentingnya posisi Lasem, Raja Hayam Wuruk sampai-sampai menempatkan adiknya, Dewi Indu, sebagai penguasa dan populer dengan nama Bhre Lasem. Bhre Lasem bersuamikan Rajasa Wardhana, yang terkenal sebagai dampuawang, nakhoda sekaligus saudagar yang punya hubungan dengan daerah-daerah di Asia Tenggara. ”Pada masa itu, gelar dampuawang tidak lagi terdengar. Namun, semangat dampuawang tetap hidup di hati masyarakat pesisir Rembang. Semangat itu hidup di hati prajurit-prajurit maritim Majapahit yang diseleksi di pesisir Rembang,” kata Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Rembang Edi Winarno.
Di Lasem,
penyaringan prajurit maritim Majapahit dilakukan. Di sana pejabat
maritim dilantik. Seleksi prajurit dilakukan dengan patholan atau gulat
pantai yang hingga kini dikenal di Rembang (lihat Mengenal Seni
Tradisonal Gulat Pathol, Kusaeri YS, 2001).
Adapun
punggawa-punggawa yang akan naik jabatan diuji di Goa Tinatah dan
dilantik dengan cara diguyur air di kursi batu. Bekas-bekasnya masih ada
di Desa Kajar, Lasem.
Kini, sosok dan semangat dampuawang tinggal cerita sejarah. Akan tetapi, semangat kebaharian yang diturunkan terus hidup di tengah masyarakat. Laut tetap jadi bagian hidup masyarakat Rembang. Hampir 20.000 orang di ujung timur laut Provinsi Jateng ini menggantungkan diri pada laut.
Tak hanya memiliki nelayan-nelayan yang tangguh, keahlian membuat kapal tradisional pun menempatkan Rembang sebagai salah satu daerah produsen kapal tradisional dan perahu terbaik di Tanah Air. Galangan kapal yang berjejer di pesisir pantai di Kecamatan Sarang menjadi bukti stamina pembuat kapal Rembang.
Kemampuan penduduk Rembang membuat kapal tidak diragukan. Sejak zaman
dulu, Rembang sudah tersohor sebagai daerah pembuat kapal dan perahu.
Bahkan, Raffles mencatat bahwa orang Jawa bisa membuat perahu dengan
sangat baik dan pembuat kapal terbaik ada di Distrik Rembang dan Gresik
(lihat The History of Java).
Mengapa Rembang? Karena Rembang memiliki hutan jati dengan kayu jati terbaik. Ukuran jatinya besar-besar dan banyak kapal besar dibuat di sana. Raffles mencatat, pada sekitar tahun 1808, dari 8.800 batang jati yang ditebang per tahun, 3.000 batang di antaranya dari hutan di Rembang.
Bekas dok dan galangan kapal peninggalan Belanda dan Jepang di Desa Dasun, Kecamatan Lasem, serta temuan perahu dagang pada abad VII di Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang, menjadi bukti dari semarak negeri bahari itu....
Kini, sosok dan semangat dampuawang tinggal cerita sejarah. Akan tetapi, semangat kebaharian yang diturunkan terus hidup di tengah masyarakat. Laut tetap jadi bagian hidup masyarakat Rembang. Hampir 20.000 orang di ujung timur laut Provinsi Jateng ini menggantungkan diri pada laut.
Tak hanya memiliki nelayan-nelayan yang tangguh, keahlian membuat kapal tradisional pun menempatkan Rembang sebagai salah satu daerah produsen kapal tradisional dan perahu terbaik di Tanah Air. Galangan kapal yang berjejer di pesisir pantai di Kecamatan Sarang menjadi bukti stamina pembuat kapal Rembang.
Mengapa Rembang? Karena Rembang memiliki hutan jati dengan kayu jati terbaik. Ukuran jatinya besar-besar dan banyak kapal besar dibuat di sana. Raffles mencatat, pada sekitar tahun 1808, dari 8.800 batang jati yang ditebang per tahun, 3.000 batang di antaranya dari hutan di Rembang.
Bekas dok dan galangan kapal peninggalan Belanda dan Jepang di Desa Dasun, Kecamatan Lasem, serta temuan perahu dagang pada abad VII di Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang, menjadi bukti dari semarak negeri bahari itu....
Sumber : kompas.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar