Selain keindahan dan kekayaan alamnya, kehidupan suku-suku di Papua sangatlah menarik. Salah satunya adalah Suku Korowai, yang tinggal di rumah pohon setinggi 15 hingga 50 meter. Mereka punya pelajaran tentang kecintaan terhadap alam. Suku Korowai mendiami wilayah Kaibar, Kabupaten Mappi, Papua. Jika berkunjung ke rumah pohon Suku Korowai, maka Anda harus menelusuri lebat dan liarnya hutan Papua. Tentu sangat menantang bagi Anda para trekking sejati. Menelusuri hutan lebat Papua, berarti Anda menelusuri hutan yang masih sangat alami dan tidak pernah dirusak oleh tangan-tangan manusia. Menjaga kelestarian alam adalah tanggung jawab dari Suku Korowai. Mereka sangat peduli dengan alam Papua.
Sepanjang jalan Anda akan menemukan satwa-satwa yang tidak pernah Anda lihat sebelumnya, seperti burung urip atau nuri Papua, serangga hutan, kupu-kupu hutan dan bahkan burung cendrawasih yang berkeliaran bebas di hutan tersebut. Pepohonan-pepohonan yang besar dan mempunyai tinggi puluhan meter, terik matahari, serta udara yang sejuk, akan menjadikan tracking Anda sangat menegangkan.
Pada tahun 1995, George Steinmetz, seorang fotografer mendokumentasikan suku orang-orang yang tinggal di pohon di Irian Jaya. Mereka sebelumnya tidak pernah berinteraksi dengan orang asing dan mereka tidak mengenal bahasa mereka hanya memakai bahasa suku saja.Suku Korowai dan Kombai tinggal di wilayah Indonesia dan karena itu sudah pasti mereka juga penduduk Indonesia. Namun sangat jarang ditemukan artikel tentang kehidupan mereka dalam bahasa Indonesia. Justru banyak peneliti asing yang mengunjungi mereka dan mempelajari kehidupan suku mereka yang unik.
Korowai adalah salah satu suku di Irian yang tidak memakai koteka. Kaum lelaki suku ini memasuk-paksa-kan penis mereka ke dalam kantong jakar (scrotum) dan pada ujungnya mereka balut ketat dengan sejenis daun. Sementara kaum perempuan hanya memakai rok pendek terbuat dari daun sagu. Sagu adalah makan utama mereka.Sedangkan pria Suku Kombai menggunakan ‘koteka’ dari paruh burung besar. Senjata mereka adalah panah yang matanya terbuat dari tulang.Rumah Pohon Suku Korowai sangatlah unik. Mereka membangun rumah di atas pohon supaya tidak terganggu dari serangan binatang buas. Bahan yang digunakan untuk membuat rumah pohon tersebut, berasal dari rawa dan hutan di sekitar mereka. Seperti kayu, rotan, akar, dan ranting pohon. Sungguh suatu keajaiban dunia. Bahan-bahan yang sederhana tersebut dapat dibentuk menjadi sebuah rumah yang kokoh dan indah di pohon dengan ketinggian 15 hingga 50 meter.Suku Korowai hanya turun dari rumah untuk mencari makanan, seperti buah-buahan dan daging. Uniknya, mereka berburu hanya sedang jika lapar. Selain itu, mereka juga tidak pernah menebang sembarang pohon. Mereka menebang pohon hanya untuk keperluan secukupnya. Maka tidak heran, jika sudah sejak ratusan tahun Suku Korowai menetap di hutan Papua, namun hutannya masih lebat dan terjaga kelestarian flora dan faunanya.Kadang kita harus berkaca pada kehidupan Suku Korowai tentang keseimbangan alam. Bertamu ke rumah pohon Suku Korowai, akan menambah kekayaan pada diri Anda tentang ilmu dan kesadaran mencintai alam.
Tinggi di atas tanah sebuah hutan, jauh di hutan dataran rendah berawa Papua, rumah pohon menyapa mata penjelajah dari penjuru dunia. Rumah pohon di ketinggian lebih dari 80 kaki di atas tanah. Ini adalah konstruksi rumah Kombai dan tetangga Korowai, suku yang menghiasi tubuh mereka dengan tulang dan masih menghitung kanibalisme di antara adapt mereka
Rumah pohon yang dibangun dengan kayu yang diambil dari hutan sekitar tempat tinggal yang ingin mereka bangun dengan menggunakan kapak yang terbuat dari batu. Rumah ini melindungi diri dari panas dan serangga di bawah hutan belantara, melindungi mereka pula dari banjir yang menghadang ketika musim hujan. Selain itu rumah ini memiliki fungsi yakni sebagai benteng tempat berlindung ketika terjadi konflik antar suku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar